![]() |
| Rocky Gerung |
Sebab Rocky, dalam banyak hal, adalah wajah kita. Wajah manusia yang keras ketika berada di luar kekuasaan, tetapi belum tentu tetap keras ketika suatu hari pintu kekuasaan itu terbuka untuknya. Kita sering merasa lebih suci hanya karena belum pernah berada di dalam.
Kita mencaci kekuasaan ketika tidak memiliki akses kepadanya. Kita mengkritik mereka yang berkompromi, menertawakan mereka yang masuk ke lingkaran kekuasaan, dan dengan penuh percaya diri mengatakan bahwa kita tidak akan pernah menjadi seperti mereka.
Benarkah?
Saya justru curiga pada orang yang terlalu yakin dengan idealismenya sebelum diuji oleh kesempatan. Sebab idealisme yang belum berhadapan dengan kepentingan hanyalah teori.
Kita keras karena kita berada di luar sistem. Kita berani mengatakan “tidak” karena belum pernah ditawari sesuatu yang membuat kita berpikir ulang. Kita mudah bicara tentang prinsip ketika tidak ada jabatan yang harus dipertahankan, tidak ada akses yang harus dijaga, tidak ada kepentingan yang harus dinegosiasikan.
Tetapi ketika pintu itu terbuka, ketika kekuasaan berkata, “Silakan masuk”, ketika kursi disediakan dan mikrofon diarahkan kepada kita, apakah suara kita masih sama?
Di sinilah kita perlu jujur.
Banyak orang sebenarnya bukan anti-kekuasaan. Mereka hanya belum mendapatkan kekuasaan.
Ini dua hal yang sangat berbeda.
Orang yang benar-benar anti-kekuasaan akan tetap kritis ketika memperoleh akses kepadanya. Sementara orang yang hanya kecewa karena berada di luar akan berubah menjadi sangat lunak begitu memperoleh tempat di dalam.
Karena itu, jangan ukur idealisme seseorang dari seberapa keras ia berteriak ketika berada di luar. Ukur ketika ia sudah berada di dalam. Di luar sistem, semua orang bisa menjadi singa. Masuk ke dalam sistem, baru kita tahu apakah ia benar-benar singa atau hanya seekor kucing yang selama ini kebetulan belum diberi makan.
Fenomena Rocky menjadi menarik justru karena memperlihatkan satu paradoks besar dalam politik dan kehidupan publik kita: orang yang selama bertahun-tahun mengkritik kekuasaan akhirnya bisa saja berada begitu dekat dengan kekuasaan.
Persoalannya bukan semata-mata soal Rocky. Persoalannya adalah manusia. Kekuasaan memiliki daya tarik yang hampir universal. Ia tidak selalu menundukkan seseorang dengan ancaman. Kadang cukup dengan memberikan ruang, akses, pengakuan, fasilitas, atau sekadar perasaan bahwa dirinya akhirnya dianggap penting.
Pelan-pelan, orang mulai berdamai dengan hal-hal yang dulu ia tentang. Bukan karena ia tiba-tiba menjadi bodoh. Tetapi karena kekuasaan mempunyai cara yang sangat halus untuk membuat kompromi terlihat seperti kebijaksanaan.
Yang dulu disebut kompromi, kini disebut strategi. Yang dulu disebut oportunisme, kini disebut realistis. Yang dulu disebut menyerah pada sistem, kini disebut masuk ke dalam sistem untuk memperbaikinya.
“Saya masuk bukan untuk menikmati kekuasaan. Saya masuk untuk mengubah dari dalam.”
Kalimat seperti ini terdengar mulia.
Tetapi sejarah politik menunjukkan bahwa sistem sering kali lebih kuat mengubah manusia daripada manusia mengubah sistem. Maka saya tidak ingin terlalu cepat menghakimi Rocky.
Boleh jadi ia memang berubah. Boleh jadi juga ia sedang mencoba sesuatu yang belum kita pahami. Tetapi satu hal yang pasti: ujian sebenarnya terhadap seorang pengkritik kekuasaan bukan ketika ia berada di luar, melainkan ketika ia sudah diberi tempat di dalam.
Sebab berteriak dari luar itu mudah. Yang sulit adalah tetap berteriak ketika suara kita sendiri sudah menjadi bagian dari ruangan yang selama ini kita kritik.
Dan di sinilah kita semua seharusnya bercermin.
Jangan-jangan selama ini kita bukan sedang menunggu kesempatan untuk melawan kekuasaan. Kita hanya sedang menunggu kesempatan untuk menjadi bagian dari kekuasaan. Ini bukan soal Rocky saja. Ini soal kita.
Tentang betapa mudahnya manusia menyebut dirinya idealis sebelum diuji oleh kepentingan. Tentang betapa murahnya prinsip ketika belum ada yang ditawarkan. Dan tentang betapa cepatnya seseorang memaafkan sistem ketika sistem itu akhirnya menyediakan kursi untuknya.
Jadi, jangan salahkan Rocky Gerung.
Bisa jadi Rocky bukan pengkhianatan terhadap idealisme kita. Rocky adalah cermin yang sedang memperlihatkan kepada kita seperti apa wajah kita jika suatu hari saat kesempatan itu datang.
Dan saya berani bertaruh:
Tidak sedikit dari kita yang akan melakukan hal yang sama. Bukan karena kita lebih buruk. Tetapi karena kita belum pernah diuji. Sebab pada akhirnya, karakter seseorang tidak diuji ketika ia tidak memiliki kesempatan untuk berkhianat. Karakter diuji ketika kesempatan itu datang.

Komentar
Posting Komentar