Tuesday, November 7, 2017

Mengintip Hasil Kerjasama Blue Bird Taksi dan Kura-kura Family

Penandatanganan Kontrak Kerjasama

Jika sebelumnya, Blue Bird Taksi Lombok telah menggaet sejumlah hotel di Mataram dalam satu kontrak kerjasama, maka pekan ini, perusahaan transportasi itu kembali menggandeng Kura-Kura Family Entertainment demi menunjang pelayanan konsumen. Penasaran apa saja hasil kerjasamanya?

***

Mulanya, blue bird taksi Lombok menggaet sejumlah pelaku bisnis serta mengajak para pengusaha lokal untuk bersama-sama mengedepankan kenyaman konsumen. Kerjasama itu akhirnya menyasar berbagai tempat wisata, oleh-oleh, restoran, hotel, hingga tempat liburan keluarga.

Tak tanggung-tanggung, mereka bahkan menyediakan discount hingga puluhan persen bagi pengguna jasa transportasi blue bird taksi. Bagaimana bisa???

Dalam acara penandatanganan kontrak yang berlansung hikmat di kura-kura itu, bapak Amir Muslim selaku pimpinan blue bird taksi lombok menyebutkan bahwa proses kerjasama dengan para pelaku bisnis adalah yang kesekian kalinya digelar. Beliau memaparkan bagaimana proses itu berjalan, hingga tujuan kerjasama itu dilakukan.

Menanggapi hal itu, sambutan hangat juga disampaikan oleh bapak Alex selaku humas kura-kura. Ia berharap agar hubungan baik antar kedua perusahaan tetap terjaga serta proses kerjasama terus berlansung. Dalam sambutan singkatnya itu, ia juga mengenalkan beberapa fasilitas unggulan yang dimiliki kura-kura family sebagai wahana rekreasi kekinian.

Beberapa spot andalan kura-kura family (photo: wulan)

Lalu, apa yang bisa didapatkan konsumen dari hasil kerjasama ini?

Sesuai dengan namanya, Kura-Kura Family Entertainment adalah taman bermain, bersantantai, serta pilihan bagi mereka yang ingin melepas penat bersama keluarga. Jaraknya hanya sepelemparan batu dari Lombok Epicentrum Mall Mataram.

Berada tepat di jantung Kota, tempat ini dilengkapi dengan berbagai macam wahana rekreasi yang super keren seperti kolam renang, favilion restoran, fun house, pocket billiard, progym fitness, hingga rumah pohon dan spa.

Download aplikasi My Blue Bird

Uniknya, berkat kerjasama ini, para pengunjung yang datang menggunakan jasa transportasi blue bird taksi akan diberikan discount masing-masing 10 persen pada setiap spot yang telah disebutkan di atas.

Caranya gampang. Pertama, download atau install aplikasi blue bird di playstore melalui hp kamu. Kedua, lakukanlah pemesanan taksi menuju kura-kura family entertainment. Ketiga, tunjukan bukti history trip penumpang di aplikasi My Blue Bird pada salah satu pegawai kura-kura.

Oh iya, hal serupa juga berlaku pada setiap mitra kerja blue bird taksi lain di Kota Mataram.

Asyiiikkkk kannnn?

Mataram, 07 Noember 2017

Tuesday, October 31, 2017

Selapis Kesan Saat Pelatihan Duta Damai

Duta Damai BNPT Sasambo Regional Mataram

Pekan silam, saya mengikuti program Duta Damai Dunia Maya yang digagas oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Republik Indonesia. Tak saya sangka, pelatihan itu menjadi pelatihan yang sangat mengesankan. Saya bertemu banyak sahabat-sahabat yang menggeluti dunia teknologi informasi serta aktif berselancar di dunia maya.

Kami diikat oleh visi yang sama, yakni bagaimana menebar pesan damai melalui media sosial. Di ranah maya, kami diarahkan untuk lebih aktif dalam memproduksi konten serta informasi positif demi melawan segala bentuk propaganda radikal dan terorisme.

***

Mulanya, saya membayangkan pelatihan Duta Damai sama halnya dengan banyak pelatihan lain yang pernah saya ikuti. Dimana, para pemateri lebih aktif ketimbang peserta dan berlansung dalam waktu singkat. Dugaan saya salah. Di Lombok Astoria Hotel Mataram, sebanyak 60 peserta terpilih dilatih, dibentuk, lalu bergerak bersama-sama dalam satu barisan guna memerangi aksi terorisme dan radikalisme di dunia maya.

Mereka yang terpilih adalah para blogger, design komunikasi visual, hingga para praktisi IT. Mereka kemudian diajari cara membuat web, mengelola konten, hingga membuat satu tulisan yang berkualitas. Harapannya, kelak mereka inilah yang akan mengubah landscape dunia maya, menentukan persepsi dan opini publik di masa depan, lalu merancang perubahan melalui langkah-langkah sederhana.

Pelatihan itu dikemas selama tiga hari. Di hari pertama, para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok yang nantinya akan mendapatkan pendalaman materi terkait bidang yang diikuti. Setelah itu, barulah mereka berkolaborasi demi memproduksi satu konten yang nantinya akan dipresentasikan di akhir kegiatan.

Seorang pemateri menuturkan, pelatihan duta damai dunia maya telah dilaksanakan di banyak kota di Indonesia termasuk Malang, Jogjakarta, hingga Banjarmasin. Akan tetapi baru tahun ini, kegiatan yang diinisiasi lansung oleh BNPT tersebut bisa terselenggara di Bumi Seribu Masjid.

Apapun itu, yang jelas saya sangat senang bisa tergabung dalam satu barisan muda kreatif serta berkesempatan mendapat bimbingan dari para pemateri yang berpengalaman. Dalam banyak kesempatan, saya selalu memposisikan diri sebagai seorang murid yang berhadapan dengan para guru berusia muda, yang telah lama bermain di ranah digital.

Harapan saya, kegiatan semacam ini haruslah terus diadakan. Mengingat dewasa ini, Indonesia menjadi salah satu negara yang mengandung begitu banyak gembong terorisme. Jika dahulu, sebelum teknologi informasi menjangkau setiap rumah, doktrinisasi oleh kelompok-kelompok garis keras ini mungkin masih dilakukan secara lansung di tempat-tempat tertentu.

Belakangan, sejak media sosial menjadi standarisasi publik serta taman bermain bagi semua kalangan, mereka kemudian beralih. Mereka membentuk sindikat, membangun satu pola baru yang lebih rapi dan tertutup. Tentu saja yang menjadi sasaran utama adalah para generasi muda labil secara moral serta dangkal pemahaman kebangsaan maupun agama. Sehingga sangat mudah terpantik api propaganda.

Fenomena media sosial telah memungkinkan segala sesuatu terjadi begitu instant. Saya mengamini tulisan Thomas Friedman dalam The World Is Flat tentang realitas dunia baru yang kian datar. Konsekuensi logis dari perkembangan dunia semacam ini iyalah kian mengaburnya segala batasan antar manusia satu dengan yang lainnya. Dalam konteks gerakan terorisme kekinian, prosesi yang teramat sakral seperti pembaiatan, dapat dengan mudah dilakukan secara online. Hah???

Dunia teknologi informasi telah menjelma sebagai atmosfer demokratis yang mengubah semua tatanan. Hanya bermodalkan ujung jari, orang-orang dengan mudah melempar informasi ke ruang maya. Informasi itu lalu beresonansi dengan semesta, menyala-nyala dipikiran banyak orang, hingga menyebar serupa virus.

Tentu tak masalah jika informasi yang dibagikan memang bertujuan untuk mencerahkan publik. Tapi bagaimana jika ternyata yang telah tersebar secara viral itu justru berita bohong, hoax, serta memuat aksi propaganda terhadap kelompok tertentu?

Kesan saya, melibatkan kaum muda dalam satu gerakan kontra propaganda sangatlah tepat. Tinggal bagaimana menjaga agar semangat ini terus menyala. Setelah resmi tergabung dalam satu barisan duta damai, saya mempelajari banyak hal. Dari berbagai penjuru tanah air, saya menemukan suara-suara yang diekspresikan melalui jari-jemari dan kreatifitas kaum muda yang memutus jarak dan mendekatkan semua gagasan.

Mereka yang memproduksi konten perdamaian melalui tulisan, design grafik, serta melalui video itu berada dalam gelombang pemikiran yang sama. Mereka tergerak untuk bersuara atas sesuatu yang amat penting. Mereka sama-sama mengacungkan telunjuk demi mempertahankan keutuhan bangsa.

Ada nada khawatir, cemas, dan lirih yang coba dirangkum dalam ide. Di situ, saya juga menemukan optimisme yang kuat bahwa bangsa ini akan semakin perkasa sebab banyak orang baik yang tersebar di mana-mana. Indonesia akan selalu damai dan menjadi rumah yang nyaman untuk semua orang. Bahwa Indonesia akan menjadi negeri yang paling unggul saat semua warganya saling menguatkan, toleran, serta tak henti menyuarakan hal-hal baik tentang bangsa ini.

Jika seabad silam Karl Marx pernah berkata, "Kaum proletar sedunia, bersatulah!", maka di abad ini, kita bisa berkata, "Kaum muda sedunia bersatulah! Saatnya menyuarakan pesan perdamaian! Merdeka!

Mataram, 01 November 2017

Wednesday, October 25, 2017

TGB, Toleransi, dan Nafas Pembangunan NTB

TGB saat berdiskusi dengan Duta AS di Islamic Center

Di tengah maraknya isu sara dan ancaman perpecahan yang melanda negeri ini, NTB justru semakin konsisten dalam mencerminkan kehidupan umat islam di Indonesia yang penuh dengan moderasi dan toleransi serta selalu mengedepankan nilai-nilai kebersamaan.

Jika beberapa waktu lalu, pidato perdana Gubernur terpilih Jakarta, Anies Baswedan sempat menuai kontroversi karena menyebut kosa kata Pribumi, maka sepekan silam, Gubernur NTB, Muhammad Zainul Majdi malah menghadiri konferensi internasional bersama 400 ulama dalam rangka membahas islam moderat di Islamic Center Mataram.

***

"Contoh di NTB ini, kami kehilangan di Arab." Demikian kata Prof DR Syekh Afdul Fadhiel El-Qoushi, saat pembukaan Multaqa Nasional Alumni Mesir, di Ballroom Islamic Center NTB, Rabu (10/2017) lalu.

Qoushi bukanlah profesor sembarangan. Ia adalah ulama besar Al-Azhar. Ia wakil ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar yang juga pernah menjabat sebagai menteri Wakaf Mesir. Dikutip dari Biro Humas Protokol NTB, ia menyatakan kekagumannya sekaligus menyerukan kepada umat islam di seluruh dunia untuk mencontoh kehidupan toleransi di NTB.

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan bahwa islam itu bukanlah potongan-potongan tubuh manusia yang terlempar akibat bom bunuh diri. Islam itu bukanlah kehidupan yang saling membenci atau saling menjauhkan diri dengan umat lain. Namun, islam itu adalah saling berkontribusi, saling membangun hidup dan saling memberi kemanfaatan dalam kedamaian dengan seluruh umat beragama. Seperti yang dulu pernah dicontohkan oleh Rasulullah saat membangun Kota Madinah.

Hanya saja, ia masih terheran kenapa toleransi yang baik di NTB ini belum ditularkan di seluruh belahan dunia. Padahal menurutnya, umat islam di belahan bumi sana sangat merindukan kehidupan beragama yang damai dan penuh toleransi layaknya di NTB. Katanya, yang dibutuhkan islam saat ini bukanlah apa yang tertulis di buku-buku atau pidato-pidato, melainkan pengalaman nyata serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Terkait toleransi, saya mengamini pernyataan Qoushi. Di mata saya, NTB adalah oase perdamaian yang telah lama dirindukan banyak orang. Meski termasuk Provinsi dengan mayoritas penduduk muslim, faktanya sejauh ini, NTB dinilai sukses dalam menjaga toleransi antar umat beragama. Hal itu tercermin dalam tatanan kehidupan masyarakat di Bumi Seribu Masjid yang menilai keberagaman sebagai sebuah keniscayaan. Maka, tak berlebihan jika saya menyimpulkan bahwa interaksi sosial di NTB dapat meluruskan persepsi tentang islam yang selama ini sering disalahartikan.

Semangat merawat denyut toleransi di NTB tentunya tidak terlepas dari peran strategis sang Gubernur, Muhammad Zainul Majdi yang kerap disapa TGB. Dalam kurun waktu dua periode kepemimpinannya, TGB tak hanya berhasil menerapkan nilai-nilai moderasi islam dengan baik di tengah masyarakat, tetapi juga menjadikan itu sebagai energi yang kelak membawa NTB ke arah keunggulan. 

Hal ini terbukti mengingat laporan Kata Data Indonesia bahwa, selama tiga tahun berturut-turut, ekonomi NTB tumbuh di atas rata-rata nasional yakni di atas lima persen. Pada 2016, mencapai angka 5,28 persen, sementara pertumbuhan nasional di bawah angka lima persen. Sedangkan, tingkat pengangguran terbuka dengan indeks Rasio Gini sebesar 0,36, lebih baik dari rata-rata nasional yang berada pada angka 0,40. Angka kemiskinan sejak 2008 hingga 2016 juga berhasil diturunkan dari 23,4 persen menjadi 16,02 persen.

Tak hanya itu, di sektor pariwisata, NTB juga telah berhasil meraih predikat sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia dan destinasi wisata bulan madu halal terbaik dunia dalam ajang World Halal Tourism Awards 2016 lalu. "Tanpa kedamaian dan kerukunan di masyarakat yang merupakan salah satu bentuk moderasi islam, mustahil kami bisa membangun NTB" ujarnya. 

Moderasi islam yang dimaksud TGB seyogyanya adalah islam yang toleran, jalan tengah, ramah dan mengayomi, membawa kedamaian, saling menghormati dan menerima segala perbedaan. Bukan islam yang justru mengancam, saling menegasikan, serta menebar teror dan ketakutan. Pada titik tertentu, saya kerap kagum dengan sikap kepemimpinan serta wawasan Gubernur muda yang satu ini. Di saat banyak pemimpin lain lebih memilih memunculkan kontroversi yang lalu memantik kegaduhan, ia justru tampil dengan satu gagasan yang seakan menebas segala pertentangan. 

Menurut Qoushi, moderasi islam sangatlah dibutuhkan di tengah dunia yang terkoyak oleh berbagai paham, aliran, dan kelompok yang serba ekstrem, baik kanan maupun kiri. Dari liberalisme, anti agama, hingga islamofobia. Dari takfiri, hingga menganggap dirinya paling benar dan orang lain selalu salah.

Di Indonesia, perbedaan memang kerap dijadikan alat propaganda demi kepentingan tertentu. Entah kenapa, kita selalu sibuk mempersoalkan identitas seseorang, tanpa masuk ke ranah substansi. Kita selalu berdebat menyoal ideologi, agama seseorang pemimpin, berapa kali orang lain beribadah, tanpa membahas sejauh mana kapasitas dan kemampuan orang itu.

Dimana-mana, kita lebih tertarik membuktikan orang lain adalah kafir dan akan masuk neraka, tanpa menjadikan diri kita sebagai berkah bagi sekeliling. Kita juga alpa membahas bagaimana langkah-langkah kecil untuk menggapai mimpi bangsa yakni mencapai masyarakat yang adil dan makmur, material dan spritual. Kita tidak melihat keberagaman sebagai energi untuk membuat bangsa ini melesat dan jauh menjadi negeri paling unggul.

Pada titik ini, saya bisa memahami mengapa seorang TGB begitu dicintai.


Mataram, 25 Oktober 2017

Monday, October 23, 2017

Karpet Merah Untuk Sang Asesor

The Red Carpet

Beberapa orang di utus untuk menjadi tim asesor di salah satu sekolah. Berbagai pagelaran meriah turut menyambut kedatangan mereka. Mereka disebut sebagai orang yang akan menilai diantaranya standar sarana-prasarana, tata kelola, pembiayaan sekolah, lalu memastikan seluruh anak mendapat pendidikan yang layak. Benarkah?

Jika memang benar, pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benak saya adalah, mengapa pihak sekolah mesti selebay itu? Mengapa menyambut beberapa asesor harus munggunakan karpet merah, aksi drumb band, hingga kalungan bunga?

Lalu kenapa saat seorang petani yang taat membayar komite, nelayan yang ikhlas menyisihkan sedikit hasil tangkapannya demi membeli seragam baru si anak, atau ibu-ibu penjual sayur yang terpaksa tidak pergi ke pasar karena menghadiri rapat wali murid dengan pihak sekolah tidak disambut semeriah itu?

Entah kenapa, hidup ini seringkali nampak begitu paradoks. Ketika seorang relawan di ujung negeri, yang tak henti-hentinya menebar virus baca, membangun satu komunitas, lalu menginspirasi banyak anak di pelosok tak pernah diperlakukan sebagaimana tim asesor itu.

Demikian pula saat beberapa pegiat literasi yang ikut menggagas aksi menulis surat serempak kepada Presiden beberapa waktu lalu. Kegiatan itu hanya dimuat dalam satu postingan fecebook dan tak begitu banyak menuai respon.

Sementara di sisi lain, para pejabat yang telah dipasilitasi oleh negara itu disambut sedemikian meriah dan menerima pujian setinggi langit. Mereka dianggap sebagai simbol pendidikan. Kedatangannya diiringi gemuruh marching band, lalu pihak sekolah memberi kalungan bunga, lalu diberitakan di media lokal. Aneh.

Kita mewarisi satu kebudayaan yang suka mendramatisir sesuatu secara berlebihan. Kita sering melihat manusia berdasarkan apa yang dikenakannya, seberapa banyak uang yang dimiliki, atau seberapa tinggi pangkat dan jabatannya.

Kedatangan satu tim asesor bukanlah sesuatu yang harus disambut berlebihan hingga mengharuskan mereka berjalan di atas karpet merah. Anggap saja itu adalah tugas biasa yang mesti mereka lakukan atas pasilitas mewah yang telah didapatnya dari negara.

Kita seolah-olah mengamini bahwa cita-cita tentang pendidikan seakan menjadi milik mereka yang sedang menjabat itu. Tanpa mereka, seolah-olah pendidikan kita entah seperti apa. Sementara mereka yang kecil, tak pernah dicatat sebagai mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk negara.

Mataram, 23 Oktober 2017

Sunday, October 15, 2017

Akhirnya Kembali Membeli Laptop

Laptop Asus

Tak akan mudah bagi siapapun untuk bekerja tanpa laptop. Bagi ukuran mahasiswa, memiliki laptop adalah sebuah keharusan. Dahulu, saya sempat stres saat laptop pertama saya raib digondol maling. Di sana terdapat file-file yang teramat penting untuk menunjang perkuliahan. Di sana terdapat dokumentasi pribadi saat awal-awal masuk kuliah.

Barulah kemarin, setelah dengan sabar mengumpulkan duit, akhirnya saya bisa kembali membeli laptop. Saya harus menunggu agak lama, sebab tak berani lagi meminta duit kepada orang tua. Untuk menyiasatinya, saya pun rajin mengikuti lomba menulis di media sosial. Saya berharap mendapatkan reward yang cukup untuk harga sebuah laptop.

Kini, satu laptop merek Asus telah berada digengaman. Laptop itu akan menemani saya kemana-mana hingga suatu saat, saya bisa membeli laptop jenis lain dengan spesipikasi yang lebih bagus. Ia akan mencatat segala keresahan di lembar keseharian saya. Ia akan menjadi saksi atas apa yang saya lakukan. Apa boleh buat, hanya dengan cara menulis, saya bisa menjaga asa intelektual serta bara semangat dalam diri saya.

Yah, hidup ini memang serupa jalan panjang yang berliku. Kelak, masa-masa sukar seperti itu akan selalu terkenang.

Mataram, 16 Oktober 2017

Saturday, September 30, 2017

Membaca Sapiens, Membaca Manusia

Buku Sapiens

Sejak buku ini diresensikan oleh penulis kondang Yusran Darmawan beberapa waktu lalu, saya sudah tidak sabar untuk membacanya. Sayang, butuh beberapa bulan menanti kehadiran Sapiens di Lombok.

Kemarin, saat berkunjung ke toko buku, saya melihat buku ini telah diterbitkan dalam versi bahasa Indonesia. Tanpa banyak menimbang, saya langsung membelinya.

Mulanya, Sapiens: A Brief History of Humankind diterbitkan dalam bahasa Hebrew, bahasa yang digunakan orang Yahudi di Israel. Ketika diterjemahkan dalam bahasa Inggris, buku ini langsung menjadi best-seller internasional.

Topik yang dibahas adalah lintasan panjang yang dilalui manusia selama 150.000 tahun eksis di planet bumi. Penulisnya, Yuval Noah Harari adalah anak muda kelahiran 1976, sejarawan yang meraih gelar PhD dari Oxford University. Kata Yusran, ia sepopuler JK Rowling di ranah fiksi anak. Yuval juga sehebat Samuel Huntington di ranah ilmu politik.

Yah apapun itu, rasanya memang selalu menyenangkan membaca satu buku yang didiskusikan secara luas di level internasional hingga menjadi bestseller dan dibahas di banyak media. Yukkk mari membaca.

Mataram, 30 September 2017

Thursday, September 28, 2017

Tulisan Dalam Majalah Harmony of Heritage

Sampul Majalah Harmony of Heritage

Seorang sahabat mengajak saya bergabung dalam satu project pembuatan majalah. Katanya, majalah itu akan diikutsertakan dalam lomba yang diadakan oleh kementrian. Ia meminta saya untuk mendeskripsikan beberapa objek wisata yang hendak dimuat. Saya pun menerima tawaran itu sebagai tantangan.

Nah, berikut beberapa objek wisata dan kuliner yang diangkat dalam majalah tersebut.

Kampung Wisata Kerujuk

Salah satu destinasi wisata yang terus menggeliat di Lombok adalah kawasan wisata berbasis desa. Selain Sade yang telah lebih dulu terkenal sebagai desa adat di Lombok tengah, kini perlahan tapi pasti, desa wisata Kerujuk mulai mendapatkan tempat di hati wisatawan.

Desa wisata Kerujuk berada di Kecamatan Pamenang, Lombok Utara. Destinasi wisata yang satu ini menyajikan pemandangan khas pedesaan yang serba asri. Lokasinya persis di sekitar area persawahan, dikelilingi bukit-bukit hijau, serta sungai yang mengalir jernih di dalamnya.

Di tempat ini, setiap pengunjung juga bisa memancing bersama keluarga di kolam-kolam yang telah disediakan warga lokal, bersantai sambil menghirup udara segar dan menikmati kopi hitam khas Lombok dengan nuansa sawah yang alami, atau menikmati olahraga sepeda bersama komunitas pecinta sepeda gunung.

Tari Gandrung Lombok

Lombok yang begitu kental dengan adat dan istiadatnya, telah memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Salah satu kesenian yang sedemikian populer di tengah masyarakat Lombok iyalah tari Gandrung. Tari ini dilakukan secara berpasangan antara penari wanita dan pria.

Tari Gandrung Lombok ini tentu tidak sama dengan Tari Gandrung di tempat lain sebab di beberapa bagian, terdapat perbedaan yang menjadi ciri khasnya baik dari segi gerakan, kostum, maupun cara penyajian pertunjukannya.

Menurut literatur sejarah, tarian ini sudah ada sejak zaman ekspedisi kerajaan Majapahit ke wilayah Indonesia bagian timur. Konon, Tari Gandrung awalnya digunakan untuk menghibur para prajurit setelah pulang dari medan perang. Tradisi tersebut kemudian terus dilakukan hingga dikenal dengan nama Tari Gandrung atau dalam masyarakat Suku Sasak disebut Tari Jengger.

Ayam Rarang

Salah satu makanan olahan ayam yang tidak boleh dilewatkan oleh pecinta kuliner adalah Ayam Rarang. Rasanya yang khas membuat menu yang satu ini sangat diminati oleh wisatawan. Ayam Rarang biasa disajikan dengan nasi putih, sayur bening, dan mentimun sebagai penetralisir rasa pedas.

Ayam Rarang pertama kali dikenalkan oleh Inaq Delah yang berasal dari Desa Rarang, Lombok Timur. Resep itu kemudian diwariskan oleh beliau secara turun temurun. Perpaduan antara daging ayam kampung dan bumbu berbahan dasar cabe rawit yang telah dimasak atau digoreng terlebih dahulu, membuat kuliner ini hadir dengan citarasa nikmat yang tak terbantahkan.

Sepat Sumbawa

Bagi anda pecinta kuliner berbahan dasar ikan, sempatkanlah waktu untuk mencicipi makanan unik yang satu ini. Namanya Sepat, masakan khas asal daerah Sumbawa dengan citarasa nusantara. Sepat merupakan makanan berkuah yang didalamnya terdiri dari berbagai macam bahan seperti blimbing wuluh, terong, cabai rawit, bawang merah, daun aru, dan kemiri.

Sepat bisa dibuat dengan jenis ikan laut atau ikan air tawar. Makanan ini sangat pas disantap saat makan siang. Nasi putih pulen berpadu dengan gurihnya ikan bakar tentu memberi kenikmatan tersendiri serta menambah pasokan energi yang terkuras. Bahannya yang serba alami, menjadikan Sepat sebagai salah satu makanan sehat yang layak dinikmati. Sepat bisa ditemukan dengan mudah saat anda berkunjung ke Lombok.

Kota Tua Ampenan

Juni 2013 lalu, Kota Tua Ampenan resmi masuk dalam Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI). Dahulu, kota yang didiami oleh beragam etnis ini pernah menjadi pusat kota di Lombok, terutama setelah dibangunnya pelabuhan Ampenan oleh Belanda tahun 1924. Hingga saat ini, Ampenan masih menyimpan banyak bangunan tua peninggalan masa lalu sehingga sangat layak dijadikan sebagai salah satu tujuan wisata sejarah.

Sejenak memasuki dan menginjakkan kaki di kawasan Kota Tua Ampenan, serasa diajak kembali bernostalgia ke masa silam. Di sepanjang jalan, nampak berjejer gedung-gedung tua sebagai saksi sejarah dan eksistensi peradaban. Baru-baru ini, pemerintah juga telah menjadikan Kota Tua Ampenan sebagai sentra kegiatan Festival yang rencananya akan selalu digelar setiap tahun.

Ayam Taliwang

Siapa yang tidak kenal Ayam Taliwang? Popularitasnya yang sedemikian tinggi membuat kuliner yang satu ini semakin mudah ditemukan di banyak daerah di Indonesia. Meski demikian, tak ada yang bisa menandingi nikmatnya mencicipi kuliner ini di kampung halamannya.

Ayam Taliwang dikenal memiliki citarasa tinggi nan menggoyang lidah. Biasanya, kuliner ini disajikan dengan plecing kangkung dan terong. Kenyalnya daging ayam dipadu sensasi pedas yang khas membuat perut tak pernah kenyang.

Kuliner Ayam Taliwang ini awalnya dipopulerkan oleh warga Karang Taliwang di Cakranegara, Mataram. Mereka membuat sesuatu yang kemudian menjadi ciri khas, lalu tersebar ke mana-mana. Kuliner ini menjadi jembatan bagi masyarakat lokal untuk menyapa banyak orang di berbagai tempat. Di Lombok, Ayam Taliwang sangat mudah ditemukan sebab banyak warung yang menjadikan makanan yang satu ini sebagai menu andalan.

Palopo KSB

Jika Anda penikmat makanan bubur, jangan pernah lewatkan kesempatan untuk mencoba bubur palopo, penganan khas masyarakat Taliwang, Sumbawa Barat. Dalam bahasa asli Sumbawa, bubur palopo berarti bubur kerbau. Dinamakan demikian karena bubur ini terbuat dari susu segar kerbau.

Bubur palopo dibuat berdasarkan resep yang didapat secara turun-temurun. Dengan proses sederhana, susu segar yang baru diperah dari kerbau dicampur dengan gula merah dan air rebusan terong kuning. Setelah dibiarkan mengental, adonan dimasukkan ke dalam mangkok untuk dikukus setengah jam lamanya. Setelah itu didinginkan dan siap disantap. Bagi masyarakat Sumbawa Barat, bubur palopo ini dipercaya bisa memulihkan stamina setelah seharian berpuasa, sekaligus meningkatkan vitalitas.

Bebalung

Meski sering dianggap serupa dengan makanan gulai atau soto daging, bebalung jelas memiliki citarasa yang berbeda. Kuliner yang satu ini dibuat dari tulang iga sapi atau kerbau yang dicampur dengan racikan bumbu cabe rawit, bawang putih, bawang merah, lengkuas, dan kunyit ditambah jahe agar rasa pedas cabenya memiliki ciri khas tersendiri.

Selain itu, juga ditambahkan sedikit garam dan asam agar masakan lebih awet. Racikan bumbu semacam ini oleh masyaralat Sasak disebut sebagai ragi rajang.

Bebalung biasa disajikan dengan mangkok dan ditaburi bawang merah goreng berikut dengan nasi putih. Bagi penyuka pedas, bisa ditambahkan sambal. Bebalung semakin nikmat jika disantap bersamaan dengan Plencing. Itulah mengapa sering disebut dengan Bebalung Plencing. Sajian yang menarik ini membuat hasrat makan semakin memuncak.

Kopi Tepal

Trend minum kopi yang tengah mewabah di kota-kota besar di seluruh penjuru tanah air ternyata membawa dampak positif terhadap kehidupan petani-petani kopi nusantara.

Salah satunya bagi masyarakat Desa Tepal, Kabupaten Sumbawa. Alam telah menjadi berkah tersendiri bagi mereka. Sebanyak 450 warga yang hidup di ketinggian 847 meter di atas permukaan laut di lereng Gunung Batu Lanteh tersebut sebagian besar menggantungkan hidup dari bertani kopi.

Di Tepal, hamparan luas kebun kopi terlihat sepandangan mata. Kopi robusta dan arabika tumbuh disana, bahkan kopi luwak yang menjadi legenda dunia itu juga tersedia. Tradisi masyarakat Tepal yang berakar pada harmoni hidup dengan alam pun masih terjaga hingga kini.

Bahkan dalam penyajian kopi, mereka memiliki cara tersendiri. Saat dimasak, biji kopi tidak dibiarkan bersinggungan langsung dengan wadah. Selain itu, masyarakat lokal biasanya mencampurkan kopi dengan bonggol jagung atau beras sangrai. Tujuannya untuk menambah rasa gurih maupun aroma pada kopi sekaligus mencegah penikmat kopi terkena penyakit maag.

***

Demikianlah beberapa deskripsi kuliner dan objek wisata yang saya tulis dalam majalah itu. Apapun hasilnya, berproses tentulah lebih penting daripada hasil itu sendiri.

Mataram 28 September 2017