Langsung ke konten utama

Sensasi Sepat Resto Apung Bungin

Resto Apung Bungin

Sumbawa tak selalu identik dengan Festival Moyo. Festival yang namanya diangkat dari salah satu pulau indah di Sumbawa itu seakan telah menggambarkan Sumbawa secara keseluruhan. Sumbawa juga tak melulu berbicara tentang Kenawa. Sebuah pulau kecil yang keindahannya telah semerbak ke segala penjuru ini memang telah ramai dikunjungi dalam beberapa waktu terakhir.

Nun jauh di sebelah barat Sumbawa, ada tempat unik yang patut dijajaki. Namanya Respo Apung Bungin. Sebuah resto yang sengaja dibangun di atas laut itu berlokasi di Pulau Bungin, Kecamatan Alas, Sumbawa. Tempat ini serupa maghnet baru yang memikat setiap pasang kaki untuk berdatangan. Di setiap akhir pekan, tempat ini selalu ramai dikunjungi orang-orang. Penasaran, sayapun datang berkunjung.

Resto ini menyajikan aneka kuliner laut yang menggugah lidah. Kita bisa memesannya sesuai selera. Tempat ini hanya berjarak sepelemparan batu dari darmaga Bungin. Orang-orang harus menaiki perahu untuk sampai kesana. Kemaren saya mengunjungi tempat ini bersama para sahabat. Kami sama-sama di buat penasaran oleh sensasi makan di atas laut.

Resto ini adalah satu-satunya rumah makan di atas laut yang ada di Sumbawa. Ketika pertama kali mendaratkan kaki di Bungin, saya di buat terkejut dengan fenomena kambing pemakan kertas. Tak hanya kertas, bahkan kambing-kambing disana dengan lahap memakan sejumlah bekal yang dibawa pengunjung.

Satu-satunya alasan yang dapat saya simpulkan mengapa kambing-kambing di Bungin berbeda dengan kambing pada umumnya adalah tidak tersedianya rumput sebagai makanan utama mereka. Sehingga lambat laun, kambing-kambing disini harus terbiasa dengan makanan lain.

Penasaran dengan kambing pemakan kertas, teman sayapun mencoba menyodorkan sejumlah uang pada salah satu kambing yang datang mendekati kami ketika menunggu perahu di darmaga. Benar saja, tak sampai satu menit, uang-uang kertas itu sudah habis termakan.

Ini adalah pengalaman pertama menuju Bungin. Pulau yang juga menjadi tempat kelahiran Sri Ningsih dalam Novel "Tentang Kamu" karang Tere Liye ini ternyata menyimpan sejuta mutiara. Saking mengagumi Bungin, Tere Liye menyarankan setiap penggemarnya mengunjungi pulau ini.

Resto Apung Bungin

Sesampai di resto, saya lansung memesan makanan. Dari kejauhan, saya melihat sahabat lain tengah asik berfoto. Hari itu kami tak sendiri, beberapa pengunjung lain juga tengah menikmati makan siang mereka di sini. Ada ibu-ibu yang datang bersama keluarganya, ada juga seorang pemuda yang datang bersama kekasihnya.

Setelah itu, perlahan saya mulai mengitari setiap sudut resto seluas lapangan futsal ini. Dengan langkah agak pelan karena takut tergelincir, saya menghampiri kolam-kolam ikan disekitaran resto. Tak hanya saya, para pengunjung lain juga nampak antusias berkeliling. Setiap kolam dihiasi dengan jenis ikan yang berbeda-beda. Di suatu kolam, saya juga melihat hiu yang sengaja dipamerkan kepada pengunjung.

Resto ini menyimpan banyak daya. Selain suasana nyaman yang ditawarkan, setiap menu yang disajikan juga terbilang murah. Hari itu, saya memesan Sepat sebagai wejangan utama. Saya tak pernah bosan dengan makanan khas Sumbawa yang satu ini. Menikmati sepat dengan semilir angin laut yang menyejukkan pikiran adalah moment yang tak mudah didapatkan di Mataram.

Resto Apung Bungin

Berbeda dengan kampung halaman saya, Alas memang banyak menyimpan kawasan wisata. Selain resto apung, di Alas juga terdapat air terjun Agal yang menjulang. Andai punya banyak waktu, saya selalu berharap untuk mengunjungi setiap kawasan wisata yang ada disini satu persatu.

Satu hal yang memancing orkestra getir dalam hati saya adalah sepanjang jalan menuju pulau Bungin. Jalanan itu nampak rusak dan menyulitkan pengendara. Saya memastikan bahwa air hujan akan membuat kondisi jalan itu serupa kolam lumpur yang susah untuk dilewati.

Saya membayangkan suatu saat daerah kita akan unggul di sektor pariwisata. Sebab sederet objek wisata yang ada di Sumbawa juga tidak kalah menarik dengan yang ada di tempat lain. Hanya saja, pemerintah kita harus memiliki kebijakan yang mampu menopang dunia kepariwisataan. Saya berfikir suasana hati para wisatawan. Dengan kondisi infrastruktur jalan yang tidak memadai, para pengunjung akan berfikir dua kali untuk berdatangan.

Mataram, 23 Desember 2016

Komentar

  1. Wah wah, belum pernah lho aku rasain makan sambil terapung-apung, hihihi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kapan-kapan harus di coba ya :)

      Hapus
    2. Jogja sumbawa berapa ya transportnya. Pengen kesana.

      Hapus
    3. Silahkan datang mas. Jangan mau kalah sama Tere Liye hehe

      Hapus
  2. wah mantap banget ya,suasana nya juga nyaman sepertinyaAapalagi jika menu nya ditambah dengan ikan bakar pasti nambah nafsu makan tuh.

    BalasHapus
  3. Ah jadi bayangin kambing. Duh kasihan itu kambing, aku tak doyan jika makan kambing yang bukan makan rumput. Serem.

    BalasHapus
  4. Apa cuma aku yg ngerasa baground judul terlalu menenggelamkan judul hingga tidak terlihat jelas, aku sampe nyarik judul postingan ini dimana hehe

    BalasHapus
  5. Wuihhh..asyiknyoooo..Pengenlah kapan-kapan ke Resto Apung Bungin ini :(

    BalasHapus
  6. Sya insyaallah hari Kamis bsok mw k Pulau Bungin.. Mngkin nanti mampir d resto ney :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Ulang Animal Farm

Buku animal farm Di suatu malam yang gelap, si babi yang katanya bijaksana mengumpulkan para binatang lain di peternakan Manor. Si babi bercerita tentang mimpinya. Setelah sekian lama hidup di bawah tirani manusia, si babi mengungkap bahwa kelak sebuah pemberontakan harus dilakukan. Kaum binatang harus berkuasa atas dirinya sendiri. Tak lama, mimpi itu benar-benar terjadi. Di peternakan, para binatang memberontak. Dominasi manusia dihilangkan. Si babi lalu mengambil kendali kuasa atas binatang lain. Atas nama kerja keras untuk mengelola masa depan peternakan, babi diberi hak istimewa. Mereka dapat jatah makan lebih banyak. Tempat tidur lebih bagus. Sementara binatang lain tetap bekerja seperti biasa.  Untuk mengamankan posisinya, kaum babi merekrut dan memelihara anjing-anjing. Mereka dilatih untuk patuh. Tugasnya adalah mengontrol peternakan. Saat ada penghuni peternakan yang protes kepada si babi, anjing-anjing dengan cepat akan bergerak.  Saat kincir angin hendak dibangun, ...

Syair Lagenda di Pantai Seger

Lombok ibarat sebentang peta kecil yang selalu menarik untuk dijelajahi, setiap orang bisa menjelalajah lalu menambahkan informasi pada peta tersebut. Tak sekedar informasi tentang semesta yang indah, yang sekarang begitu banyak memikat turis asing untuk berdatangan. Tapi juga cerita tentang keberagaman budaya yang masih alami dengan lapis-lapis makna di dalamnya. Cerita tentang eloknya Senggi, dan merdunya suara ombak di Gili Trawangan yang telah masyhur hingga daratan Eropa, membuat pulau dengan mayoritas muslim ini gandrung di hinggapi wisatawan mancanegara. Bau nyale, perang topat, hingga presean adalah cerita lain dari pulau seribu masjid yang selalu mengundang decak kagum bagi siapapun yang menyaksikannya. Di mata saya, Lombok adalah surga bagi siapa saja yang senang berpetualang. Sebagai seorang mahasiswa yang hidup di perantauan,saya cukup beruntung sebab jarak ke berbagai tempat wisata di Lombok hanya sepeminuman teh. Malangnya, berbagai urusan akademik justru membuat s...

Kesadaran Memiliki Anak

Gambar: google Lagi ramai soal " childfree " atau sebuah kondisi di mana seseorang atau pasangan memilih untuk tidak memiliki anak. Biasanya, penganut childfree ini beranggapan bahwa memiliki anak itu adalah sumber kerumitan. Benarkah?  Saya belum bisa menyimpulkan sebab sampai tulisan ini di buat, saya sendiri belum memiliki anak. Tapi, menarik untuk membahas tema ini. Saya senang dengan kampanye soal ribetnya memiliki anak, sekali lagi saya ulangi, jika kampanye itu bertujuan untuk membangun kesadaran bahwa tidak gampang memiliki, mengurusi, mendidik, dan membesarkan anak.  Maksudnya, jika kita ingin memiliki anak, sadari dulu konsekuensi bahwa memiliki anak itu tidak gampang. Para orang tua minimal dituntut untuk membesarkan anak ini secara layak. Tak perlu jauh-jauh, tengok saja di sekitar kita, tak jarang orang tua mengeksploitasi anak untuk kepentingan yang tidak wajar.  Contoh kasus: saya sering melihat ibu-ibu mengemis di lampu merah sambil menggendong anak. Di ko...