Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Tokoh

Mengenang Bung Hatta di Tanah Kusir

Bung Hatta (Source: Historia) Andai bapak berkacamata itu masih hidup, dan diminta menggambarkan situasi bangsanya sekarang, Mohammad Hatta hanya akan perlu mengcopy ulang tulisannya puluhan tahun lalu.  " Di mana- mana orang merasa tidak puas. Pembangunan tak berjalan sebagaimana semestinya. Kemakmuran rakyat masih jauh dari cita-cita, sedangkan nilai uang makin merosot. Perkembangan demokrasi pun telantar karena percekcokan politik senantiasa. Pelaksanaan otonomi daerah terlalu lamban sehingga memicu pergolakan daerah. Tentara merasa tak puas dengan jalannya pemerintahan di tangan partai-partai. "  Hampir tidak ada yang perlu diubah dari kalimat Bung Hatta. Bahkan puluhan tahun setelah kepergiannya, kita masih belum beranjak. Yang nampak berubah hanyalah pembangun dalam bidang infrastruktur, ibarat buah, hanya kulit luarnya saja, tapi tidak dengan hal-hal mendasar yang menjadi cita-cita mulia para pendiri bangsa kita dulu.  Makam Bung Hatta dan Istri (Dokpri) Saya menzi...

Mengenang Sosok Doktor Pertama di NTB

L. Mala Sjarifuddin (sumber poto: Mallarangan Sjarifuddin ) Lelaki itu lahir di Kec. Empang, Kabupaten Sumbawa, 18 November 1932. Tubuhnya tak seberapa tinggi. Perawakannya sederhana, tak jauh berbeda seperti pemuda lain pada umumnya. Sepintas, memang tak ada yang spesial. Ia, Lalu Mala Sjarifuddin, SH. DESS lahir dari pasangan Lalu Abdul Wahab dan Lala Masujirale, pasangan bangsawan tanah karoya.  Menurut keluarga serta para sahabat beliau, L. Mala Sjarifuddin dikenal sebagai sosok yang cerdas namun rendah hati. Tak hanya itu, L. Banggae Muhyidin (garis keluarga) saat ditemui bercerita tentang sosok L. Mala sebagai seseorang yang tak hanya disiplin tetapi juga ahli urat.  Pak H. Muji Taslim (sumber lain), seorang yang pernah menjadi murid L. Mala menyebutkan bahwa mantan gurunya itu adalah sosok yang memiliki rasa sosial yang tinggi dan senang sekali membantu orang lain. Ia mengenang masa-masa kecil bersama salah satu putra terbaik yang pernah dimiliki oleh NTB tersebut....

Saat Nissa Sabyan ke Sumbawa

Nissa Sabyan di Sumbawa (Poto: Humas Sumbawa) Hari ini, saya melihat postingan salah satu akun resmi milik Pemkab Sumbawa. Nissa Sabyan, artis muda yang tengah naik daun itu, sudah mendarat di tanah bulaeng. Di bandara Sultan Muhammad Kaharuddin Sumbawa, ia disambut beberapa pejabat daerah. Nissa akan ikut memeriahkan acara puncak HUT Kabupaten Sumbawa yang ke-61 pada 22 Januari besok. Melalui jendela kecil media sosial, saya hanya bisa mengelus dada. Saya memang sudah merencanakan untuk pulang, lalu menonton langsung konsernya di Sumbawa. Saya sudah membayangkan penampilannya di atas panggung. Saya membayangkan ia akan membawakan lagu kesukaan saya "Ya Asyiqol Mustofa", lalu disambut gemuruh tangan. Sayang sekali, di waktu yang bersamaan, saya harus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Bagi saya, tak ada kalimat yang pantas untuk menggambarkan sosok Nissa, selain kata cantik. Sebagai penyanyi pendatang baru, ia sungguh ideal. Manis, putih, merdu. Ia adalah representas...

Mereka yang Memberi Sekeping Inspirasi

Bersama anak-anak pedalaman Di tengah lahan kering tanah Bulaeng, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, di tengah padang-padang yang menanti air hujan, di tengah hamparan sawah yang membentang luas, terdapat pribadi hebat yang menjadi inspirasi bagi zamannya. Ia adalah warga biasa yang tak dikalahkan oleh keadaan. Ia menjadi simbol bagi mereka yang mendedikasikan diri untuk orang banyak. Ia menyadarkan kita semua bahwa republik ini tak kekuarangan orang baik. Ia membawa optimisme kuat bahwa kita masih punya harapan. *** Pemuda itu bernama Muhammad Iqbal. Ia kerap dipanggil Sanggo. Usianya sekitar 35 tahun. Ia baru saja pulang dari kampus tempatnya bekerja, saat saya temui di sebuah kedai kopi di Sumbawa beberapa waktu lalu. Saat bertemu, Iqbal lansung bercerita tentang sejumlah program yang sedang ia kerjakan. Ia menamainya dengan sebutan "Siap Turun Tangan Program". Banyaknya desa yang masih terisolir di Kabupaten Sumbawa, serta demi menjawab sejumlah permasalahan sos...

Gus Dur di Mata Orang Jepang

Gua Dur (gambar: sisterislam/twitter) Siapa yang tidak kenal Gus Dur? Mantan Ketua Umum PBNU, sekaligus presiden ke-4 Indonesia ini merupakan salah satu tokoh bangsa yang amat fenomenal. Ia adalah cendikiawan muslim tanah air yang dikagumi banyak orang. Gagasan-gagasannya kontroversial, termasuk mengeluarkan dekrit pembubaran DPR/MPR. Di zaman presiden Soeharto, Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang aktif mengkritisi penguasa. Setelah orde baru tumbang, ia pun terjun ke dunia politik, yang lalu mengantarkannya menjadi presiden. Posisi Gus Dur memang tak bertahan lama. Terhitung, masa jabatannya hanya berlansung selama 1 tahun 9 bulan. Banjir kritikan karena kunjungan luar negeri yang demikian banyak, pertentangannya dengan DPR, hingga masalah investasi yang tidak jelas membuat Gus Dur terpaksa diberhentikan dari kursi kepresidenan. Posisinya kumudian digantikan oleh sang wakil, yakni Megawati Sukarnoputri. Kisah tentang Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur saya temukan ...

Saat Tere Liye Memilih Berhenti Mencetak Buku

Tere Liye (sumber foto: idwriters.com) Tak ada kabar yang paling mengejutkan minggu ini selain pemutusan hubungan kerjasama Tere Liye dengan Republika dan Gramedia. Salah satu penulis paling produktif di negeri ini akhirnya migrasi ke media digital. Ia memilih membagikan buku serta catatannya melalui halam pribadi facebook ketimbang mencetak ulang di toko buku. Baru-baru ini, Tere Liye mengumumkan kabar menyedihkan di media sosial terkait karir kepenulisannya. Ia memutuskan untuk berhenti mencetak buku-bukunya. Buku-buku yang masih beredar di pasaran, dibiarkan habis secara alamiah. Hal ini dilakukan demi menanggapi perlakuan pajak pemerintah yang tidak adil terhadap profesi penulis. Walhasil, secara otomatis buku-buku karya Tere Liye tak bisa lagi dijumpai di toko buku. Kalaupun ada, maka dapat dipastikan itu adalah bajakan. Keputusan Tere Liye untuk tak lagi mencetak buku-bukunya bukan berarti bahwa dia berhenti menulis. Seorang penulis akan tetap menulis meski di atas da...

Aung San Suu Kyi di Mata Tuan Guru Bajang

Ilustrasi (sumber foto: hariannusa.com) Konflik berdarah di Myanmar seakan tak pernah berakhir. Ibarat api dalam sekam, setelah sempat senyap dalam beberapa waktu, kini publik internasional kembali diguncang oleh realitas getir yang menimpa muslim Rohingya di Rhakine. Bara permusuhan di salah satu wilayah termiskin di Myanmar itu kembali berkobar. Hanya dalam hitungan hari, ratusan orang tewas, dan ribuan lainnya mengungsi ke tempat aman. Dibalik tragedi memilukan yang melanda militer Myanmar itu, nama Aung San Suu Kyi adalah yang paling banyak menjadi sorotan. Suu Kyi disebut-sebut tak lagi bertaring. Ia seakan tak bereaksi atas krisis kemanusiaan yang menimpa negerinya. Tercatat sebanyak 13 peraih Nobel dan 10 tokoh dari berbagai profesi mengirim surat terbuka kepada Dewan Keamanan PBB untuk mengkritik Suu Kyi dalam menyelesaikan masalah etnis minoritas Rohingya serta mengingatkan tentang tragedi pembasmian etnis dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Demikian pula di Indone...

Tan Malaka yang Selalu Abadi

Buku Madilog karya Tan Malaka Beberapa waktu lalu, saya jalan-jalan ke sebuah toko buku. Di satu rak, saya menyaksikan Madilog masuk dalam daftar 100 buku yang berpengaruh dan berkontribusi terhadap gagasan kebangsaan versi majalah Tempo. Sampai kapanpun, buki ini memang selalu keren. Seorang senior yang juga alumni UNHAS pernah mengirimkannya dalam format pdf beberapa tahun lalu. Saat itu saya agak kesulitan membacanya sebab huruf-hurufnya sangat kecil, tidak jelas. Saya juga pernah berniat mencetaknya namun selalu kandas karena katong tak mengizinkan. Buku ini begitu fenomenal meski ditulis dalam segala keterbatasan. Saya membawanya kemana-mana, membacanya berulang-ulang. Memang tak mudah memahami setiap buku bertemakan filsafat. Perlu waktu  lama untuk mencerna isinya dengan baik. Dulu, Madilog pernah dilarang beredar. Bahkan ketika pemikiran penulisnya dibedah di suatu kota, banyak massa dari salah satu organisasi datang menyerbu. Mereka melarang diskusi pemikiran d...

Puisi Wiji Thukul di Hari Kemerdekaan

Wiji Thukul saat membaca puisi (foto: Wahyu Susilo) Bangsa ini semakin menua. Rambutnya keriput, tubuhnya semakin renta. Isi perutnya hendak meronta-ronta keluar sebab tak tahan digerogoti cacing tanah. Usianya sudah 72 tahun semenjak Ir Sukarno, Presiden pertama republik Indonesia membacakan teks proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, 17 Agustus, 1945 lalu. Orang-orang tengah memperingati hari kemerdekaan. Gegap gempita kegiatan digelar demi mengenang jasa para pendiri bangsa. Satu nama yang melekat di benak saya iyalah Wiji Thukul, salah seorang aktivis orde baru yang hingga kini kematiannya masih menyisahkan misteri. Wiji tak hanya seorang aktivis. Ia adalah sastrawan yang menjadikan kata-kata jauh lebih perkasa dari butiran peluru. Di era Presiden Suharto, Wiji menjadikan kata-kata lebih bertenaga. Puisi berjudul Kemerdekaan yang dibacanya beberapa tahun lalu itu adalah puisi singkat yang pernah menggedor kesewenangan rezim pada satu masa. Demi melawan pengua...

Ketika Dikirimi Buku Oleh Fadli Dzon

Foto: sumber.com Bahagia itu memang tak selalu ditafsirkan dengan keberlimpahan. Bahagia tak selalu dipicu oleh kehidupan yang serba ada. Orang bijak mengatakan, bahagia itu sangatlah sederhana. Yang membuatnya rumit adalah cara pandang dari manusia itu sendiri. Seperti banyak orang lain diluar sana, setiap kali mendapat kiriman buku-buku bagus, saya selalu semeringah. Saya tak sabar untuk segera menyelami lautan kata lalu berbenturan dengan rupa-rupa ilmu didalamnya. Bagi saya, buku itu ibarat bahan makanan yang setiap saat bisa mengatasi rasa lapar akan pengetahuan. Buku memiliki gizi yang tak bisa ditemukan pada berbagai makanan. Menyimpan banyak buku ibarat menyimpan nutrisi yang penting bagi tubuh. Sebab didalamnya, tersimpan banyak kenangan serta jejak berpikir pada satu masa. Saya pernah berandai-andai, jika saja surga yang banyak dibicarakan orang adalah gambaran dari tempat yang paling diinginkan, maka saya membayangkan surga sebagai taman bermain yang didalmnya dipe...

AHY, Soft Power, dan Sebuah Antitesis Untuk Jokowi

Tak ada momentum yang paling menarik minggu ini selain menyaksikan presentasi ilmiah Agus Harimurti Yudhoyono, yang kerap disapa AHY. Tokoh yang ikut meramaikan bursa pencalonan gubernur DKI Jakarta beberapa waktu lalu itu, mengunjungi Lombok baru-baru ini. Agus turut serta bersama rombongan mantan presiden dua periode, Susilo Bambang Yudhoyono dalam agenda Rakornas partai demokrat di NTB. Beberapa kali saya hanya bisa menyaksikan Agus berdebat melalui layar kaca. Di banyak pembicarannya, ia kerap mengkomparasikan teori kepememipinan militer serta berbagi pengalaman saat dirinya masih berseragam TNI dulu. Begitu pula saat debat kandidat calon gubernur DKI tempo hari. AHY memang digadang sebagai tokoh muda yang diharapkan mampu membawa angin perubahan bagi warga ibukota. Dia memiliki segudang prestasi dan track record bagus diusianya yang masih belia. Namun pada kenyatannya, para pengamat justru memprediksi bahwa pria ini tidak akan memberi kejutan apapun di ajang lima tahunan...

Menanti Janji Fahri Hamzah

Nota Kesepahaman Bersama Fahri Hamzah Politisi yang dikenal kerap mengkritik keras kebijakan Pemerintah itu kembali pulang kampung. Fahri Hamzah mengunjungi NTB disela-sela kesibukannya di Jakarta. Fahri berencana menemui orangtua serta berlibur di Pulau Moyo Sumbawa. Namun sebelum itu, dia terlebih dahulu singgah di Mataram, Nusa Tenggara Barat untuk bertemu dengan sejumlah mahasiswa Sumbawa pada kegiatan bertajuk dilaog kebangsaan. Yang paling saya tunggui darinya adalah analisa-analisa mendalam Fahri tentang kondisi kebangsaan. Saya mengamini bahwa tak banyak politisi senayan yang punya keberanian sepertinya. Lantang berbicara meski taruhannya sebuah jabatan. Bukan sekali ini saya bertemu dengan politisi yang akrab disapa FH itu. Dahulu, saya pernah berjumpa dengan beliau diacara dialog kebudayaan yang juga digelar di Mataram. *** Fahri Hamzah bukanlah sosok baru bagi masyarakat Sumbawa. Politisi yang kerap terlibat cekcok dengan KPK itu dulunya sempat kuliah di Univers...

Selamat Ulang Tahun Pram

Pramoedya Ananta Toer Saya ingin hidup, tapi tak membisu. Sebab, diam adalah bentuk lain dari kematian itu sendiri ~ Pramoedya Ananta Toer Pramoedya Ananta Toer dianggap sebagai salah satu Sastrawan paling produktif sepanjang sejarah Indonesia. Tokoh ini telah mewariskan pikiran-pikiran besar bagi para generasi bangsa. Berbagai tulisannya direkomendasikan bagi semua orang yang hendak mengkaji Indonesia pada periode kebangkitan. Hingga saat ini, berbagai karyanya tak pernah alpa bertengger di rak-rak toko buku. Memang benar, seakan tak bosan membaca ulang lembar demi lembar coretan beliau. Pram adalah sosok yang kontroversial. Karyanya yang berisi kritikan, membuatnya selalu bersinggungan dengan penguasa. Ia pernah menjadi pengarang yang paling dibenci oleh penguasa ditanah air. Akan tetapi diluar negeri, ia amat dikagumi banyak orang. Pram pernah mendekam dibalik jeruji besi semenjak zaman Belanda, Sukarno hingga di rezim Suharto. Di masa orde baru, pemerintah kerap menyensor...

Selamat Jalan Kamerad

Fidel Castro Dunia internasional tengah berduka. Fidel Castro, seorang tokoh besar yang juga merupakan icon dari revolusi Kuba itu menghembuskan nafas terakhir pada Jumat, 25 November 2016. Demikian menurut pengumuman televisi negara Kuba yang kemudian dikutip berbagai kantor berita dan media utama di dunia. Cerita tentang kehidupan lelaki yang juga merupakan teman akrab dari tokoh kiri Che Guevara itu adalah cerita tentang perlawanan. Semasa hidupnya, Castro adalah mimpi buruk bagi negara-negara adidaya sekelas Amerika. Bahkan ketika menjabat sebagai presiden, dia memaparkan bahwa dirinya telah mengalami lebih dari 600 kali upaya percobaan pembunuhan. Castro telah membuka jalan menuju sosialisme. Keberhasilan dalam menumbangkan rezim otoriter kala itu, tak terlepas dari kecerdikannya dalam mengelaborasi strategi politik untuk membangun kekuatan sosial rakyat. Tak jauh berbeda dengan sederet tokoh besar pendiri republik ini, Castro juga menghabiskan lebih dari setengah hidupny...