Langsung ke konten utama

Postingan

Legitimasi Blogger, Lumpuhkan Otoritas Media Mainstream

Disaat dunia teknologi telah berkembang sedemikian pesat dan akses informasi begitu mudah dilakukan, disaat itu pula kita harus mengamini bahwa apa yang pernah diramalkan oleh Alvin Toffler, seorang peramal masa depan bukan sekedar mitos belaka. Toffler pernah membagi gelombang peradaban manusia atas tiga fase, pertama yaitu zaman peradaban pertanian, selanjutnya zaman peradaban industri, dan terakhir zaman peradaban informasi. Toffler telah menduga bahwa kelak, manusia akan mencapai satu peradaban informasi yang unggul dan serba praktis. Zaman ini ditandai dengan banyaknya produk-pruduk digital yang memudahkan manusia dalam berinteraksi dengan dunia sekitar. Inilah zaman dimana dunia teknologi informasi telah menjelma sebagai satu atmosfer demokratis yang merubah semua tatanan. Dunia informasi telah mengubah peta sosial, peta bisnis, dan juga peta intelektualitas dunia. Melalui jendela kecil di layar ponsel dan laptop, orang-orang dengan mudah melempar ide ke ruang maya. Ide i...

My Blue Bird, Wajah Baru Dunia Transportasi Lombok

Seorang sahabat blogger mengundang saya untuk menghadiri launching aplikasi My Blue Bird oleh salah satu perusahaan berbasis transportasi di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Pertemuan tersebut sangat mengesankan sebab di sana saya banyak bertemu dengan teman-teman baru yang aktif menggeluti dunia teknologi. Saya selalu antusias ketika membincang perkembangan teknologi. Di abad modern seperti sekarang, peran teknologi serupa atmosfer demokratis yang mengubah semua tatanan. Kemajuan teknologi telah mengubah peta sosial, peta bisnis hingga peta intelektualitas dunia. Melalui jendela kecil di layar ponsel dan laptop, orang-orang dengan mudah mengakses berbagai informasi tentang perkembangan zaman. *** Bertempat di hotel Aston INN Mataram, pertemuan yang diinisiasi lansung oleh PT. Blue Bird Tbk itu dihadiri oleh beberapa pejabat dan petinggi Mataram. Perusahaan terbuka didunia transportasi ini meluncurkan aplikasi baru dengan tujuan memudahkan para pelanggannya. Saya terkesan kar...

Kartini, Feodalisme, dan Literasi

Panggil Aku Kartini Saja Di zaman sebelum kemerdekaan, literasi adalah alat yang menggerakkan alur sejarah. Di zaman ini, tulisan telah menjelma menjadi bara api perlawanan terhadap rezim kapital. Di zaman ini pula, Kartini menggugat ketidakberpihakan zaman terhadap perempuan pribumi. Ia menghendaki sebuah persamaan antar manusia, meski sejarah mencatat bahwa dirinya sendiri termasuk keturunan bangsawan terkemuka di Indonesia. Dia adalah perempuan yang penanya jauh melampaui batasan-batasan waktu. Tubuhnya memang dikrangkeng dalam tembok tebal rumahnya sendiri, segala aktivitasnya dibatasi oleh feodalisme Jawa yang mengekang wanita pribumi. Namun melalui tulisan-tulisan nya yang diterbitkan dalam jurnal berbahasa Belanda, Kartini justru membuat orang-orang Belanda mengubah semua pandangan dan stereotype atas perempuan pribumi. Ia tidak memiliki massa, apalagi uang. Uang tidak akrab dengan perempuan hamba seperti Kartini. Meski demikian, nun jauh terkubur didalam hatinya, Kart...

Lima Reward Buku yang Saya Dapatkan di Tahun 2016

Saya mencatat tahun 2016 sebagai tahun yang penuh dengan pembelajaran. Meski tahun ini saya gagal menuntaskan target pendidikan saya di perguruan tinggi, bukan berarti saya harus berhenti belajar dan mengupdate informasi tentang perkembangan. Tahun ini saya menghabiskan lebih banyak waktu untuk memperdalam ilmu kepenulisan. Saya mengikuti berbagai pelatihan menulis, jumpa blogger, pelatihan jurnalistik hingga mengikuti berbagai event menulis. Ada beberapa keuntungan yang saya harapkan dalam menulis. Peratama, intelectual benefit (keuntungan intelektual). Menulis dapat memicu kita untuk lebih banyak mengkonsumsi buku. Sehingga semakin sering kita menulis maka semakin banyak pula hal baru yang akan kita dapatkan. Di sadari atau tidak, menulis dapat membimbing kita dalam memahami berbagai persoalan. Kedua, emotional benefit (keuntungan emosional). Ini mencakup aspek-aspek emosi, penalaran, dan kepekaan perasaan terhadap dunia sekitar. Ketiga, spritual benefit (keuntungan spritual...

Sensasi Sepat Resto Apung Bungin

Resto Apung Bungin Sumbawa tak selalu identik dengan Festival Moyo. Festival yang namanya diangkat dari salah satu pulau indah di Sumbawa itu seakan telah menggambarkan Sumbawa secara keseluruhan. Sumbawa juga tak melulu berbicara tentang Kenawa. Sebuah pulau kecil yang keindahannya telah semerbak ke segala penjuru ini memang telah ramai dikunjungi dalam beberapa waktu terakhir. Nun jauh di sebelah barat Sumbawa, ada tempat unik yang patut dijajaki. Namanya Respo Apung Bungin. Sebuah resto yang sengaja dibangun di atas laut itu berlokasi di Pulau Bungin, Kecamatan Alas, Sumbawa. Tempat ini serupa maghnet baru yang memikat setiap pasang kaki untuk berdatangan. Di setiap akhir pekan, tempat ini selalu ramai dikunjungi orang-orang. Penasaran, sayapun datang berkunjung. Resto ini menyajikan aneka kuliner laut yang menggugah lidah. Kita bisa memesannya sesuai selera. Tempat ini hanya berjarak sepelemparan batu dari darmaga Bungin. Orang-orang harus menaiki perahu untuk sampai kesa...

Sekelumit Kekaguman Untuk Mereka yang Tak Pandai Berteori

Bakti Sosial Bagi masyarakat bantaran sungai, banjir adalah sesuatu yang biasa dialami. Layaknya di tempat lain di Indonesia, di Sumbawa, fenomena banjir kerap terjadi ketika musim penghujan. Baru-baru ini, banjir juga telah menggenang sejumlah desa di kecamatan Alas. Oleh warga setempat, banjir itu dikatakan sebagai banjir terbesar yang pernah terjadi di sana. Melalui layar kecil ponsel, saya mengamati berita tersebut dengan iba. Saya melihat gambar seorang wanita paruh baya tengah digendong oleh warga lain. Wanita tersebut jatuh pingsan karena terkejut melihat genangan air yang tiba-tiba memasuki rumah penduduk. Dalam suasana hati yang tergugah, sejenak saya menundukan kepala lalu memohon kepada sang pemberi ujian agar menitipkan angin ketabahan bagi segenap saudara di Alas. Berbeda dengan kampung halaman saya, Alas berada jauh di sebelah barat Kabupaten Sumbawa. Wilayah yang juga banyak menyimpan objek wisata ini hanya berjarak sepelemparan batu dari pelabuhan Poto Tano. D...

Duka Aceh Duka Kita Semua

Aceh kembali diguncang gempa. Di Pidie Jaya, saya mendengar kisah tentang Isak tangis para keluarga korban gempa yang tak terbendung. Sejumlah bangunan porak poranda akibat goncangan berkekuatan 6,5 Skala Ritcher itu. Dari ruko, rumah sakit hingga masjid. Semuanya luluh lantah. Tak lama kemudian, berita ini mulai tersebar secara viral di berbagai media sosial. Kabar duka yang datang dari Aceh, sontak mengalahkan berita tentang seorang pemimpin yang sebentar lagi akan menjalani persidangan. Publik menjadi iba. Doa bersamapun digelar demi mendoakan para saudara sebangsa di Pidie Jaya Aceh. Sejumlah tokoh nasional berbondong-bondong menuju tempat kejadian. Mulai dari presiden, hingga petinggi parpol. Mereka juga merasakan duka yang mendalam atas kejadian ini. Duka yang dirasakan oleh seorang anak yang kehilangan ayahnya. Duka yang dirasakan oleh seorang ibu yang kehilangan anaknya. Duka Aceh adalah duka kita semua. *** Malam itu seorang sahabat mengajak saya berbincang ringa...