Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2016

Lima Reward Buku yang Saya Dapatkan di Tahun 2016

Saya mencatat tahun 2016 sebagai tahun yang penuh dengan pembelajaran. Meski tahun ini saya gagal menuntaskan target pendidikan saya di perguruan tinggi, bukan berarti saya harus berhenti belajar dan mengupdate informasi tentang perkembangan. Tahun ini saya menghabiskan lebih banyak waktu untuk memperdalam ilmu kepenulisan. Saya mengikuti berbagai pelatihan menulis, jumpa blogger, pelatihan jurnalistik hingga mengikuti berbagai event menulis. Ada beberapa keuntungan yang saya harapkan dalam menulis. Peratama, intelectual benefit (keuntungan intelektual). Menulis dapat memicu kita untuk lebih banyak mengkonsumsi buku. Sehingga semakin sering kita menulis maka semakin banyak pula hal baru yang akan kita dapatkan. Di sadari atau tidak, menulis dapat membimbing kita dalam memahami berbagai persoalan. Kedua, emotional benefit (keuntungan emosional). Ini mencakup aspek-aspek emosi, penalaran, dan kepekaan perasaan terhadap dunia sekitar. Ketiga, spritual benefit (keuntungan spritual

Sensasi Sepat Resto Apung Bungin

Resto Apung Bungin Sumbawa tak selalu identik dengan Festival Moyo. Festival yang namanya diangkat dari salah satu pulau indah di Sumbawa itu seakan telah menggambarkan Sumbawa secara keseluruhan. Sumbawa juga tak melulu berbicara tentang Kenawa. Sebuah pulau kecil yang keindahannya telah semerbak ke segala penjuru ini memang telah ramai dikunjungi dalam beberapa waktu terakhir. Nun jauh di sebelah barat Sumbawa, ada tempat unik yang patut dijajaki. Namanya Respo Apung Bungin. Sebuah resto yang sengaja dibangun di atas laut itu berlokasi di Pulau Bungin, Kecamatan Alas, Sumbawa. Tempat ini serupa maghnet baru yang memikat setiap pasang kaki untuk berdatangan. Di setiap akhir pekan, tempat ini selalu ramai dikunjungi orang-orang. Penasaran, sayapun datang berkunjung. Resto ini menyajikan aneka kuliner laut yang menggugah lidah. Kita bisa memesannya sesuai selera. Tempat ini hanya berjarak sepelemparan batu dari darmaga Bungin. Orang-orang harus menaiki perahu untuk sampai kesa

Sekelumit Kekaguman Untuk Mereka yang Tak Pandai Berteori

Bakti Sosial Bagi masyarakat bantaran sungai, banjir adalah sesuatu yang biasa dialami. Layaknya di tempat lain di Indonesia, di Sumbawa, fenomena banjir kerap terjadi ketika musim penghujan. Baru-baru ini, banjir juga telah menggenang sejumlah desa di kecamatan Alas. Oleh warga setempat, banjir itu dikatakan sebagai banjir terbesar yang pernah terjadi di sana. Melalui layar kecil ponsel, saya mengamati berita tersebut dengan iba. Saya melihat gambar seorang wanita paruh baya tengah digendong oleh warga lain. Wanita tersebut jatuh pingsan karena terkejut melihat genangan air yang tiba-tiba memasuki rumah penduduk. Dalam suasana hati yang tergugah, sejenak saya menundukan kepala lalu memohon kepada sang pemberi ujian agar menitipkan angin ketabahan bagi segenap saudara di Alas. Berbeda dengan kampung halaman saya, Alas berada jauh di sebelah barat Kabupaten Sumbawa. Wilayah yang juga banyak menyimpan objek wisata ini hanya berjarak sepelemparan batu dari pelabuhan Poto Tano. D

Duka Aceh Duka Kita Semua

Aceh kembali diguncang gempa. Di Pidie Jaya, saya mendengar kisah tentang Isak tangis para keluarga korban gempa yang tak terbendung. Sejumlah bangunan porak poranda akibat goncangan berkekuatan 6,5 Skala Ritcher itu. Dari ruko, rumah sakit hingga masjid. Semuanya luluh lantah. Tak lama kemudian, berita ini mulai tersebar secara viral di berbagai media sosial. Kabar duka yang datang dari Aceh, sontak mengalahkan berita tentang seorang pemimpin yang sebentar lagi akan menjalani persidangan. Publik menjadi iba. Doa bersamapun digelar demi mendoakan para saudara sebangsa di Pidie Jaya Aceh. Sejumlah tokoh nasional berbondong-bondong menuju tempat kejadian. Mulai dari presiden, hingga petinggi parpol. Mereka juga merasakan duka yang mendalam atas kejadian ini. Duka yang dirasakan oleh seorang anak yang kehilangan ayahnya. Duka yang dirasakan oleh seorang ibu yang kehilangan anaknya. Duka Aceh adalah duka kita semua. *** Malam itu seorang sahabat mengajak saya berbincang ringa

Mereka yang Hatinya Seputih Kapas

Gumi Project Festival Seorang sahabat mengajak saya untuk menghadiri acara festival di wilayah Gerung, Kabupaten Lombok Barat. Green Gumi Festival, adalah tema yang diangkat pada kegiatan ini. Tema ini sangat menarik perhatian saya untuk menyaksikan lansung bagaimana kegiatan ini nantinya. Saya selalu tertarik dengan kegiatan bersifat sosial. Menurut saya, ada banyak lapis makna yang dapat digali dari kegiatan semacam ini. Acara tersebut berlansung semarak, meski pelaksanaannya harus dihentikan beberapa waktu karena cuaca yang tak bersahabat. Di sana saya bertemu banyak sahabat muda yang tergabung dari berbagai komunitas lingkungan hidup dan sosial. Dalam usia muda, apa yang mereka lakukan membuat saya takjub. Mereka adalah relawan dari latar belakang yang berbeda-beda. Mereka diikat oleh visi yang sama, yakni bagaimana mengabdikan diri kepada masyarakat. Di lapangan, mereka aktif melakukan berbagai kegiatan sosial. Dalam hati saya membatin, bahwa generasi inilah yang dibutu

Syair Getir di Awal Desember

BELUM BERAKHIR Aku melihat buih-buih putih berarak Pergi kemana angin menerpa Mereka menyangka itu lautan mutiara Aku mendengar panggilan langit Hayyaalalfalah, manja mengelus kuping Suaranya datang dari segala arah Timur, selatan, barat, hingga utara Batinku menganga lebar mendadak basah Air mataku tumpah ruah mewakili saripati hatiku yang lebur Ada apa ini, ini ada apa Belum berakhir, berakhir belum Aku memilih diam Aku bertanya kepada hati dan pikiranku Mereka belum meleleh. Masih tak setuju Aku memilih diam Aku mendekati penjual terompet yang tuli itu lalu bertanya lagi Tapi lagi-lagi tidak. Katanya! Ah, lebih baik aku memesan segelas kopi Melarutkan hati dalam hembusan angin yang mendamaikan Memohon agar tak ada ombak besar menitipkan kecemasan pagi ini. 01 Desember 2016. Di atas kapal kecil di tengah laut, dalam perjalanan Sumbawa-Mataram.