Tuesday, June 6, 2017

Ramadhan Food Distribution Bersama Islamic Relief Lombok


Banner Kegiatan

Lebih dari sepekan saya menjadi relawan di salah satu lembaga islam internasional, Islamic Relief. Bersama relawan lain, saya tergabung dalam satu project sosial yang dimotori oleh lembaga ini. Islamic Relief hendak menyalurkan bantuan gratis saat ramadhan. Mereka lalu mengundang relawan untuk bekerjasama. Mereka meminta kami untuk melakukan survey dan pendataan kepada para calon penerima bantuan. Tujuannya, mereka tak ingin jika bantuan yang akan didistribusikan tidak tepat sasaran.

Bukan sekali ini saya menjadi relawan. Beberapa waktu lalu, saya juga terlibat dalam satu gerakan sadar lingkungan bersih. Saya berbaur dengan banyak sahabat dari berbagai komunitas di Lombok. Ada yang fokus pada kajian lingkungan, pendidikan, isu-isu sosial, hingga literasi. Bahkan dalam waktu dekat, seorang teman yang juga pegiat literasi di Mataram, mengajak saya bergabung dalam satu aksi sosial bertajuk literasi. Rencananya, aksi itu akan dilaksanakan dalam beberapa bulan kedepan.

Bagi saya, menjadi seorang relawan sungguh mengasikkan. Selain menambah khazanah ilmu dan pengalaman, kita juga leluasa bertautan dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Yang membuat saya terkesan adalah, para relawan ini justru memiliki kapasitas intelektual yang tak bisa diragukan. Buktinya, mereka kerap ikut serta di berbagai kegiatan yang digelar di luar negeri.

Melihat itu, saya terkenang kata seorang gubernur terpilih Jakarta, Anies Baswedan, bahwa “ Relawan tidak dibayar bukan karena tak bernilai, tapi karena tak ternilai.

***

Islamic Relief sendiri merupakan lembaga kemanusiaan yang didirikan di Inggris pada 1984. Organisasi ini telah diakui oleh Dewan Ekonomi dan Sosial PBB, UNECOSOC, sejak tahun 1993 lalu. Sejak pendiriannya, Islamic Relief telah berkiprah di banyak negara. Mereka juga memiliki kantor permanen dan kantor perwakilan di negara-negara tersebut termasuk di Indonesia.

Berbagai kegiatan berbentuk bantuan bencana, bantuan medis, bantuan pembangunan rumah masyarakat miskin, pemberdayaan komunitas dan lain-lain memang kerap dilakukan. Demikian pula di Lombok tahun ini. Mereka menyediakan bantuan gratis berupa sembako bagi masyarakat kurang mampu.

Baru kali ini saya mengenal Islamic Relief. Seorang teman yang sedang menempuh pendidikan di Jerman memberitahu saya. Ia bercerita banyak hal tentang lembaga ini. Kepada saya dia berbicara, “ Tidak mudah menjadi relawan di Islamic Relief. Dengar-dengar di Inggris, mereka yang menjadi relawan diseleksi dulu. Kamu beruntung! “ Ungkapnya. Dalam hati saya membatin, “ Ah, teman saya yang satu ini pandai berkelakar.

Sejumlah Bantuan Akan Didistribusikan

Penyerahan Bantuan Secara Simbolis

Bantuan Berupa Sembako

Sebagai relawan, kami telah melakukan verifikasi data dari minggu lalu. Kami melakukan pemetaan, mendatangi rumah-rumah warga, dan memilah siapa saja yang layak menerima bantuan. Targetnya adalah para lansia, yatim piatu, dan para kaum dhuafa di Mataram. Meski tak banyak, kami tetap tidak ingin jika bantuan ini tak tepat sasaran. Begitu harapan Islamic Relief.

Saya menilai, organisasi yang satu ini sungguh profesional. Cara kerjanya pun sangat terstruktur dan rapi. Mereka tak mau neko-neko dalam pekerjaan. Mungkin inilah yang mejadikan Islamic Relief bertahan hingga sekarang. Mengingat pusat lembaga ini di Inggris sana, saya menduga kuat, setiap mereka yang bekerja didalamnya mengadopsi sistem kerja di luar negeri. Sehingga, segala sesuatu yang berbau kedisiplinan sangatlah diperhatikan.

Pagi itu, di balai pertemuan yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari kantor Islamic Relief di Mataram, saya menyaksikan begitu banyak orang berdatangan. Ada lelaki muda yang mewakili ibunya, ada pula nenek tua yang punggungnya sudah membungkuk. Tujuan mereka satu yakni menukarkan kupon yang telah diberikan, dengan paket bantuan yang sudah disediakan.

Begitu pula para relawan. Mereka telah siap dengan tugas masing-masing. Ada yang bertugas meminta tanda tangan penerima, ada yang memanggilnya menggunakan pengeras suara. Ada yang menginput data, ada pula yang membagikan bingkisan. Singkatnya, mereka bekerja secara masif agar tugas rumah segera terselesaikan.

Sesaat, saya tertegun menyaksikan para relawan ini bekerja. Alih-alih terkesan malas, mereka justru semakin antusias dan bersemangat. Padahal, membagikan sumbangan sebanyak 800 paket saat berpuasa tidaklah mudah. Mereka serupa robot pekerja yang didesain untuk membantu aktivitas manusia. Tak ada lelah diwajah mereka. Yang saya lihat hanyalah sepotong senyum yang dilontarkan kepada para penerima bantuan.

Calon Penerima Bantuan

Para Relawan

Yang lebih menyenangkan lagi adalah menyaksikan selapis kebahagiaan diwajah penerima bantuan ini. Bagi sebagian orang, bantuan berupa beras dan bahan makanan mungkin tak seberapa, tetapi bagi mereka yang harus bersusah payah bekerja demi sepiring nasi, bantuan dari Islamic Relief mungkin serupa ketiban durian runtuh.

Dibalik binar-binar kebahagiaan itu, mereka mungkin hendak mengungkapkan rasa terima kasih yang tak terkira, sebab Islamic Relief telah hadir dalam sesuap santapan sahur mereka saat ramadhan. Dibalik senyuman itu, mungkin mereka hendak mengatakan “ Terimakasih Islamic Relief, bantuan ini sangat bermanfaat bagi kami.

Itulah satu kepingan berharga menjadi seorang relawan. Melalui banyak aktivitas, kita diajarkan untuk bekerja demi mengasah kepekaan. Kita diajarkan menjadi pepohonan lebat bagi banyak orang. Melalui serangkaian kegiatan, kita diajarkan untuk terjun ke masyarakat lalu bersentuhan lansung dengan mereka.

Seorang pemikir besar islam mengatakan bahwa “ Ilmu itu bukanlah apa yang dihafal, tetapi apa yang dimanfaatkan.” Boleh jadi, hiruk pikuk dunia kerelawanan menunjukkan betapa menjadikan ilmu sebagai rahmat bagi sekitar jauh lebih penting dari segalanya. Entahlah!

Mataram, 06 Juni 2017

Friday, June 2, 2017

Di Lombok, Banyak Aktivitas Menarik Saat Ramadhan


Aktivitas Panahan di Islamic Center Lombok

Lima tahun sudah saya menjalani puasa di bumi seribu masjid, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Bagi sebagian orang, menjalani puasa di perantauan memang tak selalu menggembirakan. Namun, saya selalu bersyukur bisa kuliah dan menghabiskan banyak waktu di sini. Pulau Serambi Madinah selalu membuat saya betah. Tak terkecuali ketika saya harus menjalani hari-hari di bulan suci.

Saya tinggal di satu kompleks yang banyak dihuni para mahasiswa dari Sumbawa. Namun, saya tak selalu bisa berkomunikasi intens dengan mereka. Saya justru banyak berinteraksi dengan sahabat dari berbagai komunitas sosial di Lombok. Kami membuat group WA, lalu bertukar banyak informasi di sana.

Suatu ketika, seorang teman mengajak saya mengunjungi Masjid Hubbul Wathan, Islamic Center. Kami berniat menghabiskan waktu menjelang berbuka puasa di sana. Seperti yang telah saya jelaskan pada tulisan sebelumnya, Islamic Center merupakan salah satu masjid termegah di Lombok. Berdiri di atas lahan seluas 7,5 hektare, masjid ini mengadopsi gaya arsitektur bangunan islam Timur Tengah yang maju dan unggul. Tak heran jika Islamic Center menjadi kebanggan masyarakat Lombok.

Islamic Center merupakan simbol peradaban islam di Lombok. Selain menjadi tempat kajian dan pendalaman ilmu-ilmu agama, masjid ini juga menjadi pusat kebudayaan, wisata religi, dan pasar seni. Sehingga, momentum ramadhan selalu menjadikan masjid yang berlokasi tepat di jantung Kota Mataram itu, dibanjiri banyak orang.

Sore itu, saya menyaksikan begitu banyak aktivitas islami yang berlangsung di Islamic Center. Di dekat pintu masuk, saya melihat bangunan kecil dari kayu. Bagian atas bangunan itu bertuliskan Media Center. Tempat ini dihiasi dengan pernak pernik dan sejumlah photo booth.

Pada dinding bangunannya, dipajang sejumlah foto dari berbagai objek wisata yang ada di Lombok Sumbawa. Persis di depan gambar-gambar itu, berdiri tegak sebuah replika piala Lombok yang diboyong dari ajang World Halal Tourism Award. Saya menyukai desainnya yang sederhana dan kreatif. Setiap pengunjung juga bebas berfoto di sana.

Tempat ini selalu ramai di malam hari. Banyak jamaah masjid yang datang, lalu berfoto bersama keluarga dan pasangannya. Mereka juga diperkenankan mengambil buku-buku pedoman wisata yang disediakan secara gratis.

Media Center GenPI Lombok Sumbawa

Media Center GenPI Lombok Sumbawa

Belakangan saya ketahui, bahwa tempat itu sengaja dibuat oleh Generasi Pesona Indonesia, GenPI Lombok Sumbawa, sebagai sarana kampanye dan wadah promosi wisata. GenPI merupakan volunteer pariwisata yang dibentuk oleh Kementrian Pariwisata untuk mempromosikan kegiatan pariwisata Indonesia. Komunitas ini berfokus pada promosi wisata melalui teknologi digital dengan mengoptimalkan penggunaan blog dan media sosial.

GenPI telah tersebar di hampir seluruh provinsi di Indonesia termasuk NTB. Di Islamic Center Lombok, mereka membuka stand bagi para pengunjung, membagikan buku gratis, bertukar informasi seputar pariwisata, hingga menggelar sejumlah event menarik selama ramadhan.

Di sudut lain masjid, saya melihat kerumunan pengunjung yang tengah latihan memanah. Saya tak menyangka jika di masjid ini juga dibangun sarana olahraga panahan bagi para pendatang. Banyak warga yang antusias bahkan rela mengantre. Mereka hendak mencoba melontarkan anak panah dari busurnya.

Menurut beberapa literatur islam, panahan sendiri memang merupakan salah satu olahraga yang digemari Rasulullah. Kini, olahraga itu secara rutin diadakan di Islamic Center selama ramadhan. Sungguh aktivitas yang jarang ditemukan di tempat peribadatan.

Tak jauh dari situ, berbagai aktivitas bazaar juga digelar. Mereka yang tertarik dengan ragam kuliner, buku, dan pakaian bisa leluasa menuntaskan dahaga di tempat ini. Di sana, saya menyaksikan ibu-ibu tengah melirik-lirik pakaian, sesekali dia menanyakan harga kepada si penjual. Ada bapak-bapak yang sibuk memilih koleksi peci, ada pula yang membeli takjil untuk berbuka puasa.

Aktivitas Panahan di Area Masjid

Aktivitas Panahan di Area Masjid

Yang tak kalah menarik adalah, pameran replika benda-benda peninggalan Rasulullah dan Sahabat di lantai dasar masjid. Saya melihat beberapa atribut dan perlengkapan perang seperti busur panah, pedang, tongkat, dan sandal yang pernah digunakan Rasul dan Sahabat beribu-beribu tahun lalu.

Para pengunjung tak sekedar bisa melihat, tapi juga disuguhkan dengan penjabaran seputar informasi serta sejarah dari masing-masing benda yang ada. Memang tak terlalu detail, tapi setidaknya, saya mendapat referensi berharga tentang sejarah islam. Replika ini mengantarkan saya menuju lorong waktu ke masa silam.

Saya jadi membayangkan betapa semua benda ini begitu berjasa bagi umat muslim. Saya membayangkan betapa di tangan Khalid bin Walid, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan pedang itu telah banyak menembus jantung para pemimpin bengis dan meruntuhkan berbagai imperium Romawi. Saya membatin betapa panah itu selalu melekat di bahu Rasulullah tatkala di medan pertempuran.

Menjadi pengalaman yang sangat berharga, ketika semua benda yang digunakan oleh para punggawa islam, serta mereka yang menciptakan peradaban dunia, tersaji di depan mata. Meski sebatas replika, saya tetap bersyukur bisa melihatnya.

Sepintas Sejarah Islam

Replika Pedang Rasulullah

Replika Pedang Umar ibn Khattab

Replika Pedang Usman ibn Affan

Replika Sandal Rasulullah

Replika Panah Rasulullah

Nampaknya, tahun ini pemerintah NTB sudah mempersiapkan segalanya. Mereka sangat serius untuk menjadikan NTB sebagai kiblat pariwisata dunia, khususnya wisata berbasis syariah. Boleh jadi, ramadhan adalah momentun yang tepat untuk menggembar gemborkan semua aset daerah. Terlebih saat semua aset itu disajikan dalam kemasan islami.

Mereka menjadikan Islamic Center sebagai wahana bermain, pusat perbelanjaan, taman edukasi, hingga museum sejarah yang memancing banyak orang untuk berdatangan. Pemerintah juga melibatkan generasi muda dalam agenda besar ini. Saya terkesan, sebab pemerintah kita bisa membaca trend. Mereka paham bahwa pariwisata hanya akan ‘berbunyi’ kalau terus-menerus dikicaukan netizen dan disebarkan secara masif.

Saat para generasi muda bersatu, mereka serupa air bah yang bisa menjebol satu tembok kukuh dalam penyajian informasi melalui berbagai kanal blog dan media sosial. Merekrut mereka dalam satu barisan adalah langkah strategis untuk menguasai masa depan.

Saat ini, banyak daerah di Indonesia yang tengah berbenah menata sektor kepariwisataan. Saya masih ingat betapa geliat pemerintah Sulawesi Tenggara dalam mengembangkan pulau Bokori. Tak kurang dari miliyaran APBD Provinsi telah mereka kucurkan untuk membenah pulau tersebut. Provinsi itu hendak mengejar mimpi sebagai pemilik banyak destinasi wisata laut kelas dunia. Mereka kemudian menata Bokori sebagai salah satu objek wisata.

Lombok sendiri patut berbangga karena memiliki sederet pulau indah yang layak untuk dikunjungi seperti Gili Sudak, Gili Meno, Gili Nanggu, Gili Air, dan masih banyak lagi. Semuanya serupa kepingan surga yang dilepas ke bumi oleh Yang Maha Indah, dalam satu skenario proses alam. Pulau-pulau ini tak perlu lagi ditata atau di-branding ulang seperti Bokori, pemerintah hanya perlu menjaga kelestariannya, lalu secara terus-menerus mempromosikan pesona pulau seribu masjid kepada dunia.

Indahnya Ramadhan di Bumi Seribu Masjid

Sore itu, hampir dua jam saya menelusuri Islamic Center. Saya beruntung sebab tempat ini hanya berjarak sepeminuman teh dari tempat tinggal saya di Mataram. Kesan saya, masjid ini sangat layak untuk dikunjungi. Tak sekedar megah, masjid yang menjadi tempat diselenggarakannya Musabaqah Tilawatil Qur'an tingkat nasional tahun lalu itu, nyatanya mampu menjadi rumah bagi segala segmen usia dalam satu atmosfer kegiatan positif di bulan suci.

Setidaknya, di sini saya melihat harapan tentang pesona bumi seribu masjid yang akan terus semerbak. Lombok akan menjadi aquarium dunia yang selalu membabar epos manis tentang keindahan, keislaman, serta kedinamisan sosial.

Saya membayangkan bahwa tak lama lagi, kita akan tampil menjadi yang terbaik. Selangkah lagi, kita akan berlari cepat mengungguli yang lain. Ah, semoga segera terwujud.

NB: Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog #RamadhanDiLombok 2017 yang diselenggarakan REPUBLIKA & Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat.

Mataram, 02 Juni 2017

Thursday, June 1, 2017

Keep Enjoy in Every Learning Process


Ilustrasi

Let me say happy about Pancasila's day. Pancasila is ideology of our nation. Today, that all of Indonesian's people celebrating Pancasila's day.

Even though many people celebrate it, we can't guarantee they adopted the values of Pancasila itself. But it's not problem. And now, let's implement together by our self to make Indonesian better.

***

Lately, I have spent many time to studied English. According to me, so difficult to study English. Because there are so many rules that make me confused. Like grammar, pronountation, and the way we speak fluent.

But I try to study hard every time, because I wanna go to overseas as soon as possible. May Allah always bless my learning process. Amin.

Thank you for always teached me patiently. Adore you as always.

Best regard, overseas hunter!

Mataram, 1th June, 2017

Monday, May 29, 2017

Perlukah Menceritakan Tragedi Ledakan Bom Kepada Anak-Anak?


Ilustrasi

Lagi-lagi terdengar ledakan. Di Jakarta, saya mendengar kisah tentang tiga aparat kepolisian dan beberapa warga sipil yang menjadi korban bom bunuh diri. Kejadiannya di terminal Kampung Melayu, Rabu, 23 Mei lalu. Pelakunya meninggal di tempat dengan anggota tubuh yang sudah terpotong akibat ledakan terbagi menjadi kepala, kaki dan badan yang terpisah.

Hal yang sama juga terjadi sehari sebelumnya. Ledakan besar sempat membuat panik jutaan orang ketika musisi cantik dunia, Ariana Grande, tengah menggelar konser di Manchester, Inggris. Setidaknya tercatat sebanyak 19 orang tewas dan banyak lagi yang terluka akibat ledakan tersebut.

Meski aksi terkutuk itu sempat menebar teror, faktanya di Indonesia, banyak orang berbondong-bondong ke lokasi kejadian pasca ledakan terjadi. Di berbagai media online, saya juga melihat begitu banyak perdebatan dari para pengamat. Mereka justru sibuk menyimpulkan siapa pelaku, dan apa motif dibalik aksi nekat tersebut. Padahal, jauh lebih baik menjadikan kejadian ini pembelajaran bagi generasi muda, ketimbang ikut menjadi analis dadakan di media sosial.

Mengapa kita perlu bercerita pada generasi muda terutama anak-anak prihal kejadian ini? Sebab, merekalah yang akan merawat bangsa ini suatu hari nanti. Kelak, mereka akan berbicara tentang solusi agar kejadian serupa tak akan terulang di masa mendatang. Mereka akan tumbuh sebagai simpul-simpul kebenaran, lalu menjaga bangsa ini dari segala macam teror dan perpecahan. Kelak, merekalah yang akan menjadikan banggsa ini menjadi rumah ternyaman bagi siapa saja. Tanpa memandang perbedaan agama dan status sosial, semuanya sama-sama bertautan dalam satu bingkai kebhinnekaan bernama Indonesia.

Namun, bagaimana kita menceritakan kepada anak-anak tentang sebuah ledakan bom? Dulu, ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, saya kerap bertanya tentang banyak hal kepada orang tua saya. Terkadang saya membayangkan sesuatu yang berlawanan dengan logika, lalu menyimpulkan sendiri hasilnya. Sebagai contoh, dulu saya berfikir bahwa Doraemon, Dragon Ball, dan segala figur dalam film cartoon itu benar-benar ada. Bahkan saya pernah berharap suatu saat nanti bisa bertemu dengan mereka. Itu merupakan hasil kesimpulan saya sendiri ketika belia, sebelum banyak orang memberi tahu saya yang sebenarnya.

Lalu, bagimana jika banyak anak di negeri ini mulai bertanya-tanya tentang ledakan bom di Jakarta sana? Bukankah berita itu sudah tersebar secara viral di berbagai media? Bahkan, melalui layar kecil televisi, secara berkala kejadian tragis itu masih saja diberitakan hingga saat ini. Bagaimana jika banyak anak menyimpulkan sendiri tragedi yang secara massif diberitakan itu? Setidaknya, imajinasi mereka akan terkukung pada pemikiran bahwa negeri yang gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karto raharjo ini tak lagi nyaman dan aman untuk ditinggali.

Banyak orang tua yang memilih untuk tidak menceritakan berbagai kejadian memulikan di sudut negeri kepada anak-anak mereka karena alasan yang sangat sederhana. Tak ingin si anak berfikiran negatif, tekontaminasi segala bentuk paham radikal, ekstrimisme dan sebagainya. Padahal, membiarkan si anak menyimpulkan sendiri suatu fenomena jauh lebih berbahaya. Eileen Kennedy-Moore, Seorang pakar parenting Amerika, menganjurkan bahwa setiap orang tua harus berani menceritakan segala kejadian kepada anak-anak mereka sesuai dengan fakta-fakta yang sebenarnya.

Setiap orang tua tentunya ingin memberikan dunia yang aman untuk anak-anak mereka. Namun, berbohong dengan mengatakan bahwa kondisi bangsa benar-benar aman bukanlah solusi cerdas. Jostein Gaarder, dalam bukunya, The Sophie’s World menyebutkan, bahwa setiap anak adalah filosof. Kalimat ini menunjukan bahwa masa belia adalah masa dimana Banyak pertanyaan mendasar dilontarkan. Mereka berfikir laksana seorang filsuf. Bertanya tentang apa saja hingga membuat orang tua kehabisan kata-kata untuk menjawabnya.

Ilistrasi

Saya membayangkan bagaimana ketika banyak anak mulai bertanya-tanya tentang ledakan bom? Mereka akan menayakan dari mana ledakan itu, siapa yang melakukannya, lalu memuji keberanian si pelaku yang dengan gagah berani mengorbankan seonggok nyawa tanpa memperdulikan motif dibalik semuanya.

Saya membayangkan betapa setiap anak akan menimpali orang tua mereka dengan ribuan pertanyaan hanya dari sepotong kasus hingga dahaga pengetahuan mereka dituntaskan. Lalu sebagai orang tua yang bijak, bagaimana seharusnya menjelaskan kasus naaas itu kepada mereka?

Untuk itu, penting untuk mengetahui bagaimana para orang tua bercerita kepada anak-anak mereka tentang sebuah kejadian. Terlebih jika kejadian tersebut adalah sebuah fenomena ledakan bom. Nah, marilah kita buat daftar sederhana. Saya hanya menuliskan ulang apa-apa yang sudah dibahas oleh para ahli parenting.

Pertama, berikan fakta terkait kejadian tersebut dengan cara anda. Akan lebih baik bagi setiap anak untuk mendengar berita dari orang tua dibanding teman sebayanya atau bahkan media sosial. Dapatkan informasi dari sumber berita terpercaya dan dapatkan fakta umum prihal kejadian tersebut.

Anda mungkin juga perlu bertanya kepada mereka, "Apa yang telah kau dengar?" Anak-anak berbicara, dan terkadang mereka salah mengetahui dan memahami sebuah berita. Meminta apa yang telah mereka dengarkan, memberi kita kesempatan untuk memperbaiki kesalahan informasi dan mungkin menghilangkan ketakutan yang tidak perlu pada diri mereka.

Kedua, berbicara tentang perbedaan antara rasa takut dan kewaspadaan. Ketika tragedi menyerang secara tiba-tiba, sangat mudah untuk menyimpulkan bahwa tidak ada orang yang benar-benar aman, kekerasan ada dimana-mana, dan kapan saja. Bantulah si anak memahami bahwa sebagian besar masyarakat yang ada di lokasi kejadian tidak mengalami kekerasan. Hidup dalam bayangan ketakutan terus-menerus terlalu membatasi mereka.

Gunakanlah contoh mengemudi di dalam mobil. Beritahukan kepada mereka bahwa setiap orang akan selalu berkemungkinan mengalami kecelakaan, tapi kemungkinan yang lebih besar tidak. Lakukan beberapa soal matematika dengan si anak untuk membuktikannya. Berapa banyak perjalanan mobil yang rata-rata anda lakukan sehari-hari? Berapa hari anda gunakan untuk mengendarai selama hidup anda? Berapa banyak kecelakaan yang pernah anda hadapi?

Jelaskanlah kepada si anak bahwa jika hidup kita dikekang oleh rasa takut, kita akan berhenti menyetir ke mana saja. Sementara biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan semua itu terlalu tinggi. Maka sebagai gantinya, kita memilih untuk berhati-hati. Kita mematuhi sinyal lalu lintas, tidak bermain hp sambil mengemudi, dan selalu waspada di jalan raya, hingga sampai tujuan.

Ketiga, berilah contoh kebaikan pada kasus tersebut. Ketika kita mendengar tentang tragedi ledakan bom, kita juga akan belajar lebih banyak tentang berbagai tindakan baik didalamnya. Seorang tukang ojek yang menyelamatkan korban ledakan, aksi sigap para aparat kepolisian, serta para warga yang membantu menyebarkan informasi tentang kejadian ini. Beritahulah kepada anak cerita-cerita ini untuk menunjukan bahwa betapa masih banyak orang di luar sana yang hatinya seluas samudra, ketimbang mereka yang jiwanya tercemar penyakit kebencian.

Keempat, mengajak mereka terlibat dalam aksi positif. Sebagian besar dari kita merasa lebih baik ketika bisa melakukan pemecahan terhadap suatu masalah. Bantulah si anak menemukan beberapa cara yang mudah untuk mengambil tindakan dalam melawan segala bentuk kekerasan di republik ini. Mungkin kita bisa mengajak mereka untuk terlibat dalam program anti intimidasi di sekolah, mengumpulkan uang untuk menyantuni keluarga korban, atau mengajak mereka berdoa untuk para korban tragedi ini.

Yang terpenting adalah bagaimana cara kita berkomunikasi kepada setiap generasi muda, kepada setiap anak tanpa keluar dari substansi masalah yang diceritakan. Yang terpenting adalah bagaimana cara kita menjaga asa mereka bahwa bangsa ini adalah bangsa yang tak bisa ditakuti oleh aksi apapun. Persatuan rakyat Indonesia telah menukik tajam ke tanah hingga tak mudah goyah oleh kepentingan kelompok manapun.

Saya hanya mencatat beberapa. Orang-orang yang belajar psikologi ataupun ilmu parenting punya lebih banyak penjelasan tentang bagaimana seharusnya bersikap kepada generasi muda tentang kondisi ini. Kita bisa terus mengembangkan, lalu mencatat berbagai argumen yang kita temukan dalam berbagai interaksi. Ada hal-hal yang kita sadari, banyak pula hal yang tidak disadari. Namun dengan cara belajar terus-menerus, kita bisa mengasah keperkaan kita dalam berargumentasi dan menemukan kebenaran.

Saya turut berbelasungkawa atas duka yang melanda ibukota. Teruntuk para keluarga korban, saya berdoa agar sang pencipta menyelipkan angin ketabahan di hati mereka, serta membayar setiap air mata yang menetes dengan nikmat dikemudian hari. Perlahan saya menundukkan kepala. Dalam hati saya membatin, saya tidak takut.

Mataram, 29 Mei 2017

Friday, May 26, 2017

Personal Branding dan Sosial Media


Ilustrasi

Beberapa waktu lalu, saya berbincang ringan dengan salah seorang sahabat melalui messengger. Dia bekerja di Kedutaan Indonesia di Jerman. Kami memang sering bersua kabar. Menanyakan keadaan masing-masing. Kami sering berdiskusi tentang apa saja. Ketika sama-sama renggang, kami membahas banyak persoalan.

Tanpa di sengaja, obrolan kami masuk ke bahasan soal media sosial. Sahabat saya bercerita tentang teman sekantornya yang tidak memiliki akun media sosial apapun. Katanya, ia kerap terheran dengan berbagai kelakuan orang di media sosial. Dia tidak tahu apa yang ia hasilkan melalui aktivitas ini. Baginya, media sosial hanyalah mainan yang akan memperhambat pekerjaannya.

Saya sudah terbiasa dengan pertanyaan ini.
Kenapa saya harus membagikan foto saya saat makan, atau bepergian, apakah hanya untuk dilihat oleh orang lain?” Ada begitu banyak orang yang heran dengan perilaku manusia di dunia maya. Untuk apa itu semua?

Suka atau tidak, media sosial adalah kebutuhan sebagian orang. Kalau bukan kebutuhan, produk ini tidak akan bertatahan sebagai industri besar hingga saat ini. Namun sebagaimana produk lain, tentu saja ada yang tidak membutuhkannya. Itu juga sudah biasa.

Tapi pertanyaan di atas tadi penting untuk dijawab. Untuk apa kita membagikan foto saat kita makan? Atau, makanan yang kita makan? Untuk apa pula kita membagikan foto bersama orang terdekat kita? Atau, foto kita saat liburan?

Jawabannya bisa beragam. Kadang kita ingin memamerkan kebahagiaan kita, atau keberadaan materi kita. Ada juga yang ingin memamerkan, dengan siapa saja dia bergaul. Baik dengan kalangan elit, maupun dengan kalangan pinggiran, keduanya ingin memamerkan. Kita sedang membangun citra diri. Ada yang mencitrakan dirinya sebagai orang sukses dan kaya. Ada pula yang membangun citra sederhana, bahkan darmawan.

Sesuai dengan namanya, media sosial juga terkadang membuat penggunanya lebih peka terhadap permasalahan sosial. Entah kenapa, banyak yang tiba-tiba humanis bahkan kritis ketika bermain di ranah ini. Padahal di kehidupan nyata, mereka nampak biasa-biasa saja.

Pernah sekali saya melihat foto kakek-kakek tua sedang mengemis di facebook. Saya terkejut sebab interaksi terhadap poto tersebut mencapai angka ratusan ribu. Dalam kehidupan nyata? Semuanya mungkin akan berbanding terbalik. Entahlah.

Tapi, inilah yang disebut dengan proses membangun citra. Membuat frame untuk mempengaruhi pandangan orang lain. Lalu pertanyaannya, apakah membangun citra itu sebuah masalah? Tentu tidak. Membangun citra, itu hal yang biasa saja. Dalam kehidupan keseharian pun, kita sedang membangun citra.

Yang tidak bagus adalah membangun citra palsu. Orang miskin berlagak kaya. Korup, tapi sok suci. Atau, membangun citra yang berlebihan. Tapi tidak sedikit juga orang yang sekadar menjadikan media sosial sebagai tempat berbagi kabar dengan teman, atau sanak saudara.

Ada pula yang menggunakan media sosial untuk mempengaruhi orang lain. Melakukan sebuah propaganda. Propaganda bisa positif, bisa negatif secara absolut, bisa pula secara relatif. Yang jelas, tujuan dari aktivitas ini adalah untuk menggiring orang pada suatu pemikiran, nilai, atau bahkan pada tindakan-tindakan tertentu. Semacam sugesti universal di ranah maya.

Propaganda dengan mudah bisa kita temukan di media sosial. Bahkan, mungkin ini salah satu komponen terbesar media sosial kita saat ini. Propaganda politik, agama, dan kepentingan golongan. Hal terpenting pada propaganda adalah, ia tidak begitu memperhatikan basis fakta, atau kebenaran. Yang utama adalah bagaimana menggiring semua orang.

Aktivitas semacam ini pernah dilakukan oleh Chris Hughes. Dalam usia 23 tahun, ia bertemu Barrack Obama, yang saat itu masih menjadi senator. Obama meminta Chris untuk merancang kampanye yang berbasis dunia maya. Ia menerimanya sebagai tantangan.

Chris membangun satu web yang diniatkan sebagai kanal informasi, lalu menyebarkannya ke mana-mana. Ia juga mengorganisir kaum muda, mengelola manajemen pencitraan di dunia maya, menyebarkan berbagai pesan baik yang dimiliki Obama. Tak disangka, kerja keras itu berbuah kesuksesan, saat Obama terpilih menjadi presiden.

Dewasa ini, ada begitu banyak pengguna media sosial yang ambil bagian dalam permainan propaganda. Ingat, kunci terpenting pada media sosial adalah pada peran para pengguna. Suatu muatan tidak akan bermakna kalau tidak diteruskan secara massal, lalu menjadi viral. Kekuatan media sosial bukan sekedar pada pembuat muatannya, tapi justru pada penyebarnya.

Tanpa disadari, banyak orang yang menjadi bagian sebuah propaganda. Ikut menyebar sesuatu, link, bahkan berita hoax yang ia sendiri mungkin tidak tahu dan tidak membacanya. Padahal secara tidak sadar, dia adalah korban propaganda, yang sedang mencari korban lain.

Tak bisa dipungkiri, propaganda serupa arus besar yang menghujam dunia media sosial kita saat ini. Salah bergerak, kita akan tergelincir didalamnya. Bahkan banyak yang telah menjadi korban dari aktivitas ini. Yang terbaru adalah seorang jurnalis senior asal NTB. Ia dituduh sengaja menyebarluaskan video kampanye seorang Gubernur sehingga menimbulkan konflik.

Tentu kita tak ingin bernasib serupa. Maka agar terhindar dari hal-hal seperti ini, kita butuh kebijakan dalam mengolah sosial media. Seperti banyak pengguna lain, saya juga terbiasa menetapkan sebuah nilai. Kemudian mulai bermain di dunia sosial media, berdasar nilai itu.

Yang terpenting adalah bagaimana menjadikan media sosial sebagai tempat untuk mengevaluasi nilai-nilai yang kita anut. Persis seperti saat bergaul di dunia nyata, di mana kita hidup dengan nilai, dalam interaksi, kita mengubah nilai kita, atau membuat orang lain mengubah nilainya.

Dalam media sosial, saya banyak membuat posting tentang nilai yang saya anut. Misalnya soal kesadaran sosial, lingkungan, pendidikan, kerelawanan, kepemudaan dan sebagainya. Saya posting berbagai kegiatan, kemudian saya berbagi pengetahuan tentang aktivitas itu, apa yang kita lakukan, atau seluk beluk lain terkait dengannya.

Demikian pula saat bepergian. Saya berbagi informasi tentang tempat liburan, kuliner, hingga berbagai keunikan lain yang bisa memancing antusiasme banyak orang untuk berdatangan. Ya, hitung-hitung membantu pemerintah dalam agenda promosi wisata.

Tapi, seperti yang saya ceritakan di atas, saya juga narsis. Namanya juga manusia biasa. Saya kerap membangun citra, pamer dan sebagainya. Hal-hal yang biasa dilakukan banyak orang di media sosial.

Ingat, media sosial adalah tempat di mana orang bisa melihat kita. Dalam istilah keren, ini adalah tempat untuk melakukan personal branding. Maka, saya membiasakan diri untuk menghasilkan dan membagikan gagasan di media sosial. Saya berharap orang akan mengenal saya melalui gagasan itu.

Saya menikmati hasil dari kegiatan di media sosial. Saya menjadi terbiasa menulis. Menyebarluaskan gagasan di berbagai media online, membuat artikel, menghasilkan opini, dan sesekali diterbitkan melalui media cetak. Bahkan ada yang mengajak saya mengelola satu kanal informasi, lalu menghasilkan berbagai tulisan di sana. Saya juga sering mendapatkan kiriman buku-buku bagus dari beberapa teman di luar daerah melalui aktivitas ini.

Nah, menurut saya, penting bagi setiap orang untuk bertanya pada diri sendiri, apa yang dia hasilkan dari aktivitas sosial media. Sayang jika kemewahan teknologi yang sedemikian maju ini, tak dimanfaatkan dengan baik.

Mataram, 26 Mei 2017

Wednesday, May 24, 2017

Catatan Kritis George Orwell


Two Books From George Orwell

Selalu saja ada kekaguman pada sastrawan George Orwell. Setiap buku yang dihasilkannya selalu membahas tema-tema sosial yang rumit, namun dikemas dalam kalimat-kalimat sederhana. Bayangkan saja, sebuah fenomena besar tentang totalitarianisme Uni Soviet mampu ia sajikan dalam bentuk novel alegori satiris berjudul Animal Farm.

Dalam novel yang pertama kali terbit pada tahun 1949 itu, Orwell bercerita tentang pergolakan politik kekuasaan serta sistem pemerintahan totaliter yang dibangun Soviet. Dia menganalogikannya dengan kisah sekelompok hewan peternakan yang melakukan pemberontakan pada ras manusia demi mencapai kesetaraan hidup dan kemerdekaan.

Namun, kesetaraan yang seharusnya menjadi cita-cita bersama para binatang itu tak berlansung lama. Semua hanya sebatas euforia semata. Bangsa babi yang awalnya dipercayakan menjadi pemimpin peternakan karena lebih unggul dalam hal kapasitas dibanding yang lain, ternyata berhianat.

Atas nama bekerja keras dan mengelola peternakan, para babi diberikan hak istimewa. Mereka mendapatkan makanan yang lebih enak dan banyak, tempat yang lebih layak, dan beberapa hal lain yang menguntungkan bangsa mereka sendiri. Sementara para binatang lain tetaplah memproduksi segala jenis kebutuhan peternakan untuk lima persen kehidupan mereka. Sisanya dikuasai penuh oleh Napoleon, babi gendut sang penguasa peternakan binatang.

Animal Farm merupakan salah satu karya terbaik Orwell. Novel ini membuat namanya kian dikenal. Bahkan beberapa waktu lalu, beredar kabar bahwa novel ini kembali laku keras dipasaran. Berita itu dimuat oleh Antara News, edisi Kamis, 26 Januari 2017.

Setelah sebelumnya menyelsaikan Animal Farm, kini saya kembali hanyut saat mengikuti perjalanan Orwell di Inggris. Perjalan itu berisikan catatan tentang kemiskinan, penggangguran, kehidupan pekerja tambang, hingga bentuk pertentangan kelas di Inggris yang sangat menajam.

Melalui catatan perjalanan ini, Orwell pun kemudian melahirkan gagasannya mengenai pertentangan kelas sosial antara kaum borjuis dan proletar, serta lahirnya peradaban mesin dengan bentuk indistrialisme yang menyertakan lahirnya sosialisme.

Benang merah dari kedua karya ini adalah sama-sama mengandung kritikan tajam dan menukik. Jika dalam Animal Farm, penulis kelahiran India itu lebih banyak berbicara tentang paktik-praktik pemerintahan rezim bengis yang tengah berkuasa, maka dalam buku setebal 258 halaman berjudul The Road to Wigan Pire ini, ia memokuskan catatannya terhadap orang-orang sosialis.

Buku itu menjelaskan kerasahan Orwell terhadap gagalnya sosialisme, lalu dengan berani mengungkapkan pandangannya sendiri tentang paham tersebut. Ia berpendapat bahwa sosialis yang sesungguhnya adalah seseorang yang secara aktif ingin melihat tirani dihancurkan namun tidak sebatas membayangkan itu sebagai hal yang diinginkanya.

Di banyak bagian, saya menandai beberapa pandangan Orwell tentang betapa pertentangan kelas sosial di inggris pada dasarnya mewakili pertentangan kelas sosial yang terjadi di setiap lapisan masyarakat. Bahkan hingga saat ini, ketika kabut gelap totalitarianisme perlahan bergeser pada harapan hidup setara dalam kemewahan demokrasi, sebuah pertentangan sosial tak begitu sulit ditemukan.

Di Indonesia, di tengah demokrasi yang telah berjalan puluhan tahun ini, pertentangan-pertentangan sosial masih teramat nyata. Hal ini kemudian berimbas pada merosotnya nilai-nailai persamaan hak dimuka hukum. Sehingga, impian tentang sebuah negara yang menjamin keadilan bagi segenap rakyatnya belum juga tercapai.

Jika benar demokrasi itu adalah cita-cita suci demi menggapai perubahan bersama, mengapa masih banyak yang merasa dikreditkan? Mengapa pula para kelas menengah itu nampak acuh pada kami kaum hambasaya? Atau apa mereka dan kami memang berbeda? Jika benar demokrasi itu menjamin keamanan setiap warga negara, mengapa para tukang kepret yang berbekal surat dari negara itu merasa berhak mementung dan menghardik para pedagang dan buruh di pasar-pasar sana?

Jika benar demokrasi itu adalah hadirnya negara dalam setiap permasalahan rakyat, lalu dimana negara saat para pejabat brengsek dengan seenaknya merampas tanah petani lalu menjualnya ke korporasi bangsat dalam satu siklus kongkalikong perizinan? Dimanakah negara saat perusahaan-perusahaan yang entah datang dari mana tiba-tiba mengusir kami dari atas tanah nenek moyang kami yang diwariskan turun-temurun?

Ah, sudahlah. Bagi kami, semua yang kerap kalian sebutkan dilayar kaca itu hanyalah ilusi dan omong kosong belaka. Kami memilih untuk tetap melawan. Layaknya Orwell yang selalu gelisah, lalu melahirkan berbagai catatan kritis, kami pun akan tetap menjaga nilai-nilai kritis dalam diri guna mencapai kehidupan yang lebih baik. Harapan-harapan kami akan selalu ada, sebab kami masih memiliki ide-ide untuk perubahan, serta kebaikan yang akan terus tumbuh bak mawar di tengah reruntuhan.

Melalui ide-ide itu, kami berharap negeri ini akan selalu lebih baik. Indonesia akan selalu tersenyum, layaknya senyuman saya pagi tadi saat membaca tulisan kritis seorang siswi SMA tentang perbedaan pandangan politik antar kelompok, hingga berpotensi memecah belah persatuan.

Mataram, 24 Mei 2017

Sunday, May 21, 2017

Kucing, Cinta, dan Kejujuran


Dewey, Karya Vicki Myron dan Bret Writter

Seberapa besar dampak yang dapat ditimbulkan oleh seekor hewan? Berapa banyak kehidupan yang dapat disentuh oleh seekor kucing? Bagaimana mungkin seekor kucing buangan mengubah sebuah perpustakaan kecil menjadi tempat pertemuan dan daya tarik wisata, memberi inspirasi kepada penduduk sebuah kota klasik Amerika, mempersatukan warga di seluruh kawasan, dan pelan-pelan menjadi terkenal di seluruh dunia?

Tentu saja anda tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas sebelum menghabiskan bacaan setebal 392 halaman, karya Vicki Myron dan Bret Writter berjudul Dewey. Sebuah buku bestseller international yang menyajikan kisah heroik seekor kucing perpustakaan kecil Spencer, yang membuat dunia jatuh hati.

Diangkat dari sebuah kisah nyata, buku ini pertama kali diterbitkan oleh Grand Central Publishing, New York, pada 2008 lalu. Dewey adalah alarm yang menyala. Buku ini mengajarkan kita bahwa betapa selalu berfikir positif adalah satu-satunya lentera penerang di tengah segala kesulitan hidup. Dewey menitipkan pesan yang amat menyentuh hati, lucu, sekaligus memberi inspirasi bagi siapapun yang membacanya.

Perjalanan panjang kucing ini sungguh dimulai dengan cara paling menyedihkan. Umurnya baru beberapa minggu ketika pada malam terdingin tahun itu, dia dimasukkan ke sebuah kotak pengembalian buku perpustakaan umum Spencer, Lowa, oleh orang tak dikenal.

Dewey baru ditemukan pada keesokan harinya oleh direktur perpustakaan, Vicki Myron, orangtua tunggal yang berhasil bertahan dari kehilangan tanah pertanian, penyakit kanker payudara, dan suami yang kecanduan minuman keras. Pertemuan tak terduga itu menjadi berkah bagi keduanya. Dewey berhasil mencuri hati Vicki dan hati para pegawai perpustakaan.

Saat ketenarannya berkembang dari kota ke kota, melintasi berbagai negara bagian, dan akhirnya merebak ke seluruh dunia, Dewey menjadi sumber kebanggaan bagi sebuah kota pertanian yang bangkrut di pedalaman Amerika dan membuatnya bangkit dari krisis berkepanjangan yang telah berakar jauh di masa silam.

Ada bagian yang membuat saya takjub yakni ketika Dewey mampu menjadi aktor pengganti dibalik alpanya peran sebagian orang tua di Spencer yang selalu sibuk dengan berbagai aktivitas pertanian, hingga lupa menyisihkan waktu bagi anak-anak mereka.

Di banding seekor kucing, saya lebih memilih memaknai Dewey sebagai tokoh rekonsiliatif dalam buku ini. Vicki dengan sederhana menjelaskan bagaimana kehadiran kucing tampan itu menjelma serupa maghnet lalu mempersatukan segalanya.

Saya bisa merasakan bagaimana perasaan Vicki pada Dewey. Kucing itu telah menemani seorang direktur perpustakaan selama bertahun-tahun. Dewey telah memberi Vicki sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Hubungan keduanya bukanlah tentang seekor kucing dan majikannya, tetapi tentang sebuah persahabatan, cinta, dan kejujuran.

Tak ayal setelah kepergian kucing itu, Vicky harus membongkar ingatannya. Ia berusaha menyusun satu demi satu kepingan manis bersama kucing itu untuk diceritakan. Dia menyadari bahwa dengan cara inilah, Dewey akan selalu abadi dan terpatri dalam benak semua orang. Bagaimanapun juga, saya sangat mengapresiasi kisah ini. Saya mengapresiasi kecintaan Vicky yang begitu besar.

Dulu, ketika pacar saya memelihara kucing, saya juga melihat rasa kecintaan yang sama. Entah mengapa, dia menjadi begitu bersemangat. Dia merawat kucing itu penuh suka cita. Bahkan setiap akhir bulan, saya kerap diminta untuk menemaninya membeli makanan si pus, panggilan akrab kucing peliharaannya.

Kesan saya seusai membaca buku ini adalah betapa sebuah memoar manis, selalu diawali dengan rasa cinta kasih yang jujur dan teramat mendalam. Pada akhirnya, rasa itu akan menyatu dengan segala sikap serta senantiasa memancarkan energi positif dalam diri manusia. Cinta itu teramat luas, cinta itu adalah bagaimana memberi kebaikan.

Setelah membaca Dewey, sayapun ingin memelihara kucing.

Mataram, 21 Me1 2017