Dokpri Kurir itu datang. Ia membawa sebuah buku berjudul “Badai di Tengah Kepungan Kartel Narkoba” yang saya pesan beberapa waktu lalu. Penulisnya Uswatun Hasanah yang akrab disapa Badai NTB. Saya mulai mengikuti Badai setahun terakhir. Tulisan-tulisannya tajam. Postingannya kerap memantik perhatian. Fokus utamanya adalah isu-isu terkait peredaran Narkoba di Pulau Sumbawa. Secara personal, saya tak kenal dengan perempuan itu. Tetapi banyak sahabat saya terutama yang berasal dari Bima mengaku mengenalnya. Di mata saya, badai adalah aktivis yang akrab dengan kerja-kerja investigasi. Ia tak hanya kuat secara narasi, tetapi juga menyuguhkan data yang terukur. Barangkali inilah letak kekuatannya. Badai tak marah-marah di medsos. Ia menyuguhkan data. Ia paham tengah bermain di wilayah yang berbahaya, karenanya, apa yang Ia tampilkan haruslah disertai data yang kuat dan terukur. Saya membaca buku Badai NTB yang tidak sekadar berisi tentang perjalanan hidup, tetapi juga ...
Dokpri Ada sesuatu yang ganjil dalam dunia yang terlalu terang. Lampu-lampu menyala, kamera berkedip, orang-orang tersenyum, namun di balik semua itu, ada kesunyian yang tidak pernah benar-benar hilang. Cerita berpusat pada Igor, seorang miliarder Rusia yang datang ke Festival Cannes dengan satu tujuan yakni merebut kembali mantan istrinya. Tetapi obsesinya itu berkembang menjadi sesuatu yang ekstrem dan berbahaya. Di sekeliling Igor, muncul berbagai karakter lain. Ada model yang mengejar popularitas, aktor yang haus akan pengakuan, hingga produser yang bermain kekuasaan. Semua terjebak dalam satu benang merah: obsesi terhadap kesuksesan dan citra diri. Saya baru saja membaca Novel berjudul Sang Pemenang Berdiri Sendirian karya Paulo Coelho. Sebuah novel yang tidak sekadar bercerita, tetapi mengajak kita menatap cermin, dan mungkin, kita tidak selalu menyukai apa yang kita lihat di dalamnya. Lewat kisah Igor, miliarder yang rela melakukan apa saja demi obsesi cintanya itu, Coelho menco...