Langsung ke konten utama

Saat Orang Jepang Membincang Islam

Buku islam di mata orang jepang

Tak banyak orang yang mau melakukan pencarian demi sebaris tanya yang mengganjal di hati. Tak banyak yang mau berpayah-payah menelusuri, melakukan observasi, hingga menemukan jawaban atas apa yang sebenarnya tengah terjadi.

Kebanyakan kita lebih senang menanti jawaban itu, mengutip, dan ikut menyebarluaskannya. Kebanyakan kita lebih senang menikmati hasil, ketimbang berusaha mencari sendiri. Padahal, yang terpenting dari sebuah jawaban adalah proses menemukannya.

Demikianlah kesan awal saat sepintas membaca buku berjudul Islam di Mata Orang Jepang, karangan Hisanori Kato. Buku ini memuat satu perjalanan peneliti Jepang yang hendak memahami wajah islam di Indonesia. Ia adalah tipe peneliti yang menyukai kajian islam. Ia mengaku telah beberapa kali menulis prihal islam Indonesia dalam bahasa inggris.

Buku ini diterbitkan dalam 176 halaman. Isinya memuat berbagai pertemuan dan wawancara Kato dengan beberapa tokoh Indonesia seperti Bismar Siregar, Muhammad Sobary, Eka Jaya, Gus Dur, Fadli Dzon, Ulil Abshar Abdallah dan lain-lain.

Kato menjadikan beberapa tokoh sebagai pintu masuk untuk memahami bagaimana islam Indonesia ditafsirkan secara berbeda. Ia meniti islam diantara lautan pemikiran. Ia merajut serpihan pandangan dari pertautan dengan banyak tokoh, lalu menemukan sendiri seperti apa islam yang sebenarnya.

Di satu bagian, Kato menulis tentang bagaimana awal mula ketertarikannya terhadap islam. Ia mengisahkan pengalaman saat menyaksikan rombongan anak kecil memakai baju putih berjalan beriringan sambil membawa obor sesaat sebelum lebaran tahun 1991 di Jakarta.

Kata Kato, islam adalah sesuatu yang asing bagi orang Jepang. Ramadhan dan Idul Fitri tek pernah menjadi pemberitaan di negeri matahari terbit. Berbeda halnya dengan Kristen dan Natal yang telah dikenal dan mengakar kuat sebagai perayaan tahunan, bahkan mendapat dukungan secara komersil.

Buku ini memang tak seberapa tebal, tetapi selalu saja ada inspirasi yang bisa diserap. Saya menyukai pandangan Muhammad Sobary yang ditemui Kato pada tahun 2003. Katanya, manusia itu sekali saja dia memegang kekuasaan, maka dia akan mulai menganiaya orang lain. Jadi, yang disebut demokrasi sulit untuk diwujudkan.

Rasanya sulit sekali menyangkal apa yang dikatakan Sobary 15 tahun lalu. Reformasi memang belum mengarah pada kesejahteraan hidup bersama sebagaimana yang pernah di cita-citakan dulu. Barangkali yang harus dilakukan adalah segera merefleksi ulang segala ingatan di masa lalu. Benarkah situasi telah berubah? Benarkah ini yang kita kehendaki dulu?

Pie kabare le, masih enak jaman ku toh?

Mataram, 09 Januari 2018

Postingan populer dari blog ini

Membaca Ulang Animal Farm

Buku animal farm Di suatu malam yang gelap, si babi yang katanya bijaksana mengumpulkan para binatang lain di peternakan Manor. Si babi bercerita tentang mimpinya. Setelah sekian lama hidup di bawah tirani manusia, si babi mengungkap bahwa kelak sebuah pemberontakan harus dilakukan. Kaum binatang harus berkuasa atas dirinya sendiri. Tak lama, mimpi itu benar-benar terjadi. Di peternakan, para binatang memberontak. Dominasi manusia dihilangkan. Si babi lalu mengambil kendali kuasa atas binatang lain. Atas nama kerja keras untuk mengelola masa depan peternakan, babi diberi hak istimewa. Mereka dapat jatah makan lebih banyak. Tempat tidur lebih bagus. Sementara binatang lain tetap bekerja seperti biasa.  Untuk mengamankan posisinya, kaum babi merekrut dan memelihara anjing-anjing. Mereka dilatih untuk patuh. Tugasnya adalah mengontrol peternakan. Saat ada penghuni peternakan yang protes kepada si babi, anjing-anjing dengan cepat akan bergerak.  Saat kincir angin hendak dibangun, ...

Selapis Hikmah di Balik Konflik Etnis di Sumbawa

Konflik Sumbawa 2013 Setiap daerah tak hanya menyimpan kisah tentang kemajuan dan kemunduran, tapi juga menjadi rahim dari begitu banyak kisah yang dibuat oleh manusia-manusia yang berjejalan di dalamnya. Melalui kisah itu, kita bisa bercermin dan menemukan banyak pesan dan hikmah yang selalu bisa diserap untuk kehidupan mendatang. Sumbawa adalah titik balik dalam kehidupan saya. Beberapa tahun silam, saya selalu menjalani hidup dengan memakai sudut pandang sebagai korban. Suku Samawa yang mendiami Kabupaten Sumbawa adalah etnis yang begitu toleran. Mereka berbaur dengan banyak etnis lain secara terbuka dan penuh toleransi. Mbojo, Sasak, Bugis hingga Jawa. Tapi belakangan, tiba-tiba suku Bali datang mengganggu. Suku Samawa selalu dizalimi. Jadi wajar saja jika kami melawan balik untuk mempertahankan diri. Wajar saja kalau kami membalas. Saya selalu yakin bahwa setiap saat suku Samawa diusik dan diganggu, maka ketika ada kesempatan mereka harus mengusik balik, membalas. Say...

Masin Si Pedas Dari Timur Sumbawa

Indonesia di kenal sebagai negara dengan ragam kuliner yang melimpah. Hampir di setiap sudut negeri ini ada saja peganan masyarakat yang memikat lidah. Ada dodol di Garut, Rendang di Padang hingga Ayam Bakar Taliwang yang bisa anda jumpai di Lombok. Namun di balik tumpah ruah kuliner yang beraneka ragam, ada cerita tentang perjuangan masyarakat lokal dalam mematenkan kuliner dari daerahnya masing-masing. Hingga kuliner tersebut mampu menjadi branding daerah serta menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Jika di tempat lain pelbagai kuliner terlihat berupa jejajan ataupun makanan khas daerah, di Sumbawa terdapat jenis kuliner yang tidak biasa. Namanya Masin, bentuknya serupa sambal dan terbuat dari udang-udang kecil. Masin adalah menu yang wajib hadir di setiap hidangan masyarakat lokal Sumbawa. Masin yang bentuknya serupa sambal ini memiliki citarasa pedas yang menantang lidah. Masin ini pertama kali di populerkan oleh masyarakat Kecamatan Empang, Kabupaten Sumbawa. Mereka beru...