Saturday, September 2, 2017

Aung San Suu Kyi di Mata Tuan Guru Bajang

Ilustrasi (sumber foto: hariannusa.com)

Konflik berdarah di Myanmar seakan tak pernah berakhir. Ibarat api dalam sekam, setelah sempat senyap dalam beberapa waktu, kini publik internasional kembali diguncang oleh realitas getir yang menimpa muslim Rohingya di Rhakine. Bara permusuhan di salah satu wilayah termiskin di Myanmar itu kembali berkobar. Hanya dalam hitungan hari, ratusan orang tewas, dan ribuan lainnya mengungsi ke tempat aman.

Dibalik tragedi memilukan yang melanda militer Myanmar itu, nama Aung San Suu Kyi adalah yang paling banyak menjadi sorotan. Suu Kyi disebut-sebut tak lagi bertaring. Ia seakan tak bereaksi atas krisis kemanusiaan yang menimpa negerinya.

Tercatat sebanyak 13 peraih Nobel dan 10 tokoh dari berbagai profesi mengirim surat terbuka kepada Dewan Keamanan PBB untuk mengkritik Suu Kyi dalam menyelesaikan masalah etnis minoritas Rohingya serta mengingatkan tentang tragedi pembasmian etnis dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Demikian pula di Indonesia. Negera dengan penduduk muslim terbanyak di dunia ini tak mau ketinggalan. Sejumlah tokoh publik juga melayangkan kritik pedas terhadap pemimpin de facto Myanmar tersebut. Kekecewaan terhadap Suu Kyi pun secara masif dilontarkan lewat media.

***

Lelaki muda itu melaksanakan sholat ied Idul Adha dengan takzim. Ia duduk di deretan depan bersama puluhan tokoh agama lain. Ia juga mengikuti khotbah hingga usai. Beberapa saat kemudian, ia lalu dikerumuni banyak orang. Mereka hendak bersalaman dengan orang nomor satu di NTB. Ia adalah Muhammad Zainul Majdi yang kerap disapa Tuan Guru Bajang.

Kemarin, ia turut melaksanakan sholat eid di Masjid Hubbul Wathan, Islamic Center Mataram. Sesaat setelah merayakan momentum tahunan itu, TGB berbicara tentang tragedi kemanusiaan yang menimpa muslim Rohingya di Myanmar.

Ia mengecam tindakan pemerintah Myanmar atas pembantaian tersebut. Ia bahkan meminta nobel perdamaian yang pernah di terima Aung San Suu Kyi segera dicabut. Menurutnya, wanita yang pernah menjadi tahanan rumah itu tak pantas menerima nobel atas sikap diamnya terhadap pembantaian.

Gebernur dua periode itu nampaknya terlihat geram. Ia menyayangkan sikap komunitas internasional yang seolah menutup mata. Tak ada pernyataan tegas, apalagi sanksi bagi pemerintah Myanmar. “Kita semua di NTB meminta pada pemerintah pusat untuk bersikap lebih tegas lagi terhadap tragedi kemanusiaan. Tidak bisa dibiarkan pembantaian seperti itu.” Pangkasnya dalam satu media lokal.

Sepintas, TGB memang kerap bereaksi atas berbagai isu yang memiliki dimensi keagamaan. Beberapa waktu lalu, ia juga menjadi satu-satunya Gubernur yang terlibat dalam aksi bela islam di Jakarta. Saat itu, ribuan umat islam memadati ibu kota demi mendesak pemerintah agar segera menangkap salah seorang pejabat publik yang diduga menistakan agama.

Saya tak terlalu terkejut dengan pernyataan TGB yang serupa peluru. Ia adalah Gubernur dengan latar belakang keagamaan yang kuat. Ia adalah cucu dari seorang tokoh pendiri ormas islam terbesar di NTB yang sekarang dipimpinnya. Di usia yang relatif muda, ia telah meraih gelar doktor dari Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir lalu tercatat sebagai satu dari sekian banyak kepala daerah penghapal Al-quran. Bukan hanya seorang Gubernur, ia adalah ulama yang setiap kata-katanya dijadikan petuah oleh banyak orang.

Di hadapan masyarakat NTB, ia mengeluarkan satu seruan keras dan mengecam pembantaian terhadap muslim Rohingya. Krisis kemanusiaan yang terjadi di Myanmar telah memicu respon banyak pihak termasuk dirinya. Konflik itu lebih mirip genosida yang dilakukan Hitler puluhan tahun lalu ketimbang konfrontasi antar etnis.

Wajar saja jika publik bertanya-tanya. Tragedi kekejaman itu tidak terjadi di bawah pengawasan seorang diktator gila. Tapi di bawah pengawasan Aung San Suu Kyi, wanita yang menerima Hadiah Nobel Perdamaian atas perjuangannya memajukan demokrasi dan HAM di tengah penindasan junta militer.

Sebagai aktivis, ia serupa Malala Yousafzai yang pidatonya pernah menggetarkan rezim penebar teror. Ia sederet dengan Nelson Mandela yang meruntuhkan sistem apartheid, lalu menjadi presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan.

Suu Kyi bahkan pernah meraih pengharagaan dari Universitas Nasional Australia pada tahun 2013. Rektor universitas itu menyebutnya sebagai contoh keberanian dan tekad yang tenang dalam menghadapi penindasan serta seorang jagoan damai yang membuat dunia lebih baik dan lebih adil.

Saya tak hendak membahas konflik di Myanmar lebih jauh. Saya bukanlah seorang pengamat politik internasional yang berhadapan dengan detail-detail kajian dibalik serentetan peristiwa. Saya hanya mencoba mengulas kembali apa yang dalam beberapa hari ini begitu masif diberitakan media.

Di mata saya, apapun yang melatarbelakangi tragedi kekerasan di Myanmar jelas tak bisa dibenarkan. Setidaknya, PBB harus mengambil sikap tegas dengan cara menekan pemerintah Myanmar secara politik atau mengeluarkan satu regulasi yang memunggungi nasib muslim Rohingya. Jika tidak, entah berapa lagi korban yang akan berjatuhan.

Mataram, 02 September 2017

Sebenarnya saya tidak bisa dibilang profesional dalam bidang kepenulisan, sebab saya tidak menguasainya melalui pendidikan formal. Saya hanyalah seorang antusias, pemuda desa yang kebetulan gemar menulis.

15 komentar

TGB the best!

Saya dukung siapapun yang menuntut ditarik kembalo nobel perdamaian utk Suu Kyi.

Semoga konflik segera berakhir..

Saya mendukung pencabutan nobel perdamaian itu. Ini sudah bukan masalah pelanggaran HAM lg, tp sudah melecehkan agama tertentu. Keren tulisannya, saya suka :)

Saya sendiri ikut prihatin apa yang terjadi di myamar, itu tokoh nobel sepertinya tidak bisa berbuat banyak setelah memegang kekuasaan. beda sekali saat belum menjadi apa-apa, garang sekali.
Sedih rasanya.

Turut prihatin buat saudara-saudara kita kaum muslim di Myanmar, semoga konflik segera berakhir. Mengerikan liat video-video penganiayaan terhadap mereka di medsos, sungguh tak berprikemanusiaan.

mudahan konflik di di Myanmar segera selesai dan muslim disana bisa dengan amannya hidup

memang gak pantas mendapat nobel... karna masih banyak yang berhak dan layak mendapat nobel tersebut.

Konflik di Myanmar benar-benar membuat hati miris
semoga konflik ini cepat berakhir kasihan mereka yang jadi koban sedangkan kehidupan harus terus berjalan

jika demikian mirisnya kita menyaksikan berita soal kaum muslim di myanmar sangat tertindas dan neng aung diem aja, sepatutnya jika demikian neng aun san teh tak boyong ke Indonesia untuk dijadikan istri muda yang tua...nih kayanya mah ya?

sama....saya juga suka


sedikit, tapinya

wah adminnya masih tidur dari kemaren....pulang lagi ah

Semoga kedamaian di hati mereka yang sedang mengalami kegelapan hati bisa segera mendapatkan cahaya Ilahi Rabbi.

Maaf kang saya baru buka blog lagi. Kemaren ada kerjaan kang hehe

Terimakasih atas respon para sahabat. Mari sama-sama berdoa untuk saudara kita di Myanmar.

Tulisan yang keren. Saya setuju kalau orang yang diam saja melihat pembantaian tidak pantas meraih nobel perdamaian

Sebagai bahan evaluasi, saya selalu menerima kritikan dan saran dari para sahabat. Gunakanlah emoticon untuk mempertegas ekspresi anda.

Beri saya motivasi
EmoticonEmoticon