Langsung ke konten utama

Kisah Pak Surip, Penguasa Gedung DPR Selama 40 Tahun

Lapak buku Pak Surip

Di sudut ruangan itu, di ujung lorong panjang yang selalu dilalui banyak orang, terdapat satu tempat yang selalu memantik rasa penasaran setiap kali melintas. Letaknya persis di bawah tangga salah satu ruangan di gedung DPR.

Tempat itu adalah sebuah lapak buku sederhana milik seorang berumur 50 an tahun. Namanya Sutrisno. Orang-orang di tempat ini memanggilnya "Surip Koran" sebab pekerjaannya sehari-hari adalah menjajakan koran, buku, dan majalah.

Hari-hari di DPR, saya hanya melintas. Saya hanya sesekali melihat aktivitasnya yang mengatur-atur buku. Saya tak tertarik membeli buku sebab di gedung DPR sudah ada perpustakaan umum yang bukunya bisa diakses secara gratis.

Tak hanya besar, gedung DPR di Senayan ini memang punya fasilitas lengkap. Bahkan untuk sekedar mengambil uang di ATM saja, kita tak perlu jauh-jauh ke luar. Kita cukup berjalan menuju lantai dasar gedung Nusantara II sudah ada. Fasilitas lain seperti klinik, museum, mini mart, hingga koperasi juga tersedia.

Maklumlah, sebagai satu lembaga tinggi yang memproduksi kebijakan, anggarannya memang tergolong cukup besar. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020, anggaran untuk DPR RI tercatat sebanyak 5,11 triliun. Angka tersebut naik 833 miliar dibandingkan alokasi dalam RAPBN 2020 yang sebesar 4,28 triliun.

Hah..???

Kembali pada pak Surip. Entah kenapa, tadi pagi saya mampir di lapak buku miliknya. Saya melihat-lihat buku. Sepintas, memang tak ada buku-buku baru. Tapi koleksinya cukup banyak. Saya melihat banyak buku bertemakan filsafat, sosiologi, hingga ilmu politik dan sastra.

Saya kemudian berbincang dengan lelaki itu. Ia bercerita banyak hal. Ia berkisah kesehariannya sebagai penjual buku di DPR. Lama berbincang, sorot matanya nampak mengenang satu lapis sejarah yang pernah terjadi di tempat ini.

Setiap hari, dia menempuh jarak lebih dari 20 kilometer dari rumahnya di Sawangan, Depok, menuju Senayan. Dia membelah jalanan ibukota yang padat dengan sepeda motor. Ruang kerjanya di DPR sangat terbuka. Tak sulit menemukan lapak Pak Surip yang memang selalu buka sekitar pukul 9 pagi.

Lapak yang kini dikelolanya sudah ada sejak tahun 1972. Di masa itu, DPR dipimpin oleh politisi Idham Chalid. Dulu, ayahnya yang memulai berjualan di dalam gedung. Ia rajin mengikuti sang ayah ketika berumur 10 tahun. Surip lalu menjadi saksi atas banyak peristiwa penting yang terjadi di tempat ini.

Yang paling lekat dalam ingatannya adalah tragedi 98.  Hari itu, 18 Mei 1998. Seperti biasa, Surip segera bergegas membuka lapaknya. Demo mahasiswa besar-besaran sedang berlangsung di luar DPR. Di dalam gedung, suasana sudah mulai tak kondusif. Hari itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah, gedung DPR berhasil dikuasai mahasiswa.

Rezim Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun akhirnya tumbang. Semua bersorak mendengar pidato pengunduran diri sang presiden. Semua orang bergembira, sebab republik tak lagi diselimuti awan gelap otoritarianisme. Reformasi dipilih sebagai gantinya. Indonesia kala itu adalah Indonesia yang serupa burung kecil yang siap terbang tinggi.

"Kebetulan saat demo itu saya lagi jaga. Waktu itu banyak sekali mahasiswa masuk ke dalam menduduki gedung DPR. Pokoknya kacau pak, sampai-sampai saya nginep di sini 3 hari." Demikian kenang lelaki itu sambil tersenyum.

Saya sangat menikmati cerita Pak Surip. Saya menemukan fakta reformasi dari sisi lain. Saya membayangkan suasana gedung DPR yang berubah tegang. Saya membayangkan enam ribu mahasiswa Front Nasional dari berbagai Universitas di tanah air yang datang memadati gedung, lalu bersiap melucuti isi ruangan.

Memang, peristiwa pendudukan gedung DPR 98 tak seperti yang dibayangkan banyak orang. Tak ada bentrok apalagi suara tembakan. Sejumlah mahasiswa heran menyaksikan sikap aparat yang tiba-tiba melunak.

Dalam satu wawancara yang digelar bersama Faizal Hoesein selaku Koordinator Keluarga Mahasiswa Universitas Nasional saat itu menyatakan bahwa aksi pendudukan gedung DPR oleh mahasiswa berjalan mulus. "Situasi begitu absurd, kami yang sudah siap bertempur malah dibiarkan masuk begitu saja." Terangnya.

Begitu rombongan bus dan kendaraan yang memuat rombongan Front Nasional sampai di kawasan Taman Ria, situasi ternyata tak seperti yang dikhawatirkan. Para panser milik Korps Kavaleri AD dan sekitar dua kompi prajurit Korps Marinir AL yang tengah berjaga, membiarkan rombongan itu masuk begitu saja.

Para prajurit berbaret hijau justru mengarahkan para korlap untuk mengatur barisannya secara tertib. Mereka lantas menyilakan para mahasiswa untuk masuk secara berbanjar. Sementara di kanan kiri para prajurit bersenjata lengkap tetap mengawal.

Kini, setelah 21 tahun reformasi, tak ada yang benar-benar berubah. Sejumlah problem mendasar bangsa ini masih tetap sama yakni soal keadilan dan kesejahteraan. Korupsi sebagai satu isu besar yang pernah menghantam orde baru, secara perlahan juga diidap oleh generasi reformasi. Malah, makin marak.

Seperti halnya Pak Surip, selama 40 tahun menjadi penghuni tetap gedung wakil rakyat, posisinya tak pernah tergantikan hingga saat ini. Ia masih Surip yang menjual koran, buku dan majalah kepada para penghuni gedung yang wajahnya berubah-ubah tiap lima tahun sekali.

Secara de facto, ia tercatat sebagai penghuni terlama di gedung ini. Ia adalah penguasa gedung DPR. Selama empat dekade berjualan di gedung parlemen, ia mengenang banyak hal. Ia mengenang banyak wakil rakyat yang sehari-hari menjadi langganannya.

Ia bercerita tentang mantan Wakil Ketua DPR, Utut Adianto Wahyuwidayat sebagai salah satu yang terbaik di matanya. Surip berkisah tentang Utut yang selalu ramah dan sering mengajaknya berbincang saat mengantarkan koran. "Bahkan, kadang Pak Utut tak sekedar membayar, tapi juga memberi saya tip lebih." Ungkapnya.

Saat hendak pergi, kembali pak Surip menawari saya buku. Ia mempromosikan bukunya. Ia berjanji akan memberikan saya harga khusus. Buku itu karangan Pramoedya Ananta Toer, salah seorang penulis besar yang pernah dimiliki bangsa ini.

Ah sayang, saya sudah membacanya.

Jakarta, 15 Oktober 2029

Postingan populer dari blog ini

Membaca Ulang Animal Farm

Buku animal farm Di suatu malam yang gelap, si babi yang katanya bijaksana mengumpulkan para binatang lain di peternakan Manor. Si babi bercerita tentang mimpinya. Setelah sekian lama hidup di bawah tirani manusia, si babi mengungkap bahwa kelak sebuah pemberontakan harus dilakukan. Kaum binatang harus berkuasa atas dirinya sendiri. Tak lama, mimpi itu benar-benar terjadi. Di peternakan, para binatang memberontak. Dominasi manusia dihilangkan. Si babi lalu mengambil kendali kuasa atas binatang lain. Atas nama kerja keras untuk mengelola masa depan peternakan, babi diberi hak istimewa. Mereka dapat jatah makan lebih banyak. Tempat tidur lebih bagus. Sementara binatang lain tetap bekerja seperti biasa.  Untuk mengamankan posisinya, kaum babi merekrut dan memelihara anjing-anjing. Mereka dilatih untuk patuh. Tugasnya adalah mengontrol peternakan. Saat ada penghuni peternakan yang protes kepada si babi, anjing-anjing dengan cepat akan bergerak.  Saat kincir angin hendak dibangun, ...

Pencitraan

Aksi penolakan kenaikan harga BBM Ada yang bilang PKS hanya pencitraan menolak kenaikan BBM untuk mendapatkan simpati rakyat. Ada juga yang bilang penolakan kenaikan BBM tidak ada gunanya, karena toh harga BBM tetap naik, yang artinya PKS tidak digubris pemerintah.  Jadi begini ya brodi, pencitraan di era disrupsi seperti sekarang ini adalah keniscayaan. Bahkan setiap hari, tanpa sadar kita sedang membangun citra di medsos. Kita mengenalkan diri melalui aktivitas kita sehari-hari, kita menampilkan sisi paling manusiawi. Kita sedang membranding diri. Kita berusaha mengarahkan dan membentuk persepsi orang lain terhadap diri kita. Dan itu sah-sah saja kok.  Yang tidak boleh itu adalah membangun citra palsu. Memanipulasi diri seolah-olah kita ini paling idealis padahal pragmatis, mencitrakan diri seolah-olah kita ini bersih, padahal kotor, mencitrakan diri kita ini mapan, padahal utang numpuk dimana-mana.  Ini namanya bukan sedang membangun citra, tapi sedang melakukan keboho...

Kesadaran Memiliki Anak

Gambar: google Lagi ramai soal " childfree " atau sebuah kondisi di mana seseorang atau pasangan memilih untuk tidak memiliki anak. Biasanya, penganut childfree ini beranggapan bahwa memiliki anak itu adalah sumber kerumitan. Benarkah?  Saya belum bisa menyimpulkan sebab sampai tulisan ini di buat, saya sendiri belum memiliki anak. Tapi, menarik untuk membahas tema ini. Saya senang dengan kampanye soal ribetnya memiliki anak, sekali lagi saya ulangi, jika kampanye itu bertujuan untuk membangun kesadaran bahwa tidak gampang memiliki, mengurusi, mendidik, dan membesarkan anak.  Maksudnya, jika kita ingin memiliki anak, sadari dulu konsekuensi bahwa memiliki anak itu tidak gampang. Para orang tua minimal dituntut untuk membesarkan anak ini secara layak. Tak perlu jauh-jauh, tengok saja di sekitar kita, tak jarang orang tua mengeksploitasi anak untuk kepentingan yang tidak wajar.  Contoh kasus: saya sering melihat ibu-ibu mengemis di lampu merah sambil menggendong anak. Di ko...