2/10/2019

Pemilu DPR-RI Dapil NTB I Wilayah Pulau Sumbawa, Catatan dan Tantangan

Penjelasan Pemilu 2019 (Photo by: KPU RI)

Menjelang pemilihan umum (Pemilu) 17 April 2019, banyak lembaga survei profesional yang turut andil dalam meramaikan konstelasi politik. Hal ini bertujuan untuk melihat sejauh mana kekuatan partai politik dalam pesta demokrasi lima tahunan nanti. Meskipun tak sepenuhnya bisa menjadi tolak ukur, tapi dalam budaya demokrasi Indonesia, lembaga survei memang memiliki peran yang strategis dalam menentukan persepsi publik.

Baru-baru ini, sebuah lembaga survey telah merilis hasil survei yang dilakukan selama rentang waktu 23-31 Januari 2019 dengan sample berasal dari 34 Provinsi di Indonesia. Survei yang dilakukan oleh Celebes Research Center (CRC) tersebut setidaknya telah menempatkan beberapa parpol yang berhasil menembus Parliamentary Treshold atau ambang batas 4 persen suara nasional.

Partai-partai tersebut adalah PDIP (24,5%), Gerindra (12,9%) Golkar (10,4%), PKB (7,5%), PKS (5,0%), dan Demokrat (4,6%). Sementara beberapa partai lain yang mengikuti dan masih berpeluang adalah PPP (2,8%), NasDem (2,8%), Perindo (2,3%), PAN (2,2%), Hanura (0,8%), PBB (0,6%), PSI (0,2%), Berkarya (0,1%), Garuda (0,1%) dan PKPI (0,0%). Di sisi lain, angka tidak akan ikut memilih sebanyak 1,5% dan angka Tidak tahu, tidak jawab dan rahasia sebanyak 21,7%.

Sumber data di atas: https://m.detik.com/news/berita/d-4421768/survei-celebes-research-pkb-pks-di-atas-pd-psi-hingga-berkarya-parnoko

DAPIL NTB I WILAYAH PULAU SUMBAWA

Berbicara DPR RI, seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, ada beberapa perbedaan pemilu 2019 dengan pemilu-pemilu sebelumnya bagi masyarakat Pulau Sumbawa. Namun yang paling mendasar adalah telah ditetapkannya pemisahan Daerah Pemilihan (DAPIL) sesuai peraturan perundang-undangan.

Dapil NTB telah dibagi menjadi dua yakni: Dapil NTB I Wilayah Pulau Sumbawa dan Dapil NTB II Wilayah Pulau Lombok. Dari sisi jumlah kursi yang akan diperebutkan, Dapil Pulau Lombok tentu memiliki kuota lebih banyak dikarenakan angka jumlah penduduk yang lebih banyak pula. Dapil Pulau Lombok mendapat jatah 8 kursi, sementara Dapil Pulau Sumbawa hanya mendapat jatah sebanyak 3 kursi.

Karena berbeda sistem dan aturan dengan pemilihan umum DPR tingkat I (Provinsi) dan tingkat II (Kabupaten), Pemilihan Umum DPR RI punya tantangan tersendiri. Pertama, partai harus memastikan diri lolos 4 persen suara nasional atau setara dengan 7. 680.000 pemilih jika jumlah pemilih tetap mencapai 192 juta jiwa sebagaimana laporan CNN Indonesia beberapa waktu lalu.

Kedua, partai tak hanya memastikan diri untuk lolos Parliamentary Treshold sebanyak 4 persen, tetapi juga harus memiliki komposisi caleg yang baik dan merata, sebab nantinya diharapakan bisa sama-sama mendulang suara dalam pemilihan. Maksudnya, komposisi suara caleg mesti berimbang atau minimal tidak jauh lebih banyak atau jauh lebih sedikit dibanding caleg lain dalam satu partai.

Dapil NTB I Wilayah Pulau Sumbawa merupakan Dapil neraka. Sebab secara geografis, Pulau Sumbawa memiliki luas wilayah yang sangat luas, akan tetapi mendapat jatah kursi yang relatif sedikit. Hanya tiga kursi. Ini merupakan catatan dan tantangan tersendiri bagi tiap caleg sekaligus warning bagi masyarakat Pulau Sumbawa agar cerdas dalam menentukan pilihan.

Sumbawa, 10 Februari 2019

1/31/2019

Dua Buku yang Menemani Perjalanan

Dua Buku

Dua buku yang dipesan secara online sudah ada di atas meja.

Pertama, the art of war milik ahli strategi perang Sun Tzu. Setidaknya, terjemahan dari naskah asli telah banyak diadopsi dan masih sangat relevan hingga sekarang. Dalam strategi Sun Tzu, pengenalan diri dan pengenalan musuh adalah kunci untuk memenangkan pertempuran. Mereka yang sesumbar tentang kekuatan diri, cendrung mudah dikalahkan.

Dia yang menang adalah dia yang mengenal musuh maupun dirinya sendiri. Dia yang tidak mengenal musuh tetapi mengenal dirinya sendiri akan sesekali menang dan sesekali kalah. Dia yang tidak mengenal musuh ataupun dirinya sendiri akan beresiko kalah dalam setiap pertempuran.

Kedua adalah, Small Acts of Resistance: How Courage, Tenacity, and Ingenuity Can Change the World yang ditulis Steve Crawshaw dan John jackson. Buku ini kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Roem Topatimasang, dan diterbitkan Insist dengan judul Tindakan-Tindakan kecil Perlawanan: Bagaimana Keberanian, Ketegaran, dan Kecerdikan Dapat Mengubah Dunia.

Buku ini memuat 80 cuplikan kisah nyata dan tak lazim yang justru membawa perubahan besar. Bagaimana kereta-kereta dorong, kertas toilet, dan saus merah makanan cepat saji berperan dalam gerakan meruntuhkan rezim yang sudah berkuasa selama 40 tahun di Eropa Timur, bagaimana penonton sepakbola di Uruguay menemukan cara baru menyanyikan lagu kebangsaan yang mempermalukan dan mengawali tumbangnya para jendral rezim diktator.

Tak hanya itu, aksi mencuci bendera ternyata bisa menggetarkan rakyat Peru, pesan tersembunyi pada desain mata uang bisa menggelisahkan rakyat Myanmar, permainan sepakbola Didier Drogba bisa mengharu-biru Pantai Gading.

Jangan terkejut, revolusi di dunia Arab dimulai dari aksi meneruskan pesan di twitter, aksi perempuan Serbia yang tetap berdandan seksi dengan lipstick merona demi menghentikan perang, hingga fakta jatuhnya rezim Slobodan Milosevic dimulai dari aksi mengutak-atik program photoshop.

Hah???

Saya mengamini kalimat Nadezhda Mandelstam di awal buku: "Seseorang yang berjiwa bebas, dengan segenap ingatan dan juga ketakutannya, adalah sebatang tetumbuhan air yang rantingnya membelokkan arah deras arus sungai.” Perubahan sosial tidak selalu mesti diawali dengan pengerahan massa besar-besaran dan tindakan-tindakan heroik yang menggelegar.

Pemicunya tak selalu para pahlawan, prajurit hebat, ataupun manusia dengan trah setengah dewa yang turun dari langit. Pemicunya adalah orang-orang biasa yang melakukan tindakan-tindakan kecil, yang lalu menggugah publik. Pemicunya ada di sekitar kita.

Sumbawa, 31 Januari 2019

12/21/2018

Sepintas tentang Masa Depan Manusia dalam Homo Deus

Buku Homo Deus, karangan Yuval Noah Harari

Homo Deus menunjukkan kemana kita akan pergi.

Demikian petikan kalimat yang menggambarkan isi dari buku karangan sejarawan muda Israel, Yuval Noah Harari. Setelah sukses melahirkan Sapiens, profesor muda itu kemudian menulis buku kedua berjudul Homo Deus yang juga direkomendasikan banyak tokoh dunia seperti Mark Zuckerberg, Bill Gates, hingga Barrack Obama.

Dalam Homo Deus, Harari menelaah ke masa depan dan mengeksplorasi bagaimana kekuatan global bergeser. Kekuatan utama evolusi atau seleksi alam akan digantikan okeh teknologi baru tingkat dewa, seperti kecerdasan buatan dan rekayasa genetika.

Masa depan adalah era kecerdasan buatan yang lalu dengan cepat akan mengambil alih sebagian besar pekerjaan manusia untuk dikerjakan dengan komputer, robot dan mesin. Banyak manusia jadi pengangguran, muncul kelas baru yang mengendalikan semua lini kehidupan.

Yang paling menarik adalah penjelasan panjang tentang teknologi yang lebih memahami manusia ketimbang manusia itu sendiri. Facebook, Google dan banyak media sosial yang kita gunakan saat ini punya catatan lengkap tentang apa saja yang kita bagikan, apa yang kita bicarakan, kemana saja kita bepergian, buku apa yang kita baca, hingga makanan apa yang kita sukai.

Sistem algoritma facebook dan google sama dengan algoritma yang terjadi dalam sistem kognitif manusia saat berpikir. Ketika membuka facebook, tentu postingan-postingan teratas yang kita jumpai adalah postingan mereka yang sering berinteraksi dengan kita.

Demikian pula saat belanja di situs online. Kita dengan mudah akan menjumpai jenis barang yang pernah kita beli disitu. Semuanya direkam dalam basis data. Dari situ algoritma komputer bisa memetakan apa saja yang kita sukai.

Seiring berjalannya waktu, manusia tidak cuma akan kehilangan dominasinya atas dunia, tapi semuanya. Manusia akan tergantikan oleh mesin. Atas nama kebebasan dan individualisme, mitos humanis akan dibuang bak kaset lama yang usang.

Lalu pada akhirnya, muncul pertanyaan penting bagi umat manusia: Kemana kita akan pergi dari sini? Takdir baru apa yang akan kita jalani? Apa yang harus kita lakukan?

10/22/2018

Mereka yang Memberi Sekeping Inspirasi

Bersama anak-anak pedalaman

Di tengah lahan kering tanah Bulaeng, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, di tengah padang-padang yang menanti air hujan, di tengah hamparan sawah yang membentang luas, terdapat pribadi hebat yang menjadi inspirasi bagi zamannya.

Ia adalah warga biasa yang tak dikalahkan oleh keadaan. Ia menjadi simbol bagi mereka yang mendedikasikan diri untuk orang banyak. Ia menyadarkan kita semua bahwa republik ini tak kekuarangan orang baik. Ia membawa optimisme kuat bahwa kita masih punya harapan.

***

Pemuda itu bernama Muhammad Iqbal. Ia kerap dipanggil Sanggo. Usianya sekitar 35 tahun. Ia baru saja pulang dari kampus tempatnya bekerja, saat saya temui di sebuah kedai kopi di Sumbawa beberapa waktu lalu.

Saat bertemu, Iqbal lansung bercerita tentang sejumlah program yang sedang ia kerjakan. Ia menamainya dengan sebutan "Siap Turun Tangan Program". Banyaknya desa yang masih terisolir di Kabupaten Sumbawa, serta demi menjawab sejumlah permasalahan sosial yang ada, membuatnya terinspirasi untuk melakukan banyak hal.

Selain berprofesi sebagai warek, Iqbal adalah pelaku seni yang aktif di berbagai event kebudayaan. Demi menyalurkan hobinya itu, ia lalu membuat komunitas seni bersama rekan-rekannya yang bertujuan positif yakni sering bepergian ke desa-desa, menghibur masyarakat sembari belajar bersama warga untuk mengatasi banyak masalah.

Niat Iqbal adalah murni berbagi pengetahuan. Bersama sahabat-sahabatnya, ia pergi ke banyak daerah terpencil demi mengekspresikan dedikasi dan perasaan cinta terhadap sesama. Beberapa sahabatnya adalah Samsun Hidayat, Widy, Aan Guna, dan Zulkifly. Mereka sama-sama prihatin terhadap kondisi masyarakat Sumbawa, terutama mereka yang tinggal di pesisir dan kerap terabaikan

Iqbal bersama sahabat
Kondisi jalanan
Bersama anak-anak setempat

Agustus lalu, Iqbal menggagas program bertajuk "Pesta Anak Langit" di Desa Tepal, Kecamatan Batu Lanteh. Salah satu daerah penghasil kopi di Sumbawa ini, memang berada jauh dari pusat kota dengan segala keterbatasan akses. Butuh waktu selama berjam-jam dengan kondisi jalan yang tak beraspal untuk sampai kesana.

Ia menyebutkan, program Pesta Anak Langit memuat beberapa konten kegiatan yang bersifat edukatif bagi anak-anak pedalaman seperti mendongeng, menggambar, menyanyi, dan sebagainya. Selain itu, ia juga mengunjungi Dusun Talagumung. Di sana, ia memberikan bantuan Solar Cell kepada masyarakat agar bisa menikmati cahaya atau penerangan yang selama ini menjadi dambaan masyarakat setempat.

Saat saya tanya dari mana anggarannya, Iqbal memaparkan bahwa ia menggandeng sejumlah NGO dan volunteer dari luar untuk bekerjasama. "Inilah cara kami turun tangan. Pesta ini tidak hanya dinikmati oleh anak-anak di desa, tapi juga para pilot, peneliti, dan berbagai profesi yang menyumbangkan barang-barangnya secara sukarela kepada kami." Jelasnya.

Hal lain yang juga tengah fokus ia lakukan saat ini adalah kampanye pelestarian Burung Kakatua Jambul Kuning di Kawasan Taman Nasional Pulau Moyo, Sumbawa. Kegiatan itu dilakukan demi merawat kesadaran masyarakat agar tetap menjaga keindahan Pulau Moyo yang dikenal memiliki potensi alam dan keanekaragaman hayati.

Sosialisasi Pelestarian

Pulau yang menjadi ikon Sumbawa ini memang memiliki pesona alam yang memukau. Salah satu daya tarik Pulau Moyo adalah Air terjun Mata Jitu yang jernih mengalir didalamnya. Tercatat beberapa tokoh dunia seperti mendiang Lady Diana dan petenis cantik Maria Sharapova pernah berkunjung ke tempat itu.

Wajar jika Iqbal merasa resah. Pasalnya, ekosistem hutan di Pulau Moyo kian hari kian mengkhawatirkan. Berdasarkan data per oktober 2015, kerusakan hutan telah mencapai 1.000 hektar dari total luas Pulau Moyo 30.000 hektar. Kerusakan tersebut diakibatkan oleh oknum masyarakat yang tak bertanggungjawab.

Belum lagi fenomena Takat Segele yang baru-baru ini dikabarkan rusak parah, sehingga tidak rekomended lagi bagi para pecinta snorkeling. Di media sosial, beredar video yang menggambarkan kondisi terkini taman laut Takat Segele di Pulau Moyo yang amat memprihatinkan. Tak ada ikan-ikan kecil yang bermain di karang. Semuanya hancur diduga karena aktivitas pengeboman.

Kampanye pelestarian kepada siswa
Kampamye pelestarian kakatua jambul kuning

Yang mengesankan bagi saya, di tengah-tengah misi idealisnya bersama kawan-kawan, Iqbal tetap menjalani profesinya sendiri. Ia menjalani hari-hari sebagai pejabat kampus yang setia dengan berbagai aturan. Ia juga menjadi salah satu donatur untuk usaha kedai kopi yang dikelola oleh anak-anak muda di Sumbawa. Melalui kedai itu, ia kemudian mempromosikan berbagai jenis kopi asli Sumbawa kepada para pengunjung.

Iqbal memang menginspirasi. Ia melakukan banyak kegiatan yang kemudian menjadi arena baginya untuk membumikan idealisme, serta niat tulusnya untuk berbagi pengetahuan dengan orang lain. Saya sungguh beruntung bisa mengenalnya.

Iqbal adalah satu dari sekian banyak pribadi-pribadi hebat di sekitar kita. Mereka bekerja dalam diam, jauh dari kilatan cahaya kamera dan pencitraan. Kepadanya saya belajar betapa ide dan kepedulian selalu memiliki kaki-kaki tindakan untuk menggapai perubahan.

Bangsa ini akan kokoh sebab di dalamnya terdapat sejumlah manusia-manusia biasa yang bertindak luar biasa demi menghadirkan senyum di wajah orang lain, serta mimpi untuk menguatkan hati serta jiwa bangsa.

Bangsa ini akan selalu kuat sebab di sekitar kita masih banyak pemuda-pemuda yang lebih memilih menjadi lentera kehidupan, ketimbang mengutuk kegelapan. Yups, mereka adalah pahlawan-pahlawan di zaman modern.

Mataram, 22 Oktober 2018

10/20/2018

Sensasi Wisata Hiu Paus Desa Labuhan Jambu, Sumbawa

Wisata hiu paus (Poto: Muhaidin Kasim)

Tangan kanan bapak itu mengetuk-ngetuk badan perahu. Tidak berapa lama, sebuah bayangan besar muncul ke permukaan air laut. Badannya penuh totol abu-abu dan putih dengan ukuran mulut yang lebar, sekira 85 centimeter. Yang muncul ternyata hiu paus.

"Mengetuk-ngetuk badan perahu, adalah salah satu cara memanggil ikan besar ini. Setelah muncul ke permukaan, kita bisa memberi mereka makan dengan udang-udang kecil. Demikianlah sikap ramah hiu paus yang tak diketahui banyak orang.

Hiu paus dengan nama latinnya Rhincondon Typus juga dikenal dengan sebutan Whale Shark. Semenjak titik keberadaannya diketahui beberapa waktu lalu, hiu paus seakan menjadi primadona baru bagi masyarakat Desa Labuhan Jambu, Kecamatan Tarano, Kabupaten Sumbawa.

Hiu paus muncul ke permukaan (poto: Muhaidin Kasim)

Desa Labuhan Jambu merupakan salah satu desa yang berada di wilayah pesisir pantai Teluk Saleh. Hal tersebut, menjadikan mayoritas penduduk desa ini bermata pencaharian sebagai nelayan. Meski ada sebagian kecil  yang berprofesi sebagai petani dan pedagang.

Letak geografis telah mempengaruhi dan membentuk kebudayaan hidup masyarakat dengan membangun pemukiman yang membentang mengikuti garis pantai sepanjang kurang lebih 10 KM.

Potensi yang dimiliki Desa Labuhan Jambu selain di bidang perikanan, pemanfaatan sektor bahari lainnya seperti pengelolaan sektor pariwisata juga menjadi produk inovasi yang dilakukan oleh pemerintah desa bersama kelompok masyarakat sadar wisata (POKDARWIS).

Jenis atraksi wisata yang coba dikembangkan yaitu wisata hiu paus (whale shark tourism), wisata snorkeling, wisata memancing  dan lain sebagainya yang dikelola secara profesional dan berkelanjutan berdasarkan hasil kajian ilmiah.

Dalam pengelolaan pariwisata di Desa Labuhan Jambu khususnya wisata Hiu Paus, Pokdarwis didampingi oleh salah satu lembaga internasional yakni Conservasion Internasional (CI) Indonesia.

Lembaga non profit ini telah banyak memberikan peran penting bagi masyarakat Desa Labuhan Jambu melalui program-program yang bertemakan konservasi sejak tahun 2017 lalu.

Saat ini, program CI masih terfokus pada satu potensi saja yaitu konservasi hiu paus dengan menggunakan metode pemasangan alat tagging di bagian sirip atas hiu paus serta pendataan jumlah individu/perilaku hiu paus itu sendiri.

Dari hasil pengamatan yang dilakukan CI selama periode September 2017 - Agustus 2018, tercatat sebanyak 59 ekor hiu paus yang telah teridentifikasi meski baru 9 individu yang telah di tagging. Hiu paus yang paling panjang yang pernah dilihat sekitar 10,8 meter, namun yang paling sering ditemui adalah anaknya-anaknya.

Data tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah dengan melihat tingkat kemunculan hiu paus di bagan (perahu besar, biasa digunakan untuk mencari ikan) nelayan yang selalu ada setiap harinya.

Kemunculan hiu paus sebenarnya sepanjang tahun, hanya saja yang paling sering sekitar bulan Juli hingga November, bertepatan dengan musim ebi. Ebi (Acetes)- cikal bakal terasi, merupakan makanan si hiu paus. Selain pada rentang waktu tersebut, kemunculannya berpindah-pindah di beberapa titik di Teluk Saleh termasuk di Gili Dua hingga dekat perairan Pulau Moyo.

Menurut salang seorang konsultan CI, selain whale shark, ada beberapa spesies langka lainnya yang dia temui selama melakukan kegiatan konservasi di Teluk Saleh seperti Pari Manta (Mobula alfredi), Sperm whale, Penyu Belimbing dan Penyu Hijau.

Sebagai wujud keinginan untuk berkembang pada bidang pengelolaan wisata bahari, Desa labuhan Jambu akhirnya turut ambil bagian pada saat penyelenggaraan Festival Sail Moyo - Tambora tahun 2018 dengan menampilkan PESONA HIU PAUS.

Hiu paus di perahu wisatawan (Poto: Instagram/ers.ega)

Pembukaan perdana dilakukan pada tanggal 11 September 2018 dan langsung menerima kunjungan wisatawan dari berbagai negara sebanyak 35 orang yang terbagi dalam wisatawan mancanegara sebanyak 25 orang dan wisatawan lokal sebanyak 10 orang termasuk rombongan pemerintah Sumbawa.

Saat itu, Wakil Bupati Sumbawa juga menyempatkan diri hadir dan melihat secara langsung kemunculan hiu paus di teluk saleh. Beliau sangat mengapresiasi inisiatif  Pemerintah Desa Labuhan Jambu untuk membangun wisata hiu paus yang berkelanjutan.

Menurutnya, keberadaan desa Labuhan Jambu melalui Pokdarwis akan membawa manfaat  bagi pembangunan Kabupaten Sumbawa khususnya pada bidang Pengelolaan wisata bahari.

Potensi yang ada saat ini di Teluk Saleh harus segera dikelola dengan baik, karena kedepan diharapkan akan mampu menyumbang PAD Kabupaten dan Provinsi NTB dari sektor wisata bahari.

Dengan demikian, wisata hiu paus di Desa Labuhan Jambu perlu menjadi perhatian bersama, baik oleh pemerintah desa, kabupaten, provinsi bahkan pemerintah pusat untuk terus mendorong pengelolaan wisata hiu paus ini secara maksimal melalui program-program strategis pemerintah

Memang hingga saat ini, keterbatasan fasilitas pendukung pariwisata menjadi kendala besar yang dirasakan oleh pengelola wisata hiu paus. Pengelola belum mampu memberikan pelayanan maksimal kepada para wisatawan sehingga ikut berpengaruh pada harga paket wisata yang ditawarkan.

Kondisi tersebut tentu akan menjadi ancaman bagi keberlanjutan wisata hiu paus jika tidak segera ditangani oleh pemerintah sebagai pemegang kebijakan.

Menyaksikan hiu paus dari jarak dekat (Poto: Muhaidin Kasim)

Belum banyak publikasi yang menjelaskan tentang wisata hiu paus di Desa Labuhan Jambu, Sumbawa. Saya berusaha mengumpulkan data terkait harga, hingga fasilitas apa saja yang bisa didapatkan oleh wisatawan yang berkunjung dari ketua pokdarwis setempat melalui media sosial.

Harga pada umumnya dibedakan menjadi dua paket yakni tamu dalam negeri land based dan live a board). Sedang pengunjung akan mendapatkan beberapa fasilitas seperti penginapan, produk makanan lokal, cindera mata, dal lain sebagainya.

Saat ini, hiu paus telah dinyatakan sebagai satwa yang dilindungi berdasarkan keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor 18/Kepmen-KP/2013 tertanggal 20 Mei 2013.

Spesies ikan terbesar ini memiliki karakter yang spesifik seperti berumur panjang, fekunditas rendah, jumlah anakan sedikit, lambat dalam mencapai matang kelamin, dan pertumbuhannya lambat, sehingga sekali terjadi over eksploitasi, sangat sulit populasinya untuk kembali pulih.

Oleh karena itu, menjadikan hiu paus sebagai objek berbasis pariwisata juga berarti sebuah usaha untuk melestarikan ekosistem hiu paus itu sendiri.

Mataran, 20 Oktober 2018

10/19/2018

Benarkah Divestasi 51 Persen Saham Freeport adalah Kebohongan Publik?

(Gambar: Kaskus)

Seperti biasa, menjelang pilpres, ada saja berita heboh dan menggemparkan jagat maya. Mulai dari kasus Ratna Sarumpaet yang terang-terangan menyebar hoax, skandal buku merah KPK yang menyeret-nyeret nama Kapolri Tito Karnavian, hingga penembakan misterius di gedung DPR.

Baru-baru ini, di media sosial khususnya twitter, beredar dokumen yang mengindikasikan bahwa divestasi 51 persen saham Freeport yang telah dilakukan oleh pemerintah adalah bohong belaka. Dokumen itu merupakan hasil dari Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi VII DPR RI, Dirjen Minerba Kementerian ESDM, Direktur Utama PT Inalum, dan Direktur Utama PT Freeport Indonesia.


Dokumen (Gambar: Twitter/Jansen Sitindaon)
Dokumen (Gambar: Twitter/ Jansen Sitindaon)

Di salah satu kesimpulan/keputusan pada point nomer dua dokumen tersebut menyebutkan:

"Komisi VII DPR RI mendapatkan penjelasan bahwa divestasi saham PT Freeport Indonesia masih belum terealisasi, untuk itu Komisi VII DPR RI meminta kepada pejabat tinggi terkait agar memberikan pernyataan yang benar kepada rakyat mengenai proses divestasi saham PT Freeport Indonesia".

Dokumen itu kemudian dengan cepat menyebar. Bahkan hingga saat ini, dokumen tersebut telah di posting oleh ribuan warga net. Beberapa tokoh politik seperti Jansen Sitindaon (Ketua DPP Demokrat) dan Fahri Hamzah (Wakil Ketua DPR RI) juga ikut berkomentar perihal kemunculannya.

Jansen melalui akun twitter pribadinya mengunggah dua bukti dokumen dan mengutip isi dari point yang tertera pada dokumen itu. "Jadi bohong 51 persen saham Freeport sudah di tangan!", tulisnya di akhir cuitan. Sementara Fahri, politisi asal NTB itu berkomentar, jika ternyata benar, maka dokumen tersebut bisa dipakai untuk menuntut. Entah menuntut siapa yang dia maksudkan.

Postingan Jansen

Dua hari sebelumnya yakni pada tanggal 17 Oktober 2018, tirto id melalui web resminya juga menulis hal serupa. Berita itu berjudul "Anggota Komisi VII Sebut Akuisisi Saham Freeport Pembohong Publik".

Dikutip dari tirto id, anggota Komisi VII fraksi Demokrat Muhammad Nasir mempertanyakan kabar simpang siur terkait divestasi Freeport dalam rapat bersama komisi VII DPR RI.

Sebabnya, Dirut PT Inalum (Persero) yang dimandatkan untuk mengakuisisi 51 persen saham Freeport menyampaikan bahwa pihaknya belum melaksanakan pembayaran sepeserpun.

Nasir geram lantaran merasa dibohongi Pemerintah soal divestasi saham yang telah tuntas dilakukan usai penandatanganan setelah meneken Head of Agreement (HoA) pada 27 September lalu.

Masih dari tirto, tak hanya Nasir, Ketua Komisi VII Gus Irawan juga menyampaikan perasaan geram lantaran dalam rapat-rapat sebelumnya kementerian/lembaga yang turut serta dalam akuisisi saham Freeport saling lempar pendapat saat dicecar soal akuisisi saham.

"Kemarin saya tanya, menteri ESDM, buangnya ke Kemenkeu, soal fiskal di kementerian keuangan. Ini dibangun opini sudah akuisisi gagah-gagahan aja. Sudah lah. Akuisisi ini pembohongan publik" ujarnya.

Sebenarnya, topik soal divestasi 51 persen saham Freeport sudah menjadi perbincangan hangat semenjak kabarnya muncul ke permukaan. Bahkan, tema ini juga sudah pernah dibahas dalam satu acara talk show dengan menghadirkan berbagai narasumber.

Namun entah kenapa, akhir-akhir ini kabar tersebut semakin diragukan kebenarannya. Terlebih saat dokumen yang disinyalir menjadi bukti belum terealisasinya divestasi saham beredar luas di media.

Ah, saya tak ingin berkomentar lebih jauh, apalagi menyimpulkannya. Yang jelas, publik masih menunggu dengan satu pertanyaan. Benarkah?

Source: Tirto. id

Mataram, 19 Oktober 2018

10/18/2018

Pemimpin Sukses dan Pemimpin yang Digemari

Sketsa

Bagi saya, pemimpin yang digemari itu belum tentu sukses. Sementara pemimpin sukses pasti sudah pasti akan digemari. Kenapa? sebab dia berhasil menghadirkan perubahan yang sifatnya substansial dan fundamental bagi masyarakat. Seperti tingkat kesejahteraan, keadilan sosial dan lain-lain.

Bada halnya dengan pemimpin yang digemari. Boleh jadi kita menggemari seseorang bukan karena dia sukses, tapi ada sesuatu yang dimiliki orang itu dan mengena di hati kita. Misalnya kisah penjual nasi goreng cantik yang beredar di media sosial tempo hari. Ia digemari banyak orang bukan karena dia sukses, tapi karena parasnya yang memukau.

Lalu bagaimana membedakan keduanya?

Mudah saja. Kalau mau paham sukses atau tidaknya seorang pemimpin, jangan tanya kubunya. Jelas mereka akan bilang sukses. Jangan pula tanya oposisi, sebab jawabannya pasti tidak sukses. Apalagi bertanya kepada lembaga survey yang menggunakan kaidah-kaidah ilmiah dengan random sampling yang proporsional dan margin error 2,5 persen. Jelas hasilnya akan bias dan subjektif.

Cara yang paling relevan adalah dengan membuka ulang memory dan catatan kita tentang apa saja janji yang sudah ditunaikan dan capaian kinerja pemimpin itu. Bedah semua kinerjanya di masing-masing bidang. Misal, bagaimana kinerjanya di bidang hukum, makin adil atau timpang. Bagaimana tingkat kriminalisasi dan sebagainya.

Bidang ekonomi, rakyat makin sejahtera atau tambah susah. Pengangguran makin banyak atau berkurang. Bidang politik, Indonesia makin demokratis atau represif dan seterusnya. Jika analisa kita selalu mengacu pada variabel kerja dari masing-masing bidang, setidaknya kita bisa bedakan mana pemimpin sukses dan mana pemimpin yang digemari.

Pada akhirnya, jadilah kita pemilih yang berdasar analisa, bukan berdasar yang lain. Salam waras bro..!!!

Mataram, 18 Oktober 2018