2/21/2020

Sehari di Batam

Beberapa kapal sitaan di pangkalan PSDKP Batam

Akhirnya aku ke Batam. Untuk pertama kalinya aku melihat langsung kota yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari Singapura itu. Aku pergi bersama rombongan Komisi IV DPR RI yang melakukan kunjungan Spesifik kesana.

Akhir-akhir ini, memang banyak sahabat yang menanyakan perihal pekerjaanku. Mereka heran melihatku yang berpindah-pindah. Sesekali aku di Sumbawa, beberapa jam kemudian di Jakarta. Lalu keesokan harinya sudah di Jawa Timur.

Memang, sudah beberapa bulan ini aku bekerja sebagai pendamping Anggota DPR RI. Jadi wajar jika aku biasa bepergian. Aku akan pergi kemanapun Anggota yang aku dampingi itu pergi. Misalnya saat ada kunjungan ke daerah, ataupun ke daerah pemilihan. Aku harus siap kapan saja.

Sebagai pendamping, tugasku lebih banyak mencatat, dan mendokumentasikan kegiatan. Aku juga biasa mengatur jadwal, menyiapkan berbagai draf serta beberapa instrumen lain terkait kehumasan. Kelihatannya, pekerjaan itu cukup keren, tapi sebenarnya biasa saja. Semuanya kembali bagaimana kita memaknainya.

Yang saya syukuri, pekerjaan ini membuat saya bisa berkunjung ke banyak daerah, melihat banyak tempat, bertemu banyak orang, serta banyak hal lain yang bisa dipelajari dan dijadikan pengalaman untuk terus tumbuh dan berproses.

Kemarin, aku lagi-lagi ikut bersama rombongan Komisi IV ke Batam. Di DPR, komisi ini membidangi sektor pertanian, peternakan, kelautan dan perikanan, lingkungan hidup dan kehutanan, serta pangan. Mitranya adalah Kementerian terkait.

Di sana, kami berkunjung ke beberapa lokasi. Mulai dari menyisir harga kebutuhan dasar masyarakat di Pasar Induk Jodoh, meninjau pangkalan pengawasan sumberdaya kelautan dan perikanan (PSDKP), hingga sidak langsung aktivitas pembangunan perumahan di kawasan hutan lindung.

Setidaknya inilah sesuatu yang membuatku sedikit betah. Aku jadi bisa melihat Indonesia dari banyak sisi dan sudut pandang. Aku jadi bisa menyaksikan realitas yang terjadi di banyak tempat di negeri ini. Aku sendiri tak tau sampai kapan akan bekerja dalam sistem seperti ini. Yang jelas, selagi aku masih punya waktu, aku akan terus belajar.

Jakarta, 21 Februari 2020

2/05/2020

Saat Meliput "PEPADU"

Aksi PEPADU Lombok

Dua hari lalu, saya meliput kegiatan presean yag digelar di tepian pantai Kuta Mandalika, Lombok Tengah. Saya senang sebab bisa menyaksikan lansung tradisi ini. Saat menanyakan beberapa turis yang datang, mereka mengaku terkesan dengan aksi para Pepadu yang serupa gladiator.

Pepadu adalah sebutan untuk petarung di arena presean. Mereka bertemu di tengah lapangan bertelanjang dada, menggunakan kain kepala khas Sasak, sarung, serta bersenjatakan tongkat rotan dan perisai. Keduanya lalu siap unjuk kebolehan ditengah ratusan penonton.

Yang membuat saya takjub adalah pepadu2 ini seakan kebal terhadap pukulan. Luka memar bekas sabetan rotan tak dhiraukan. Apakah mereka mengkonsumsi obat penahan sakit? Rupanya, ada ritual khusus yang dilakukan pepadu sebelum bertarung. Sehari sebelum bertanding, mereka diwajibkan tidur menyendiri serta dilarang bergaul dengan sang isteri. Hal ini dipercaya dapat melindungi keselamatan pepadu di lapangan.

"Ada ritual khusus juga mantra perlindungan yang harus dibacakan sebelum bertanding. Artinya sebagai penolak bala agar pepadu tidak luka." Demikian kata H. Ingga, tim penilai sekaligus pemilik padepokan yang melatih para pepadu di Lombok. Saat berbincang, ia menuturkan banyak hal. Mulai dari pengalamannya berkeliling di banyak kota demi memperkenalkan presean, hingga harapannya terhadap pemerintah untuk tetap menjaga tradisi ini.

Di Sumbawa, budaya sejenis presean juga ada. Namanya karaci. Bedanya, karaci hanya tinggal nama, sedang presean masih eksis hingga saat ini ditengah kehidupan masyarakat sasak.

Sumber: Postingan FB (7/3/18)

Jakarta: 05 Februari 2020

2/04/2020

Catatan untuk Program Zero Waste NTB

Gambar: alebank.pl

Pemprov NTB mencanangkan program NTB Zero Waste atau bebas sampah sejak pertengahan Desember 2018 lalu. Namun, gerakan ini di tingkat kabupaten/kota sepertinya masih minim.

Dalam nota keuangan Pemprov untuk tahun 2020, juga terdapat 4 program prioritas yang salah satunya mencakup program Zero Waste. Artinya pemerintah NTB cukup serius dalam menyingkapi masalah sampah.

Pertanyaannya, sejauh mana keseriusan ini ditanggapi oleh para pejabat pemerintah di daerah. Di kampung saya, jangankan diskusi soal Zero Waste, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) saja tidak ada.

Padahal demi mewujudkan ini semua, keberadaan TPA sangatlah dibutuhkan. Zero Waste haruslah menjadi pembicaraan serius dari hulu sampai hilir. Butuh dukungan dari segenap kepala daerah.

Setahu saya, ada beberapa aset Pemda di Kecamatan Empang berupa tanah. Mengapa tak gunakan saja aset tersebut sebagai TPA. Atau, bisa dengan cara membuka lahan baru dengan izin gubernur.

Soal sampah, sebelum menyalahkan masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan, sebaiknya pemerintah lebih dahulu memfasilitasi mereka dengan TPA atau sejenisnya.

Sumber: Postingan FB (25/08/19)

Jakarta, 04 Februari 2020

2/03/2020

Plaza Senayan, Sebuah Kemewahan

Plaza Senayan

Saya selalu tak habis pikir, mengapa ada saja yang rela antri demi membeli produk dengan harga selangit. Mengapa ada saja yang rela merogoh kocek hingga puluhan juta rupiah demi menuntaskan syahwat berbelanja?

Barusan, saya berkunjung ke Plaza Senayan. Entah kenapa tiap kali ke tempat ini, saya selalu takjub dan terkesima. Saya kagum saat menyaksikan parade kemewahan di depan mata. Ada banyak sekali pikiran yang mengganjal saat menyaksikan kebiasaan orang-orang kota.

Mal ini memang tidak seberapa besar. Desain interiornya juga biasa saja dengan gaya gothik ala Eropa barat. Namun, saat melihat harga barang-barang di situ, kita akan terkejut. Semuanya membumbung tinggi ke langit. Semuanya berkelas. Saya barusan melihat sepatu seharga puluhan jutaan rupiah. Baju kaos yang harganya jutaan. Hah???

Tampaknya Mal ini memang digandrungi para kalangan atas. Saya melihat penampilan para pengunjungnya yang serupa artis. Semuanya mencolok mata. Semuanya cantik-cantik dengan busana mahal dan berkelas. Banyak gadis yang menampakkan kakinya yang putih, mulus, serta wajah sempurna bagai dipahat.

Sepertinya pengunjung Mal ini adalah para pesohor, selebriti, serta orang-orang kaya negeri ini yang menikmati kemewahan. Mereka serupa dewa-dewi yang hidup di kayangan dan sesekali turun ke bumi dengan mengendarai Mercedes. Mereka adalah lapis beruntung dari sebegitu banyaknya rakyat negeri ini yang harus memeras keringat demi sesuap nasi.

Jutaan rakyat Indonesia harus mengais rezeki dengan bersimbah peluh, mengencangkan ikat pinggang dan meratapi hari. Sementara mereka yang berkunjung di plaza ini adalah mereka yang menjalani hidup serba mewah dan penuh keberlimpahan. Mereka adalah para jutawan.

Mungkin inilah yang disebut banyak orang sebagai gaya hidup "glamor". Mereka yang berbelanja di situ adalah mereka yang sudah terbiasa dengan barang-barang branded dan serba mahal. Mereka mengerti mode, makannya tak segan merogoh kocek lebih demi mendapatkannya.

Entahlah. Saya hanya bisa melihat. Fenomena seperti ini memang tak mungkin kita temukan di kampung. Makanya saat pertama kali ke tempat ini, saya hanya bisa mengelus dada sembari mengubur dalam-dalam hasrat untuk berbelanja.

Menjadi rakyat kecil di negeri ini adalah menjadi bagian dari mereka yang hanya bisa menyaksikan sesuatu dari pinggiran. Saya ingat cerita sahabat di Jerman, bahwa di negeri itu, gaji antara seorang pekerja keras dan bos tidak seperti bumi dan langit. Makanya, kemewahan bisa menjadi milik semua orang. Semua berhak menikmati fasilitas dan kesejahteraan.

Tetapi di negeri ini, bekerja keras bukanlah satu-satunya jawaban untuk sejahtera. Banyak tukang ojek dan pemulung yang bekerja keras, membanting tulang, namun kehidupannya begitu-begitu saja. Banyak tukang becak dan pedagang asongan yang tiap hari harus berjibaku di jalan, tapi tetap saja hidupnya tak berubah.

Di negeri ini, anda mesti melihat dulu seberapa bagus garis tangan anda, seberapa kaya orang tua anda, serta seberapa pandai anda menjaga relasi dengan banyak pihak. Jika semuanya ada pada diri anda, maka boleh jadi anda termasuk orang-orang yang tiap hari mondar-mandir di Plaza Senayan.

Jakarta, 03 Februari 2020

1/25/2020

Merawat Tradisi

Para warga di kampung

Hidangan yang siap disantap itu namanya "Buer". Bentuknya mirip bubur, disajikan dengan santan dan ayam kampung (bukan ayam kampus).

Kalau hujan yang ditunggu2 tak juga turun, para warga di kampung akan berkumpul, membuat buer, lalu berdoa kepada yang maha kuasa. Sisanya nanti akan dibagikan kepada para jiran tetangga.

Saya tak punya banyak referensi mengenai tradisi ini. Saya anggap ini hanya semacam sedekah kecil-kecilan. Orang2 lalu berkumpul dan berdoa demi satu pengharapan disitu.

Sosiolog Anthony Giddens menyebut bahwa tradisi merupakan sesuatu yang bersifat ritual dan dilakukan berulang-ulang. Tradisi adalah aset kelompok masyarakat yang mencirikan suatu kebudayaan dan tata perilaku yang berlaku dalam masyarakat.

Barangkali "Buer" hanya satu dari sedemikian banyak tradisi lain. Barangkali, ada makna-makna lain yang bisa telusuri. Dugaan saya, Buer hanyalah satu wujud dari kerelaan menerima sunatullah. Entahlah.

Tradisi memang membantu kita memahami bagaimana jantung dan urat nadi masyarakat, tradisi bisa menjadi pintu masuk. Melalui tradisi, ada nilai-nilai bersama yang diwariskan secara terus-menerus, yang disebut oleh para sosiolog sebagai reproduksi sosial.

Satu yang bisa dipelajari adalah, melalui tradisi ini, satu masyarakat bisa semakin memperkuat sendi-sendi solidaritas, memperkuat keutuhan diri, serta menemukan sisi-sisi paling hangat dan membahagiakan.

Sumbawa, 25 Januari 2020

1/23/2020

Jangan Takut Pesimis

Jangan takut pesimis (google)

Dalam banyak aktivitas, kita selalu mendapat nasihat untuk selalu optimis. Kita diajarkan untuk optimis saat melakukan satu pekerjaan besar. Orang yang tidak optimis sering di cap lemah, tak punya daya juang, serta seringkali dianggap gagal sebelum berperang.

Padahal, anggapan itu tak selalu benar. Justru, sikap pesimis bisa membuat kita fokus dan melakukan penjelajahan otokritik dalam diri kita. Pesimisme bisa menjaga agar kita tidak terlalu melambung tinggi dan tidak lupa bagaimana cara menjejaki bumi.

Pesimisme bisa menjadi obat dari sikap pongah atas optimisme yang meluap-luap. Pesimisme adalah senjata agar kita tetap waspada dengan langkah-langkah yang kita pilih serta selalu siap menghadapi segala konsekuensinya.

So, jangan takut pesimis.

Mataram, 23 Januari 2020

1/21/2020

Saat Nissa Sabyan ke Sumbawa

Nissa Sabyan di Sumbawa (Poto: Humas Sumbawa)

Hari ini, saya melihat postingan salah satu akun resmi milik Pemkab Sumbawa. Nissa Sabyan, artis muda yang tengah naik daun itu, sudah mendarat di tanah bulaeng. Di bandara Sultan Muhammad Kaharuddin Sumbawa, ia disambut beberapa pejabat daerah. Nissa akan ikut memeriahkan acara puncak HUT Kabupaten Sumbawa yang ke-61 pada 22 Januari besok.

Melalui jendela kecil media sosial, saya hanya bisa mengelus dada. Saya memang sudah merencanakan untuk pulang, lalu menonton langsung konsernya di Sumbawa. Saya sudah membayangkan penampilannya di atas panggung. Saya membayangkan ia akan membawakan lagu kesukaan saya "Ya Asyiqol Mustofa", lalu disambut gemuruh tangan. Sayang sekali, di waktu yang bersamaan, saya harus menyelesaikan beberapa pekerjaan.

Bagi saya, tak ada kalimat yang pantas untuk menggambarkan sosok Nissa, selain kata cantik. Sebagai penyanyi pendatang baru, ia sungguh ideal. Manis, putih, merdu. Ia adalah representasi kaum milenial. Ia tidak terjebak pada dunia keartisan yang serba glamour, berpenampilan seksi, serta selalu tampil dengan goyangan ngebor di atas panggung.

Nissa, melalui group band Sabyan membuktikan bahwa lagu-lagu bertemakan religi masih mampu bersaing dan menghiasi belantika musik tanah air. Lagu-lagu religi masih layak didengar, dinikmati, hingga memiliki pangsa pasar tersendiri. Nissa menyanyikan lagu-lagu religi dengan penuh penjiwaan. Suaranya memang khas.

Saya senang saat ia menyanyikan lagu Deen Assalam. Di kanal YouTube, video clip dari lagu itu bahkan telah ditonton oleh 262 juta orang. Padahal, tadinya lagu itu tak seberapa dikenal. Sabyan kemudian mengcovernya, mengaransemen ulang, mencari komposisi yang sesuai dengan selera zaman, lalu dinyanyikan oleh Nissa dengan penuh penghayatan.

Belakangan ini, saya sering melihat Nissa di berbagai kanal media. Saya mengikutinya di instagram. Saat senggang, saya akan mendengar lagu-lagunya di YouTube. Saya menyukai gayanya saat bernyanyi. Entah kenapa, tiap kali gadis itu tersenyum, ada desir aneh yang bergemuruh di dada. Saya amat betah melihatnya.

Di mata saya, Nissa punya kecantikan yang khas sebagaimana anak negeri. Di banding banyak artis lain yang separuh Eropa dan kalau berbicara dicampur dengan aksen asing (misalnya kalau menyebut kata becek dengan beychek), maka Nissa justru sangat Indonesia. Ditambah lagi dengan fakta bahwa ia tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga islami.

Mungkin saya agak berlebihan. Mungkin saya sudah menjadi korban media yang dengan sukses telah menanamkan imaji terhadap seseorang. Cara berpikir dan kesukaan saya pada sesuatu telah dikonstruksi sedemikian rupa sehingga saya ikut larut di dalamnya.

Saya tahu bahwa Nissa Sabyan itu produk televisi dan media sosial, namun saya merasa suka dan senang memandang wajahnya. Media memang mengkonstruksi sesuatu, namun saya justru merasa happy dengan konstruksi kultural tersebut.

Meskipun saya tahu bahwa esok lusa, rasa suka itu akan hilang. Kelak Nissa juga akan terhempas oleh artis-artis baru yang datang dengan wajah mungkin lebih fresh dan lebih muda. Inilah tabiat pasar yang lembut pada seseorang, namun bisa juga sangat kejam. Inilah fenomena industri hiburan kita. Mereka bisa sedemikian menghegemoni.

Tapi biarlah. Biarlah hati ini mengalir. Biarlah dada ini berdebar-debar. Biarlah tunas-tunas ini tumbuh dan merekah. Mereka memang tak tahu rasanya menjadi bahagia dan mengidolakan seseorang. Mereka memang tak tahu rasanya berbunga-berbunga.

Ah, tiba-tiba saja saya ingin bernyanyi;

Inikah yang dinamakan cinta..
Oh..inikah cinta..
Cinta pada pandang pertama..
Dengan dirinya..

Jakarta, 21 Januari 2020