Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Curhat

Kesadaran Memiliki Anak

Gambar: google Lagi ramai soal " childfree " atau sebuah kondisi di mana seseorang atau pasangan memilih untuk tidak memiliki anak. Biasanya, penganut childfree ini beranggapan bahwa memiliki anak itu adalah sumber kerumitan. Benarkah?  Saya belum bisa menyimpulkan sebab sampai tulisan ini di buat, saya sendiri belum memiliki anak. Tapi, menarik untuk membahas tema ini. Saya senang dengan kampanye soal ribetnya memiliki anak, sekali lagi saya ulangi, jika kampanye itu bertujuan untuk membangun kesadaran bahwa tidak gampang memiliki, mengurusi, mendidik, dan membesarkan anak.  Maksudnya, jika kita ingin memiliki anak, sadari dulu konsekuensi bahwa memiliki anak itu tidak gampang. Para orang tua minimal dituntut untuk membesarkan anak ini secara layak. Tak perlu jauh-jauh, tengok saja di sekitar kita, tak jarang orang tua mengeksploitasi anak untuk kepentingan yang tidak wajar.  Contoh kasus: saya sering melihat ibu-ibu mengemis di lampu merah sambil menggendong anak. Di ko...

Modus VC Porno

Ini kejadian beberapa bulan yang lalu. Ada cewek minta pertemanan di fb. Saya cek wall nya. Tak ada yang aneh, saya langsung konfirmasi. Beberapa saat kemudian, ia kirim pesan, minta nomor WA. Katanya kenal saya dan mau ceritakan sesuatu.  Obrolan kami lalu pindah ke WA. Awalnya dia tlfon, tapi saya reject. Setelah itu dia video call, lalu saya angkat. Rupanya dia sudah dalam keadaan telanjang bulat. Saya kaget, kemudian saya matikan (sempat nyesal karena tak memandangi beberapa saat).  Setelah itu, dia kembali chat saya. Dia mengaku berteman dengan semua sahabat saya di fb. Dia kirim semua screenshotnya, plus screenshotan saat adegan VC tadi. Di sana ada wajah lugu tengah menatap sosok telanjang.  Dia mengancam kalau saya tak mengirimkan sejumlah uang, screenshotan itu akan disebar. Dia berharap dengan begitu, saya akan takut, lalu menuruti kemauannya. Saya membiarkannya ngomel. Saya ngak jawab. Dia tlfon, saya ngak angkat. Saya kemudian blok nomornya.  Masalahnya s...

Tiga Tipe Pembeli

Sejauh ini, saya mencatat ada 3 tipe pembeli. Pertama, pembeli yang niatnya memang untuk membeli produk. Pembeli jenis ini biasanya garcep atau gerak cepat kalau ada produk yang sesuai dengan kebutuhan dan kemauannya.  Ia bahkan tak segan melakukan transaksi lebih dulu tanpa tau detail2 produk yang akan dia beli. Sering saya berhadapan dengan tipe pembeli seperti ini. Ada yang setelah nanya harga langsung minta nomor rekening.  Ada lagi yang nanya satu produk. Saya bilang yang dia sukai itu sudah sold. Kemudian dia minta dikirimi beberapa contoh produk yang masih ada, setelah itu deal dan langsung transfer. Intinya, pembeli yang niatnya emang pengen beli sesuatu itu ngak suka berbelit-belit.  Kedua, pembeli yang niatnya ngak pengen beli. Pembeli jenis ini mau dikirimi contoh produk sebanyak apapun ngak akan deal. Sebab, sekali lagi, niatnya bukan untuk membeli. Terus apa? Cuman pengen tanya2 harga. Singkatnya, dia lebih banyak bertanya ketimbang memilih. Boro2 transfer....

Salah Kaprah

Gara-gara tulisan berjudul "orang dalam" kemarin, saya mesti bedebat hingga larut malam. Saya hendak meluruskan, karena ada yang menyimpulkan tulisan itu secara keliru. Saya dituduh secara tidak langsung menjustifikasi orang yang tidak punya pekerjaan, otomatis tidak memiliki kompetensi, skill, apalagi orang dalam.  Yaoloooo, saya ngakak aja. Saya cerita tentang seorang teman yang curhat. Ia bilang susah dapat kerja tanpa bantuan orang dalam. Saya kemudian tertarik menulis sebab ada beberapa orang yang pernah mengeluhkan hal yang sama sebelumnya.  Kalau kita baca dengan baik, sebenarnya inti dari tulisan itu adalah tentang bagaimana pentingnya meningkatkan kompetensi diri. Baik bagi mereka yang telah bekerja, maupun untuk mereka yang tengah berjuang mencari pekerjaan.  Bahwa ada banyak sekali contoh kasus, mereka yang bekerja berkat bantuan orang dalam, juga sebaliknya. Saya bahkan menambahkan satu contoh lagi, ada yang punya koneksi dengan orang dalam, tapi tak mau meman...

Apa itu JODOH?

Ilustrasi (gambar: google) Semalam, saya tanya seseorang tentang konsep jodoh. Saya selalu kurang puas (bukannya tidak percaya) jika pembahasan tentang jodoh ini terlalu cepat diarahkan ke hal-hal berbau agama.  Saya orang beriman. Saya selalu percaya bahwa ada semacam kekuatan yang mengatur maut, rezeki, jodoh, di luar kendali manusia, tetapi saya juga menutut penjelasan logis terhadap hal-hal seperti itu.  Saya percaya orang yang saya tanyai ini punya pemahaman mendalam soal itu. Baik dari sisi agama, maupun akal. Saya selalu berdiskusi banyak hal dengan beliau kalau ada sesuatu yang mengganjal.  Apa sih yang disebut dengan jodoh?  Ada seorang laki-laki tengah menyukai wanita. Ia kemudian berusaha mendekati, membuat dirinya dikenal. Mereka nyambung, lalu pacaran, dan akhirnya menikah. Apakah itu disebut jodoh?  Sebaliknya, ada 2 orang yang sudah pacaran lama, sudah bertunangan, bahkan sudah menyebar undangan, tapi akhirnya tak jadi menikah. Apakah mereka diseb...

Ngobrol Kerjaan dengan Tukang Cukur

Barusan saya pergi ke tukang cukur untuk potong rambut. Sambil melakukan layanan, si tukang cukur nanya banyak hal. Kami ngobrol lumayan panjang seputar pekerjaan.  "Mas kerja dimana?" Ia bertanya.  "Saya kerja sebagai public relations di satu perusahaan di Jakarta. Kerjanya itu menjaga citra perusahaan agar tetap baik di mata klien."  Ia percaya saja. Manggut-manggut, lalu memuji berkali-kali. Padahal saya hanya membual.  "Mas hebat." Katanya.  "Mas juga hebat bisa kerja seperti ini. Potong rambut bukan pekerjaan mudah. Ia menuntut ketelitian. Itulah kenapa di Jakarta banyak barbershop yang mematok tarif mahal. Rambut adalah mahkota. Siapapun rela mengeluarkan banyak uang agar rambutnya terlihat rapi. Kalau saya disuruh kerja seperti mas, jelas saya ngak bisa." "Tapi gajinya kecil mas."  Begini mas; hebat itu ukurannya bukan gaji. Pekerjaan saya dan pekerjaan mas ini sama-sama pekerjaan. Punya pekerjaan tidak serta merta membuat seseor...

Perkara Pinjam Meminjam DUIT

Perkara pinjam meminjam DUIT (sumber gambar: google) Belakangan ini, saya cukup sering dimintain tolong soal duit. Oh iya, saya mesti disclaimer dulu. Tulisan ini tidak untuk mengindikasikan kesombongan, sok, angkuh, atau sejenisnya. Ini hanya pengalaman, dan akan saya ceritakan menurut perspektif pribadi.  Kembali ke soal yang tadi. Entah kenapa, akhir-akhir ini banyak sekali yang menghubungi saya prihal pinjam meminjam duit. Lebih tepatnya, mereka yang menghubungi saya hendak meminjam sejumlah uang. Saya tak tau pula apa yang sebenarnya melatarbelakangi mereka.  Padahal, dilihat dari banyak sisi, saya tak punya sesuatu yang spesial. Saya tak punya uang. Saya masih hidup pas pasan seperti kebanyakan orang. Kalau pun ada rejeki lebih, paling hanya cukup untuk nongkrong sama neng geulish di malam minggu. Singkatnya, saya masih jauh dari kesan mapan.  Tapi faktanya memang begitu. Tiap hari ada saja yang minjam. Motif dan nominalnya juga beragam. Ada yang keluarganya sakit, ...

Rezeki itu Maha Luas

Suatu hari di kantor Semesta raya adalah samudera rezeki, dan Tuhan yang maha pengasih telah membekali ciptaan-Nya dengan sebilah kail. Tugas manusia adalah memancing rezeki itu dengan bekerja.  Setiap kita bisa bekerja dengan mengandalkan kekuatan fisik, otak, atau bisa dengan menggabungkan keduanya dengan mencari titik yang paling dominan. Itulah yang disebut ikhtiar.  Ibarat buih di lautan, rezeki itu tak ternilai baik dari bentuk dan jumlahnya. Ia datang dari segala penjuru. Mulai dari kita bangun di suatu pagi, hingga kita terlelap di malam hari.  Seberapa banyak rezeki yang kita dapatkan sangat tergantung pada kegigihan dan kecakapan kita dalam memenuhi tuntunan hukum semesta. Orang Sumbawa punya frasa bagus "Nonda Latala Raboko" dalam menggambarkan tema ini.  Seekor cicak yang merayap di dinding, karena mengikuti hukum besi kehidupan bisa menangkap seekor nyamuk yang tengah terbang. Demikian juga seekor ayam dengan memaksimalkan potensi cakarnya bisa menemukan...

The Power of Tiktok

The power of tiktok Hanya dalam waktu kurang dari 24 jam, postingan receh ini sudah disaksikan oleh hampir satu juta pengguna tiktok, ratusan kali dibagikan, puluhan ribu like, dan ratusan komentar. Padahal, saya hanya menulis kata2 alay bin lebay dengan background video sederhana, ditambah backsound lagu melow khas anak2 indie.  Kok bisa? Kenapa saat posting hal-hal serius malah sepi peminat. Tapi begitu posting hal receh dan nyeleneh malah banjir interaksi? Inilah yang disebut The Power of Tiktok. Aplikasi ini memang merupakan platform spesialis video2 pendek dan di cap sebagai salah satu aplikasi alay di Indonesia.  Tapi, justru itulah letak kekuatan utamanya. Kelebihan aplikasi asal tiongkok ini ada pada video2 receh berdurasi pendek yang mampu menjadi hiburan alternatif bagi penonton yang geram dengan berita2 politik dan provokatif di media lain seperti faceebok dan twitter.  Menurut laporan analis pasar aplikasi, App Annie, tiktok bahkan mampu melampaui facebook seb...

Ngak Capek Bolak Balik Terus? (Catatan Perjalanan)

Dokpri  Ngak capek bolak balik terus?  Dari dulu memang banyak pertanyaan seperti ini. Yang paling sering itu datang dari para sahabat. Bagi saya sih wajar2 saja, karena memang begitulah keadaannya. Maksud saya, pekerjaannya memang begitu. Kantornya di Jakarta, dapilnya di Pulau Sumbawa.  Contohnya saja, baru kemarin pulang ke #Dapil demi mengikuti penanaman perdana demfarm bersama petani, pelepasan komoditas ekspor umbi porang bersama pak bupati, pagi-pagi tadi sebelum subuh sudah balik lagi ke Jakarta untuk mengikuti Raker dengan Pak Menteri Pertanian.  Kalau boleh jujur, saya sendiri kadang heran dengan stamina beliau ini. Bayangkan saja, penerbangan Jakarta-Lombok itu hitungannya kurang lebih 2 jam. Sampai Lombok harus terbang lagi ke Sumbawa. Itupun kalau ada jadwal penerbangan, atau kebagian tiket. Tapi kalau ngk ada, lanjut dengan perjalanan darat (sering banget kayak gini).  Nah suatu ketika saat menunggu di bandara, saya pernah nanya ke beliau: Pak de, ...

Kapan Nikah?

Entah kenapa, akhir akhir ini banyak sekali yang menanyakan prihal "kapan nikah" kepadaku. Mulai dari keluarga dekat, kerabat, seorang senior, teman kantor, sahabat karib, hingga teman-teman sekolah di satu group whatsapp.  Aku jadi berpikir sejak kapan pertanyaan "kapan nikah" menjadi lebih penting dibandingkan "say hello" atau sekadar bertukar kabar. Jika hidup adalah serangkaian pertanyaan yang mesti dijawab, maka pertanyaan "kapan nikah" ini adalah pertanyaan yang sesaat bisa membuatku menarik nafas panjang dan terdiam.  Dulu, saat aku masih kuliah, aku sering ditanya "kapan wisuda" setiap kali pulang kampung atau berlibur. Bagiku, pertanyaan itu normal saja, sebab dulu aku kuliah dalam rentang waktu yang agak lama jika dibanding mahasiswa lain pada umumnya.  Setelah aku menyelesaikan perkuliahan dan bekerja pada satu instansi pemerintah, pertanyaan lain kembali datang. Namun yang satu ini agak susah dijawab. Maksudku bukan susah, t...

Buat Mereka yang Sok Bijak Soal OMNIBUSLAW

Tolak Omnibus Law  Sebelum teriak-teriak, baca dulu dong..!! Di negeri yang pemimpinnya bilang "I don't read what I sign", tidak fair rasanya menyuruh rakyat membaca RUU 900-an halaman sebelum melakukan protes. Mari memberi contoh yang baik dulu, sebelum menuntut lebih. Saya ingin menanggapi pernyataan mereka yang mencoba bijak dengan mengatakan "baca dulu dong isi UU nya sebelum teriak-teriak." Bagi saya itu hanyalah pernyataan formalitas semata dan cenderung naif. Mereka yang sok bijak itu juga belum tentu sudah membaca detail dan paham UU itu secara utuh. Netizen memang nggak perlu baca semua sampai beratus-ratus halaman. Memangnya kita ini ahli hukum semua, baca juga belum tentu ngerti. Itulah gunanya ada media dengan reputasi baik yang mengulasnya, termasuk lembaga hukum dan para pakar, dan berfokus pada pasal-pasal yang dianggap merugikan. Sudahlah, nggak usah sok mau debat substansi segala. Bukankah sudah banyak media yang mengupas pro dan kontra dari UU ...

Jangan Takut Pesimis

Jangan takut pesimis (google) Dalam banyak aktivitas, kita selalu mendapat nasihat untuk selalu optimis. Kita diajarkan untuk optimis saat melakukan satu pekerjaan besar. Orang yang tidak optimis sering di cap lemah, tak punya daya juang, serta seringkali dianggap gagal sebelum berperang. Padahal, anggapan itu tak selalu benar. Justru, sikap pesimis bisa membuat kita fokus dan melakukan penjelajahan otokritik dalam diri kita. Pesimisme bisa menjaga agar kita tidak terlalu melambung tinggi dan tidak lupa bagaimana cara menjejaki bumi. Pesimisme bisa menjadi obat dari sikap pongah atas optimisme yang meluap-luap. Pesimisme adalah senjata agar kita tetap waspada dengan langkah-langkah yang kita pilih serta selalu siap menghadapi segala konsekuensinya. So, jangan takut pesimis.

Tidak Enak Tinggal di Apartemen

Kawasan sudirman Masjid berwarna putih itu letaknya persis di samping apartemen tempat saya tinggal. Saya hari-hari banyak menghabiskan waktu di tempat itu. Saya senang melihat bangunannya yang sederhana. Saat saya potret, pemandangannya tampak luar biasa. Mungkin karena view-nya yang dikelilingi bangunan-bangunan tinggi. Kawasan sudirman di Jakarta pusat memang terkenal dengan bangunan-bangunan tinggi yang menjulang. Gubernur Anies bahkan sengaja mencopot atap salah satu jembatan penyebrangan (JPO) beberapa waktu lalu, agar para pejalan kaki bisa leluasa menikmati pemandangan kawasan ini yang dipenuhi gedung pencakar langit. Sudah beberapa bulan ini saya memang tinggal di apartemen Sudirman Park, Jakarta Pusat. Apartemen ini memang tergolong bagus. Fasilitasnya cukup lengkap. Ada kolam renang, hingga tempat fitnes. Tapi kalau disuruh memilih, saya akan lebih senang jika tinggal di tempat lain. Saya tidak terbiasa dengan suasana apartemen yang sesak. Tiap hari harus nga...

Harus Lebih Banyak Bersabar di Jakarta

Poto diambil dari balkon apartement Di kota ini, hampir tak ada bedanya siang dan malam. Semua orang selalu bergerak. Di sini, ribuan manusia berseliweran setiap harinya. Ribuan manusia itu bersaing demi memperebutkan sumber daya yang jumlahnya sangat terbatas. Jakarta adalah kota yang amat sesak. Tiap hari orang-orang berjejal memenuhi jalan. Begitu banyak orang dari berbagai penjuru membanjiri kota ini. Mereka saling sikut demi menyambung hidup. Di sini, ada kompetisi yang sedemikian kejam dan saling menghabisi. Mereka yang lemah akan digilas dan terpinggirkan. Yang kuat tetap langgeng di kursi kuasa. Sejak dulu, tabiat kota ini memang kejam. Di abad ke-17, Batavia adalah arena dimana kekerasan seakan dilegalisir demi pencapaian tujuan. Di masa Gubernur Jenderal Joan Maetsueyker, kekerasan adalah udara yang menjadi napas bagi kelangsungan sistem kolonial. Kekerasan adalah satu-satunya mekanisme untuk menciptakan ketundukan pada bangsa yang harus dihardik dulu agar taat dan ...