Showing posts with label Travel. Show all posts
Showing posts with label Travel. Show all posts

Wednesday, September 27, 2017

Blue Bird Taksi Gandeng New Furama, Resto Unik di Bibir Pantai

New Furama Resto

Berkunjung ke Senggigi memang selalu menyenangkan. Selain lokasinya tak jauh dari pusat kota, di sini ada banyak perahu-perahu nelayan tradisional, hotel-hotel yang mentereng, serta aneka macam resto dengan kuliner yang menggugah selera. Jika berlayar menggunakan perahu-perahu itu, kita akan menggapai pulau-pulau yang serupa kepingan surga.

Sejak dulu, Senggigi telah lama menjadi magnet wisata yang memesona warga dunia. Popularitasnya barangkali sejajar dengan Pantai Kuta di Bali yang lebih dulu tersohor. Pantai ini menjadi destinasi yang diimpikan banyak orang. Buktinya, setiap kali berkunjung, tempat ini tak pernah sepi.

***

Kemarin, saya berkesempatan mengunjungi New Furama Resto, satu tempat kuliner dengan sajian khas seafood yang berlokasi di Sengigi. Resto ini begitu populer di kalangan wisatawan sebab selain menyajikan menu seafood yang lezat, setiap pengunjung juga bisa menikmati sensasi makan sembari menyaksikan sunset pantai Sengigi yang indah.

Mulanya, saya berfikir bahwa New Furama itu adalah sejenis restoran megah di tengah kota. Ternyata dugaan saya salah. Tempat ini dibangun persis di tepi pantai. Bentuknya terlihat sederhana namun elegan dengan hiasan lampu-lampu lampion yang menyala di malam hari.

Sunset New Furama

Sunset New Furama

Setiba di tempat itu, saya melihat banyak pasangan muda serta mereka yang datang bersama keluarga sedang bersantap. Di bagian lain, saya juga melihat sejumlah turis yang tengah asik memotret sunset. Kesan saya, resto ini memang didesain sedemikian romantis sehingga wajar jika digemari oleh segala segmen usia.

Dalam kunjungan kemarin, saya datang bersama sahabat Blue Bird Taksi Lombok. Mereka hendak melakukan launching kerjasama dengan pihak New Furama Resto. Made Sudiana selaku owner dari resto ini, sangat antusias menyambut kedatangan kami. Beliau bahkan mempersilahkan para rombongan untuk mencicipi makanan terlebih dahulu sebelum beranjak.

Melalui kerjasama itu, para wisatawan yang hendak mengunjungi New Furama Resto bisa mendapatkan diskon dan kemudahan. Caranya cukup menggunakan taksi blue bird dengan melakukan pemesanan melalui aplikasi my Blue Bird, ketik tujuan kamu ke New Furama dan tunjukkan history perjalanan menuju kesana. Dengan cara ini, kita akan mendapat potongan harga sebesar 15 persen. Hal itu disampaikan pak Amir Muslim selaku pimpinan Blue Bird Taksi Lombok sebelum makan malam.

Manajemen Lombok Taksi dan Furama Resto

Penandatanganan kontrak kerjasama

Beberapa jenak setelah pesanan datang, saya lansung mencicipinya. Mantaaaapppp! Ternyata rasanya sungguh nikmat. Saya memberinya point sembilan dari skala sepuluh point. Saya menyantap udang bumbu, kerang, serta ikan bakar. Saat itu saya paham mengapa orang-orang gemar menjajal kuliner di tempat itu. Faktor rasa selau menjadi magnet utama yang membuat orang-orang berdatangan.

Selama duduk, saya menemukan beberapa hal yang menjadi kekuatan resto ini. Pertama, suasananya yang akrab serta dialog-dialog antara Made Sudiana dan pengunjung. Ia tak canggung-canggung menyapa banyak orang. Bahkan, ia dengan senang hati membagikan kartu nama demi menjaga arus komunikasi dengan pengunjung.

Kuliner ikan bakar

Kuliner udang

Kuliner kerang

Kedua, kuliner laut yang disajikan masih sangat segar. Di banyak negara, banyak restoran besar yang rela mendatangkan bahan makanan dari pelosok daerah demi menopang rasa dan kualitas menu andalan. Hal ini sangat wajar mengingat persaingan dunia usaha kuliner sangat kompetitif.

Ketiga, letak New Furama yang berada di tepi laut. Saat makan di resto ini, angin sepoi-sepoi terasa di wajah yang kemudian membawa suasana sejuk. Makanya, saat menyantap menu ini, saya merasakan suasana hati yang adem, tentram, serta sesaat membuat saya lupa dengan semua masalah.

Nah, pernahkah anda memakan sesuatu yang sangat enak sampai-sampai melupakan semua masalah? Hmm.... Saya pernah. Saya melupakan semua utang saat makan seafood di New Furama Resto.

Mataram, 27 Sepetember 2017

Monday, September 25, 2017

Seharian Mengamati TGB di Lombok Elephant Park

TGB foto bareng simpanse di Lombok Elephant Park

Meskipun bukan simpatisan Muhammad Zainul Majdi, saya selalu saja menyukai pertemuan dengan beliau. Di taman wisata satwa Lombok Elephant Park kemarin, saya bersua Gubernur muda itu bersama keluarganya. Ditemani sang istri dan anak, ia datang melepaskan penat di akhir pekan.

*** 

Lelaki itu hendak berlibur di sela-sela kesibukannya sebagai pejabat publik. Ditemani keluarga dan beberapa staf pribadi, ia tetap tampil sederhana layaknya wisatawan. Beberapa saat setelah tiba di lokasi, ia segera mengajak istri dan anaknya berkeliling untuk melihat koleksi satwa di Lombok Elephant Park.

Lelaki itu adalah Muhammad Zainul Majdi yang kerap disapa TGB. Ia adalah Gubernur dua periode Nusa Tenggara Barat. TGB adalah sosok pemimpin cerdas, sekaligus guru bagi banyak orang. Ia merupakan seorang tuan guru muda yang setiap ceramahanya selalu dinantikan.

Di Lombok Elephant Park, ia mengisi waktu senggang bersama keluarga. Tempat itu membuatnya tertarik sebab memuat satu konten wisata yang berbeda dari biasanya. Tempat itu merupakan satu kawasan konservasi bertajuk kebun binatang dengan beragam koleksi satwa seperti gajah, beruang madu, kudanil, buaya, simpanse, iguana, bekantan, dan lain-lain.

TGB dan anaknya saat menaiki gajah

TGB bersama istri dan anak

TGB bersama keluarga

TGB antusias mengunjungi satwa satu persatu. Dalam banyak kesempatan, ia menyempatkan diri untuk sekedar mengabadikan moment dalam bidikan kamera. Ia sangat senang sebab tempat itu membuat setiap pengunjung bisa leluasa berinteraksi dengan berbagai satwa yang didatangkan dari banyak daerah di nusantara.

“Ini destinasi wisata yang bagus karena sesuai dengan konsep pengembangan pariwisata yang bisa menjaga kualitas lingkungan. Tidak cukup hanya dengan buku teori, tapi di sini bisa melihat langsung dan berinteraksi. Bisa melihat dan menyentuh itu bagian dari membangun pemahaman dan kecintaan kepada alam.” Katanya.

Bersetuju dengan TGB. Selain menjadi ruang rekreasi, kebun binatang pertama di Lombok ini juga bisa dijadikan sarana edukasi bagi generasi muda. Tempat ini serupa laboratorium satwa yang memungkinkan setiap pengunjung untuk mengamati, mengenali, serta belajar mencintai alam. Pihak pengelola hanya perlu mempermudah akses agar tempat seperti ini selalu ramai dikunjungi terutama oleh para pelajar.

Selain TGB, dalam kunjungan kemirin turut hadir pula Najmul Akhyar, Bupati Lombok Utara. Pada kesempatan yang sama, saya juga sempat berbincang ringan dengan beliau terkait pariwisata. Ia mengungkap bahwa pemerintah daerah sangat konsisten dalam mengembangkan sektor pariwisata. Yang terpenting adalah pelaku wisata juga harus komitmen dalam memberdayakan masyarakat lokal.

Sejalan dengan itu, Ketut Suadika selaku owner Lombok Elephant Park juga menyambut baik hajat pemerintah. Ia menuturkan, sejauh ini pihaknya tengah gencar melakukan promosi agar keberadaan tempat itu semakin cepat menjangkau telinga wisatawan.

Bupati Lombok Utara memegangi ular bersama istri

Foto bersama owner Lombok Elephant Park

Foto bersama TGB dan Bupati 

Saya mengamini apa yang dilakukan Ketut Suadika. Sepekan silam, saya juga datang ke tempat itu sebagai blogger yang meliput kerjasama antara Lombok Elephant Park dengan Blue Bird Taksi Group. Melalui kerjasama itu, para wisatawan yang hendak mengunjungi kawasan wisata satwa Lombok Elephat Park bisa mendapatkan diskon dan kemudahan.

Setiap pengunjung bisa menggunakan jasa transportasi Blue Bird Taksi dengan cara memesannya melalui aplikasi resmi di Play Store, lalu menunjukkan history trip pada menejemen Lombok Elephant Park. Dengan cara itu, mereka akan mendapat potongan harga tiket masuk ke area wisata sebesar 15 persen.

*** 

Sharian menyaksikan kesenangan keluarga TGB di tempat ini, sempat membuat saya iri. Kelak, saya juga ingin mengajak keluarga demi menikmati sensasi menaiki gajah, foto bersama kudanil, memberi makan burung nuri, serta bermain bersama Valent, salah satu simpanse lucu di Lombok Elephant Park.

Ah, semoga!

Mataram, 25 September 2017

Saturday, September 16, 2017

Sensasi Wisata Satwa di Lombok Elephant Park Bersama Blue Bird Group


Lombok tak hanya terkenal dengan sederet pantai menawan yang pasirnya sehalus tepung. Tapi pulau ini juga memiliki segudang objek wisata memukau yang susah digambarkan dalam kata. Sekali menginjakkan kaki di Lombok, seakan tak ada keinginan untuk kembali pulang.

Sebagai mahasiswa Sumbawa yang tinggal di Mataram, saya cukup beruntung sebab jarak berbagai tempat wisata di Lombok hanya sepenanak nasi. Sialnya, saya justru jarang berkeliling, sebab terkendala waktu dan uang saku. Saat sekali mendapat kesempatan, saya tak akan menyia-nyiakannya.

***

Dua hari berturut-turut saya berkesempatan meliput agenda Blue Bird Taksi Lombok. Pada momentum kali ini, mereka hendak melakukan kerjasama dengan Lombok Elephant Park, satu tempat wisata konservasi bertajuk kebun binatang yang baru saja aktif beroperasi dalam beberapa bulan terakhir.

Kesan saya, tempat ini menyajikan satu wahana rekreasi yang menarik sebab memungkinkan para pengunjung untuk berinteraksi lansung dengan berbagai satwa langka yang dilindungi. Sebagai kawasan konservasi, Lombok Elephant Park tentu sangat pantas menjadi tetirah untuk melepas penat.

Simpanse

Kawanan burung

Beruang madu

Buaya air asin

Dalam kunjungan kemarin, kami disambut hangat oleh Ketut Suadika, presiden direktur Lombok Elephant Park. Beliau adalah penggemar satwa yang humoris. Sebelum menandatangani kontrak kerjasama, ia mempersilahkan kami untuk menjajal kawasan wisata itu terlebih dahulu. Tak mau buang-buang waktu, ditemani beberapa petugas, kamipun segera berkeliling.

Tempat pertama yang saya singgahi adalah kandang burung nuri. Kandang itu terbuat dari besi dengan tinggi sekitar 3 tombak. Di situ ada beberapa ekor burung nuri dan jalak bali yang sungguh cantik. Saya sempat memberi mereka makan dari buah pisang yang telah dipotong kecil-kecil.

Selanjutnya saya mengunjungi kolam buaya. Di sudut lain, rombongan tengah asik berfoto dengan ular berukuran besar yang sudah jinak. Saya tak ikut berfoto sebab tak berani memegangi hewan bersisik cokelat itu. Saya memilih mengamati buaya. Kata petugas, buaya itu adalah jenis buaya air asin. Ia dibawa dari gili air setelah sebelumnya petugas keamanan laut menggagalkan penyelundupannya ke luar negeri.

Setelah itu, saya kembali menyusuri jalan setapak yang kedua sisinya dipagari sebagai pembatas. Di sepanjang jalan, saya menyaksikan banyak sekali koleksi satwa di tempat ini. Layaknya kebun binatang pada umumnya, Lombok Elephant Park juga mengoleksi beberapa jenis satwa seperti kambing hutan, iguana Afrika, bekantan Kalimantan, rusa, simpanse, landak, beruang madu, kudanil, serta aneka macam burung.

Memberi makan burung nuri

Kudanil

Gajah

Saya tak henti berjalan. Di satu bagian, saya melihat beberapa ekor gajah. Para pengunjung tentu bisa menaiki gajah-gajah di sini dengan biaya tiket yang tergolong murah. Seorang wanita memberitahu saya bahwa saat ini, koleksi gajah di Lombok Elephant Park berjumlah 4 ekor. Nantinya, ada tamabahan 7 ekor yang akan didatangkan. Wanita itu adalah dokter hewan yang bertugas mengecek secara rutin kondisi satwa di tempat ini.

Tak hanya itu, ia juga bercerita bahwa Lombok Elephant Park tengah menyediakan fasilitas mandi lumpur. Fasilitas itu ditujukan agar setiap pengunjung bisa leluasa menikmati sensasi mandi lumpur dengan hewan terbesar di dunia. Melihat gajah-gajah di tempat ini, saya teringat sosok Mammoth dalam film Ice Age yang ukuran tubuhnya sungguh menakjubkan.

Saya mengagumi konsep kebun binatang pertama di Lombok ini. Selain menjadi ruang rekreasi, Lombok Elephant Park juga bisa dijadikan sebagai sarana edukasi bagi setiap pengunjung. Tempat ini serupa laboratorium hewan yang memungkinkan setiap pengunjung untuk mengamati, mengenali, serta merasakan denyut nadi berbagai satwa dari belahan bumi.

Sebagai orang desa, ada banyak hal menarik yang saya rasakan. Tempat seperti ini adalah wahana yang tak bisa ditemukan di kampung halaman. Saya sangat bersyukur sebab memiliki kesempatan untuk berkunjung.

Setelah puas mengabadikan gambar bersama gajah, saya melangkah ke aula utama. Tempat itu dibangun persis di tengah taman wisata Lombok Elephant Park yang berbentuk lingkaran. Dari tempat itu, kita bisa melihat pemandangan sekeliling yang dipenuhi satwa sambil menikmati segelas kopi, teh, ataupun banyak menu lain yang tersedia.

Tak lama kemudian, penandatangan kontrak kerjasamapun dilakukan. Saya tak boleh alpa pada moment ini, sebab saya datang sebagai blogger yang ditugaskan untuk mendokumentasikan kegiatan, membuat satu informasi, lalu menyebarkannya di ranah maya.

Ketua Suadika bersama isrtinya

Penandatanganan kontrak kerjasama

Foto bersama

Seperti biasa, sambutan singkat kedua belah pihak ikut mengiringi proses kerjasama itu. Menggandeng Lombok Elephant Park, Blue Bird Taksi berharap bisa menyediakan pelayanan maksimal bagi pelanggan. Dengan adanya proses kerjasama itu, para wisatawan yang hendak mengunjungi Lombok Elephat Park bisa mendapatkan diskon dan kemudahan.

Setiap pengunjung bisa menggunakan jasa transportasi Blue Bird Taksi dengan cara memesannya melalui aplikasi resmi di Play Store, lalu menunjukkan history trip pada menejemen Lombok Elephant Park. Dengan cara itu, mereka bisa mendapatkan potongan harga tiket masuk ke area wisata sebesar 15 persen.

Hal serupa juga dilakukan Blue Bird Taksi dengan beberapa unit usaha lain di Lombok. Mereka menggaet restoran, pusat oleh-oleh, hingga spot wisata demi menunjang pelayanan serta kepuasan konsumen. Tak heran, jika perusahaan yang telah berdiri sejak 1972 itu masih bertahan hingga sekarang. Mereka selalu berusaha berafiliasi dengan selera pasar, melakukan berbagai langkah inovatif di tengah iklim persaingan dunia usaha modern yang serba kompetitif.

***

Sebenarnya, saya tak ingin cepat-cepat beranjak dari Lombok Elephant Park. Hanya saja, waktu memang tak selalu mengijinkan. Yang saya rasakan, tempat ini menyimpan sensasi wisata yang amat berbeda. Di tengah pesatnya perkembangan industri pariwisata Lombok, tempat ini hadir sebagai satu kawasan konservasi satwa yang ramah pengunjung.

Di tempat ini, kita leluasa menikmati panorama alam yang asri, udara sejuk khas perbukitan, serta riak-riak satwa yang bersenandung lirih di dalamnya. Ah, saya ingin segera kembali.

Bersambung...

Mataram, 16 September 2017

Friday, September 15, 2017

Blue Bird Taksi Lombok, Sasaku, dan Bagaimana Cara Memanjakan Konsumen


Kerjasama Blue Bird Taksi Dengan Sasaku

Sebuah pengalaman berharga bisa menjadi bagian dari proses kerjasama Blue Bird Taksi Lombok dengan Sasaku, outlet oleh-oleh generasi baru yang mulai beroperasi dalam beberapa tahun terakhir.

Sasaku adalah toko oleh-oleh khas Lombok. Mereka menjual beraneka ragam barang dan sovenir seperti kain pantai, batik, tas, dompet etnik, kerajinan tangan, ukiran, cukli, topeng, sandal berlukis, makanan ringan dan lain-lain yang semuanya berlabel buatan Lombok.

Bukan sekali saya menghadiri kegiatan yang diinisiasi oleh Blue Bird Taksi. Beberapa waktu lalu, saya juga ikut serta dalam acara launching aplikasi mereka di salah satu hotel di Mataram. Kini, perusahaan transportasi itu tengah berusaha menggaet beberapa unit usaha lain demi memenuhi kebutuhan konsumen dan selera pasar.

Sebagai perusahaan yang telah berdiri semenjak 1972, mereka tentu sangat memahami persaingan usaha. Dengan menyeruaknya berbagai transportasi online di Lombok, Blue Bird Taksi dituntut untuk lebih kreatif agar tetap bertahan. Mereka harus bergerak cepat, melakukan berbagai inovasi, lalu bersiap menyambut iklim persaingan baru yang lebih kompetitif.

***

Bapak itu mulai mengambil alih pembicaraan. Dengan nada optimis, ia kemudian memaparkan capaian satu perusahaan transportasi di Lombok. “Driver kami bisa mengangkut penumpang rata-rata sebanyak 15 orang dalam sehari. Jumlah itu bisa dikalikan dengan 300 unit taksi yang beroperasi. Nah maka dari itu, semoga kerjasama ini bisa mendatangkan manfaat bagi kita semua, khususnya bagi para konsumen.” Demikian katanya.

Beliau adalah Amir Muslimin, pimpinan Blue Bird Taksi Lombok. Ia mengundang para pegiat media dan blogger demi mendokumentasikan proses kerjasama mereka dengan Sasaku untuk disebarluaskan. Ia berharap agar informasi kerjasama itu segera menjadi viral, lalu mengundang banyak konsumen.

Blue Bird Taksi Lombok

Selain Sasaku, sebelumnya, Blue Bird Taksi juga menjalin kerjasama dengan beberapa unit usaha lain yang berlokasi di Epicentrum Mall Mataram seperti Burgeng King, My Kopi-O, Omah Cobek Resto dan lain-lain. Tak tanggung-tanggung, mereka bahkan menyediakan diskon bagi setiap pelanggan yang menggunakan jasa transportasi Blue Bird Taksi dengan cara memesannya melalui aplikasi yang telah tersedia di Play Store.

Begitu pula dengan para wisatawan atau siapapun yang hendak membeli oleh-oleh khas Lombok di Sasaku. Mereka juga bisa mendapatkan diskon sebesar 10 persen dengan cara yang sama. Mereka bisa menggunakan jasa transportasi Blue Bird Taksi lalu menunjukkan history trip pada manajemen Sasaku dan segera menikmati kemudahan dalam berbelanja.

Menandatangani Nota Kesepahaman

Saya menyukai pola kerjasama yang digagas oleh Blue Bird Taksi. Mereka hendak berafiliasi dengan sistem pemasaran modern dimana pelayanan, kenyamanan, serta kreativitas merebut hati konsumen adalah jalan utama yang harus dilalui agar tidak tergerus. Mereka juga mengedepankan komitmen dalam membangun pola kemitraan yang saling menguatkan.

Sebagai bukti, Blue Bird Taksi selalu membagikan brosur dan melakukan promosi kepada setiap penumpang atas nama mitra mereka. Untuk Sasaku sendiri, mereka bahkan mengklaim telah jauh-jauh hari melakukan promosi sebelum penandatanganan kontrak kerjasama dilakukan.

Di setiap kesempatan, saya selalu antusias saat diminta berpartisipasi dalam kegiatan Blue Bird. Saya belajar banyak hal. Di antaranya, konsumen hari ini adalah tipe konsumen yang selalu mencari informasi tetang satu produk sebelum membelinya. Mereka lebih mudah percaya pada saran dan rekomendasi dari orang lain, ketimbang bahasa para pengiklan.

Amir Muslimin, Pimpinan Blue Bird Taksi Lombok

Konsumen hari ini akan mencari informasi melalui berbagai media, sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu. Makanya, setiap perusahaan akan berusaha membuat semua konsumennya merasa nyaman, senang, serta puas dengan pelayanan, sebab suatu waktu konsumen itu bisa menjadi pemasar yang baik bagi produk mereka. Ketika sang konsumen tak puas, maka mereka bisa saja menyebarkan ketidakpuasan itu di ranah maya.

Saya teringat buku Wow Selling, karangan Hermawan Kertajaya yang mengungkap rahasia dibalik ilmu marketing. Saya membaca resensinya di blog sahabat beberapa waktu lalu. Di dalamnya terdapat cerita tentang Joe Girard, seles mobil paling tangguh di Amerika Serikat. Bayangkan saja, lelaki itu bisa menjual hingga 180 mobil dalam sebulan.

Saat ditanya rahasianya, Girard hanya menjawab bahwa dirinya selalu berusaha mengenali siapapun konsmennya, menghapal nama mereka, lalu secara rutin merawat pertemanan. Dengan cara itu, hingga saat ini belum ada satupun yang dapat melampaui pencapaiannya sebagai seles.

Yang saya rasakan, prinsip-prinsip seperti inilah yang tengah dikembangkan oleh Blue Bird Taksi. Mereka hendak menyapa konsumen dengan cara berbeda. Di luar soal itu, boleh jadi mereka tengah mengikuti apa yang dirumuskan dalam Wow Selling yakni:

Satukan kata dengan perbuatan
Tambahkan kejutan bagi pelanggan
Ajari pelanggan untuk tumbuh
Rawat pertemanan

Setelah Burger King, Omah Cobek Resto, My Kopi-O, Timezone, Qua-li, Rumah Makan Ikan Goreng Cianjur, Excelso, dan Sasaku, lalu pihak mana lagi yang akan menjalin kerjasama dengan Blue Bird Taksi Lombok?

Bersambung...


Mataram, 15 September 2017

Sunday, July 30, 2017

Berakhir Pekan di Tanjung Aan


Pantai Tanjung Aan Lombok

Seorang sahabat mengajak saya berkunjung ke tempat wisata pantai Tanjung Aan di Lombok Tengah. Ia adalah seorang dosen di salah satu lembaga pendidikan di Mataram. Ia hendak mengisi perkuliahan English for Tourism, lalu mengajak sejumlah mahasiswa berkunjung ke tempat wisata demi menemukan native speaker.

Saya yang kebetulan lama tak menjajal tempat wisata di Lombok, segera menyetujui ajakannya. Sahabat itu seakan mengerti bahwa akhir-akhir ini, saya juga tengah giat belajar bahasa Inggris. Sepertinya ia paham bahwa saya sedang memerlukan teman untuk berdialog.

***

Ibu penjual kain itu segera berlari mendekati rombongan, sesaat setelah sampai di pantai Tanjung Aan. “Handmade pak, handmade bu” katanya sayup-sayup. Ia antusias menyapa pengunjung sembari menawarkan dagangannya. Ibu itu adalah satu dari sekian banyak penjual kain tenun di Tanjung Aan. Saya menduga, usianya sekitar 50 tahun. Kepada saya ia bertutur bahwa telah menjual kain selama tak kurang dari 7 tahun. “Untungnya tak seberapa, hanya cukup untuk makan sehari-hari. Itupun kalau ada yang beli”. Ungkapnya.

Pantai Tanjung Aan Lombok

Pantai Tanjung Aan Lombok

Bukan sekali saya berbicang lama dengan para pedagang di tempat wisata. Beberapa waktu lalu, saya juga berjumpa dengan gadis kecil di pantai Kuta yang rela menjual gelang demi membayar uang sekolah. Gadis itu membuat saya iri sebab dalam usia belia, ia telah mahir berbahasa Inggris.

Bagi saya, berkunjung ke lokasi wisata bukan sekadar melihat obyek, memotret dan pulang. Saya menyenangi pertempaun-pertemuan dengan manusia-manusia di lokasi wisata, merasakan denyut jantung mereka yang hidup di pesisir, menikmati keceriaan warga setempat yang seringkali terheran-heran mengapa ada orang yang siap menghabiskan jutaan rupiah demi mendatangi kampung halamannya.

Sekian banyak pantai menawan di Lombok memang selalu dikerubungi para penjual kain. Dengan setia mereka menjajaki dagangan kepada siapa saja yang datang berkunjung. Di Tanjung Aan, mereka serupa tuan rumah yang antusias menyambut tamu dengan aneka souvenir khas Lombok.

Pantai Tanjung Aan Lombok

Pantai Tanjung Aan Lombok

Pantai Tanjung Aan merupakan satu diantara sekian banyak hamparan pantai indah yang membentang di Lombok. Tak sampai satu jam dari BIL (Bandara International Lombok) untuk sampai ke tempat ini. Dari sini, kita bisa leluasa menikmati sederet objek wisata lain yang hanya berjarak sepelemparan batu seperti Bukit Merese, Pantai Seger, Mawun, Mawi, Kuta, Selong Belanak dan masih banyak lagi.

Berbeda dengan Seger, pantai yang juga pernah dijadikan lokasi suting film ini menyajikan pemandangan indah dengan suasana ombak yang teduh. Tak ada satupun peselancar yang datang ke tempat ini. Yang nampak hanyalah ratusan turis asing yang berjemur di sepanjang garis pantai. Sambil berkeliling, saya menikmati sekelebat pemandangan di depan mata.

Saya menyadari bahwa Lombok memang menyimpan pesona hebat. Soal keindahan, pantai-pantai di sini memiliki hamparan pasir sehalus tepung. Di Tanjung Aan, saya bahkan bertemu dengan bule yang menyebut Lombok layaknya kepingan surga.

Di Tanjung Aan, saya menikmati akhir pekan yang menyenangkan. Matahari sedang terik, tapi saya masih bisa menyaksikan pantai luas yang begitu banyak peminat. Di pantai ini, saya merenungi banyak hal. Saya merenungi keindahan Lombok, ikhtiar pemerintah demi menjadikan Lombok sebagai kiblat wisata dunia, serta interaksi yang menyenangkan dengan beberapa warga.

Mataram, 31 Juli 2017

Wednesday, June 28, 2017

Mengais Sejarah di Makam Keramat


Makam Kerongkeng

Berkunjung ke makam mereka yang dikeramatkan selalu memberikan sensasi tersendiri. Saya merasakan ada energi kuat yang pancarannya masih terasa, menggerakkan kaki untuk berziarah, serta menjaga hati agar tetap hangat, meskipun nyala api yang menyatukan kita telah menjadi kisah yang dituturkan dari mulut ke mulut.

Kemarin, saya berkunjung ke makam Haji Abdul Karim yang terletak di dusun Karongkeng, Tarano, Kabupaten Sumbawa. Oleh warga setempat, makam ini sering disebut sebagai makam keramat Haji Kari. Letaknya berada di atas area perbukitan. Pemerintah telah menetapkan makam ini sebagai cagar budaya islam yang teregistrasi secara nasional.

Dari beberapa sumber, saya telah membaca sejarah tentang makam Haji Kari. Dikatakan beliau adalah seorang pengamal islam yang disegani. Sepulang dari tanah suci, Haji Kari kemudian menyebarkan agama islam di Sumbawa pada awal abad ke 16 Masehi. Jauh di bagian timur Sumbawa, beliau membumikan islam sebagai jalan hidup orang banyak.

Apapun itu, makam Haji Kari adalah sekeping sejarah dan warisan akulturasi budaya yang sangat bernilai. Melalui makam ini, kita menyaksikan satu fase dimana islam menjadi sukma yang harumnya terus semerbak hingga sekarang. Sayang, makam ini sepi pengunjung. Tak banyak generasi muda yang mengetahui keberadaannya. Tak banyak orang yang datang berziarah lalu mendoakan sang penyiar agama. Bahkan, makam ini tidak dijadikan objek wisata sejarah oleh pemerintah setempat.

Meski demikian, saya tetap bersukur sebab makam Haji Kari telah dipagari sehingga membuatnya sedikit terawat dan menjaganya dari banyak manusia aneh yang senang menjadikan makam keramat sebagai tempat meminta-minta.

Makam Kerongkeng

Persis disamping makam Haji Kari, juga terdapat makam lain yang juga dilindungi. Makam itu dibangun dengan nisan dari batu alam, bertuliskan huruf arab melayu dan ukiran ornament bunga dengan panjang dua kaki. Seorang ahli Filologi Indonesia yang mengajar di Universitas Leiden Belanda, Doktor Suryadi, telah menerjemahkan tulisan pada makam tersebut.

Terjemahan nisan sebagai berikut :

Bermula inilah ingatan dari Paduka Muhammad Idris Syah ibni almarhum Muhammad Aly pada tahun sanat 1271 kepada hari bulan Dzulhijjah pada hari Jumat waktu jam 2 ke 8 siang Allahummaghfirlahu warhamhu wa’fuanhu.

Tak begitu banyak sumber mengenai siapa Muhammad Idris Syah. Apakah tokoh ini juga ikut membantu Haji Kari dalam menyebarkan islam? Entahlah. Yang jelas, terjemahan itu adalah penemuan yang sangat berharga, serta menjadi pintu masuk bagi sejarawan demi melengkapi serpihan sejarah islam di bumi Sumbawa.

Sumbawa, 28 Juni 2017

Friday, June 2, 2017

Di Lombok, Banyak Aktivitas Menarik Saat Ramadhan


Aktivitas Panahan di Islamic Center Lombok

Lima tahun sudah saya menjalani puasa di bumi seribu masjid, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Bagi sebagian orang, menjalani puasa di perantauan memang tak selalu menggembirakan. Namun, saya selalu bersyukur bisa kuliah dan menghabiskan banyak waktu di sini. Pulau Serambi Madinah selalu membuat saya betah. Tak terkecuali ketika saya harus menjalani hari-hari di bulan suci.

Saya tinggal di satu kompleks yang banyak dihuni para mahasiswa dari Sumbawa. Namun, saya tak selalu bisa berkomunikasi intens dengan mereka. Saya justru banyak berinteraksi dengan sahabat dari berbagai komunitas sosial di Lombok. Kami membuat group WA, lalu bertukar banyak informasi di sana.

Suatu ketika, seorang teman mengajak saya mengunjungi Masjid Hubbul Wathan, Islamic Center. Kami berniat menghabiskan waktu menjelang berbuka puasa di sana. Seperti yang telah saya jelaskan pada tulisan sebelumnya, Islamic Center merupakan salah satu masjid termegah di Lombok. Berdiri di atas lahan seluas 7,5 hektare, masjid ini mengadopsi gaya arsitektur bangunan islam Timur Tengah yang maju dan unggul. Tak heran jika Islamic Center menjadi kebanggan masyarakat Lombok.

Islamic Center merupakan simbol peradaban islam di Lombok. Selain menjadi tempat kajian dan pendalaman ilmu-ilmu agama, masjid ini juga menjadi pusat kebudayaan, wisata religi, dan pasar seni. Sehingga, momentum ramadhan selalu menjadikan masjid yang berlokasi tepat di jantung Kota Mataram itu, dibanjiri banyak orang.

Sore itu, saya menyaksikan begitu banyak aktivitas islami yang berlangsung di Islamic Center. Di dekat pintu masuk, saya melihat bangunan kecil dari kayu. Bagian atas bangunan itu bertuliskan Media Center. Tempat ini dihiasi dengan pernak pernik dan sejumlah photo booth.

Pada dinding bangunannya, dipajang sejumlah foto dari berbagai objek wisata yang ada di Lombok Sumbawa. Persis di depan gambar-gambar itu, berdiri tegak sebuah replika piala Lombok yang diboyong dari ajang World Halal Tourism Award. Saya menyukai desainnya yang sederhana dan kreatif. Setiap pengunjung juga bebas berfoto di sana.

Tempat ini selalu ramai di malam hari. Banyak jamaah masjid yang datang, lalu berfoto bersama keluarga dan pasangannya. Mereka juga diperkenankan mengambil buku-buku pedoman wisata yang disediakan secara gratis.

Media Center GenPI Lombok Sumbawa

Media Center GenPI Lombok Sumbawa

Belakangan saya ketahui, bahwa tempat itu sengaja dibuat oleh Generasi Pesona Indonesia, GenPI Lombok Sumbawa, sebagai sarana kampanye dan wadah promosi wisata. GenPI merupakan volunteer pariwisata yang dibentuk oleh Kementrian Pariwisata untuk mempromosikan kegiatan pariwisata Indonesia. Komunitas ini berfokus pada promosi wisata melalui teknologi digital dengan mengoptimalkan penggunaan blog dan media sosial.

GenPI telah tersebar di hampir seluruh provinsi di Indonesia termasuk NTB. Di Islamic Center Lombok, mereka membuka stand bagi para pengunjung, membagikan buku gratis, bertukar informasi seputar pariwisata, hingga menggelar sejumlah event menarik selama ramadhan.

Di sudut lain masjid, saya melihat kerumunan pengunjung yang tengah latihan memanah. Saya tak menyangka jika di masjid ini juga dibangun sarana olahraga panahan bagi para pendatang. Banyak warga yang antusias bahkan rela mengantre. Mereka hendak mencoba melontarkan anak panah dari busurnya.

Menurut beberapa literatur islam, panahan sendiri memang merupakan salah satu olahraga yang digemari Rasulullah. Kini, olahraga itu secara rutin diadakan di Islamic Center selama ramadhan. Sungguh aktivitas yang jarang ditemukan di tempat peribadatan.

Tak jauh dari situ, berbagai aktivitas bazaar juga digelar. Mereka yang tertarik dengan ragam kuliner, buku, dan pakaian bisa leluasa menuntaskan dahaga di tempat ini. Di sana, saya menyaksikan ibu-ibu tengah melirik-lirik pakaian, sesekali dia menanyakan harga kepada si penjual. Ada bapak-bapak yang sibuk memilih koleksi peci, ada pula yang membeli takjil untuk berbuka puasa.

Aktivitas Panahan di Area Masjid

Aktivitas Panahan di Area Masjid

Yang tak kalah menarik adalah, pameran replika benda-benda peninggalan Rasulullah dan Sahabat di lantai dasar masjid. Saya melihat beberapa atribut dan perlengkapan perang seperti busur panah, pedang, tongkat, dan sandal yang pernah digunakan Rasul dan Sahabat beribu-beribu tahun lalu.

Para pengunjung tak sekedar bisa melihat, tapi juga disuguhkan dengan penjabaran seputar informasi serta sejarah dari masing-masing benda yang ada. Memang tak terlalu detail, tapi setidaknya, saya mendapat referensi berharga tentang sejarah islam. Replika ini mengantarkan saya menuju lorong waktu ke masa silam.

Saya jadi membayangkan betapa semua benda ini begitu berjasa bagi umat muslim. Saya membayangkan betapa di tangan Khalid bin Walid, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan pedang itu telah banyak menembus jantung para pemimpin bengis dan meruntuhkan berbagai imperium Romawi. Saya membatin betapa panah itu selalu melekat di bahu Rasulullah tatkala di medan pertempuran.

Menjadi pengalaman yang sangat berharga, ketika semua benda yang digunakan oleh para punggawa islam, serta mereka yang menciptakan peradaban dunia, tersaji di depan mata. Meski sebatas replika, saya tetap bersyukur bisa melihatnya.

Sepintas Sejarah Islam

Replika Pedang Rasulullah

Replika Pedang Umar ibn Khattab

Replika Pedang Usman ibn Affan

Replika Sandal Rasulullah

Replika Panah Rasulullah

Nampaknya, tahun ini pemerintah NTB sudah mempersiapkan segalanya. Mereka sangat serius untuk menjadikan NTB sebagai kiblat pariwisata dunia, khususnya wisata berbasis syariah. Boleh jadi, ramadhan adalah momentun yang tepat untuk menggembar gemborkan semua aset daerah. Terlebih saat semua aset itu disajikan dalam kemasan islami.

Mereka menjadikan Islamic Center sebagai wahana bermain, pusat perbelanjaan, taman edukasi, hingga museum sejarah yang memancing banyak orang untuk berdatangan. Pemerintah juga melibatkan generasi muda dalam agenda besar ini. Saya terkesan, sebab pemerintah kita bisa membaca trend. Mereka paham bahwa pariwisata hanya akan ‘berbunyi’ kalau terus-menerus dikicaukan netizen dan disebarkan secara masif.

Saat para generasi muda bersatu, mereka serupa air bah yang bisa menjebol satu tembok kukuh dalam penyajian informasi melalui berbagai kanal blog dan media sosial. Merekrut mereka dalam satu barisan adalah langkah strategis untuk menguasai masa depan.

Saat ini, banyak daerah di Indonesia yang tengah berbenah menata sektor kepariwisataan. Saya masih ingat betapa geliat pemerintah Sulawesi Tenggara dalam mengembangkan pulau Bokori. Tak kurang dari miliyaran APBD Provinsi telah mereka kucurkan untuk membenah pulau tersebut. Provinsi itu hendak mengejar mimpi sebagai pemilik banyak destinasi wisata laut kelas dunia. Mereka kemudian menata Bokori sebagai salah satu objek wisata.

Lombok sendiri patut berbangga karena memiliki sederet pulau indah yang layak untuk dikunjungi seperti Gili Sudak, Gili Meno, Gili Nanggu, Gili Air, dan masih banyak lagi. Semuanya serupa kepingan surga yang dilepas ke bumi oleh Yang Maha Indah, dalam satu skenario proses alam. Pulau-pulau ini tak perlu lagi ditata atau di-branding ulang seperti Bokori, pemerintah hanya perlu menjaga kelestariannya, lalu secara terus-menerus mempromosikan pesona pulau seribu masjid kepada dunia.

Indahnya Ramadhan di Bumi Seribu Masjid

Sore itu, hampir dua jam saya menelusuri Islamic Center. Saya beruntung sebab tempat ini hanya berjarak sepeminuman teh dari tempat tinggal saya di Mataram. Kesan saya, masjid ini sangat layak untuk dikunjungi. Tak sekedar megah, masjid yang menjadi tempat diselenggarakannya Musabaqah Tilawatil Qur'an tingkat nasional tahun lalu itu, nyatanya mampu menjadi rumah bagi segala segmen usia dalam satu atmosfer kegiatan positif di bulan suci.

Setidaknya, di sini saya melihat harapan tentang pesona bumi seribu masjid yang akan terus semerbak. Lombok akan menjadi aquarium dunia yang selalu membabar epos manis tentang keindahan, keislaman, serta kedinamisan sosial.

Saya membayangkan bahwa tak lama lagi, kita akan tampil menjadi yang terbaik. Selangkah lagi, kita akan berlari cepat mengungguli yang lain. Ah, semoga segera terwujud.

NB: Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog #RamadhanDiLombok 2017 yang diselenggarakan REPUBLIKA & Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat.

Mataram, 02 Juni 2017