Monday, September 25, 2017

Seharian Mengamati TGB di Lombok Elephant Park

TGB foto bareng simpanse di Lombok Elephant Park

Meskipun bukan simpatisan Muhammad Zainul Majdi, saya selalu saja menyukai pertemuan dengan beliau. Di taman wisata satwa Lombok Elephant Park kemarin, saya bersua Gubernur muda itu bersama keluarganya. Ditemani sang istri dan anak, ia datang melepaskan penat di akhir pekan.

*** 

Lelaki itu hendak berlibur di sela-sela kesibukannya sebagai pejabat publik. Ditemani keluarga dan beberapa staf pribadi, ia tetap tampil sederhana layaknya wisatawan. Beberapa saat setelah tiba di lokasi, ia segera mengajak istri dan anaknya berkeliling untuk melihat koleksi satwa di Lombok Elephant Park.

Lelaki itu adalah Muhammad Zainul Majdi yang kerap disapa TGB. Ia adalah Gubernur dua periode Nusa Tenggara Barat. TGB adalah sosok pemimpin cerdas, sekaligus guru bagi banyak orang. Ia merupakan seorang tuan guru muda yang setiap ceramahanya selalu dinantikan.

Di Lombok Elephant Park, ia mengisi waktu senggang bersama keluarga. Tempat itu membuatnya tertarik sebab memuat satu konten wisata yang berbeda dari biasanya. Tempat itu merupakan satu kawasan konservasi bertajuk kebun binatang dengan beragam koleksi satwa seperti gajah, beruang madu, kudanil, buaya, simpanse, iguana, bekantan, dan lain-lain.

TGB dan anaknya saat menaiki gajah

TGB bersama istri dan anak

TGB bersama keluarga

TGB antusias mengunjungi satwa satu persatu. Dalam banyak kesempatan, ia menyempatkan diri untuk sekedar mengabadikan moment dalam bidikan kamera. Ia sangat senang sebab tempat itu membuat setiap pengunjung bisa leluasa berinteraksi dengan berbagai satwa yang didatangkan dari banyak daerah di nusantara.

“Ini destinasi wisata yang bagus karena sesuai dengan konsep pengembangan pariwisata yang bisa menjaga kualitas lingkungan. Tidak cukup hanya dengan buku teori, tapi di sini bisa melihat langsung dan berinteraksi. Bisa melihat dan menyentuh itu bagian dari membangun pemahaman dan kecintaan kepada alam.” Katanya.

Bersetuju dengan TGB. Selain menjadi ruang rekreasi, kebun binatang pertama di Lombok ini juga bisa dijadikan sarana edukasi bagi generasi muda. Tempat ini serupa laboratorium satwa yang memungkinkan setiap pengunjung untuk mengamati, mengenali, serta belajar mencintai alam. Pihak pengelola hanya perlu mempermudah akses agar tempat seperti ini selalu ramai dikunjungi terutama oleh para pelajar.

Selain TGB, dalam kunjungan kemirin turut hadir pula Najmul Akhyar, Bupati Lombok Utara. Pada kesempatan yang sama, saya juga sempat berbincang ringan dengan beliau terkait pariwisata. Ia mengungkap bahwa pemerintah daerah sangat konsisten dalam mengembangkan sektor pariwisata. Yang terpenting adalah pelaku wisata juga harus komitmen dalam memberdayakan masyarakat lokal.

Sejalan dengan itu, Ketut Suadika selaku owner Lombok Elephant Park juga menyambut baik hajat pemerintah. Ia menuturkan, sejauh ini pihaknya tengah gencar melakukan promosi agar keberadaan tempat itu semakin cepat menjangkau telinga wisatawan.

Bupati Lombok Utara memegangi ular bersama istri

Foto bersama owner Lombok Elephant Park

Foto bersama TGB dan Bupati 

Saya mengamini apa yang dilakukan Ketut Suadika. Sepekan silam, saya juga datang ke tempat itu sebagai blogger yang meliput kerjasama antara Lombok Elephant Park dengan Blue Bird Taksi Group. Melalui kerjasama itu, para wisatawan yang hendak mengunjungi kawasan wisata satwa Lombok Elephat Park bisa mendapatkan diskon dan kemudahan.

Setiap pengunjung bisa menggunakan jasa transportasi Blue Bird Taksi dengan cara memesannya melalui aplikasi resmi di Play Store, lalu menunjukkan history trip pada menejemen Lombok Elephant Park. Dengan cara itu, mereka akan mendapat potongan harga tiket masuk ke area wisata sebesar 15 persen.

*** 

Sharian menyaksikan kesenangan keluarga TGB di tempat ini, sempat membuat saya iri. Kelak, saya juga ingin mengajak keluarga demi menikmati sensasi menaiki gajah, foto bersama kudanil, memberi makan burung nuri, serta bermain bersama Valent, salah satu simpanse lucu di Lombok Elephant Park.

Ah, semoga!

Mataram, 25 September 2017

Friday, September 22, 2017

Tips Sederhana Mendapatkan Buku Gratis

Buku-buku kiriman Javanica

Beberapa sahabat kerap terheran-terheran melihat betapa seringnya saya mendapat kiriman buku dari luar daerah. Dipikirnya saya menginvestasikan banyak duit untuk semua buku-buku itu. Mereka pikir, saya punya banyak duit lalu dengan leluasa membeli banyak buku sesuai selera. Padahal tidak demikian. Jelas saya tidak punya uang sebanyak itu.

Saya memang senang membeli buku. Terutama buku-buku bergenre sejarah, sains, teknologi, sosial, dan sastra. Tetapi bukan berarti saya selalu bisa membeli banyak buku sesuka hati. Kepada sahabat itu, saya jelaskan bahwa lebih banyak buku yang bertengger di rak saya didapatkan secara gratis.

Lalu bagaimana caranya?

Pertama, kita bisa mengikuti event menulis yang menghadiahkan buku bagi pemenangnya. Biasanya, event-event seperti ini sering diadakan oleh sejumlah media penerbitan seperti Javanica, Diva Press dan lain-lain.

Kedua, ikutilah sejumlah blog betemakan buku. Selain sering menulis tentang riview buku dan selalu update dengan buku-buku baru, mereka juga kerap mengadakan giveaway berhadiah buku secara cuma-cuma. Pada kesempatan itu, kita bisa mengikutinya hanya dengan cara berkomentar sesuai instruksi yang ada.

Ketiga, rajinlah membaca, membuat resensi, serta ikut meng-endorse buku di media sosial. Untuk yang ketiga ini, lakukanlah secara sukarela terlebih dahulu. Yah, hitung-hitung ikut menginspirasi orang lain agar lebih banyak mengonsumsi buku ketimbang bermain gadged.

Beberapa cara itulah yang kerap saya lakukan demi menuntaskan rasa haus dalam diri akan bacaan. Dengan alasan itu pula saya terbiasa menulis resensi buku di blog pribadi. Mungkin bagi sebagian orang, cara seperti ini tidaklah berlaku. Tapi untuk ukuran mahasiswa, beberapa tips di atas bisa menjadi opsi untuk menghemat belanja bulanan.

Baru-baru ini, saya juga menerima kiriman buku dari Javanica berjudul Wuni Legenda Tanah Jawa, Patah Hati Terindah, dan Seribu Tahun Mencintaimu. Buku-buku itu adalah hadiah dari lomba menulis dongeng nusantara yang mereka adakan beberapa waktu lalu.

Entah apapun topiknya, yang jelas tiap kali mendapat kiriman buku gratis, hati ini selalu semringah.

Mataram, 22 September 2017

Saturday, September 16, 2017

Sensasi Wisata Satwa di Lombok Elephant Park Bersama Blue Bird Group


Lombok tak hanya terkenal dengan sederet pantai menawan yang pasirnya sehalus tepung. Tapi pulau ini juga memiliki segudang objek wisata memukau yang susah digambarkan dalam kata. Sekali menginjakkan kaki di Lombok, seakan tak ada keinginan untuk kembali pulang.

Sebagai mahasiswa Sumbawa yang tinggal di Mataram, saya cukup beruntung sebab jarak berbagai tempat wisata di Lombok hanya sepenanak nasi. Sialnya, saya justru jarang berkeliling, sebab terkendala waktu dan uang saku. Saat sekali mendapat kesempatan, saya tak akan menyia-nyiakannya.

***

Dua hari berturut-turut saya berkesempatan meliput agenda Blue Bird Taksi Lombok. Pada momentum kali ini, mereka hendak melakukan kerjasama dengan Lombok Elephant Park, satu tempat wisata konservasi bertajuk kebun binatang yang baru saja aktif beroperasi dalam beberapa bulan terakhir.

Kesan saya, tempat ini menyajikan satu wahana rekreasi yang menarik sebab memungkinkan para pengunjung untuk berinteraksi lansung dengan berbagai satwa langka yang dilindungi. Sebagai kawasan konservasi, Lombok Elephant Park tentu sangat pantas menjadi tetirah untuk melepas penat.

Simpanse

Kawanan burung

Beruang madu

Buaya air asin

Dalam kunjungan kemarin, kami disambut hangat oleh Ketut Suadika, presiden direktur Lombok Elephant Park. Beliau adalah penggemar satwa yang humoris. Sebelum menandatangani kontrak kerjasama, ia mempersilahkan kami untuk menjajal kawasan wisata itu terlebih dahulu. Tak mau buang-buang waktu, ditemani beberapa petugas, kamipun segera berkeliling.

Tempat pertama yang saya singgahi adalah kandang burung nuri. Kandang itu terbuat dari besi dengan tinggi sekitar 3 tombak. Di situ ada beberapa ekor burung nuri dan jalak bali yang sungguh cantik. Saya sempat memberi mereka makan dari buah pisang yang telah dipotong kecil-kecil.

Selanjutnya saya mengunjungi kolam buaya. Di sudut lain, rombongan tengah asik berfoto dengan ular berukuran besar yang sudah jinak. Saya tak ikut berfoto sebab tak berani memegangi hewan bersisik cokelat itu. Saya memilih mengamati buaya. Kata petugas, buaya itu adalah jenis buaya air asin. Ia dibawa dari gili air setelah sebelumnya petugas keamanan laut menggagalkan penyelundupannya ke luar negeri.

Setelah itu, saya kembali menyusuri jalan setapak yang kedua sisinya dipagari sebagai pembatas. Di sepanjang jalan, saya menyaksikan banyak sekali koleksi satwa di tempat ini. Layaknya kebun binatang pada umumnya, Lombok Elephant Park juga mengoleksi beberapa jenis satwa seperti kambing hutan, iguana Afrika, bekantan Kalimantan, rusa, simpanse, landak, beruang madu, kudanil, serta aneka macam burung.

Memberi makan burung nuri

Kudanil

Gajah

Saya tak henti berjalan. Di satu bagian, saya melihat beberapa ekor gajah. Para pengunjung tentu bisa menaiki gajah-gajah di sini dengan biaya tiket yang tergolong murah. Seorang wanita memberitahu saya bahwa saat ini, koleksi gajah di Lombok Elephant Park berjumlah 4 ekor. Nantinya, ada tamabahan 7 ekor yang akan didatangkan. Wanita itu adalah dokter hewan yang bertugas mengecek secara rutin kondisi satwa di tempat ini.

Tak hanya itu, ia juga bercerita bahwa Lombok Elephant Park tengah menyediakan fasilitas mandi lumpur. Fasilitas itu ditujukan agar setiap pengunjung bisa leluasa menikmati sensasi mandi lumpur dengan hewan terbesar di dunia. Melihat gajah-gajah di tempat ini, saya teringat sosok Mammoth dalam film Ice Age yang ukuran tubuhnya sungguh menakjubkan.

Saya mengagumi konsep kebun binatang pertama di Lombok ini. Selain menjadi ruang rekreasi, Lombok Elephant Park juga bisa dijadikan sebagai sarana edukasi bagi setiap pengunjung. Tempat ini serupa laboratorium hewan yang memungkinkan setiap pengunjung untuk mengamati, mengenali, serta merasakan denyut nadi berbagai satwa dari belahan bumi.

Sebagai orang desa, ada banyak hal menarik yang saya rasakan. Tempat seperti ini adalah wahana yang tak bisa ditemukan di kampung halaman. Saya sangat bersyukur sebab memiliki kesempatan untuk berkunjung.

Setelah puas mengabadikan gambar bersama gajah, saya melangkah ke aula utama. Tempat itu dibangun persis di tengah taman wisata Lombok Elephant Park yang berbentuk lingkaran. Dari tempat itu, kita bisa melihat pemandangan sekeliling yang dipenuhi satwa sambil menikmati segelas kopi, teh, ataupun banyak menu lain yang tersedia.

Tak lama kemudian, penandatangan kontrak kerjasamapun dilakukan. Saya tak boleh alpa pada moment ini, sebab saya datang sebagai blogger yang ditugaskan untuk mendokumentasikan kegiatan, membuat satu informasi, lalu menyebarkannya di ranah maya.

Ketua Suadika bersama isrtinya

Penandatanganan kontrak kerjasama

Foto bersama

Seperti biasa, sambutan singkat kedua belah pihak ikut mengiringi proses kerjasama itu. Menggandeng Lombok Elephant Park, Blue Bird Taksi berharap bisa menyediakan pelayanan maksimal bagi pelanggan. Dengan adanya proses kerjasama itu, para wisatawan yang hendak mengunjungi Lombok Elephat Park bisa mendapatkan diskon dan kemudahan.

Setiap pengunjung bisa menggunakan jasa transportasi Blue Bird Taksi dengan cara memesannya melalui aplikasi resmi di Play Store, lalu menunjukkan history trip pada menejemen Lombok Elephant Park. Dengan cara itu, mereka bisa mendapatkan potongan harga tiket masuk ke area wisata sebesar 15 persen.

Hal serupa juga dilakukan Blue Bird Taksi dengan beberapa unit usaha lain di Lombok. Mereka menggaet restoran, pusat oleh-oleh, hingga spot wisata demi menunjang pelayanan serta kepuasan konsumen. Tak heran, jika perusahaan yang telah berdiri sejak 1972 itu masih bertahan hingga sekarang. Mereka selalu berusaha berafiliasi dengan selera pasar, melakukan berbagai langkah inovatif di tengah iklim persaingan dunia usaha modern yang serba kompetitif.

***

Sebenarnya, saya tak ingin cepat-cepat beranjak dari Lombok Elephant Park. Hanya saja, waktu memang tak selalu mengijinkan. Yang saya rasakan, tempat ini menyimpan sensasi wisata yang amat berbeda. Di tengah pesatnya perkembangan industri pariwisata Lombok, tempat ini hadir sebagai satu kawasan konservasi satwa yang ramah pengunjung.

Di tempat ini, kita leluasa menikmati panorama alam yang asri, udara sejuk khas perbukitan, serta riak-riak satwa yang bersenandung lirih di dalamnya. Ah, saya ingin segera kembali.

Mataram, 16 September 2017

Friday, September 15, 2017

Blue Bird Taksi Lombok, Sasaku, dan Bagaimana Cara Memanjakan Konsumen


Kerjasama Blue Bird Taksi Dengan Sasaku

Sebuah pengalaman berharga bisa menjadi bagian dari proses kerjasama Blue Bird Taksi Lombok dengan Sasaku, outlet oleh-oleh generasi baru yang mulai beroperasi dalam beberapa tahun terakhir.

Sasaku adalah toko oleh-oleh khas Lombok. Mereka menjual beraneka ragam barang dan sovenir seperti kain pantai, batik, tas, dompet etnik, kerajinan tangan, ukiran, cukli, topeng, sandal berlukis, makanan ringan dan lain-lain yang semuanya berlabel buatan Lombok.

Bukan sekali saya menghadiri kegiatan yang diinisiasi oleh Blue Bird Taksi. Beberapa waktu lalu, saya juga ikut serta dalam acara launching aplikasi mereka di salah satu hotel di Mataram. Kini, perusahaan transportasi itu tengah berusaha menggaet beberapa unit usaha lain demi memenuhi kebutuhan konsumen dan selera pasar.

Sebagai perusahaan yang telah berdiri semenjak 1972, mereka tentu sangat memahami persaingan usaha. Dengan menyeruaknya berbagai transportasi online di Lombok, Blue Bird Taksi dituntut untuk lebih kreatif agar tetap bertahan. Mereka harus bergerak cepat, melakukan berbagai inovasi, lalu bersiap menyambut iklim persaingan baru yang lebih kompetitif.

***

Bapak itu mulai mengambil alih pembicaraan. Dengan nada optimis, ia kemudian memaparkan capaian satu perusahaan transportasi di Lombok. “Driver kami bisa mengangkut penumpang rata-rata sebanyak 15 orang dalam sehari. Jumlah itu bisa dikalikan dengan 300 unit taksi yang beroperasi. Nah maka dari itu, semoga kerjasama ini bisa mendatangkan manfaat bagi kita semua, khususnya bagi para konsumen.” Demikian katanya.

Beliau adalah Amir Muslimin, pimpinan Blue Bird Taksi Lombok. Ia mengundang para pegiat media dan blogger demi mendokumentasikan proses kerjasama mereka dengan Sasaku untuk disebarluaskan. Ia berharap agar informasi kerjasama itu segera menjadi viral, lalu mengundang banyak konsumen.

Blue Bird Taksi Lombok

Selain Sasaku, sebelumnya, Blue Bird Taksi juga menjalin kerjasama dengan beberapa unit usaha lain yang berlokasi di Epicentrum Mall Mataram seperti Burgeng King, My Kopi-O, Omah Cobek Resto dan lain-lain. Tak tanggung-tanggung, mereka bahkan menyediakan diskon bagi setiap pelanggan yang menggunakan jasa transportasi Blue Bird Taksi dengan cara memesannya melalui aplikasi yang telah tersedia di Play Store.

Begitu pula dengan para wisatawan atau siapapun yang hendak membeli oleh-oleh khas Lombok di Sasaku. Mereka juga bisa mendapatkan diskon sebesar 10 persen dengan cara yang sama. Mereka bisa menggunakan jasa transportasi Blue Bird Taksi lalu menunjukkan history trip pada manajemen Sasaku dan segera menikmati kemudahan dalam berbelanja.

Menandatangani Nota Kesepahaman

Saya menyukai pola kerjasama yang digagas oleh Blue Bird Taksi. Mereka hendak berafiliasi dengan sistem pemasaran modern dimana pelayanan, kenyamanan, serta kreativitas merebut hati konsumen adalah jalan utama yang harus dilalui agar tidak tergerus. Mereka juga mengedepankan komitmen dalam membangun pola kemitraan yang saling menguatkan.

Sebagai bukti, Blue Bird Taksi selalu membagikan brosur dan melakukan promosi kepada setiap penumpang atas nama mitra mereka. Untuk Sasaku sendiri, mereka bahkan mengklaim telah jauh-jauh hari melakukan promosi sebelum penandatanganan kontrak kerjasama dilakukan.

Di setiap kesempatan, saya selalu antusias saat diminta berpartisipasi dalam kegiatan Blue Bird. Saya belajar banyak hal. Di antaranya, konsumen hari ini adalah tipe konsumen yang selalu mencari informasi tetang satu produk sebelum membelinya. Mereka lebih mudah percaya pada saran dan rekomendasi dari orang lain, ketimbang bahasa para pengiklan.

Amir Muslimin, Pimpinan Blue Bird Taksi Lombok

Konsumen hari ini akan mencari informasi melalui berbagai media, sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu. Makanya, setiap perusahaan akan berusaha membuat semua konsumennya merasa nyaman, senang, serta puas dengan pelayanan, sebab suatu waktu konsumen itu bisa menjadi pemasar yang baik bagi produk mereka. Ketika sang konsumen tak puas, maka mereka bisa saja menyebarkan ketidakpuasan itu di ranah maya.

Saya teringat buku Wow Selling, karangan Hermawan Kertajaya yang mengungkap rahasia dibalik ilmu marketing. Saya membaca resensinya di blog sahabat beberapa waktu lalu. Di dalamnya terdapat cerita tentang Joe Girard, seles mobil paling tangguh di Amerika Serikat. Bayangkan saja, lelaki itu bisa menjual hingga 180 mobil dalam sebulan.

Saat ditanya rahasianya, Girard hanya menjawab bahwa dirinya selalu berusaha mengenali siapapun konsmennya, menghapal nama mereka, lalu secara rutin merawat pertemanan. Dengan cara itu, hingga saat ini belum ada satupun yang dapat melampaui pencapaiannya sebagai seles.

Yang saya rasakan, prinsip-prinsip seperti inilah yang tengah dikembangkan oleh Blue Bird Taksi. Mereka hendak menyapa konsumen dengan cara berbeda. Di luar soal itu, boleh jadi mereka tengah mengikuti apa yang dirumuskan dalam Wow Selling yakni:

Satukan kata dengan perbuatan
Tambahkan kejutan bagi pelanggan
Ajari pelanggan untuk tumbuh
Rawat pertemanan

Setelah Burger King, Omah Cobek Resto, My Kopi-O, Timezone, Qua-li, Rumah Makan Ikan Goreng Cianjur, Excelso, dan Sasaku, lalu pihak mana lagi yang akan menjalin kerjasama dengan Blue Bird Taksi Lombok?

Bersambung...


Mataram, 15 September 2017

Saturday, September 9, 2017

Selapis Hikmah di Balik Konflik Etnis di Sumbawa

Konflik Sumbawa 2013

Setiap daerah tak hanya menyimpan kisah tentang kemajuan dan kemunduran, tapi juga menjadi rahim dari begitu banyak kisah yang dibuat oleh manusia-manusia yang berjejalan di dalamnya. Melalui kisah itu, kita bisa bercermin dan menemukan banyak pesan dan hikmah yang selalu bisa diserap untuk kehidupan mendatang.

Sumbawa adalah titik balik dalam kehidupan saya. Beberapa tahun silam, saya selalu menjalani hidup dengan memakai sudut pandang sebagai korban. Suku Samawa yang mendiami Kabupaten Sumbawa adalah etnis yang begitu toleran. Mereka berbaur dengan banyak etnis lain secara terbuka dan penuh toleransi. Mbojo, Sasak, Bugis hingga Jawa. Tapi belakangan, tiba-tiba suku Bali datang mengganggu.

Suku Samawa selalu dizalimi. Jadi wajar saja jika kami melawan balik untuk mempertahankan diri. Wajar saja kalau kami membalas. Saya selalu yakin bahwa setiap saat suku Samawa diusik dan diganggu, maka ketika ada kesempatan mereka harus mengusik balik, membalas.

Saya baru saja mengenyam pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Mataram, Nusa Tenggara Barat ketika konflik antar suku di Sumbawa pecah. Kerusuhan itu menyeret dua etnis, yakni suku Samawa dan suku Bali.

Kejadian itu berawal dari adanya informasi meninggalnya seorang gadis etnis Sumbawa dengan tubuh penuh luka lebam dan pakaian dalam robek. Namun saat keluarga korban melaporkan hal tersebut ke Mapolres Sumbawa, pihak kepolisian justru menyatakan gadis tersebut tewas akibat kecelakaan, sementara keluarga korban mengaku anak gadisnya ini berpacaran dengan seorang anggota polisi dari etnis Bali.

Saat itu, warga sempat melakukan aksi unjuk rasa di depan Mapolres Sumbawa Besar, namun jawaban dari pihak kepolisian tetap sama. Warga yang kecewa akhirnya bertindak brutal. Mereka melakukan pengrusakan dan pembakaran di sepanjang Jalan. Ribuan warga dari etnis Samawa melakukan sweeping terhadap rumah-rumah, ruko-ruko, dan mobil-mobil etnis Bali. Seketika Sumbawa menjadi kota horor yang mencekam.

Mendengar berita itu, saya sangat marah. Tapi di sisi lain, saya juga merasa was-was dan ketakutan. Saya marah kepada orang-orang Bali karena sudah sejak lama saya percaya bahwa mereka melakukan berbagai hal untuk mengganggu kehidupan masyarakat Sumbawa. Mereka menguasai pemerintah, untuk memastikan orang-orang Sumbawa terpinggirkan.

Mereka menguasai ekonomi agar masyarakat Sumbawa tetap hidup dalam kemiskinan. Dengan uang, mereka membeli banyak lahan di Sumbawa, lalu mulai mempekerjakan orang-orang Sumbawa untuk menggarapnya.

Kini mereka lebih menggila lagi. Di Sumbawa, mereka sudah berani melakukan tindak kekerasan. Mereka terang-terangan melukai dan membunuh orang Sumbawa. Mereka benar-benar musuh yang nyata. Darah saya mendidih, rasanya ingin segera saya terbang ke Sumbawa dan ikut melakukan penjarahan demi melampiaskan emosi.

Di satu sisi, saya juga merasa ketakutan sebab ketika itu, saya tinggal di satu kosan milik orang Bali di Lombok. Kerusuhan antar suku di Sumbawa bisa berimbas pada seluruh mahasiswa Sumbawa yang menempuh pendidikan di Lombok, mengingat banyaknya etnis Bali yang menetap di sini. Mereka bisa saja melakukan sweeping terhadap seluruh etnis Sumbawa di Lombok demi menuntut balas. Saat itu saya memilih berdiam diri di kamar sembari memantau keadaan.

Di media sosial, foto-foto kerusuhan itu berseliweran. Sungguh mengerikan. Toko-toko yang dulunya megah, kini dibakar massa. Rumah-rumah mereka dijarah. Orang-orang terlihat asik menenteng benda tajam di jalanan. Mereka seperti kerasukan, lalu hendak melibas apa saja yang nampak di depan mata. Aksi itu membuat etnis Bali ketakutan. Mereka kemudian melarikan diri di pos-pos kepolisian.

Tentu saja fenomena ini semakin membuat saya resah. Saya adalah mahasiswa Sumbawa yang tinggal di satu komplek yang dipenuhi etnis Bali di Lombok. Apa yang akan mereka lakukan saat saya keluar dari kamar ini? Lebih-lebih pemilik kosan saya adalah seorang hindu yang taat.

Saya tak tau harus berbuat apa. Yang muncul di benak hanyalah bagaimana cara meninggalkan tempat itu dengan segera dan mengamankan diri. Bila perlu meninggalkan Lombok dan pulang ke Sumbawa secepatnya.

Tak lama kemudian, pemilik kosan datang menyambangi saya. Rupanya berita ini sudah sampai ke telinga lelaki paruh baya itu. Di luar dugaan, Ia justru menyarankan saya untuk tetap tinggal hingga keadaan di Sumbawa benar-benar aman. Ia juga mengajak saya tinggal di rumahnya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Beberapa jenak saya terdiam. Saya tak menyangka bahwa bapak itu tidak terprovokasi sedikitpun atas apa yang terjadi di Sumbawa. Ia tidak menganggap saya sebagai musuh yang harus diganyang demi membalas amuk warga Sumbawa terhadap saudaranya. Teman-teman hindu saya juga demikian. Mereka menghubungi saya beberapa saat kemudian. Mereka menanyakan kabar, lalu menawarkan tempat tiggal.

Mendapati kenyataan itu, saya terduduk lesu. Saya kemudian membayangkan bagaimana bila orang-orang di Bali sana memandang kami orang Sumbawa sama seperti saya memandang mereka selama ini? Bagaimana bila kerusuhan itu hanyalah satu kebodohan karena cara pandang atau hanya karena provokasi kelompok-kelompok tertentu yang ingin mengambil keuntungan? Bagaimana bila cara pandang itu kita hilangkan begitu saja? Tentu kerusuhan yang mengerikan ini tak perlu ada, bukan?

Batin saya mendadak basah. Saya menangis sejadi-jadinya. Selama ini saya hanya melihat apa yang ingin saya lihat. Saya kumpulkan fakta-fakta dalam memori saya, yang mendukung kesimpulan bahwa orang-orang Bali itu memusuhi masyarakat Sumbawa. Ada banyak fakta yang tidak mendukung, tapi tetap saya abaikan. Misalnya, tetangga kami adalah etnis Bali tetapi kami hidup rukun dengan mereka selama bertahun-tahun lamanya.

Teman saya bekerja di satu institusi pemerintah di Sumbawa. Ia mengakui bahwa dirinya banyak di bantu oleh orang Bali yang telah menjadi senior di tempat itu saat kepengurusan. Fakta itu juga saya abaikan. Saya lebih percaya pada cerita-cerita bahwa orang Bali akan menjarah kekayaan alam masyarakat Sumbawa secara perlahan, lalu mengusir mereka dari tanahnya sendiri meski cerita itu sedikit bertentangan dengan pemahaman saya.

Saat itu saya bongkar seluruh memori saya, saya ubah pikiran saya. Saya membaca kisah-kisah damai di Sumbawa yang sudah berlangsung ratusan tahun. Saya ingat teman-teman hindu saya di kampus, mereka adalah orang-orang baik.

Saya juga membaca ulang sejarah pertempuran Ki Pasung Grigis dari Bali dengan raja Deldela Nata dari Sumbawa. Namun bukankah pertempuran itu terjadi akibat interpensi Gajah Mada dari Majapahit yang ingin menaklukkan kerajaan Sumbawa? Bukankah Gajah Mada yang telah lebih dulu menaklukkan Bali, memaksa Ki Pasung Grigis untuk memimpin pasukan?

Dunia tiba-tiba menjadi terlihat berbeda. Sumbawa yang saya tangisi adalah Sumbawa yang ketika itu sesak oleh nafsu amarah dan nafas kekejaman. Bukan lagi Sumbawa yang masyarakatnya dizalimi oleh etnis lain. Sumbawa yang saya tangisi adalah Sumbawa yang mudah terprovokasi lalu mengacungkan golok dan mengancam bunuh pada pelakunya.

Tragedi itu membuat saya termenung. Betapa banyak darah yang harus ditumpahkan karena perselisihan di banyak daerah di Indonesia. Betapa banyak anak yang harus menjadi yatim piatu, wanita yang menjanda, seorang ayah yang kehilangan anak dan isterinya akibat konflik dan krisis kemanusiaan. Berapa banyak kerugian finansial dan ekonomi yang diakibatkan konflik itu. Padahal, kerusuhan bisa saja dihentikan hanya dengan cara sederhana, yakni berhenti memandang pihak lain sebagai musuh.

Cara itu berlaku untuk semua tempat. Ambon, Sampit, Poso, Tolikara, Sambas, Tanjung Balai, Aceh Singkil, dimanapun itu.

Bagi saya, kerusuhan di Sumbawa adalah selapis hikmah yang mencerahkan. Kerusuhan itu mengajarkan saya tentang banyak hal. Saya bersyukur sebab memiliki kesempatan untuk memperbaiki cara berpikir saya.

Semoga di luar sana, ada lebih banyak orang yang mau menjadikan setiap tragedi sebagai renungan dan pembelajaran. Semoga di luar sana, masih banyak orang yang berpikir bijak bahwa jauh lebih penting menciptakan embun perdamaian, ketimbang memelihara api amarah.

Berhenti saling memusuhi.

Mataram, 24 Agustus 2017

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba essay konflik dan krisis kemanusiaan yang diadakan oleh ICRC bekerjasama dengan Qureta.

Wednesday, September 6, 2017

Saat Tere Liye Memilih Berhenti Mencetak Buku

Tere Liye (sumber foto: idwriters.com)

Tak ada kabar yang paling mengejutkan minggu ini selain pemutusan hubungan kerjasama Tere Liye dengan Republika dan Gramedia. Salah satu penulis paling produktif di negeri ini akhirnya migrasi ke media digital. Ia memilih membagikan buku serta catatannya melalui halam pribadi facebook ketimbang mencetak ulang di toko buku.

Baru-baru ini, Tere Liye mengumumkan kabar menyedihkan di media sosial terkait karir kepenulisannya. Ia memutuskan untuk berhenti mencetak buku-bukunya. Buku-buku yang masih beredar di pasaran, dibiarkan habis secara alamiah. Hal ini dilakukan demi menanggapi perlakuan pajak pemerintah yang tidak adil terhadap profesi penulis. Walhasil, secara otomatis buku-buku karya Tere Liye tak bisa lagi dijumpai di toko buku. Kalaupun ada, maka dapat dipastikan itu adalah bajakan.

Keputusan Tere Liye untuk tak lagi mencetak buku-bukunya bukan berarti bahwa dia berhenti menulis. Seorang penulis akan tetap menulis meski di atas daun sekalipun katanya. Namun, saya tetap merasa sedih. Rasanya ada selapis kenyataan pahit yang tak mudah diterima. Memang, penulis asal Sumatra itu masih tetap berkiprah dengan memproduksi berbagai catatan melalui media sosial. Tapi, berhentinya seorang penulis menerbitkan buku akan menghilangkan satu mata rantai keilmuan.

Bagaimanapun juga, buku terbaik adalah buku yang diterbitkan. Sebaik apapun sebuah buku, jika tak pernah terbit, maka pastilah buku itu akan tenggelam dalam lipatan sejarah. Seiring waktu, buku digital memang banyak bertaburan, lalu secara perlahan hendak mengubah lanskap pengetahuan di era modern. Tapi tetap saja tak bisa menggerus keberadaan buku cetak yang sedari dulu telah menjadi tonggak peradaban literasi. Saya pun lebih meresapi kenikmatan saat membaca buku cetak dibanding buku digital.

Biarpun Tere Liye mengklaim diri tetap eksis, sebab tetap akan memproduksi buku dan berbagai catatan di ranah digital, saya tetap merasa kehilangan. Ia adalah penulis dengan segudang karya. Saya mengagumi produktivitas serta kemampuannya menulis. Ia adalah tipe pengarang yang bergelut dengan riset dan data. Sehingga tak jarang, buku-bukunya laris di pasaran.

Tere Liye memang tak serupa Seno Gumira Adjidarma yang mampu menulis dalam berbagai genre. Tapi ia adalah pendatang baru yang berhasil menyajikan satu bacaan menarik yang menyasar kaum muda. Ia menulis novel berjudul “Tentang Kamu” dan melakukan riset hingga Pulau Bungin, Sumbawa. Ia menulis “Hafalan Shalat Delisa” serta “Moga Bunda Disayang Allah” yang lalu kisahnya diangkat ke layar kaca.

Tak bijak pula menyalahkan keputusan Tere Liye yang mengejutkan. Melalui akun pribadinya, Ia pun telah menulis curahan hati terkait sikapnya itu. Ia menilai, tarif pajak penghasilan atas royalti penulis sebesar 15% dianggap terlampau tinggi dan membebani. Padahal, para penulis pada umumnya hanya mendapat jatah royalti sebesar 10% dari hasil penjualan.

Kata penulis kondang itu, pungutan pajak yang dibebankan kepada penulis buku jauh lebih besar dibandingkan profesi dokter atau artis terkenal. Ia juga menyayangkan tidak adanya respon dari pemerintah terkait hal ini. Meskipun ia mengakui bahwa telah berkali-kali menyurati lembaga berwenang. Hal ini membuatnya terpaksa memilih untuk menghentikan pencetakan buku-bukunya.

Kutipan Curahan Hati Tere Liye di Halam Resmi Facebook

Entah kenapa, pemerintah kita tak selalu serius memandang masalah literasi sebagai sesuatu yang harus dibenahi. Pemerintah kita terlampau fokus pada hiruk pikuk politik hingga melupakan satu bagian yang teramat mendasar demi peradaban bangsa yang lebih baik. Pemerintah kita terlambat sadar bahwa geliat pembangunan hanyalah kesia-siaan semata tanpa geliat membangun tradisi literasi yang kokoh.

Buku itu ibarat sungai yang tak henti-hentinya mengalirkan ide, gagasan serta mata air inspirasi bagi banyak orang. Buku adalah lembar-lembar kearifan yang selalu menginspirasi dan mencerahkan generasi ke generasi. Setidaknya, penulis tak harus diberatkan oleh satu regulasi yang justru dapat menghalangi produktivitas mereka dalam melahirkan karya.

Berdasarkan studi Most Littered Nation In the World 2016 lalu, Indonesia bahkan masih bertengger di peringkat 60 dari 61 negara dalam literasi dunia. Sementara menurut data yang pernah dirilis oleh UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangatlah memprihatinkan, yakni hanya berkisar 0,001%. Artinya, dari 1000 orang Indonesia, cuma ada 1 orang yang rajin membaca.

Saya tak terlalu terkejut dengan kondisi itu. Di berbagai penjuru tanah air, perpustakaan yang semestinya menjadi oase keilmuan hanyalah digunakan sebagai tempat pajangan buku yang sepi peminat. Perpustakaan tak dijadikan sentra pertemuan banyak komunitas dan segmen usia. Sehingga, memungkinkan peradaban dan segala aktivitas yang dibangun selalu terkait dengan buku-buku dan pengetahuan.

Yah, mungkin inilah jalan panjang yang harus di lalui oleh bangsa kita. Zaman memang terus bergerak. Di saat era internet telah membuat banyak penerbit menjadi lebih agresif demi menemukan orang yang berbakat dalam menulis, Tere Liye justru memilih menghentikan pencetakan karyanya karena alasan pajak. Menarik bukan?

Mari bayangkan sejenak, bagaimana jika aksi yang dilakukan Tere Liye diikuti oleh banyak penulis papan atas di negeri ini? Bagaimana jika buku-buku bercetak tebal terpaksa di ubah ke buku digital? Sanggup kah kita memandangi layar smartphone ber jam-jam lamanya hanya demi menuntaskan sebuah buku?

Ah, semoga saja tidak.

Mataram, 06 September 2017

Saturday, September 2, 2017

Aung San Suu Kyi di Mata Tuan Guru Bajang

Ilustrasi (sumber foto: hariannusa.com)

Konflik berdarah di Myanmar seakan tak pernah berakhir. Ibarat api dalam sekam, setelah sempat senyap dalam beberapa waktu, kini publik internasional kembali diguncang oleh realitas getir yang menimpa muslim Rohingya di Rhakine. Bara permusuhan di salah satu wilayah termiskin di Myanmar itu kembali berkobar. Hanya dalam hitungan hari, ratusan orang tewas, dan ribuan lainnya mengungsi ke tempat aman.

Dibalik tragedi memilukan yang melanda militer Myanmar itu, nama Aung San Suu Kyi adalah yang paling banyak menjadi sorotan. Suu Kyi disebut-sebut tak lagi bertaring. Ia seakan tak bereaksi atas krisis kemanusiaan yang menimpa negerinya.

Tercatat sebanyak 13 peraih Nobel dan 10 tokoh dari berbagai profesi mengirim surat terbuka kepada Dewan Keamanan PBB untuk mengkritik Suu Kyi dalam menyelesaikan masalah etnis minoritas Rohingya serta mengingatkan tentang tragedi pembasmian etnis dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Demikian pula di Indonesia. Negera dengan penduduk muslim terbanyak di dunia ini tak mau ketinggalan. Sejumlah tokoh publik juga melayangkan kritik pedas terhadap pemimpin de facto Myanmar tersebut. Kekecewaan terhadap Suu Kyi pun secara masif dilontarkan lewat media.

***

Lelaki muda itu melaksanakan sholat ied Idul Adha dengan takzim. Ia duduk di deretan depan bersama puluhan tokoh agama lain. Ia juga mengikuti khotbah hingga usai. Beberapa saat kemudian, ia lalu dikerumuni banyak orang. Mereka hendak bersalaman dengan orang nomor satu di NTB. Ia adalah Muhammad Zainul Majdi yang kerap disapa Tuan Guru Bajang.

Kemarin, ia turut melaksanakan sholat eid di Masjid Hubbul Wathan, Islamic Center Mataram. Sesaat setelah merayakan momentum tahunan itu, TGB berbicara tentang tragedi kemanusiaan yang menimpa muslim Rohingya di Myanmar.

Ia mengecam tindakan pemerintah Myanmar atas pembantaian tersebut. Ia bahkan meminta nobel perdamaian yang pernah di terima Aung San Suu Kyi segera dicabut. Menurutnya, wanita yang pernah menjadi tahanan rumah itu tak pantas menerima nobel atas sikap diamnya terhadap pembantaian.

Gebernur dua periode itu nampaknya terlihat geram. Ia menyayangkan sikap komunitas internasional yang seolah menutup mata. Tak ada pernyataan tegas, apalagi sanksi bagi pemerintah Myanmar. “Kita semua di NTB meminta pada pemerintah pusat untuk bersikap lebih tegas lagi terhadap tragedi kemanusiaan. Tidak bisa dibiarkan pembantaian seperti itu.” Pangkasnya dalam satu media lokal.

Sepintas, TGB memang kerap bereaksi atas berbagai isu yang memiliki dimensi keagamaan. Beberapa waktu lalu, ia juga menjadi satu-satunya Gubernur yang terlibat dalam aksi bela islam di Jakarta. Saat itu, ribuan umat islam memadati ibu kota demi mendesak pemerintah agar segera menangkap salah seorang pejabat publik yang diduga menistakan agama.

Saya tak terlalu terkejut dengan pernyataan TGB yang serupa peluru. Ia adalah Gubernur dengan latar belakang keagamaan yang kuat. Ia adalah cucu dari seorang tokoh pendiri ormas islam terbesar di NTB yang sekarang dipimpinnya. Di usia yang relatif muda, ia telah meraih gelar doktor dari Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir lalu tercatat sebagai satu dari sekian banyak kepala daerah penghapal Al-quran. Bukan hanya seorang Gubernur, ia adalah ulama yang setiap kata-katanya dijadikan petuah oleh banyak orang.

Di hadapan masyarakat NTB, ia mengeluarkan satu seruan keras dan mengecam pembantaian terhadap muslim Rohingya. Krisis kemanusiaan yang terjadi di Myanmar telah memicu respon banyak pihak termasuk dirinya. Konflik itu lebih mirip genosida yang dilakukan Hitler puluhan tahun lalu ketimbang konfrontasi antar etnis.

Wajar saja jika publik bertanya-tanya. Tragedi kekejaman itu tidak terjadi di bawah pengawasan seorang diktator gila. Tapi di bawah pengawasan Aung San Suu Kyi, wanita yang menerima Hadiah Nobel Perdamaian atas perjuangannya memajukan demokrasi dan HAM di tengah penindasan junta militer.

Sebagai aktivis, ia serupa Malala Yousafzai yang pidatonya pernah menggetarkan rezim penebar teror. Ia sederet dengan Nelson Mandela yang meruntuhkan sistem apartheid, lalu menjadi presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan.

Suu Kyi bahkan pernah meraih pengharagaan dari Universitas Nasional Australia pada tahun 2013. Rektor universitas itu menyebutnya sebagai contoh keberanian dan tekad yang tenang dalam menghadapi penindasan serta seorang jagoan damai yang membuat dunia lebih baik dan lebih adil.

Saya tak hendak membahas konflik di Myanmar lebih jauh. Saya bukanlah seorang pengamat politik internasional yang berhadapan dengan detail-detail kajian dibalik serentetan peristiwa. Saya hanya mencoba mengulas kembali apa yang dalam beberapa hari ini begitu masif diberitakan media.

Di mata saya, apapun yang melatarbelakangi tragedi kekerasan di Myanmar jelas tak bisa dibenarkan. Setidaknya, PBB harus mengambil sikap tegas dengan cara menekan pemerintah Myanmar secara politik atau mengeluarkan satu regulasi yang memunggungi nasib muslim Rohingya. Jika tidak, entah berapa lagi korban yang akan berjatuhan.

Mataram, 02 September 2017