Tuesday, July 18, 2017

Dari Germas Untuk Indonesia Sehat


Sosialisasi Program Germas Oleh Kemenkes

Di tengah kekhawatiran banyak negara terhadap ancaman kesehatan di masa mendatang, sejumlah institusi pemerintahan kita mulai sigap dengan berbagai program demi mewujudkan masyarakat Indonesia sehat.

Pemerintah kita nampaknya tak mau kecolongan dalam hal mengelola anggaran kesehatan yang sedemikian besar. Mereka lalu mengarahkan birokrasi untuk menyerap segala kearifan serta menyatukan kekuatan banyak pihak demi menunjang program kerja dengan sejumput harapan agar segala kebijakan selalu bermuara kepada kepentingan banyak orang.

Setidaknya, itulah kesan saya seusasi menghadiri satu pertemuan bertajuk sosialisasi kesehatan yang diinisiasi oleh Kementerian Kesehatan Indonesia. Acara yang digelar di hotel Astonn Inn Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat itu diikuti oleh sejumlah blogger, tenaga kesehatan, dan beberapa pegiat media. Di sana, saya tak hanya mendapatkan ilmu seputar dunia kesehatan, tapi juga diajarkan bagaimana membangun sebuah tulisan agar mudah dipahami publik.

***

Dokter muda itu memulai presentasinya dengan bersemangat. Namanya Birry Karim, ia menjadi pemateri pada acara bertajuk sosialisasi program Germas oleh Kementerian Kesehatan. Jangan bayangkan bahwa dalam mensukseskan program semacam ini, pemerintah hanya menggandeng sejumlah LSM yang bergerak dibidang tertentu. Germas adalah singkatan dari Gerakan Masyarakat Hidup Sehat.

Program kesehatan ini merupakan suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kamauan, dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. Pelaksanaan Germas haruslah dimulai dari lingkup keluarga sebagai bagian terkecil dari masyarakat yang membentuk kepribadian.

Mulanya, Germas diprakarsai oleh pemerintah dengan mengedepankan upaya promotif-preventif, tanpa mengesampingkan upaya kuratif-rehabilitatif. Namun demi menyukseskan program ini, mereka menggandeng para blogger yang tersebar dibanyak tempat di Indonesia. Tujuan dari Germas sendiri sesuai dengan namanya yakni mengajak masyarakat untuk membudayakan pola hidup sehat dalam kesehariannya.

Birry Karim, Salah Seorang Pemateri

Gaya Hidup Tak Sehat

Sore itu, Birry memulai pembicaraan terkait penyakit tidak menular. Serupa doktor dalam satu kelas perkuliahan, ia mengemukakan sejumlah prilaku tidak sehat yang kerap dilakukan banyak orang. Birry bercerita tentang penyakit jantung koroner akibat penimbunan lemak, diabetes yang kerap menyerang masyarakat berumur lanjut, hingga membagikan tips kiat hidup sehat bagi penderita hipertensi.

Sebagai peserta, saya mencermati pembahasannya satu persatu. Saya tak ingin ketinggalan menyerap ilmu yang tak bisa saya temukan di ranah akademik ini. Itulah salah satu alasan mengapa saya selalu antusias setiap kali menghadiri pertemuan dengan para blogger. Di sana, saya leluasa menyelami samudera ilmu demi sebongkah mutiara pengetahuan yang tak ternilai.

Tak lama berselang, Sekjen Kementerian Kesehatan, Suseno Sutarjo yang sempat hadir dalam acara itu, juga memberikan sambutan. Beliau membincang banyak hal terkait bagaimana pola kerja Germas. Pejabat yang dilantik beberapa tahun lalu itu, mengajak para blogger dan pegiat media untuk bekerjasama demi membumikan program ini hingga akar rumput.

Saya mengamini pola kerja pemerintah di era keterbukaan. Mereka tak segan melibatkan para generasi muda dalam sejumlah agenda besar. Sebut saja Generasi Pesona Indonesia (Genpi) yang dibentuk oleh Kementerian Pariwisata, Gerakan Pemuda Tani Indonesia (Gempita) yang dibentuk oleh Kementerian Pertanian, lalu Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang dibentuk oleh Kementerian Kesehatan. Semuanya menggandeng para generasi muda yang dinilai mampu bekerja secara massif dan profesional.

Sekjen Kementerian Kesehatan, Suseno Sutarjo

Saya terkesan, sebab pemerintah kita mampu membaca trend abad milenial. Mereka hendak memaksimalkan peran blogger dan pegiat media sebagai agen promotif. Saya teringat buku berjudul Grown Up Digital, karya Don Tapscott, yang telah diresensikan oleh blogger ternama, Yusran Darmawan beberapa waktu lalu. Buku itu membuka wawasan tentang perkembangan dunia digital, dengan mengusung tesis utama tentang lahirnya generasi internet yang mengubah banyak hal.

Generasi baru yang dimaksud Tapscott adalah generasi yang melihat masalah dengan cara berbeda dari generasi sebelumnya. Generasi ini bisa memaksakan cara pandang mereka yang kemudian mengubah kultur bisnis, lanskap ekonomi, pendidikan, serta mendobrak tatanan sosial. Generasi ini mampu melakukan hal-hal yang multi-tasking sebab pada saat bersamaan, mereka juga bisa menyelesaikan satu pekerjaan.

Saat para generasi muda ini dipersatukan, mereka serupa ombak besar yang bisa menjebol satu tembok kukuh dalam penyajian informasi melalui berbagai kanal blog dan media sosial. Merekrut mereka dalam satu barisan adalah langkah strategis untuk menguasai masa depan. Di banyak tempat, netizen dan blogger kerap dipandang sebelah mata. Padahal kekuatan mereka tak bisa lagi dipandang remeh. Merekalah yang menjadi pengendali informasi di abad digital ini.

Sesi terakhir dari acara itu diisi dengan kiat-kiat membangun sebuah tulisan oleh Anwari Natari. Ia adalah seorang pengajar, editor, ahli komunikasi dan limu kebahasaan dari Universitas Indonesia. Satu pesan yang terpaksa saya stabilo tebal darinya adalah, seorang penulis yang baik, adalah dia yang mampu membimukan kata. Seseorang tak harus menulis dengan bahasa setinggi langit, sebab yang akan membaca tulisannya adalah mereka yang tinggal di bumi.

Motivator muda itu menyarankan kepada para blogger, untuk selalu menulis dan menyajikan informasi dengan bahasa yang sederhana. Hal ini ditujukan untuk mempermudah para pembaca dalam memahami isi tulisan kita. Sungguh, apa yang ia sampaikan sore itu kerap saya jumpai di kehidupan nyata.

Anwari Natari Membagikan Kiat-kiat Menulis

Entah kenapa, seseorang sering menggunakan kosa kata tinggi dan bahasa-bahasa ilmiah demi mendapat pengakuan intelektulitas. Bahkan, saat ia berbicara dengan petani yang kesehariannya bergelut dengan pacul dan alat bajak sekalipun. Saya juga sering berdiskusi dengan seorang teman yang ketika ia berbicara, selalu menyelipkan istilah-istilah dalam bahasa Inggris. Padahal, kemampuan bahasa inggris yang ia miliki nampak biasa-biasa saja.

Bagi saya, pertemuan hari itu adalah pertemuan yang sangat mengesankan. Saya berharap, kolaborasi antara pemerintah dan netizen ini bisa dikelola dengan baik. Pemerintah harus terbuka dan lebih transparan kepada mereka. Sebab, generasi ini telah terbiasa bekerja dalam satu atmosfer yang serba demokratis.

Lahirnya Germas tidak saja menjadi sarana bagi kehidupan yang lebih sehat, tapi juga menjadi pintu bagi terciptanya indeks pembangunan manusia yang unggul dan bermutu. Jika saja api semangat ini terus mendapat dukungan dari seluruh instrumen bangsa, maka negeri ini bisa menjadi negeri yang kuat, sekaligus memiliki desa-desa yang berdaulat dalam hal kesehatan.

Saturday, July 15, 2017

Gagalnya Pendidikan Karakter


Ilustrasi (Foto: Sekolahdasar.net)

Setelah sempat menuai kontoversi, akhirnya, Senin, 19 Juni 2017 Presiden Joko Widodo membatalkan program sekolah lima hari yang lebih dikenal dengan istilah Full Day School (FDS). Didampingi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma'ruf Amien, Mendikbud Muhadjir Effendy menyampaikan hal tersebut di istana negara.

FDS sendiri adalah aktivitas sekolah yang dilaksanakan selama 8 jam sehari, selama 5 hari dalam satu minggu yakni dari Senin hingga Jum’at. Sementara Sabtu dan Minggu ditetapkan sebagai hari libur. Kemendikbud hendak memberlakukan sistem ini demi menguatkan karakter siswa hingga sejalan dengan Program Penguatan Pendidikan Karakter (P3K) sebagai  implementasi dari Nawa Cita yang digulirkan oleh Presiden Joko Widodo.

Sayang, program ini menuai banyak kecaman. Sejumlah kalangan menilai, FDS hanya akan memberatkan pihak sekolah yang menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana yang layak. Padahal, sekolah lima hari bukanlah barang baru dalam dunia pendidikan.

Di Bandung, hal ini sudah berjalan sejak 2010 silam. Di Purwakarta, sekolah lima hari telah dijalankan semenjak tahun ajaran 2011/2012 dengan konsep Pendidikan Tematik "Atikan Pendidikan Purwakarta Istimewa" yang diatur dalam Peraturan Bupati Nomor 69 Tahun 2015 tentang Pendidikan Berkarakter. Aktivitas belajar mengajar dimulai dari pukul 06.00 sampai 11.45 bagi SD dan SMP, serta pukul 06.00 sampai 14.00 bagi siswa SMA/SMK.

Lalu, dimanakah masalahnya? Permasalahannya adalah kita terlalu memaksakan pendidikan karakter diterima setiap siswa, sementara disisi lain, kita justru masih kekurangan tenaga pendidik yang kompeten dan berkarakter. Saya jadi teringat ungkapan Dale Carnegie dalam buku berjudul Leadership Mastery bahwa, saat seorang murid melakukan kesalahan, maka yang harus ditegur adalah gurunya. Nah, mungkin Itulah yang harus kita lakukan sekarang.

Di mata saya, pendidikan karakter itu adalah pendidikan rumahan. Pusatnya tentu ada pada orang tua yang menjadi teladan. Di kalangan warga sekolah, guru berkarakter akan menjadi contoh bagi mudrid-muridnya. Pendidikan karakter menjadi terdengar begitu rumit, karena masih banyak diantara kita yang terbiasa hidup tanpa karakter. Banyak orang tua atau guru belum mampu menjadi contoh yang baik bagi anak-anak.

Misalnya, seorang guru mengajarkan tentang kebersihan, tapi mereka sendiri sering buang sampah sembarangan. Mereka mengajarkan soal tepat waktu, tapi mereka sendiri malah molor. Mereka menyuruh untuk tidak kelayapan di jam-jam sekolah, tapi setengah dari jam kerja mereka dipakai untuk kelayapan di pasar-pasar dan tempat perbelanjaan.

Di sekitar saya juga banyak sekolah bagus dan bergengsi, guru-gurunya mungkin sudah banyak belajar teori pendidikan karakter. Tapi maaf saja, bagi saya mereka tidak berkarakter. Pernah suatu hari saya berkunjung ke salah satu sekolah. Di sana, saya melihat halaman sekolah penuh dengan sampah. Guru dan murid kompak membuang sampah sembarangan. Saya juga melihat dua orang guru yang tengah asik ngerumpi sambil menjaga perpustakaan. Padahal saat itu, banyak siswa yang lalu lalang dengan leluasa melihat kelakuan mereka. Masih banyak lagi contoh lain yang kerap luput dari pandangan kita.

Betapa susahnya kita belajar tentang bagaimana menunjukkan karakter kita yang sesungguhnya sebagai pendidik. Tak usah kita membincang Socrates, Plato, Ariestoteles hingga Confusius yang memiliki andil besar dalam dunia pendidikan. Tak perlu pula kita melakukan sejumlah eksperimen besar layaknya Einstein.

Yang perlu kita lakukan hanyalah memberi contoh baik yang dimulai dari diri pribadi. Bersih, tepat waktu, disiplin, tenggang rasa, dan sikap-sikap positif lainnya yang memang harus melekat dalam diri seorang pendidik. Jadi, saat mereka mengajarkan sikap-sikap itu, mereka sedang menjadi diri mereka sendiri, bukan sedang berakting. Mereka yang berpura-pura baik, tidak akan pernah bisa menularkan karakter yang baik.

Saya sempat berdiskusi dengan salah seorang sahabat tentang pendidikan karakter. Sahabat itu bekerja di kantor kedutaan Indonesia di Jerman. Melaluinya, saya coba mengorek informasi tentang pola pendidikan dasar di sana. Ia kemudian membincang banyak hal. Saya terkejut saat dia mengungkapkan bahwa di Jerman sana, setiap profesor akan mengisi pelajaran sains dasar di sekolah setiap minggunya.

Beberapa jenak, saya membayangkan bagaimana fenomena kita di Indonesia. Jangankan pada tingkatan sekolah dasar, bahkan pada tataran kampus, kita sering kesulitan bertemu dengan seorang profesor. Entah kenapa, posisi sebagai guru besar seringkali menjadi alasan bagi penyandangnya untuk diperlakukan lebih tinggi.

Hubungan antara profesor dan mahasiswa menjadi hubungan antara dua pihak yang tidak setara. Posisi guru besar ditransformasikan menjadi kelas sosial yang lebih tinggi, yang seringkali menuntut penghargaan dan pengistimewaan secara berlebih. Mahasiswa pun terpaksa menerima keadaannya yang seakan terjajah. Mahasiswa bersedia melakukan apapun demi sekadar mendapatkan nilai atau apresiasi dari profesornya. Relasi itu tak berujung pada produktivitas, malah pelestarian hierarki dan kultur patron-client.

Maka menurut saya, jika kita hendak membangun pendidikan karakter, yang perlu dilakukan adalah revolusi sikap oleh para orang tua dan guru itu sendiri. Sebab pada kenyataannya, kita masih terbelenggu dengan berbagai kenyamanan. Kita tidak mau beranjak menjadi manusia disiplin, sebab menjadi tidak disiplin sudah terlalu nyaman buat kita.

Kita bersikap seolah-olah pendidikan karakter itu hanya diperuntukkan untuk anak-anak, sementara kita ingin sikap kita boleh dipertahankan, sampai kita mati. Ah, betapa lucunya.

Sumbawa, 15 Juli 2017

Thursday, July 6, 2017

Komunitas Bissu dan Keberagaman Gender yang Harus Dilestarikan

Bissu Sulawesi (Sumber foto: Foto Sulawesi)

Hiliir mudik isu keberagaman gender dan seksualitas di Indonesia. Serupa bola panas, kasus ini selalu memicu respon dari banyak pihak. Belakangan, fenomena LGBT adalah yang paling senter terdengar di permukaan. Bahkan di sejumlah kota besar di Indonesia, komunitas LGBT kian marak bak cendawan di musim hujan.

Fenomena LGBT di Indonesia setidaknya sudah ada sejak era 1960-an. Ada pula yang menyebut dekade 1920-an. Namun, pendapat paling banyak mengungkapkan bahwa fenomena LGBT ini sudah mulai ada sekitar dekade 60-an. Lalu, ia berkembang pada dekade 80-an, 90-an, dan meledak pada era milenium 2.000 hingga sekarang. Entah apa pemicunya.

Menyeruaknya isu keberagaman gender, membuat saya teringat akan kisah hidup Puang Matoa Saidi. Seorang laki-laki gemulai, pemimpin komunitas bissu di Sulawesi. Layaknya kebanyakan orang di luar sana, Saidi terlahir dengan kelamin laki-laki. Namun, tabiatnya sungguh menyerupai perempuan. Orang-orang di kampungnya, Lappariaja, Sulawesi Selatan menyebutnya calabai.

Bagi masyarakat bugis, calabai adalah sebutan bagi laki-laki yang memiliki tabiat menyerupai perempuan. Calabai tak sepenuhnya bisa diterima dengan baik ditengah masyarakat. Begitu pula dengan Saidi. Ia tidak tumbuh dalam iklim yang serba demokratis seperti sekarang. Dahulu, terlahir sebagai calabai adalah duka bagi sebagian orang. Mereka harus rela mendapat pengadilan sosial dan dijustifikasi sesuka hati atas nama tuhan dan agama.

Tak terkecuali Puang Matoa Saidi, hukum itu juga berlaku padanya. Takdir hidup yang menggiringnya sebagai calabai bukanlah sebuah berkah di masa kecil. Bahkan dalam usia yang masih belia, Saidi harus menanggung beban yang begitu besar. Terlebih lagi ketika ayahnya, Puang Baso, marah dan menolak saat mengetahui tabiat Puang Matoa Saidi. Ternyata anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga itu, adalah seorang perempuan yang bersemayam dalam tubuh laki-laki.

Sepintas, Saidi serupa remaja yang hendak menemukan jawaban. Dia tidak mengerti dengan takdir. Bukankah Tuhanlah yang menghendekinya terlahir sebagai calabai? Lalu mengapa orang-orang di luar sana selalu mengatasnamakan tuhan untuk menabur getir di dalam dadanya. Pertanyaan inilah yang selalu membayangi benak lelaki gemulai itu, sebelum Daeng Madenring, seorang yang belakangan menjadi ayah angkat Saidi membawanya ke Segeri, negeri para bissu.

***

Cerita tentang Puang Matoa Saidi ini saya temukan dalam buku berjudul Calabai, karya Pepi Al-Bayqunie. Dari sana pula saya mendapat sedikit referensi tentang kehidupan para bissu di Sulawesi. Buku itu dengan apik membabar kisah perjalanan hidup seorang calabai yang ditunjuk dewata demi mengemban tugas suci sebagai bissu tertinggi.

Buku Calabai, Karya Pepi Al-Bayqunie

Jauh sebelum membaca buku terbitan Javanica tersebut, saya juga pernah diceritakan oleh salah seorang sahabat tentang keberadaan komunitas para bissu. Sahabat itu adalah alumni Universitas Hasanuddin Makassar. Darinya saya mengetahui tentang kehidupan bissu yang keseluruhannya adalah calabai. Dikatakan mereka adalah para pemangku adat yang memiliki kesaktian berupa ilmu kebal terhadap benda tajam.

Di tengah masyarakat Bugis, mereka yang terlahir sebagai calabai berpeluang besar untuk menjadi bissu, ahli waris adat dan tradisi luhur suku Bugis yang dipercaya menjadi penghubung antara alam manusia dan alam dewata. Bissu adalah pemuka spritual yang telah melampaui sifat laki-laki dan perempuan di dalam dirinya. Mereka adalah para pengemban tugas sebagai penjaga keseimbangan alam.

Tak semua orang mengenal pendeta agama bugis kuno ini. Di zaman pra Islam, bissu memiliki peranan istimewa karena merupakan operator komunikasi antara alam manusia dan dewata. Oleh karena itu, bissu harus terjaga dari hal--hal yang bersifat duniawi. Mereka biasanya memimpin sejumlah ritual adat seperti upacara pelantikan raja, kelahiran, kematian, dan pertanian.

Para bissu juga terbiasa memainkan tarian Manggirik, sebuah tarian fenomenal dalam dunia kebissuan. Serupa orang kesurupan, mereka mempertontonkan atraksi kebal dengan menusukkan keris ketubuhnya. Tak hanya mahir menari, bissu tertinggi seperti Puang Matoa Saidi juga fasih membaca sureq I La Galigo, sebuah epik mitos penciptaan dari peradaban Bugis. Bentuknya berupa kitab yang berisi puisi bahasa Bugis dan ditulis dalam huruf Lontara kuno.

Sureq I La Galigo (Sumber foto: Wikipedia)

Hingga saat ini, komunitas bissu di Sulawesi masih tetap bertahan, meski jumlahnya kian menyusut tergerus zaman. Keberadaan mereka tak lagi diistimewakan seperti dulu. Tak banyak lagi masyarakat lokal yang mau memesan mereka dalam ritual-ritual adat.

Dalam kehidupan modern, peranan bissu mulai ditinggalkan. Mereka tidak lagi menetap di kerajaan, melainkan berkumpul dengan masyarakat sekitar. Bahkan, dalam satu publikasi sejarah, pemberontakan DI/TII yang dipimpin Kahar Mudzakar, membuat banyak bissu kala itu dibunuh serta dipaksa untuk menjadi laki-laki sejati sesuai ajaran agama.

Sangat disayangkan jika komunitas para bissu ini tak segera diselamatkan. Setidaknya, pemerintah harus memberikan perhatian khusus demi menjaga regenerasi dan kepemimpinan baru para bissu di masa mendatang. Mereka semestinya diberikan ruang ekspresi tersendiri untuk hidup karena merupakan bagian dari budaya yang telah diwariskan selama bertahun-tahun.

Dari sisi potensi, peranan bissu dalam sejumlah upacara adat dapat dijadikan maghnet yang kelak menarik banyak wisatawan untuk berdatangan. Pemahaman mereka tentang literatur-literatur Bugis kuno juga bisa didayagunakan sebagai media edukasi dan pembelajaran bagi generasi milenial. Di tengah kekhawatiran klaim budaya oleh negara lain, setidaknya bissu menjadi catatan khusus bagi pemerintah sebagai warisan budaya asli Indonesia.

Pada abad kekinian, komunitas bissu dan pemerintah haruslah berjalan beriringan dalam pengembangan sektor budaya, pariwisata, bahkan pendidikan. Sebab sejak dulu, keberadaan bissu di Sulawesi laksana pupuk yang menggemburkan kehidupan dengan nilai-nilai kebudayaan. Mereka telah hadir dari sekian ratus tahun lalu demi membumikan pesan para leluhur dari generasi ke generasi.

Para bissu juga tak ada kaitannya dengan isu LGBT dan seksualitas yang marak belakangan ini. Maka dari itu, tak ada alasan bagi pemerintah untuk mengabaikan keberadaan mereka. Lagian, istilah LGBT hanya berlaku bagi pecinta sesama jenis. Sementara filosofi kehidupan bissu jauh lebih mendalam.

Meskipun semua bissu adalah calabai, bukan berarti semua calabai berhak menyandang status sebagai bissu. Sebab dalam aturannya, ada prasyarat-prasyarat yang harus dilakukan oleh seorang calabai terlebih dahulu. Seorang yang dikatakan bissu, haruslah terbebas dari segala belenggu nafsu duniawi.

Atraksi Kebal Para Bissu (Sumber foto: Tribun)

Secara identitas, menurut Sharyn Graham, seorang peneliti di University of Western Australia di Perth, seorang bissu tidak bisa dianggap sebagai banci atau waria, karena mereka tidak memakai pakaian dari golongan gender manapun, namun setelan tertentu dan tersendiri untuk golongan mereka.

Sharyn mengungkapkan, dalam kepercayaan tradisional Bugis, tidak hanya terdapat dua jenis kelamin seperti yang kita kenal, tetapi empat atau bahkan lima bila golongan bissu juga dihitung yakni, "Oroane" (laki-laki), "Makunrai" (perempuan), "Calalai" (perempuan yang berpenampilan layaknya laki-laki), "Calabai" (laki-laki yang berpenampilan layaknya perempuan, dan golongan bissu, dimana masyarakat tradisional menganggap mereka sebagai kombinasi dari semua jenis kelamin tersebut.

Pada titik ini, tak berlebihan jika saya menyimpulkan bahwa fenomena bissu di Sulawesi adalah keberagaman gender yang harus dilestarikan.

Note: Buku Calabai sudah saya resensikan di sini: Saidi, Calabai Suci di Tanah Bugis

Mataram, 06 Juli 2017

Wednesday, July 5, 2017

Di Balik Sikap Kontroversi Fahri Hamzah


Fahri Hamzah foto by instagram

Di antara sekian banyak sosok politisi nasional yang berseliweran, saya masih tertarik dengan Fahri Hamzah. Bukan karena politisi PKS ini berasal dari daerah yang sama dengan saya, bukan pula karena pada beberapa kesempatan, saya sering berjumpa dengan beliau. Tapi ini tentang sikap politik Wakil Ketua DPR itu yang selalu mencengangkan. Fahri selalu melakukan manuver politik tanpa memperdulikan konsekuensi apa yang akan menimpanya.

Di saat para elit politik lain memilih diam dan membebek terhadap rezim, Fahri tetap konsisten pada gerbong perlawanan. Dalam setiap pembicaraannya, mantan aktivits 98 itu selalu tampil dengan kalimat serupa anak panah yang menujam jantung pemerintah. Di berbagai acara televisi, ia menjelma bak kritikus handal yang selalu mencermati gerak gerik suatu rezim.

Fahri Hamzah bukanlah sosok pilitisi lembek. Ia bukanlah tipe politisi yang mau bermain aman. Sejak masa awal reformasi, Fahri telah menjadi salah satu sosok yang menonjol dalam gerakan kemahasiswaan. Namanya mencuat di tengah situasi politik huru hara orde baru yang saat itu menggerakkan banyak mahasiswa ke gedung parlemen demi menjatuhkan Suharto.

Hingga saat ini, meski dirinya telah menjadi bagian dari sistem pemerintahan, gelagatnya tak berubah. Di senayan sana, Fahri tak lantas kehilangan daya gedor. Ia tercatat sebagai sosok yang paling produktif dalam mengkritisi kebijakan pemerintah yang dianggapnya melenceng. Di balik segala kontroversi yang ia lakukan, karir politiknya justru jauh meroket meninggalkan yang lain.

Masih terekam jelas di benak saya ketika sejumlah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), hendak menggeledah salah satu ruang kerja anggota DPR RI. Sejumlah anggota Brimob datang dengan senjata laras panjang saat itu. Di tengah lorong, berdiri tegap Fahri Hamzah untuk menghalangi. Adu tengkar pun tak terhindarkan. Dengan nada tinggi Fahri berteriak, “Jangan anggap kami maling.” Apapun alasannya, bagi saya, sikap mantan ketua KAMMI itu sungguh heroik. Ia tak hanya berusaha menjaga marwah lembaga, tetapi juga hendak membela anggota DPR lain dari sikap sewenang-wenang KPK.

Tak hanya itu, beberapa waktu lalu, kabar mengejutkan datang dari PKS. Partai berbasis islam itu memecat Fahri secara sepihak dari keanggotaan. Bahkan, posisinya sebagai anggota DPR hampir digantikan jika ia tidak memenangkan pertarungan di pengadilan. Lagi-lagi saya bersyukur sebab Fahri bisa bertahan melawan badai politik yang menimpanya, meski sulit mempercayai bahwa tak ada campur tangan penguasa dalam hal ini.

Di era tukang kayu bisa menjadi presiden ini, Fahri telah menempatkan diri sebagai rival Jokowi dalam banyak hal. Satu diantara banyak statementnya yang menarik perhatian adalah, jika dirinya menjadi presiden, ia akan membubarkan KPK dan akan menghapus korupsi dalam tempo tak kurang dari setahun. Banyak kalangan menilai, bahwa statement tersebut merupakan antitesa terhadap sikap presiden yang dinilainya tidak memiliki target yang jelas dalam pemberantasan korupsi di Indonesia.

Yang membuatnya berbeda dengan politisi lain adalah, sikap politik Fahri yang tidak bergantung pada keputusan partai. Di masa SBY dulu, ia tetap menjadi pengkritik paling keras meski partainya termasuk pendukung pemerintah. Ketika SBY menaikkan harga BBM, Fahri dengan lantang menolak. Di akhir-akhir masa jabatannya, Fahri mengibaratkan kepemimpinan SBY di kabinet layaknya orang mengimami salat dalam kondisi saf di belakangnya banyak yang kosong. “Saf kosong ini sekarang diisi setan. Jadi di tengahnya sudah ada setan” Ujarnya.

Rasanya masih terpatri dibenak, saat Fahri mempertanyakan sikap KPK yang tidak memanggil Ibas, putra kedua SBY, padahal namanya ada dalam daftar penerima dana kasus hambalang beberapa tahun lalu. Akibat pernyataannya itu, ia sampai di somasi oleh keluarga SBY. Tapi hal itu tak membuat politisi asal Sumbawa ini jerah. Fahri tetap aktif menyoroti kinerja KPK yang menurutnya tebang pilih dalam penegakan hukum.

Di ranah sosial media, saat banyak netizen memprotes dan menjadikannya bulan-bulanan atas pernyataannya terhadap penangkapan gubernur bengkulu beberapa waktu lalu, Fahri justru terlihat sangat tenang. Melalui aku twitter pribadinya, ia terus berkicau tentang sikap KPK yang lalu membuat banyak pengikutnya ambil bagian, hingga tagar #OTTrecehan menjadi trending topic. Menurutnya, KPK hanya berani membuka kasus korupsi berskala kecil. Sementara kasus-kasus besar seperti century ditinggalkan.

Di Facebook, ia menampilkan siaran langsung untuk menjelaskan secara komprehensif dan mendalam pandang-pandangannya tentang pemberantasan korupsi. Fahri terlihat sangat paham tentang apa yang ia perjuangkan. Baginya, KPK sudah tidak sesuai dengan semangat zaman yang serba terbuka. Lembaga ini hanya cocok di masa pemerintahan otoriter. Ia mencontohkan pemberantasan korupsi di Korea Selatan yang sudah bergerak maju, sehingga membuat kasus korupsi di negara itu mengalami penurunan.

Di mata saya, Fahri bukanlah sosok politisi sembarangan. Ia pandai menempatkan posisi dan mengambil peran. Jika tak demikian, mungkin sejak dulu Fahri sudah terperangkap dalam pusaran arus seperti yang lain. Bahkan dalam usia yang relatif muda, ia telah menjadi pimpinan dewan. Ada harapan besar dipundaknya untuk tidak menjadi pelayan bagi kepentingan pihak lain dalam satu orkestra politik yang semakin jauh dari substansi.

Setidaknya, Fahri menunjukkan betapa dunia politik seharusnya menjadi dunia yang serba demokratis, dinamis, serta menjadi ruang terbuka tempat beradu ide dan gagasan. Bukannya arena yang hanya mempertontonkan aksi saling sikut, saling melindungi rekan sejawat, tanpa mendorong proses itu menjadi lebih transparan, akuntabel, dan terbuka di hadapan publik.

Jika politik adalah jalan yang dipenuhi pedang, maka Fahri adalah salah satu pendekar pilih tanding yang diperhitungkan dan disegani karena kesaktiannya. Soal ia banyak disukai atau dibenci, tak jadi masalah. Yang jelas sejauh ini, saya masih menyukai sikap politik Fahri Hamzah.

Anda berbeda dengan saya? Tak masalah.

Mataram, 05 Juli 2017

Wednesday, June 28, 2017

Mengais Sejarah di Makam Keramat


Makam Kerongkeng

Berkunjung ke makam mereka yang dikeramatkan selalu memberikan sensasi tersendiri. Saya merasakan ada energi kuat yang pancarannya masih terasa, menggerakkan kaki untuk berziarah, serta menjaga hati agar tetap hangat, meskipun nyala api yang menyatukan kita telah menjadi kisah yang dituturkan dari mulut ke mulut.

Kemarin, saya berkunjung ke makam Haji Abdul Karim yang terletak di dusun Karongkeng, Tarano, Kabupaten Sumbawa. Oleh warga setempat, makam ini sering disebut sebagai makam keramat Haji Kari. Letaknya berada di atas area perbukitan. Pemerintah telah menetapkan makam ini sebagai cagar budaya islam yang teregistrasi secara nasional.

Dari beberapa sumber, saya telah membaca sejarah tentang makam Haji Kari. Dikatakan beliau adalah seorang pengamal islam yang disegani. Sepulang dari tanah suci, Haji Kari kemudian menyebarkan agama islam di Sumbawa pada awal abad ke 16 Masehi. Jauh di bagian timur Sumbawa, beliau membumikan islam sebagai jalan hidup orang banyak.

Apapun itu, makam Haji Kari adalah sekeping sejarah dan warisan akulturasi budaya yang sangat bernilai. Melalui makam ini, kita menyaksikan satu fase dimana islam menjadi sukma yang harumnya terus semerbak hingga sekarang. Sayang, makam ini sepi pengunjung. Tak banyak generasi muda yang mengetahui keberadaannya. Tak banyak orang yang datang berziarah lalu mendoakan sang penyiar agama. Bahkan, makam ini tidak dijadikan objek wisata sejarah oleh pemerintah setempat.

Meski demikian, saya tetap bersukur sebab makam Haji Kari telah dipagari sehingga membuatnya sedikit terawat dan menjaganya dari banyak manusia aneh yang senang menjadikan makam keramat sebagai tempat meminta-minta.

Makam Kerongkeng

Persis disamping makam Haji Kari, juga terdapat makam lain yang juga dilindungi. Makam itu dibangun dengan nisan dari batu alam, bertuliskan huruf arab melayu dan ukiran ornament bunga dengan panjang dua kaki. Seorang ahli Filologi Indonesia yang mengajar di Universitas Leiden Belanda, Doktor Suryadi, telah menerjemahkan tulisan pada makam tersebut.

Terjemahan nisan sebagai berikut :

Bermula inilah ingatan dari Paduka Muhammad Idris Syah ibni almarhum Muhammad Aly pada tahun sanat 1271 kepada hari bulan Dzulhijjah pada hari Jumat waktu jam 2 ke 8 siang Allahummaghfirlahu warhamhu wa’fuanhu.

Tak begitu banyak sumber mengenai siapa Muhammad Idris Syah. Apakah tokoh ini juga ikut membantu Haji Kari dalam menyebarkan islam? Entahlah. Yang jelas, terjemahan itu adalah penemuan yang sangat berharga, serta menjadi pintu masuk bagi sejarawan demi melengkapi serpihan sejarah islam di bumi Sumbawa.

Sumbawa, 28 Juni 2017

Sunday, June 18, 2017

Dari Singang Hingga Ayam Bakar Taliwang, Puasa di Lombok Kaya Rasa


Singang

Salah satu menu favorit saya saat berbuka puasa adalah singang. Makanan ini memiliki cita rasa yang khas. Meski aslinya berasal dari Sumbawa, namun seiring berjalannya waktu, singang mulai mudah ditemukan di Lombok. Banyak pengusaha kuliner asal Sumbawa yang menetap di Lombok, menjual masakan ini ketika ramadhan. Mereka membuka lapak di pinggir jalan, lalu menawarkan singang kepada siapa saja.

Jika tak sempat membelinya di luar, terkadang saya memesan masakan ini pada salah seorang sahabat mahasiswa Sumbawa untuk diantarkan. Sahabat itu menyediakan aneka kuliner Sumbawa di Lombok. Ia tak hanya membuka lapak, namun juga menerima pesanan. Satu porsi singang ia hargai mulai dari 10 hingga 15 ribu rupiah. Murah bukan?

Di daerah asalnya, masakan tradisional berbahan dasar ikan segar ini telah diwariskan secara turun temurun. Masyarakat Sumbawa telah membuat singang jauh sebelum pemerintah membuat slogan “one village one product“ yang belakangan sering dikampanyekan oleh seorang mentri.

Sepintas, bentuknya memang menyerupai gulai ikan. Kuahnya yang kekuning-kuningan dipadu dengan warna hijau daun kemangi dan warna merah cabe rawit, membuat singang terlihat segar. Aromanya yang menggugah selera seakan mempertegas rasa tak sabar di dada untuk segera menyantapnya.

Meski menjalani puasa di Lombok, saya selalu leluasa menikmati masakan khas Sumbawa yang satu ini. Di kampung halaman saya, Empang, Kabupaten Sumbawa, singang biasa dibuat dengan beragam jenis ikan laut. Namun, saat menyantapnya di Lombok, kuliner ini lebih sering disajikan dengan ikan jenis nila yang banyak dibudidayakan di sini. Tapi terlepas apapun ikannya, singang selalu membawa kenikmatan tersendiri.

Singang Ikan Laut (foto: Endah Gusniati)

Selain singang, makanan lain yang juga menjadi menu andalan saat berbuka adalah ayam bakar taliwang. Jauh di Jakarta sana, kuliner ini perlahan mulai populer. Namun, tidak ada yang bisa mengalahkan nikmatnya saat mencicipi kuliner ini di kampung asalnya. Saya terbiasa menikmati ayam bakar taliwang dengan plecing kangkung. Rasanya sangat mencerminkan selera masyarakat Lombok yang menyukai pedas.

Kuliner ayam bakar taliwang ini dipopulerkan pertama kali oleh warga Karang Taliwang di Cakranegara, Mataram. Mereka membuat sesuatu yang kemudian menjadi ciri khas, lalu tersebar ke mana-mana. Kuliner ini menjadi jembatan bagi mereka untuk menyapa banyak orang di berbagai tempat. Mereka mematenkan identitas Taliwang ke dalam kuliner ayam bakar yang kenikmatannya selalu membuat perut tak pernah kenyang.

Kuliner yang satu ini memang digemari banyak orang. Terbukti ketika sejumlah warung yang menyediakan menu ayam bakar taliwang tak pernah sepi pengunjung. Bahkan, tercatat beberapa artis ibukota yang datang mengunjungi Lombok, selalu menyempatkan diri untuk menjajal sensasi pedas ayam bakar taliwang.

Ayam Bakar Taliwang

Lombok tak hanya memiliki sederet destinasi wisata memukau, tapi juga pulau yang amat kaya dengan berbagai khasanah kuliner. Jika setiap tempat memiliki satu kuliner yang unik, maka perjalanan mengelilingi Lombok bisa menjadi perjalanan yang teramat mengasyikkan sebab akan dipenuhi berbagai kisah, sejarah, serta harum aroma kuliner yang menggoda iman di sudut manapun anda berada. Perjalanan itu bisa menjadi medium efektif untuk memahami bahwa kuliner bukan sekadar makanan, tapi juga merupakan tradisi, budaya, serta filosofi hidup.

Melalui kuliner pula, kecintaan pada sebuah bangsa pun bisa diasah. Sebab rasa dan aroma khas kuliner akan menyadarkan kita bahwa setiap tempat memiliki keunikan, sejarah, serta peta sosial budaya yang berbeda. Kuliner adalah jalan masuk untuk mengenali jantung budaya setiap bangsa.

Di Lombok, saya tak hanya menikmati ramadhan yang semarak sebab pemerintah melalui serangkaian acara Pesonah Khazanah Ramadhan telah menjadikan Islamic Center sebagai pusat dari banyak kegiatan islami yang menarik, tapi juga saya menikmati ramadan yang begitu nikmat saat ragam kuliner bercita rasa dunia, tersaji di atas meja.

Yukkk, mari bersantap.

Mataram di Penghujung Ramadhan, 18 Juni 2017

Friday, June 16, 2017

Saat Sebuah Kalender Memuat Anggaran Dana Desa


Kalender Dana Desa

Sebuah kalender dibagikan secara gratis oleh aparatur Desa Gontar Baru, Alas Barat, Kabupaten Sumbawa. Kalender itu berisikan laporan pertanggungjawaban atas penggunaan kas desa kepada masyarakat setempat. Pengurus desannya secara terbuka melaporkan berapa dana yang mereka terima, digunakan untuk apa saja, serta berapa kas desa yang masih tersisa.

Melaui kalender itu, masyarakat bisa melihat lalu lintas uang yang masuk ke kas desa. Saya membayangkan betapa kalender itu akan terpampang di tiap-tiap rumah petani jagung, tukang bangunan, pencari madu, bidan desa, pedagang pasar, tukang ojek, hingga nelayan kecil yang tiap hari melaut.

Seorang sahabat yang juga berprofesi sebagai pendamping desa memosting kalender itu untuk disebarkan di media sosial. Saya membayangkan warga desa akan mendiskusikan isi kalender itu di warung-warung kopi, pasar, pangkalan ojek sambil mempertanyakannya secara kritis. Boleh jadi, mereka akan menodong kepala desa dengan sejumlah pertanyaan, mengapa begini dan mengapa begitu. Mungkin juga mereka punya banyak amunisi untuk ditanyakan saat musyawarah desa.

Sepintas, kalender itu terlihat sangat sederhana. Mamun bagi saya, apa yang dilakukan aparatur desa di sana harus diberi apresiasi. Saya yakin kalau akan ada banyak pertanyaan terkait kalender ini. Tapi setidaknya, di situ kita banyak melihat harapan kuat bagi bangsa ini. Di situ kita melihat kisah heroik yang tak banyak kita temukan di berbagai lapis organisasi diluar sana. Di situ kita melihat harapan pembangunan dari desa akan segera terwujud.

Orang desa memang jauh dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, tapi mereka memiliki cara lain demi membumikan kearifan. Justru di kota-kota besar yang katanya menjunjung tinggi prinsip clean goverment, praktik seperti ini malah jarang ditemukan.

Melalui berbagai pemberitaan, kita terbiasa menyaksikan kisah tentang seorang petinggi negeri yang terjerat kasus korupsi hingga miliyaran rupiah. Di gedung megah parlemen sana, kita terbiasa melihat sejumlah politisi busuk menilep uang proyek yang seharusnya dialokasikan untuk kepentingan orang banyak.

Kita memang berada pada era transparansi dan keterbukaan. Tapi berapa banyak lembaga pemerintah yang bersedia membuka semua anggaran agar diketahui oleh publik. Yang banyak terjadi adalah anggaran sengaja disembunyikan demi memudahkan proses kolusi dan kongkalikong di balik layar.

Kalender Dana Desa

Untuk pertama kalinya saya melihat kalender Dana Desa seperti ini. Di sejumlah daerah, transparansi anggaran kerap diwujudkan dalam bentuk baliho berukuran raksasa yang dipasang di tempat-tempat umum. Tapi di mata saya, baik baliho ataupun kalender, keduanya sama-sama merefresentasikan keikhlasan dan kejujuran warga desa dalam mengumumkan anggaran ke hadapan publik.

Di Desa Gontar Baru, Sumbawa, kita bisa melihat kejujuran warga desa dalam menyampaikan informasi tentang penggunaan anggarannya. Saat proses transparansi anggaran menjadi sesuatu yang langka disebabkan ketamakan dan hasrat untuk mengeruk semua sumberdaya finansial sebanyak-banyaknya, desa-desa justru tampil sebagai mutiara peradaban berupa kejujuran yang kini menjadi barang mahal.

Semangat kejujuran berupa metode sosialisasi anggaran melalui kalender justru tumbuh dari pedesaan. Sayangnya, para politisi kita tak pernah memikirkan hal ini. Kalender hanya dijadikan barang dagangan menjelang pemilihan. Tujuannya satu yakni bagaimana melalui aksi bagi-bagi kalender itu, mereka bisa meraup suara dan simpati sebanyak-banyaknya. Berbeda dengan kalender dana desa, kalender yang kerap dibagikan para caleg tak memuat apapun. Yang nampak hanya foto pribadi dan lambang partai.

Kalender yang dibagikan tak pernah berisi apa langkah strategis yang akan mereka lakukan setelah terpilih nanti, kalender itu tak pernah mencantumkan gagasan apa yang mereka tawarkan demi merealisasikan suatu program melalui visi misi yang logis. Padahal, boleh jadi metode tersebut adalah indikasi bahwa kelak mereka akan bekerja keras untuk memetakan satu persoalan, mencari solusi, lalu mengajak masyarakat berjalan beriringan demi menuntaskannya.

Ah, mungkin saya terlalu berlebihan.

Mataram, 16 Juni 2017