Langsung ke konten utama

Perang Asumsi Jelang Pemilihan

Perang asumsi
Perang Asumsi di Era Pemilihan
Sekarang ini lagi era pemilihan. Partai - partai besar telah menyiapkan Balon (Bakal Calon) untuk diantarkan menuju tampuk kepemimpinan. Televisi - televisi lokal kini gencar membahas track record masing-masing calon sesuai selera pemilik saham. Para pendukung dan relawan tengah asik berdebat, memaksakan kebenaran dari asumsi masing-masing untuk diakui oleh pendukung lain. Disemua tempat, baik melalui dunia maya bahkan dunia nyata. Di kedai kopi, kampus, tempat perbelanjaan sampai tempat peribadatan.

Yang menjadi isu terhangat adalah pemilihan calon gubernur di jakarta, karena sangat sensitif bahkan rawan konflik. Tak perlu panjang lebar dijelaskan, karena tentu para pembaca sudah tau siapa yang saya maksudkan. Setelah saya melihat dari beberapa kasus perdebatan baik di facebook, twitter dan di banyak media sosial lain, ternyata yang menjadi titik pangkal perdebatan mereka adalah menyoal agama. Saya berfikir tak mau ikut campur, sebab berbicara agama, adalah urusan masing-masing person dengan Penciptanya.

Saya memang sering mengamati teman-teman yang berdebat prihal bakal calon, saya suka sekali melihat kelincahan mereka dalam melengolah argumen dengan tujuan menyerang lawan dan bertahan. Sesekali saya pun suka dibuat kesal dengan beberapa celetukan mereka "Dia memang non-muslim tapi dia tidak korupsi. Bandingkan dengan si fulan yang katanya alim, tapi terjerat korupsi". Ada juga yang berceloteh "Meskipun dia non-muslim, tapi dia juga berqurban saat idul adha, dia memberangkatkan takmir masjid ke Mekkah, dia juga membayar zakat. Sedangkan kebanyakan muslim justru kebanyakan pelit sesama saudaranya".

Meskipun tidak terlahir sebagai muslim yang taat, tapi terkadang saya juga merasa tersinggung dengan celetukan yang seperti itu, masalahnya bukan karena dia memilih siapa, tapi sebuah perbandingan yang mereka buat menurut saya keliru dan tidak mengerti persoalan sama sekali.

Perbandingan seperti ini ibarat membandingkan volume nyamuk dan gajah, agar masyarakat mau mengakui bahwa nyamuk lebih besar dari gajah. Mungkin saja nyamuk lebih mematikan ketimbang gajah. Gigitan nyamuk bisa menyebabkan penyakit malaria, demam berdarah, atau chikungunya. Namun bukan berarti nyamuk menjadi lebih besar dari gajah, hanya karena dia lebih berbahaya. Bukan! nyamuk tetaplah lebih kecil.

Begitu pula manusia. Mungkin saja seorang muslim telah melakukan tindak Korupsi atau penipuan. Namun bukan berarti ia lebih zalim ketimbang yang lain. Seakan-akan kesalahan satu orang ditimpakan kepada komunitasnya. Dalam satu kelompok, komunitas pastilah ada salah seorang yang bertindak melenceng atau menjadi kambing hitam, tapi bukan berarti keseluruhan dari komunitas tersebut telah melakukan kesalahan, inilah yang harus sama-sama dipahami agar nanti kita tidak salah dalam memilih pemimpin.

Mataram, 20 September 2016

Komentar

  1. Di sinilah sesungguhnya kita diuji untuk bisa memakai akal sehat dalam menanggapi sesuatu, termasuk dalam hal ini memilih sesuatu; begitu ya, Mas Imron. Terima kasih banyak atas refleksinya, Mas. Salam hangat dari Jogja.

    BalasHapus
  2. di banten juga sedang menuju pilkada. bahkan menurut rumor paman dan keponakan ikut bersaing pada pilkada nanti

    BalasHapus
  3. Nah kalau masalah yang satu ini sepertinya masyarakat kang yang memiliki peran paling penting untuk menentukan siapa calon yang pantas untuk menjadi gubernur jakarta, namun kebanyakan sekarang mah masyarakat banyak yang diberi bonus oleh calon tersebut untuk memilih orang tersebut sehingga dalam hal ini tentu masyarakatlah yang harus menentukan jalannya sendiri dan paling utama adalah kejujuran. :)

    BalasHapus
  4. kalo daengan urusan agama itu memang sulit mas 7:(
    intinya jangan salah memilih saja, pilih lah dengan jujur .. :)

    BalasHapus
  5. Mudah-mudahan pilkada ibu kota nanti berjalan fair dan damai....

    BalasHapus
  6. Zaman sekarang , kalo memilih pemimpin harus bener bener. Bahkan bukan zaman sekarang aja , udah dari dulu kali ya ? hemm .

    By the way , kalo udah ngomongin agama malah jadi melenceng kemana mana . Kita idup didunia udah ada kepercayaan masing masing dan udah didasari Bhinneka Tunggal Ika.Jadi , jalani dengan tertib dan rukun.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Ulang Animal Farm

Buku animal farm Di suatu malam yang gelap, si babi yang katanya bijaksana mengumpulkan para binatang lain di peternakan Manor. Si babi bercerita tentang mimpinya. Setelah sekian lama hidup di bawah tirani manusia, si babi mengungkap bahwa kelak sebuah pemberontakan harus dilakukan. Kaum binatang harus berkuasa atas dirinya sendiri. Tak lama, mimpi itu benar-benar terjadi. Di peternakan, para binatang memberontak. Dominasi manusia dihilangkan. Si babi lalu mengambil kendali kuasa atas binatang lain. Atas nama kerja keras untuk mengelola masa depan peternakan, babi diberi hak istimewa. Mereka dapat jatah makan lebih banyak. Tempat tidur lebih bagus. Sementara binatang lain tetap bekerja seperti biasa.  Untuk mengamankan posisinya, kaum babi merekrut dan memelihara anjing-anjing. Mereka dilatih untuk patuh. Tugasnya adalah mengontrol peternakan. Saat ada penghuni peternakan yang protes kepada si babi, anjing-anjing dengan cepat akan bergerak.  Saat kincir angin hendak dibangun, ...

Selapis Hikmah di Balik Konflik Etnis di Sumbawa

Konflik Sumbawa 2013 Setiap daerah tak hanya menyimpan kisah tentang kemajuan dan kemunduran, tapi juga menjadi rahim dari begitu banyak kisah yang dibuat oleh manusia-manusia yang berjejalan di dalamnya. Melalui kisah itu, kita bisa bercermin dan menemukan banyak pesan dan hikmah yang selalu bisa diserap untuk kehidupan mendatang. Sumbawa adalah titik balik dalam kehidupan saya. Beberapa tahun silam, saya selalu menjalani hidup dengan memakai sudut pandang sebagai korban. Suku Samawa yang mendiami Kabupaten Sumbawa adalah etnis yang begitu toleran. Mereka berbaur dengan banyak etnis lain secara terbuka dan penuh toleransi. Mbojo, Sasak, Bugis hingga Jawa. Tapi belakangan, tiba-tiba suku Bali datang mengganggu. Suku Samawa selalu dizalimi. Jadi wajar saja jika kami melawan balik untuk mempertahankan diri. Wajar saja kalau kami membalas. Saya selalu yakin bahwa setiap saat suku Samawa diusik dan diganggu, maka ketika ada kesempatan mereka harus mengusik balik, membalas. Say...

Masin Si Pedas Dari Timur Sumbawa

Indonesia di kenal sebagai negara dengan ragam kuliner yang melimpah. Hampir di setiap sudut negeri ini ada saja peganan masyarakat yang memikat lidah. Ada dodol di Garut, Rendang di Padang hingga Ayam Bakar Taliwang yang bisa anda jumpai di Lombok. Namun di balik tumpah ruah kuliner yang beraneka ragam, ada cerita tentang perjuangan masyarakat lokal dalam mematenkan kuliner dari daerahnya masing-masing. Hingga kuliner tersebut mampu menjadi branding daerah serta menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Jika di tempat lain pelbagai kuliner terlihat berupa jejajan ataupun makanan khas daerah, di Sumbawa terdapat jenis kuliner yang tidak biasa. Namanya Masin, bentuknya serupa sambal dan terbuat dari udang-udang kecil. Masin adalah menu yang wajib hadir di setiap hidangan masyarakat lokal Sumbawa. Masin yang bentuknya serupa sambal ini memiliki citarasa pedas yang menantang lidah. Masin ini pertama kali di populerkan oleh masyarakat Kecamatan Empang, Kabupaten Sumbawa. Mereka beru...