Rocky Gerung Sebab Rocky, dalam banyak hal, adalah wajah kita. Wajah manusia yang keras ketika berada di luar kekuasaan, tetapi belum tentu tetap keras ketika suatu hari pintu kekuasaan itu terbuka untuknya. Kita sering merasa lebih suci hanya karena belum pernah berada di dalam. Kita mencaci kekuasaan ketika tidak memiliki akses kepadanya. Kita mengkritik mereka yang berkompromi, menertawakan mereka yang masuk ke lingkaran kekuasaan, dan dengan penuh percaya diri mengatakan bahwa kita tidak akan pernah menjadi seperti mereka. Benarkah? Saya justru curiga pada orang yang terlalu yakin dengan idealismenya sebelum diuji oleh kesempatan. Sebab idealisme yang belum berhadapan dengan kepentingan hanyalah teori. Kita keras karena kita berada di luar sistem. Kita berani mengatakan “tidak” karena belum pernah ditawari sesuatu yang membuat kita berpikir ulang. Kita mudah bicara tentang prinsip ketika tidak ada jabatan yang harus dipertahankan, tidak ada akses yang harus dijaga, tidak ada kepent...
Dokpri Kurir itu datang. Ia membawa sebuah buku berjudul “Badai di Tengah Kepungan Kartel Narkoba” yang saya pesan beberapa waktu lalu. Penulisnya Uswatun Hasanah yang akrab disapa Badai NTB. Saya mulai mengikuti Badai setahun terakhir. Tulisan-tulisannya tajam. Postingannya kerap memantik perhatian. Fokus utamanya adalah isu-isu terkait peredaran Narkoba di Pulau Sumbawa. Secara personal, saya tak kenal dengan perempuan itu. Tetapi banyak sahabat saya terutama yang berasal dari Bima mengaku mengenalnya. Di mata saya, badai adalah aktivis yang akrab dengan kerja-kerja investigasi. Ia tak hanya kuat secara narasi, tetapi juga menyuguhkan data yang terukur. Barangkali inilah letak kekuatannya. Badai tak marah-marah di medsos. Ia menyuguhkan data. Ia paham tengah bermain di wilayah yang berbahaya, karenanya, apa yang Ia tampilkan haruslah disertai data yang kuat dan terukur. Saya membaca buku Badai NTB yang tidak sekadar berisi tentang perjalanan hidup, tetapi juga ...