6/30/2020

Akun Palsu


Beberapa hari ini tetiba banyak akun palsu yang minta pertemanan. Ada yang menggunakan poto wanita. Ada pula yang sekedar menggunakan gambar yang dicomot di google. Entah apa motivasinya. 


Akun palsu atau fake account adalah semacam akun alter ego yang sengaja dibuat untuk memperdaya orang lain. Biasanya akun jenis ini hanya digunakan untuk kepentingan sesaat menjelang kontestasi atau pemilihan.


Fake account memang sengaja dibuat dan disebarkan demi membentuk persepsi dan menggiring opini publik. Dengan menggunakan akun palsu, kita akan lebih leluasa bicara tanpa takut dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita sebarkan di media.


Yups, dunia memang sudah berubah. Dahulu, sorak-sorai dan ramai-ramai menjelang pemilihan mudah terpantau di jalan-jalan melalui baliho yang terpampang nyata di ruang publik. Dahulu, kita hanya bisa menyaksikan sorak-sorai itu melalui pertemuan-pertemuan formal serta pengerahan massa di satu tanah lapang.


Kini, sorak-sorai itu ada di media sosial. Semua orang akan berdebat, saling serang, serta saling ancam di media sosial. Saya mengamati bagaimana facebook yang tadinya tenang, kini menjadi arena tempur yang tiada henti. 


Ada banyak yang memasuki rimba raya media sosial dengan membawa segudang misi untuk membela sosok yang diidolakannya. Mereka berkerumun, meramaikan media sosial, mengolah beragam isu, lalu mengemasnya hingga menjadi pesan politik yang lalu memantik perhatian banyak orang.


Sayangnya, tak sedikit pula diantara yang banyak itu adalah akun palsu. Dalam satu group, kita bisa dengan mudah melihat orang-orang berdebat hanya karena satu postingan yang dibagikan akun palsu.


Saya heran kenapa orang-orang begitu mudah marah, saling hujat, mudah mengeluarkan sumpah serapah hanya karena masalah remeh temeh yang tidak ada kaitannya dengan tantangan yang dihadapi bangsa kita. 


Barangkali ini sudah menjadi tabiat kita sebagai manusia yang selalu ingin terlibat dalam satu tema besar yang sedang dibahas banyak orang. Meskipun kita tak selalu paham apa yang sebenarnya terjadi, yang penting kita ikut berkomentar.

5/20/2020

Umat Islam Itu Mudah Diatur!

Gambar: Islammobile.net

Umat islam itu mudah diatur. Tenang saja. Kita memang dianjurkan untuk taat kepada pemimpin. Kita pasti legowo kalau disuruh sholat idul fitri di rumah. 10 minggu sejak pasien pertama diumumkan, kita sudah ikuti semua himbauan pemerintah. Termasuk didalamnya melaksanakan aktivitas ibadah di rumah. Beda pandang soal anjuran sholat berjamaah itu memang sempat ada, tapi toh secara umum masyarakat tetap mematuhi.

Yang membuat kebanyakan kita agak tersinggung itu adalah, karena pemerintah terkesan tidak tegas. Disisi lain tempat ibadah ditutup, masyarakat dilarang berkerumun, dilarang mudik, disuruh diam di rumah, pake masker, social distancing, dan mematuhi segala protokol Covid-19, tapi pada saat yang bersamaan, mall-mall, pusat perbelanjaan, serta pusat keramaian lain masih tetap dibuka. 

Maksud saya, kalau memang pemerintah serius mau melawan Corona, jangan buat aturan itu abu-abu. Jangan multi tafsir. Kasian juga para pejabat di level daerah kelabakan menerjemahkannya. Misalnya: ada daerah yang membolehkan sholat eid di masjid seperti tahun-tahun sebelumnya. Ada juga daerah yang tidak membolehkan. 

Masyarakat kemudian bertanya: kenapa daerah A boleh, kenapa daerah B tidak boleh. Jawabannya tentu bisa beragam. Kita bisa saja mengatakan bahwa tingkat penyebaran Covid-19 di dua daerah ini berbeda. Daerah A dibolehkan karena tingkat penyebarannya tergolong rendah atau bisa dikategorikan sebagai daerah zona hijau, sedang daerah B termasuk zona merah.

Pertanyaan selanjutnya adalah: mana daerah yang disebut zona merah dan mana yang disebut zona hijau. Apa ukurannya. Pada skala mana zona itu berlaku. Apakah pada skala dusun, desa, kabupaten, atau provinsi. Siapa pula yang punya kewenangan untuk menentukannya. Apa konsekuensi bagi mereka yang melakukan pelanggaran. Dan masih banyak lagi.

Bayangkan saja, ditengah kampanye perlawanan terhadap Covid-19 yang sedemikian massif, para pejabat malah seenaknya menggelar konser, tampil di depan kamera dengan mengabaikan protokol Covid-19, tanpa masker, tanpa jaga jarak. Parahnya lagi, masih berani pula mereka menghimbau untuk tetap patuh pada anjuran pemerintah.

Ini sama parahnya dengan kita menceritakan tentang keutamaan berpuasa di bulan ramadhan, sementara kita sendiri tidak berpuasa. Menyuruh orang lain untuk taat beribadah, sedang kita sendiri mengabaikan kewajiban itu. Bingung-bingung ku memikirkan.

Inilah anomali yang kita hadapi sekarang. Pemerintah katanya sudah siap menyongsong era Normal Baru, menyeru untuk berdamai dengan virus, bahkan sempat muncul wacana relaksasi PSBB. Padahal, sebagaimana data yang beredar, curva Covid kita masih fluktuatif. Belum bisa dikendalikan.

Mari lihat contoh kasus di daerah kita NTB. Belakangan, trend kesembuhan pasien Corona di NTB cukup menggembirakan. Bahkan disebut-disebut telah melampaui angka nasional. Dalam satu media, Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah mengatakan NTB berada di posisi kedua sebagai daerah dengan angka kesembuhan terbaik di Indonesia. 

Saya sendiri sangat senang membaca kabar tersebut saat itu. Tentu dengan semakin banyaknya pasien yang sembuh, juga klaster-klaster penyebaran yang telah berhasil diidentifikasi, kita semua berharap tidak ada lagi kasus baru. NTB kemudian segera ditetapkan sebagai zona hijau, lalu masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti biasa. 

Tetapi seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, virus ini bukanlah sesuatu yang mudah ditebak. Buktinya per tanggal 19 Mei kemarin, setelah beberapa hari usai mall di buka, jumlah pasien positif tiba-tiba melonjak. Wal hasil, SKB soal sholat idul fitri dicabut. Gubernur serukan sholat eid di rumah. 

Apa yang bisa kita pelajari dari kasus ini? 

Yang ingin saya sampaikan adalah, kita jangan lengah. Kita semua tentu berharap bahwa setelah sekian lama berdiam di rumah, kita seharusnya sudah berhasil membengkokkan kurva Covid, meringankan beban tenaga medis dan penggali kubur, sehingga kehidupan berangsur pulih.

Saya memahami betapa kita semua ingin segera kembali berkegiatan dan beramai-ramai. Semua orang lelah. Wabah ini tidak hanya menimbulkan dampak psikologis, tetapi juga sosio ekonomi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Jutaan orang telah kehilangan sumber penghidupan. Gelombang PHK terjadi dimana-mana. Rakyat merosot ke jurang kemiskinan. Banyak usaha kecil hingga menengah mengalami penyusutan bahkan kebangkrutan. 

Tetapi bukankah kita semua tahu, bahwa selama vaksin belum ditemukan, kita tidak benar-benar bisa memastikan kapan wabah ini akan hilang dari muka bumi? Terserah kita mau berasumsi apa saja soal virus ini. Yang jelas, data menunjukkan bahwa kasus baru masih tetap ada dan korban jiwa masih terus berguguran.

Kita bisa belajar dari sejarah wabah Flu Spanyol seabad lalu, dimana angka kematian terbesar justru terjadi pada gelombang kedua, setelah orang lelah berdiam di rumah pada gelombang pertama lalu keluar bergaul karena merasa keadaan aman-aman saja.

Soal himbauan sholat eid di rumah?

Kembali ke pernyataan saya di awal. Umat islam itu mudah diatur. Asalkan mereka yang mengatur punya keteladanan yang baik, sehingga layak untuk diikuti. Umat Islam itu mudah diatur. Asalkan mereka yang mengatur punya konsistensi, sejalan antara ucapan dan perbuatan. 

Empang, 20 Mei 2020

5/19/2020

Hening!

Gambar: google

Cintaku sepotong mawar
Tumbuh di batu karang
Kau tak dapat melihatnya
Tapi ia ada di sana

Cintaku sepotong mawar
Tumbuh di batu karang
Kau tak dapat melihatnya
Tapi ia ada di sana

Menunggu mu 
Dalam hening.

Empang, 19 Mei 2020

5/06/2020

Hijrah?

Gambar: google

Saya dan mantan pacar saya sudah putus. Kami memilih hijrah. Kami sepakat untuk tidak lagi menggunakan kosa kata pacaran. Kami ingin berjalan di atas komitmen masing-masing. Kami ingin sama-sama memperbaiki diri. Saya sendiri tidak tahu apakah saya sanggup melakukan ini, tapi sebagaimana pilihan hidup, saya harus siap. Apapun hasilnya nanti. 

Hari ini, saya tiba-tiba amat kepikiran. Saya rindu. Mungkin karena dari dulu kami memang sering komunikasi, meskipun terpaut jarak yang cukup jauh. Saya di Indonesia, sedang dia tengah menempuh studi di Eropa sana. Saya tidak sedang galau. Saya hanya merasa ada sesuatu yang hilang.

Saya membuat tulisan ini karena tidak tahu lagi mesti curhat kemana. Kepala saya dipenuhi banyak hal. Di mata saya, dia adalah perempuan terbaik yang pernah mengisi hari-hari saya setelah ibu. Sebagaimana pasangan lain, kami melakukan banyak hal bersama. Kami berdiskusi, bercanda, berdebat, merencanakan banyak hal, hingga membuat keputusan bersama-sama. 

Hidup memang sebuah pilihan. Saat kita sudah berani memilih, kita harus siap dengan segala konsekuensi. Termasuk juga dalam hal hubungan. Meski tidak merasa nyaman, tapi ada kalanya kita harus menghargai pilihan pasangan kita. Kita tak boleh egois. Barangkali inilah cara semesta mempersiapkan sesuatu yang lebih baik di kemudian hari. 

Saya memang tengah berada di fase tidak sedang berharap kepada siapapun. Saya hanya bisa berdoa sambil terus memperbaiki diri. Semoga ada hikmah dibalik ini semua. 

Empang, 06 Mei 2020

5/05/2020

Kritiklah! Tak usah pakai embel-embel

Gambar: kompasiana

Setelah mendukung, agar mandat yang dipinjamkan pada pemimpin tak diselewengkan, tugas rakyat selanjutnya adalah mengkritik sekeras-kerasnya. Kritik saja. Tak perlu pakai predikat tambahan, seperti kritik konstruktif, solutif, membangun dan lain-lain.

Sering sekali saya melihat komentar berseliweran "jangan cuma pandai berkomentar, kasih solusi dong". Komentar seperti ini biasanya muncul karena kita tak sanggup lagi berdebat dengan sehat. Adu argumentasi. Bisa pula karena merasa dipojokan.

Apakah sebuah kritik harus disertai solusi? Menurut saya tidak. Kalaupun ada kritikan yang disertai solusi itu adalah bonus bagi pemerintah. Lagian kritik juga tak mesti secara eksplisit membeberkan solusi. Sebab seringkali solusinya sudah terkandung dalam kritikan itu. Tentu saja kalau kita membacanya pakai otak. Bukan pakai perasaan.

Misalnya ada kritik: pemerintah dinilai terlalu lamban membuat keputusan perihal penanganan Covid-19. Ya dalam hal ini solusinya jelas, yakni pemerintah harus bekerja lebih keras lagi, lebih giat lagi untuk merumuskan kebijakan yang cepat, tepat dan terukur untuk menangani wabah ini. 

Yang lebih parah lagi biasanya ada komentar seperti ini: "Alah kamu taunya cuman kritik. Memangnya apa yang sudah kamu perbuat?". Lah, dia malah membandingkan kita sebagai rakyat biasa dengan pejabat yang punya wewenang, pegawai, dan anggaran. Jelas nggak nyambung.

Kalau ditanya apa yang sudah saya perbuat, ya tidak ada. Saya menjalani keseharian saya sebagai rakyat. Lalu melakukan sesuatu sesuai kadar kemampuan saya. Apa yang saya lakukan tidak perlu saya pertanggungjawabkan kepada siapapun selama itu tidak melanggar hak orang lain.

Tapi ini pemerintah. Pertanggungjawabannya harus jelas. Sebab yang mereka lakukan akan berimbas pada kemaslahatan orang banyak. Jadi, kita berharap kepada mereka untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, bukan karena perasaan sinis, melainkan karena kita paham mereka diberi kekuasaan dan wewenang untuk melakukan itu.

Dalam banyak hal, kita sebagai rakyat memang hanya perlu mengkritik. Solusinya kita serahkan kepada pemerintah. Mereka diangkat, digaji, difasilitasi, diberi berbagai keistimewaan yang tidak kita dapatkan. Kalau solusinya baik kita apresiasi. Kalau tidak, ya kita kritik. 

Empang, 05 Mei 2029

4/18/2020

Ikuti Saja Fatwa MUI, Gitu Aja Kok Repot!

Gambar: Harakatuna.com

Fatwa MUI itu sudah jelas. Bagi daerah zona merah, atau tingkat penyebaran virusnya cukup tinggi, sholat Jumat bisa diganti dengan sholat Dzuhur sendiri-sendiri di rumah. Kalaupun mau berjamaah, dianjurkan untuk menjaga jarak dengan cara saf direnggangkan.

Ayolah. Tak usah kita mencari dalil-dalil pembenarannya. Kita serahkan saja semua itu kepada mereka yang benar-benar paham. Lagian masa kita yang sholatnya masih bolong-bolong ini mau berdebat soal fiqih dan syariat dengan ulama-ulama MUI yang rata-rata alumnus universitas Islam terkemuka di dunia. Nggak lucu!

Kenapa MUI melarang sholat Jumat untuk sementara?

Hemat saya, ada perbedaan sholat Jumat dengan sholat-sholat lain. Tidak hanya dari segi pelaksanaan, tapi juga waktu dan jumlah jamaah yang datang. Orang yang tidak pernah sholat fardhu biasanya juga datang. Orang-orang yang lewat pun biasanya singgah untuk sholat Jumat.

Jadi, karena virus ini tak bisa dilihat, juga kita tak punya alat untuk memastikannya, maka upaya terbaik yang bisa kita lakukan untuk mencegah penyebarannya adalah tidak sholat Jumat untuk sementara waktu sampai keadaan benar-benar aman.

Berbeda halnya dengan sholat fardhu. Di kampung saya, kalau sholat subuh, dzuhur, ashar, magrib, dan isya biasanya dihadiri oleh tidak lebih dari 20 orang. Yang sholat rata-rata hanya warga kampung yang hari-hari biasa kita lihat. Jadi karena kita sudah mengenal mereka, maka semakin mudah pula mengidentifikasinya.

Jika situasi seperti ini kita ibaratkan sebuah peperangan, maka sesungguhnya kita sedang berperang melawan musuh yang amat berbahaya, tidak biasa, dan mematikan. Karenanya, kewaspadaan harus lebih ditingkatkan. Kita tidak tahu dia ada atau tidak. Tetapi kita tahu wataknya.

Dia tidak berbegarak, tetapi digerakkan oleh orang yang ia jangkiti. Ia menyebar melalui kontak antar manusia. Nah, karena sudah mengetahui wataknya itu, maka strategi yang kita gunakan juga harus benar. Meniadakan sholat Jumat untuk sementara waktu merupakan salah satu strategi. Dalam perang, strategi adalah upaya untuk memenangkan pertarungan.

Kalaupun ada yang melanggar dan tetap memaksakan untuk sholat Jumat di masjid, maka bisa jadi dia kalah dalam hal strategi. Barangkali ia tak punya banyak informasi mengenai watak musuh yang sedang dihadapi. Mungkin niatnya benar, bahwa dengan berdoa kepada Tuhan di masjid, Tuhan akan menyingkirkan virus. Sayangnya, cara kerja takdir Tuhan tidak selalu begitu.

Saat saya mengidap sakit, otomatis saya harus berobat ke rumah sakit. Kalau sekiranya saya tak punya cukup biaya, saya masih bisa membeli obat sesuai dengan penyakit yang saya derita di apotik. Intinya untuk sembuh, saya mesti berusaha. Sisanya baru saya serahkan kepada Tuhan melalui doa dan pengharapan.

Artinya, kita tetap mempercayai takdir dan ketetapan. Kita percaya bahwa selalu ada faktor X yang terjadi di dunia ini di luar kendali manusia.

Suatu waktu, Siti Maryam dalam keadaan hamil besar. Tuhan memerintahkan Maryam untuk menggerakkan tangannya dan memukul-mukul pohon sehingga buah di pohon itu pun berguguran.

Apa susahnya bagi Tuhan untuk langsung menjatuhkan buah pohon itu?

Sekali lagi. Tuhan ingin kita terlibat dalam proses. Memukul batang pohon adalah cara manusia. Melalui cara itulah, Tuhan memenuhi kebutuhan siti Maryam yang sedang hamil tua

Begitu pula dengan Corona. Tidak sulit bagi tuhan untuk menghilangkan virus ini di muka bumi. Tetapi Tuhan ingin melihat usaha kita sebagai manusia. Melalui virus, barangkali Tuhan ingin menguji sejauh mana usaha kita menemukan vaksin, memutus rantai penyebaran, solidaritas sosial, serta kepedulian kita terhadap sesama. Atau, bisa pula sedang menguji kualitas keimanan kita.

Tulisan ini bukan untuk di debat. Apalagi sampai menimbulkan perdebatan. Ini murni pandangan pribadi. Kalau ada yang kebetulan membaca dan tidak sepaham, mari saling menghargai saja. Jangan malah ngajak berdebat soal fiqih dan syariat. Saya kurang paham.

Empang, 18 April 2020

4/16/2020

Belajar Sejarah Pada Peter Carey

Peter Carey (Gambar: Tempo.com)

Hampir satu jam saya menonton live wawancara tim Historia bersama sejarawan Peter Carey di Instagram.

Senang sekali rasanya mendengar penjelasan alumni Oxford itu tentang pangeran Diponegoro. Kalau tidak ada dia, mungkin kita hanya sebatas mengenal pangeran Diponegoro melalui buku-buku sejarah umum. Tak benar-benar tahu nilai yang dia perjuangkan, serta bagaimana perlawanannya sempat merepotkan penjajah, hingga membuat Belanda hampir bangkrut.

Demi menjelaskan satu gambaran utuh tentang sosok yang ditelitinya itu, Carey bercerita tentang perjuangannya mengumpulkan banyak arsip. Ia juga rela bangun setiap pagi untuk belajar bahasa Indonesia dan Belanda, juga berpayah-payah mempelajari sastra Jawa agar lebih mudah memahami dokumen.

Suatu waktu Carey sempat mengusulkan Babad Diponegoro kepada UNESCO untuk dijadikan warisan dunia. Sayang, usahanya itu harus kandas setelah beberapa dokumen kelengkapan tak bisa dipenuhi.

Dalam sesi wawancara itu, Carey menjelaskan dengan detail kehidupan pangeran Diponegoro. Basis argumennya dibangun melalui penelitian selama bertahun-tahun. Tak lupa ia juga memberi klarifikasi terkait komentarnya yang sempat menghebohkan jagat maya perihal "Diponegoro juga minum wine".

Saya senang saat Carey menjelaskan tentang keris pangeran Diponegoro yang dikembalikan Belanda beberapa waktu lalu. Menurut Carey, memang benar keris itu adalah milik Diponegoro, tetapi bukanlah keris pusaka. Keris itu adalah hadiah pemberian kepada salah satu pejabat Belanda dulu atas kepercayaannya. Sedang sejumlah benda pusaka milik Diponegoro sendiri ia wariskan kepada anak-anaknya.

Carey juga menolak soal isu bantuan dari bala tentara Ottoman terhadap perjuangan Dipenogoro di Pulau Jawa. Katanya itu tidak benar. Tak ada dokumen kuat yang bisa dijadikan pembuktian. 

Kita boleh tak sepakat dengan Carey. Tetapi kita harus terlebih dahulu mendapatkan informasi tentang sosok ini dan apa saja yang dilakukan semasa hidupnya. Jika tak punya informasi, maka telusurilah banyak sumber sebagaimana yang dilakukan Carey. Sebab apa yang kita sebut sejarah, selalu berkaitan erat dengan dinamika masyarakat saat itu.

Barangkali dengan cara itulah kita bisa membayangkan apa yang telah dilakukan Cindy Adams demi memahami sosok Soekarno, Rudolf Mrazek dengan Sjahrir, Greg Barton dengan Gus Dur, serta Harry A Poeze dengan sosok Tan Malaka.

Berkat para peneliti dan sejarawan, seseorang bisa diabadikan sehingga generasi mendatang bisa menemui gambaran yang utuh tentang masa silam.

Empang, 16 April 2020