Langsung ke konten utama

Postingan

Membaca UNBOSS

Buku UNBOSS (Dokpri) Butuh waktu dua hari untuk menuntaskan buku Unboss yang ditulis Lars Kolind dan Jacob Botter. Temanya tentang kepemimpinan gaya baru. Kepemimpinan yang cocok dengan karakter zaman, generasi milenial, ataupun Gen Z.  Buku ini dimulai dengan pertanyaan paling mendasar yakni; apakah gaya kepemimpinan lama masih tepat digunakan di zaman digital seperti ini? Jawabannya tentu saja tidak. Generasi masa kini butuh jenis kepemimpinan gaya baru yang sesuai dengan dunia mereka.  Sebuah organisasi tak bisa lagi dijalankan dalam hierarki yang kaku. Mindset bos-karyawan berganti menjadi relasi yang setara. Demikian juga, lokasi kerja tidak berpatok pada kungkungan geografis. Orang yang tinggal di Kulon Progo, bisa saja bekerja sebagai accounting sebuah perusahaan yang bermarkas di Silicon Valley.  Tujuan perusahaan pun tak semata-mata mencapai laba sebesar-besarnya, melainkan mewujudkan visi sosial yang manfaatnya lebih luas bagi publik. Rantai birokrasi dan manaje...

Mindset

Banyak orang ingin berbisnis, tapi terbentur modal. Padahal yang terpenting bukan itu. Yang paling penting dari bisnis adalah pasar, alias pembeli. Banyak orang mengeluh tak bisa berbisnis karena tak punya modal. Padahal lebih banyak lagi kasus orang tak mampu berbisnis karena tak punya pasar, atau tak terhubung dengan pasar. Cuma jarang orang mengeluh soal itu. Jangankan mengeluh, sadar masalahnya pun tidak. Banyak orang punya duit, tapi bingung mau bisnis apaan. Itu bukti kalau berbisnis tak hanya memerlukan modal, tapi juga pasar. Bagi yang punya modal, mereka akan mencari jalan pintas untuk terhubung dengan pasar tadi. Caranya dengan menanam saham pada bisnis orang lain. Mereka invest, lalu berbagi profit sesuai kesepatakan. Tapi bagaimana dengan yang tak punya modal? ya cari modalnya.  Kita ingin menjalankan suatu bisnis, tapi tak punya modal. Itu sama saja dengan kita ingin kentjan, tapi tak punya pasangan. Artinya kita sedang berkhayal. Kan lucu kalau kalau mengeluh tidak bi...

Modus VC Porno

Ini kejadian beberapa bulan yang lalu. Ada cewek minta pertemanan di fb. Saya cek wall nya. Tak ada yang aneh, saya langsung konfirmasi. Beberapa saat kemudian, ia kirim pesan, minta nomor WA. Katanya kenal saya dan mau ceritakan sesuatu.  Obrolan kami lalu pindah ke WA. Awalnya dia tlfon, tapi saya reject. Setelah itu dia video call, lalu saya angkat. Rupanya dia sudah dalam keadaan telanjang bulat. Saya kaget, kemudian saya matikan (sempat nyesal karena tak memandangi beberapa saat).  Setelah itu, dia kembali chat saya. Dia mengaku berteman dengan semua sahabat saya di fb. Dia kirim semua screenshotnya, plus screenshotan saat adegan VC tadi. Di sana ada wajah lugu tengah menatap sosok telanjang.  Dia mengancam kalau saya tak mengirimkan sejumlah uang, screenshotan itu akan disebar. Dia berharap dengan begitu, saya akan takut, lalu menuruti kemauannya. Saya membiarkannya ngomel. Saya ngak jawab. Dia tlfon, saya ngak angkat. Saya kemudian blok nomornya.  Masalahnya s...

Tiga Tipe Pembeli

Sejauh ini, saya mencatat ada 3 tipe pembeli. Pertama, pembeli yang niatnya memang untuk membeli produk. Pembeli jenis ini biasanya garcep atau gerak cepat kalau ada produk yang sesuai dengan kebutuhan dan kemauannya.  Ia bahkan tak segan melakukan transaksi lebih dulu tanpa tau detail2 produk yang akan dia beli. Sering saya berhadapan dengan tipe pembeli seperti ini. Ada yang setelah nanya harga langsung minta nomor rekening.  Ada lagi yang nanya satu produk. Saya bilang yang dia sukai itu sudah sold. Kemudian dia minta dikirimi beberapa contoh produk yang masih ada, setelah itu deal dan langsung transfer. Intinya, pembeli yang niatnya emang pengen beli sesuatu itu ngak suka berbelit-belit.  Kedua, pembeli yang niatnya ngak pengen beli. Pembeli jenis ini mau dikirimi contoh produk sebanyak apapun ngak akan deal. Sebab, sekali lagi, niatnya bukan untuk membeli. Terus apa? Cuman pengen tanya2 harga. Singkatnya, dia lebih banyak bertanya ketimbang memilih. Boro2 transfer....

Salah Kaprah

Gara-gara tulisan berjudul "orang dalam" kemarin, saya mesti bedebat hingga larut malam. Saya hendak meluruskan, karena ada yang menyimpulkan tulisan itu secara keliru. Saya dituduh secara tidak langsung menjustifikasi orang yang tidak punya pekerjaan, otomatis tidak memiliki kompetensi, skill, apalagi orang dalam.  Yaoloooo, saya ngakak aja. Saya cerita tentang seorang teman yang curhat. Ia bilang susah dapat kerja tanpa bantuan orang dalam. Saya kemudian tertarik menulis sebab ada beberapa orang yang pernah mengeluhkan hal yang sama sebelumnya.  Kalau kita baca dengan baik, sebenarnya inti dari tulisan itu adalah tentang bagaimana pentingnya meningkatkan kompetensi diri. Baik bagi mereka yang telah bekerja, maupun untuk mereka yang tengah berjuang mencari pekerjaan.  Bahwa ada banyak sekali contoh kasus, mereka yang bekerja berkat bantuan orang dalam, juga sebaliknya. Saya bahkan menambahkan satu contoh lagi, ada yang punya koneksi dengan orang dalam, tapi tak mau meman...

Orang Dalam

Pagi-pagi sebelum berangkat kerja, saya telponan dengan teman lama. Kami memang sudah lama tak saling bertukar kabar. Sejek beberapa tahun setelah lulus kuliah, komunikasi kami tak seintensif dulu. Ia curhat, mengeluh soal pekerjaan.  "Susah dapat kerja kalau ngak punya orang dalam". Katanya.  Saya tidak kaget. Saya sudah dengar curhatan seperti ini berkali-kali. Ada yang ngeluh soal sulitnya mencari pekerjaan, ada yang telpon untuk sekadar meminta bantuan agar dicarikan lowongan pekerjaan, bahkan ada pula yang ngeluh soal lingkungan pekerjaan yang toxic.  Tapi alasan umum tadi menarik untuk dikaji.  Benarkan susah dapat kerja di Indonesia tanpa bantuan orang dalam? Jawabannya, tergantung. Bisa jadi benar, bisa juga tidak.  Di banyak daerah, menjadi keluarga, kenalan, atau orang yang dekat dengan pejabat adalah privilege yang akan membantu kita dalam banyak hal. Termasuk dalam urusan pekerjaan. Itu sudah rahasia umum.  Tapi di sisi lain, banyak juga yang be...

Apa itu JODOH?

Ilustrasi (gambar: google) Semalam, saya tanya seseorang tentang konsep jodoh. Saya selalu kurang puas (bukannya tidak percaya) jika pembahasan tentang jodoh ini terlalu cepat diarahkan ke hal-hal berbau agama.  Saya orang beriman. Saya selalu percaya bahwa ada semacam kekuatan yang mengatur maut, rezeki, jodoh, di luar kendali manusia, tetapi saya juga menutut penjelasan logis terhadap hal-hal seperti itu.  Saya percaya orang yang saya tanyai ini punya pemahaman mendalam soal itu. Baik dari sisi agama, maupun akal. Saya selalu berdiskusi banyak hal dengan beliau kalau ada sesuatu yang mengganjal.  Apa sih yang disebut dengan jodoh?  Ada seorang laki-laki tengah menyukai wanita. Ia kemudian berusaha mendekati, membuat dirinya dikenal. Mereka nyambung, lalu pacaran, dan akhirnya menikah. Apakah itu disebut jodoh?  Sebaliknya, ada 2 orang yang sudah pacaran lama, sudah bertunangan, bahkan sudah menyebar undangan, tapi akhirnya tak jadi menikah. Apakah mereka diseb...