Langsung ke konten utama

Membaca Badai

Dokpri

Kurir itu datang. Ia membawa sebuah buku berjudul “Badai di Tengah Kepungan Kartel Narkoba” yang saya pesan beberapa waktu lalu. Penulisnya Uswatun Hasanah yang akrab disapa Badai NTB. 

Saya mulai mengikuti Badai setahun terakhir. Tulisan-tulisannya tajam. Postingannya kerap memantik perhatian. Fokus utamanya adalah isu-isu terkait peredaran Narkoba di Pulau Sumbawa. 

Secara personal, saya tak kenal dengan perempuan itu. Tetapi banyak sahabat saya terutama yang berasal dari Bima mengaku mengenalnya. Di mata saya, badai adalah aktivis yang akrab dengan kerja-kerja investigasi. Ia tak hanya kuat secara narasi, tetapi juga menyuguhkan data yang terukur. 

Barangkali inilah letak kekuatannya. Badai tak marah-marah di medsos. Ia menyuguhkan data. Ia paham tengah bermain di wilayah yang berbahaya, karenanya, apa yang Ia tampilkan haruslah disertai data yang kuat dan terukur. 

Saya membaca buku Badai NTB yang tidak sekadar berisi tentang perjalanan hidup, tetapi juga potret tentang bagaimana keberanian sering lahir dari luka, kesunyian, dan pilihan-pilihan yang tidak mudah. 

Sejak bagian awal, kita masuk ke ruang yang sangat personal, yakni tentang keluarga, lingkungan sosial, serta pengalaman hidup yang perlahan membentuk karakter Badai NTB menjadi pribadi yang keras terhadap narkoba, tetapi tetap manusiawi dalam memandang realitas kehidupan.

Yang menarik dari buku ini adalah cara Badai menempatkan dirinya bukan sebagai sosok pahlawan tanpa cela, melainkan manusia biasa yang mengalami ketakutan, pengkhianatan, tekanan, bahkan kesepian. Di situlah letak kekuatan narasinya. Ia tidak sedang membangun citra heroik, tetapi memperlihatkan bahwa perjuangan sosial sering kali dibayar mahal oleh mereka yang memilih berdiri di garis depan.

Tema tentang teror dan ancaman yang dialami Badai sangatlah kuat. Saya merasakan bagaimana perjuangan melawan narkoba bukan hanya soal kampanye moral, tetapi juga menyangkut keberanian menghadapi jaringan, tekanan sosial, hingga risiko terhadap keselamatan diri sendiri. 

Pada titik tertentu, Badai NTB seperti ingin mengatakan bahwa perang terhadap narkoba tidak sesederhana slogan, sebab di belakangnya ada manusia-manusia yang harus mempertaruhkan hidupnya.

Bagian yang cukup emosional adalah ketika Badai menceritakan pengalaman dipenjara dan pengkhianatan dari orang-orang terdekat. Alih-alih menjadikannya alasan untuk berhenti, pengalaman itu justru memperlihatkan sisi keteguhan yang jarang dimiliki banyak orang.

Buku ini penting sebab bukan hanya karena tema narkoba yang diangkat, tetapi karena ia memperlihatkan sisi manusiawi dari seorang pejuang sosial. Di tengah banyaknya orang yang memilih aman dan diam, Badai memilih tetap berjalan di jalan yang sunyi. Dan sering kali, justru dari jalan-jalan sunyi seperti itulah lahir suara yang paling jujur tentang kehidupan.

Narkoba di Pulau Sumbawa bukan lagi sekadar isu yang datang sesekali lalu hilang bersama waktu. Ia telah lama hidup di tengah masyarakat, bergerak diam-diam, merusak perlahan, dan menjangkau banyak lapisan kehidupan. Karena itu, ketika Badai NTB membuka wajah-wajah yang terlibat di dalamnya, saya tidak merasa terkejut. Yang terasa justru kegelisahan, ternyata persoalan ini sudah sedemikian dekat dan nyata.

Badai mungkin bukan satu-satunya yang bersuara, tetapi keberaniannya telah membuka satu keping realitas yang selama ini sering disembunyikan atau diabaikan. Bahwa di Pulau Sumbawa, narkoba bukan lagi ancaman kecil, melainkan bahaya serius yang mengancam masa depan generasi, menghancurkan keluarga, dan melemahkan sendi sosial masyarakat.

Persoalan ini tidak bisa dihadapi dengan diam, apalagi dianggap biasa. Dibutuhkan keberanian bersama untuk melawan, kepedulian untuk menjaga generasi muda, dan kesadaran bahwa perang terhadap narkoba adalah perjuangan menyelamatkan masa depan daerah kita sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Ulang Animal Farm

Buku animal farm Di suatu malam yang gelap, si babi yang katanya bijaksana mengumpulkan para binatang lain di peternakan Manor. Si babi bercerita tentang mimpinya. Setelah sekian lama hidup di bawah tirani manusia, si babi mengungkap bahwa kelak sebuah pemberontakan harus dilakukan. Kaum binatang harus berkuasa atas dirinya sendiri. Tak lama, mimpi itu benar-benar terjadi. Di peternakan, para binatang memberontak. Dominasi manusia dihilangkan. Si babi lalu mengambil kendali kuasa atas binatang lain. Atas nama kerja keras untuk mengelola masa depan peternakan, babi diberi hak istimewa. Mereka dapat jatah makan lebih banyak. Tempat tidur lebih bagus. Sementara binatang lain tetap bekerja seperti biasa.  Untuk mengamankan posisinya, kaum babi merekrut dan memelihara anjing-anjing. Mereka dilatih untuk patuh. Tugasnya adalah mengontrol peternakan. Saat ada penghuni peternakan yang protes kepada si babi, anjing-anjing dengan cepat akan bergerak.  Saat kincir angin hendak dibangun, ...

Pencitraan

Aksi penolakan kenaikan harga BBM Ada yang bilang PKS hanya pencitraan menolak kenaikan BBM untuk mendapatkan simpati rakyat. Ada juga yang bilang penolakan kenaikan BBM tidak ada gunanya, karena toh harga BBM tetap naik, yang artinya PKS tidak digubris pemerintah.  Jadi begini ya brodi, pencitraan di era disrupsi seperti sekarang ini adalah keniscayaan. Bahkan setiap hari, tanpa sadar kita sedang membangun citra di medsos. Kita mengenalkan diri melalui aktivitas kita sehari-hari, kita menampilkan sisi paling manusiawi. Kita sedang membranding diri. Kita berusaha mengarahkan dan membentuk persepsi orang lain terhadap diri kita. Dan itu sah-sah saja kok.  Yang tidak boleh itu adalah membangun citra palsu. Memanipulasi diri seolah-olah kita ini paling idealis padahal pragmatis, mencitrakan diri seolah-olah kita ini bersih, padahal kotor, mencitrakan diri kita ini mapan, padahal utang numpuk dimana-mana.  Ini namanya bukan sedang membangun citra, tapi sedang melakukan keboho...

Kesadaran Memiliki Anak

Gambar: google Lagi ramai soal " childfree " atau sebuah kondisi di mana seseorang atau pasangan memilih untuk tidak memiliki anak. Biasanya, penganut childfree ini beranggapan bahwa memiliki anak itu adalah sumber kerumitan. Benarkah?  Saya belum bisa menyimpulkan sebab sampai tulisan ini di buat, saya sendiri belum memiliki anak. Tapi, menarik untuk membahas tema ini. Saya senang dengan kampanye soal ribetnya memiliki anak, sekali lagi saya ulangi, jika kampanye itu bertujuan untuk membangun kesadaran bahwa tidak gampang memiliki, mengurusi, mendidik, dan membesarkan anak.  Maksudnya, jika kita ingin memiliki anak, sadari dulu konsekuensi bahwa memiliki anak itu tidak gampang. Para orang tua minimal dituntut untuk membesarkan anak ini secara layak. Tak perlu jauh-jauh, tengok saja di sekitar kita, tak jarang orang tua mengeksploitasi anak untuk kepentingan yang tidak wajar.  Contoh kasus: saya sering melihat ibu-ibu mengemis di lampu merah sambil menggendong anak. Di ko...