Langsung ke konten utama

Tiba-tiba Generasi Kita Menjadi Alay



Tiba-tiba, banyak generasi muda kita suka pamer, memajang foto diri dengan gaya yang tak wajar. Adapula yang mencari perhatian dengan gaya bicara dibuat-buat atau membuat tulisan aneh yang memusingkan pembacanya. Selanjutnya beriringan dengan kemunculan jejaring sosial seperti facebook, twitter, instagram dan lain sebagainya, budaya ini semakin berkembang di kalangan remaja sampai pada tingkatan mahasiswa.

Dalam jejaring sosial, facebook misalnya, pengguna akan diberi kesempatan untuk mengutarakan dan mengrekspesikan segala hal lewat status, foto, bahkan pengguna bisa memberikan komentar pada postingan teman-temannya. Disinilah ajang alay biasanya akan muncul

Setelah saya analisa postingan dari teman-teman facebook saya, ternyata fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di Sumbawa tapi hampir diseluruh tempat di Indonesia, mengapa tiba-tiba demikian??

Dari beberapa fakta yang ada, kita dapat melihat bahwa aktivitas generasi alay lebih fokus pada dirinya sendiri dan kurang memiliki kepekaan sosial. Fenomena ini semakin melengkapi fakta krisis generasi calon pemimpin yang kita miliki. Pemuda adalah miniatur suatu bangsa, jika ditanya bagaimana wajah indonesia 20-30 tahun kedepan maka jawabannya adalah bagaimana paradigma yang terjadi ditengah - tengah pemuda sekarang, para pemuda diharapkan menjadi soko guru peradaban, di tangan merekalah masa depan ummat dan bangsa dipertaruhkan.

Namun yang ada, kini mereka terlena dengan gaya hidup hedonis, hanya memikirkan kesenangan semu. Generasi muda telah menjadi pembebek, terjerat pada ruang pemikiran yang cendrung pragmatis dan apolitis. Apakah mungkin generasi ini yang didambakan untuk mengubah peradaban yang telah karut-marut ini?

Fenomena alay adalah imbas dari sistem pendidikan sekuler. Sistem ini terbukti gagal membentuk kepribadian yang tangguh pada diri generasi mudanya. Bahkan generasi muda saat ini hanya dididik untuk memenuhi permintaan pasar, menjadi generasi pekerja, bukan generasi pemimpin. Tak heran jika orientasi berpikir generasi muda saat ini adalah bagaimana meraih nilai akademis tinggi dan bisa bekerja sedini mungkin dengan gaji tinggi di perusahaan bergengsi.

Celakanya, orientasi pendidikan tersebut telah membentuk pola pikir materialistis. Generasi muda jadi terbiasa menilai segala sesuatu dengan ukuran materi, baik itu berupa harta atau popularitas. Begitulah yang terjadi pada generasi alay, apapun dilakukan agar bisa tenar. Tak peduli bertentangan dengan nilai moral apalagi agama.

Melaui tulisan ini ingin saya pertegas bahwa generasi seperti ini sangat bertolak belakang dengan kepribadian masyarakat sumbawa yang pedoman hidupnya jelas "Adat berenti ko sara,sara berenti ko kitabullah" artinya adalah apapun yang dilakukan masyarakat Sumbawa mereka akan mengedepankan nilai-nilai religius sesuai dengan akidah dan norma yang berlaku.

Budaya seperti ini adalah bentuk westernisasi yang mungkin salah diartikan oleh sebagian remaja kita, sebab mereka berusaha menyesuaikan diri dengan gaya hidup barat yang kita tahu bersama tidak mempunyai ruang didalam kehidupan masyarakat timur terutama Sumbawa.

Mataram, 29 Juni 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Ulang Animal Farm

Buku animal farm Di suatu malam yang gelap, si babi yang katanya bijaksana mengumpulkan para binatang lain di peternakan Manor. Si babi bercerita tentang mimpinya. Setelah sekian lama hidup di bawah tirani manusia, si babi mengungkap bahwa kelak sebuah pemberontakan harus dilakukan. Kaum binatang harus berkuasa atas dirinya sendiri. Tak lama, mimpi itu benar-benar terjadi. Di peternakan, para binatang memberontak. Dominasi manusia dihilangkan. Si babi lalu mengambil kendali kuasa atas binatang lain. Atas nama kerja keras untuk mengelola masa depan peternakan, babi diberi hak istimewa. Mereka dapat jatah makan lebih banyak. Tempat tidur lebih bagus. Sementara binatang lain tetap bekerja seperti biasa.  Untuk mengamankan posisinya, kaum babi merekrut dan memelihara anjing-anjing. Mereka dilatih untuk patuh. Tugasnya adalah mengontrol peternakan. Saat ada penghuni peternakan yang protes kepada si babi, anjing-anjing dengan cepat akan bergerak.  Saat kincir angin hendak dibangun, ...

Selapis Hikmah di Balik Konflik Etnis di Sumbawa

Konflik Sumbawa 2013 Setiap daerah tak hanya menyimpan kisah tentang kemajuan dan kemunduran, tapi juga menjadi rahim dari begitu banyak kisah yang dibuat oleh manusia-manusia yang berjejalan di dalamnya. Melalui kisah itu, kita bisa bercermin dan menemukan banyak pesan dan hikmah yang selalu bisa diserap untuk kehidupan mendatang. Sumbawa adalah titik balik dalam kehidupan saya. Beberapa tahun silam, saya selalu menjalani hidup dengan memakai sudut pandang sebagai korban. Suku Samawa yang mendiami Kabupaten Sumbawa adalah etnis yang begitu toleran. Mereka berbaur dengan banyak etnis lain secara terbuka dan penuh toleransi. Mbojo, Sasak, Bugis hingga Jawa. Tapi belakangan, tiba-tiba suku Bali datang mengganggu. Suku Samawa selalu dizalimi. Jadi wajar saja jika kami melawan balik untuk mempertahankan diri. Wajar saja kalau kami membalas. Saya selalu yakin bahwa setiap saat suku Samawa diusik dan diganggu, maka ketika ada kesempatan mereka harus mengusik balik, membalas. Say...

Masin Si Pedas Dari Timur Sumbawa

Indonesia di kenal sebagai negara dengan ragam kuliner yang melimpah. Hampir di setiap sudut negeri ini ada saja peganan masyarakat yang memikat lidah. Ada dodol di Garut, Rendang di Padang hingga Ayam Bakar Taliwang yang bisa anda jumpai di Lombok. Namun di balik tumpah ruah kuliner yang beraneka ragam, ada cerita tentang perjuangan masyarakat lokal dalam mematenkan kuliner dari daerahnya masing-masing. Hingga kuliner tersebut mampu menjadi branding daerah serta menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Jika di tempat lain pelbagai kuliner terlihat berupa jejajan ataupun makanan khas daerah, di Sumbawa terdapat jenis kuliner yang tidak biasa. Namanya Masin, bentuknya serupa sambal dan terbuat dari udang-udang kecil. Masin adalah menu yang wajib hadir di setiap hidangan masyarakat lokal Sumbawa. Masin yang bentuknya serupa sambal ini memiliki citarasa pedas yang menantang lidah. Masin ini pertama kali di populerkan oleh masyarakat Kecamatan Empang, Kabupaten Sumbawa. Mereka beru...