Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Wednesday, September 6, 2017

Saat Tere Liye Memilih Berhenti Mencetak Buku

Tere Liye (sumber foto: idwriters.com)

Tak ada kabar yang paling mengejutkan minggu ini selain pemutusan hubungan kerjasama Tere Liye dengan Republika dan Gramedia. Salah satu penulis paling produktif di negeri ini akhirnya migrasi ke media digital. Ia memilih membagikan buku serta catatannya melalui halam pribadi facebook ketimbang mencetak ulang di toko buku.

Baru-baru ini, Tere Liye mengumumkan kabar menyedihkan di media sosial terkait karir kepenulisannya. Ia memutuskan untuk berhenti mencetak buku-bukunya. Buku-buku yang masih beredar di pasaran, dibiarkan habis secara alamiah. Hal ini dilakukan demi menanggapi perlakuan pajak pemerintah yang tidak adil terhadap profesi penulis. Walhasil, secara otomatis buku-buku karya Tere Liye tak bisa lagi dijumpai di toko buku. Kalaupun ada, maka dapat dipastikan itu adalah bajakan.

Keputusan Tere Liye untuk tak lagi mencetak buku-bukunya bukan berarti bahwa dia berhenti menulis. Seorang penulis akan tetap menulis meski di atas daun sekalipun katanya. Namun, saya tetap merasa sedih. Rasanya ada selapis kenyataan pahit yang tak mudah diterima. Memang, penulis asal Sumatra itu masih tetap berkiprah dengan memproduksi berbagai catatan melalui media sosial. Tapi, berhentinya seorang penulis menerbitkan buku akan menghilangkan satu mata rantai keilmuan.

Bagaimanapun juga, buku terbaik adalah buku yang diterbitkan. Sebaik apapun sebuah buku, jika tak pernah terbit, maka pastilah buku itu akan tenggelam dalam lipatan sejarah. Seiring waktu, buku digital memang banyak bertaburan, lalu secara perlahan hendak mengubah lanskap pengetahuan di era modern. Tapi tetap saja tak bisa menggerus keberadaan buku cetak yang sedari dulu telah menjadi tonggak peradaban literasi. Saya pun lebih meresapi kenikmatan saat membaca buku cetak dibanding buku digital.

Biarpun Tere Liye mengklaim diri tetap eksis, sebab tetap akan memproduksi buku dan berbagai catatan di ranah digital, saya tetap merasa kehilangan. Ia adalah penulis dengan segudang karya. Saya mengagumi produktivitas serta kemampuannya menulis. Ia adalah tipe pengarang yang bergelut dengan riset dan data. Sehingga tak jarang, buku-bukunya laris di pasaran.

Tere Liye memang tak serupa Seno Gumira Adjidarma yang mampu menulis dalam berbagai genre. Tapi ia adalah pendatang baru yang berhasil menyajikan satu bacaan menarik yang menyasar kaum muda. Ia menulis novel berjudul “Tentang Kamu” dan melakukan riset hingga Pulau Bungin, Sumbawa. Ia menulis “Hafalan Shalat Delisa” serta “Moga Bunda Disayang Allah” yang lalu kisahnya diangkat ke layar kaca.

Tak bijak pula menyalahkan keputusan Tere Liye yang mengejutkan. Melalui akun pribadinya, Ia pun telah menulis curahan hati terkait sikapnya itu. Ia menilai, tarif pajak penghasilan atas royalti penulis sebesar 15% dianggap terlampau tinggi dan membebani. Padahal, para penulis pada umumnya hanya mendapat jatah royalti sebesar 10% dari hasil penjualan.

Kata penulis kondang itu, pungutan pajak yang dibebankan kepada penulis buku jauh lebih besar dibandingkan profesi dokter atau artis terkenal. Ia juga menyayangkan tidak adanya respon dari pemerintah terkait hal ini. Meskipun ia mengakui bahwa telah berkali-kali menyurati lembaga berwenang. Hal ini membuatnya terpaksa memilih untuk menghentikan pencetakan buku-bukunya.

Kutipan Curahan Hati Tere Liye di Halam Resmi Facebook

Entah kenapa, pemerintah kita tak selalu serius memandang masalah literasi sebagai sesuatu yang harus dibenahi. Pemerintah kita terlampau fokus pada hiruk pikuk politik hingga melupakan satu bagian yang teramat mendasar demi peradaban bangsa yang lebih baik. Pemerintah kita terlambat sadar bahwa geliat pembangunan hanyalah kesia-siaan semata tanpa geliat membangun tradisi literasi yang kokoh.

Buku itu ibarat sungai yang tak henti-hentinya mengalirkan ide, gagasan serta mata air inspirasi bagi banyak orang. Buku adalah lembar-lembar kearifan yang selalu menginspirasi dan mencerahkan generasi ke generasi. Setidaknya, penulis tak harus diberatkan oleh satu regulasi yang justru dapat menghalangi produktivitas mereka dalam melahirkan karya.

Berdasarkan studi Most Littered Nation In the World 2016 lalu, Indonesia bahkan masih bertengger di peringkat 60 dari 61 negara dalam literasi dunia. Sementara menurut data yang pernah dirilis oleh UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangatlah memprihatinkan, yakni hanya berkisar 0,001%. Artinya, dari 1000 orang Indonesia, cuma ada 1 orang yang rajin membaca.

Saya tak terlalu terkejut dengan kondisi itu. Di berbagai penjuru tanah air, perpustakaan yang semestinya menjadi oase keilmuan hanyalah digunakan sebagai tempat pajangan buku yang sepi peminat. Perpustakaan tak dijadikan sentra pertemuan banyak komunitas dan segmen usia. Sehingga, memungkinkan peradaban dan segala aktivitas yang dibangun selalu terkait dengan buku-buku dan pengetahuan.

Yah, mungkin inilah jalan panjang yang harus di lalui oleh bangsa kita. Zaman memang terus bergerak. Di saat era internet telah membuat banyak penerbit menjadi lebih agresif demi menemukan orang yang berbakat dalam menulis, Tere Liye justru memilih menghentikan pencetakan karyanya karena alasan pajak. Menarik bukan?

Mari bayangkan sejenak, bagaimana jika aksi yang dilakukan Tere Liye diikuti oleh banyak penulis papan atas di negeri ini? Bagaimana jika buku-buku bercetak tebal terpaksa di ubah ke buku digital? Sanggup kah kita memandangi layar smartphone ber jam-jam lamanya hanya demi menuntaskan sebuah buku?

Ah, semoga saja tidak.

Mataram, 06 September 2017

Saturday, September 2, 2017

Aung San Suu Kyi di Mata Tuan Guru Bajang

Ilustrasi (sumber foto: hariannusa.com)

Konflik berdarah di Myanmar seakan tak pernah berakhir. Ibarat api dalam sekam, setelah sempat senyap dalam beberapa waktu, kini publik internasional kembali diguncang oleh realitas getir yang menimpa muslim Rohingya di Rhakine. Bara permusuhan di salah satu wilayah termiskin di Myanmar itu kembali berkobar. Hanya dalam hitungan hari, ratusan orang tewas, dan ribuan lainnya mengungsi ke tempat aman.

Dibalik tragedi memilukan yang melanda militer Myanmar itu, nama Aung San Suu Kyi adalah yang paling banyak menjadi sorotan. Suu Kyi disebut-sebut tak lagi bertaring. Ia seakan tak bereaksi atas krisis kemanusiaan yang menimpa negerinya.

Tercatat sebanyak 13 peraih Nobel dan 10 tokoh dari berbagai profesi mengirim surat terbuka kepada Dewan Keamanan PBB untuk mengkritik Suu Kyi dalam menyelesaikan masalah etnis minoritas Rohingya serta mengingatkan tentang tragedi pembasmian etnis dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Demikian pula di Indonesia. Negera dengan penduduk muslim terbanyak di dunia ini tak mau ketinggalan. Sejumlah tokoh publik juga melayangkan kritik pedas terhadap pemimpin de facto Myanmar tersebut. Kekecewaan terhadap Suu Kyi pun secara masif dilontarkan lewat media.

***

Lelaki muda itu melaksanakan sholat ied Idul Adha dengan takzim. Ia duduk di deretan depan bersama puluhan tokoh agama lain. Ia juga mengikuti khotbah hingga usai. Beberapa saat kemudian, ia lalu dikerumuni banyak orang. Mereka hendak bersalaman dengan orang nomor satu di NTB. Ia adalah Muhammad Zainul Majdi yang kerap disapa Tuan Guru Bajang.

Kemarin, ia turut melaksanakan sholat eid di Masjid Hubbul Wathan, Islamic Center Mataram. Sesaat setelah merayakan momentum tahunan itu, TGB berbicara tentang tragedi kemanusiaan yang menimpa muslim Rohingya di Myanmar.

Ia mengecam tindakan pemerintah Myanmar atas pembantaian tersebut. Ia bahkan meminta nobel perdamaian yang pernah di terima Aung San Suu Kyi segera dicabut. Menurutnya, wanita yang pernah menjadi tahanan rumah itu tak pantas menerima nobel atas sikap diamnya terhadap pembantaian.

Gebernur dua periode itu nampaknya terlihat geram. Ia menyayangkan sikap komunitas internasional yang seolah menutup mata. Tak ada pernyataan tegas, apalagi sanksi bagi pemerintah Myanmar. “Kita semua di NTB meminta pada pemerintah pusat untuk bersikap lebih tegas lagi terhadap tragedi kemanusiaan. Tidak bisa dibiarkan pembantaian seperti itu.” Pangkasnya dalam satu media lokal.

Sepintas, TGB memang kerap bereaksi atas berbagai isu yang memiliki dimensi keagamaan. Beberapa waktu lalu, ia juga menjadi satu-satunya Gubernur yang terlibat dalam aksi bela islam di Jakarta. Saat itu, ribuan umat islam memadati ibu kota demi mendesak pemerintah agar segera menangkap salah seorang pejabat publik yang diduga menistakan agama.

Saya tak terlalu terkejut dengan pernyataan TGB yang serupa peluru. Ia adalah Gubernur dengan latar belakang keagamaan yang kuat. Ia adalah cucu dari seorang tokoh pendiri ormas islam terbesar di NTB yang sekarang dipimpinnya. Di usia yang relatif muda, ia telah meraih gelar doktor dari Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir lalu tercatat sebagai satu dari sekian banyak kepala daerah penghapal Al-quran. Bukan hanya seorang Gubernur, ia adalah ulama yang setiap kata-katanya dijadikan petuah oleh banyak orang.

Di hadapan masyarakat NTB, ia mengeluarkan satu seruan keras dan mengecam pembantaian terhadap muslim Rohingya. Krisis kemanusiaan yang terjadi di Myanmar telah memicu respon banyak pihak termasuk dirinya. Konflik itu lebih mirip genosida yang dilakukan Hitler puluhan tahun lalu ketimbang konfrontasi antar etnis.

Wajar saja jika publik bertanya-tanya. Tragedi kekejaman itu tidak terjadi di bawah pengawasan seorang diktator gila. Tapi di bawah pengawasan Aung San Suu Kyi, wanita yang menerima Hadiah Nobel Perdamaian atas perjuangannya memajukan demokrasi dan HAM di tengah penindasan junta militer.

Sebagai aktivis, ia serupa Malala Yousafzai yang pidatonya pernah menggetarkan rezim penebar teror. Ia sederet dengan Nelson Mandela yang meruntuhkan sistem apartheid, lalu menjadi presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan.

Suu Kyi bahkan pernah meraih pengharagaan dari Universitas Nasional Australia pada tahun 2013. Rektor universitas itu menyebutnya sebagai contoh keberanian dan tekad yang tenang dalam menghadapi penindasan serta seorang jagoan damai yang membuat dunia lebih baik dan lebih adil.

Saya tak hendak membahas konflik di Myanmar lebih jauh. Saya bukanlah seorang pengamat politik internasional yang berhadapan dengan detail-detail kajian dibalik serentetan peristiwa. Saya hanya mencoba mengulas kembali apa yang dalam beberapa hari ini begitu masif diberitakan media.

Di mata saya, apapun yang melatarbelakangi tragedi kekerasan di Myanmar jelas tak bisa dibenarkan. Setidaknya, PBB harus mengambil sikap tegas dengan cara menekan pemerintah Myanmar secara politik atau mengeluarkan satu regulasi yang memunggungi nasib muslim Rohingya. Jika tidak, entah berapa lagi korban yang akan berjatuhan.

Mataram, 02 September 2017

Sunday, August 27, 2017

Tan Malaka yang Selalu Abadi

Buku Madilog karya Tan Malaka

Beberapa waktu lalu saya jalan-jalan ke sebuah toko buku. Di satu rak, saya menyaksikan Madilog masuk dalam daftar 100 buku yang berpengaruh dan berkontribusi terhadap gagasan kebangsaan versi majalah Tempo.

Sampai kapanpun, buki ini memang selalu keren. Seorang senior yang juga alumni UNHAS pernah mengirimkannya dalam format pdf beberapa tahun lalu. Saat itu saya agak kesulitan membacanya sebab huruf-hurufnya sangat kecil, tidak jelas. Saya juga pernah berniat mencetaknya namun selalu kandas karena katong tak mengizinkan.

Buku ini begitu fenomenal meski ditulis dalam segala keterbatasan. Saya membawanya kemana-mana, membacanya berulang-ulang. Memang tak mudah memahami setiap buku bertemakan filsafat. Perlu waktu  lama untuk mencerna isinya dengan baik.

Dulu, Madilog pernah dilarang beredar. Bahkan ketika pemikiran penulisnya dibedah di suatu kota, banyak massa dari salah satu organisasi datang menyerbu. Mereka melarang diskusi pemikiran digelar. Mereka memaki-maki, lalu menyebut si penulis adalah komunis yang tak layak dikenang. Mungkin mereka kurang piknik. Entahlah.

Di kanal-kanal media, banyak pula yang sering mendebat pemikirannya. Tan disebut-sebut sebagai antek komunis. Bukunya tak layak dibaca. Pemikirannya dianggap sesat sebab mengikuti ajaran Marx. Padahal saya tetap yakin bahwa mereka yang senang berdebat itu adalah korban ketidaktahuan. Mereka hanya mampu mendebat, tanpa mampu menghasilkan karya. Mereka tidak mampu menghasilkan buku untuk menyanggah gagas Tan Malaka.

Mereka tidak tahu bahwa pada satu masa, nama Tan Malaka hendak dihilangkan dalam lipatan sejarah. Pemikirannya dilarang beredar sebab dianggap bertentangan dengan rezim. Bahkan sampai saat ini, saya tetap yakin bahwa masih banyak generasi muda yang sama sekali tak mengenalnya. Apalagi membaca karya-karyanya.

Namun kita tidak harus menyalahkan mereka. Sikap buta sejarah itu jelas dipengaruhi sejumlah patahan realitas sosial yang kemudian memberikan kontribusi pada ketidaktahuan atas siapa-siapa yang menjadi pendiri republik ini.

Kini, Madilog bertengger di rak buku saya bersama yang lain. Saya selalu senang membacanya. Saya membawanya kemana-mana. Saya menikmati jengkal demi jengkal petualangan revolusioner itu di lembar-lembar awal. Membicarakannya adalah membicarakan benih awal tentang Indonesia.

Kalaupun belakangan tokoh yang menonjol adalah Soekarno, Hatta, dan Sjahrir, maka tetap saja tidak mengecilkan peran Tan Malaka sebagai bapak republik, yang pada setiap kalimatnya terdapat pedang yang hendak merobek-robek jantung kolonialisme.

Di mata saya, Tan adalah seorang filosof yang hadir di tengah amuk peperangan. Banyak tokoh besar di luar sana yang juga terkagum-kagum serta begitu menghormati jasa-jasanya. Muhammad Yamin menyebutnya Bapak Republik Indonesia yang dipersamakan dengan George Washington di Amerika atau Rizal di Filipina.

Kemudian, Rudolf Mrazek menyebutnya sebagai manusia komplet. Ada juga ilmuwan Dr Alfian yang mengatakn bahwa ia adalah pejuang revolusioner yang kesepian. Mereka menyebutnya hebat. Tan merupakan seorang aktivis politik yang lincah, yang menghabiskan 20 tahun di dalam pembuangan di berbagai negara.

Sampai saat ini, saya tak habis-habisnya mengagumi kemampuannya dalam menulis sebuah buku filsafat di tengah-tengah deru revolusi dan perjuangan. Madilog menjadi buku awal yang hendak membongkar aspek mitologis pada cara berpikir masyarakat kita. Ia berusaha memperkenalkan cara berpikir logis dan terstruktur, yang sejatinya bisa menjadi obor penerang bagi gelapnya cara berpikir.

Saya yakin, kekuatan berfikir semacam ini hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang gemilang seperti Tan Malaka. Orang-orang yang mau memaksakan otaknya berfikir keras terhadap realitas yang terjadi.

Di dalam Madilog, ia mengungkapkan betapa dirinya menulis dalam situasi keterbatasan. Ia menulis ditengah bayang-bayang intel yang kapan saja bisa mencium aktivitasnya. Kondisi itu membuatnya tidak memiliki banyak waktu untuk memperdalam referensi dengan membaca pustaka di banyak perpustakaan besar. Ia tak bisa leluasa meminjam banyak buku yang berkaitan dengan tulisannya. Hebatnya, Tan tak pernah berhenti menulis. Kelak, tulisannya menembus pikiran banyak orang. Karya-karyanya menjadi bacaan wajib setiap aktivis serta praktisi perubahan.

Saya mengamini ungkapannya yang fenomenal yakni “Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada di atas bumi!”

Kata-katanya menggugah. Sosoknya digandrungi oleh mereka yang benci terhadap kelaliman rezim. Bahkan belum lama ini, salah satu stasiun televisi swasta membahas kiprah bapak republik itu secara mendalam.

Tan Malaka selalu abadi. Suaranya melintasi zaman dan terus nyaring.

Mataram, 27 Agustus 2017

Friday, August 18, 2017

Puisi Wiji Thukul di Hari Kemerdekaan


Wiji Thukul saat membaca puisi (foto: Wahyu Susilo)

Bangsa ini semakin menua. Rambutnya keriput, tubuhnya semakin renta. Isi perutnya hendak meronta-ronta keluar sebab tak tahan digerogoti cacing tanah. Usianya sudah 72 tahun semenjak Ir Sukarno, Presiden pertama republik Indonesia membacakan teks proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, 17 Agustus, 1945 lalu.

Orang-orang tengah memperingati hari kemerdekaan. Gegap gempita kegiatan digelar demi mengenang jasa para pendiri bangsa. Satu nama yang melekat di benak saya iyalah Wiji Thukul, salah seorang aktivis orde baru yang hingga kini kematiannya masih menyisahkan misteri. Wiji tak hanya seorang aktivis. Ia adalah sastrawan yang menjadikan kata-kata jauh lebih perkasa dari butiran peluru.

Di era Presiden Suharto, Wiji menjadikan kata-kata lebih bertenaga. Puisi berjudul Kemerdekaan yang dibacanya beberapa tahun lalu itu adalah puisi singkat yang pernah menggedor kesewenangan rezim pada satu masa. Demi melawan penguasa, ia tak mengerahkan sekompi pasukan lalu bertempur hingga titik darah penghabisan. Ia cukup membacakan satu puisi dengan lantang.

Saya menghafal puisi itu sebab hanya terdiri dari satu baris. Wiji mengkritik situasi dimana kemerdekaan ibarat jauh panggang daripada api. Kemerdekaan hanyalah mitos nasionalisme yang diagungkan. Saat itu, ia diundang sebagai pengisi kegiatan di sebuah kampung di Solo dalam rangka perayaan hari kemerdekaan. Ia kemudian membaca satu puisi yang dibuatnya secara spontan spontan.

KEMERDEKAAN

Kemerdekaan adalah nasi dimakan jadi tai.

Wiji Thukul, Agustus 1982.

Puisi itu menjadi sejarah. Puisi itu menjadi satu dari sekian banyak syair perlawanan dari seorang aktivis bertubuh kerempeng yang hingga kini tak seorang pun tau dimana rimbanya itu.

Puisi itu nampak pendek dan sederhana, namun menjadikan Wiji sebagai tokoh pergerakan yang kata-katanya harus dibelenggu. Rumahnya didatangi intel-intel pemerintah, sementara dirinya menyebrangi laut Jawa dan terasing jauh di Pontianak, Kalimantan Barat.

Saya membaca beberapa penggalan informasi tentang Wiji Tukul terutama di banyak catatan dari resensi film “Istirahatlah kata-kata” yang tayang beberapa waktu lalu. Saya tak terlalu terkejut dengan puisi itu. Ia hidup di zaman reformasi. Zaman ketika rupa-rupa gerakan tengah diorganisir oleh kaum muda terutama mahasiswa demi menumbangkan satu rezim.

Ia hidup di zaman Budiman Sudjatmiko mendirikan Partai Rakyat Demokratik yang lalu menyebar serupa virus. Zaman ketika Amin Rais dengan berani menyatakan diri siap menggantikan Suharto sebagai presiden. Di zaman ini, pernyataan seperti itu adalah hal biasa. Siapa saja bisa berbicara secara terbuka tentang niat ingin menjadi presiden. Namun di era orde baru, pernyataan Amin Rais laksana guntur di telinga rezim.

Wiji semasa dengan Munir Said Thalib. Seorang pejuang HAM yang gigih dan paling menonjol di republik ini. Ia hidup di zaman Adiana Pitupulu mendirikan Forkot yang kelak menjadi basis perlawanan di Ibu Kota. Zaman ketika sejumlah mahasiswa Trisakti meninggal dunia dalam satu demonstrasi menuntut Suharto turun dari jabatannya.

Di masa ketika Wiji membaca puisi, keberanian adalah sesuatu yang tak mudah ditemukan. Tak banyak intelektual yang berani bersuara lantang layaknya Amin Rais dan Sri Bintang Pamungkas. Yang banyak justru lebih memilih bersembunyi dibalik ketiak rezim serta asik menjadi komprador orde baru. Boleh jadi yang harus dikenang dari tokoh ini adalah kata-katanya yang lantang dan menyengat jantung otoritarianisme.

Wiji memang tak mengenyam bangku pendidikan sekolah tinggi, namun kegemarannya membaca dan mengoleksi buku tokoh-tokoh perjuangan membuatnya tumbuh sebagai sosok yang sangat anti dengan kelaliman. Ia bukanlah tipe generasi yang tunduk patuh terhadap rezim penguasa. Ia ikut menyebarkan virus perlawanan yang lalu menjadi momentum bagi tokoh pergerakan lain untuk bersuara demi menyatakan sikap.

Di zaman ini, kita nyaris tak menemukan anak-anak muda yang gemar membuat puisi perlawanan. Tak banyak yang tampil dengan nuansa kritis. Tak banyak yang gelisah melihat bangsanya. Pemuda-pemuda kita lebih banyak berkerumun di media sosial, hiruk pikuk dengan berbagai kritik serta sikap nyinyir. Yah, mungkin inilah titik balik dalam sejarah kita. Inilah jalan panjang yang harus dilalui.

Saya mengamini puisi Wiji yang masih sangat relevan dengan kondisi kekinian. Peringatan hari kemerdekaan memang tak lebih dari seremoni 1x24 jam. Sisanya hanyalah banyolan-banyolan kotor yang harus segera disiram bersih-bersih. Semangat proklamasi tak lagi merujuk pada ideologi “sama rata sama rasa”, frasa yang pernah dipopulerkan oleh Mas Marco Kartodikromo. Kemerdekaan hanya bersemayam dikantong-kantong segelintir kelompok.

Ingin rasanya menulis banyak tentang penggalan puisi-puisi Wiji Thukul. Namun sejenak saya singgah di media sosial. Di situ ada berita tentang seorang pejabat yang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus E-KTP senilai triliyunan rupiah namun masih sempat memimpin rapat di Senayan.

Ah, saya tidak ingin berkomentar.

Mataram, 18 Agustus 2017

Wednesday, July 5, 2017

Di Balik Sikap Kontroversi Fahri Hamzah


Fahri Hamzah foto by instagram

Di antara sekian banyak sosok politisi nasional yang berseliweran, saya masih tertarik dengan Fahri Hamzah. Bukan karena politisi PKS ini berasal dari daerah yang sama dengan saya, bukan pula karena pada beberapa kesempatan, saya sering berjumpa dengan beliau. Tapi ini tentang sikap politik Wakil Ketua DPR itu yang selalu mencengangkan. Fahri selalu melakukan manuver politik tanpa memperdulikan konsekuensi apa yang akan menimpanya.

Di saat para elit politik lain memilih diam dan membebek terhadap rezim, Fahri tetap konsisten pada gerbong perlawanan. Dalam setiap pembicaraannya, mantan aktivits 98 itu selalu tampil dengan kalimat serupa anak panah yang menujam jantung pemerintah. Di berbagai acara televisi, ia menjelma bak kritikus handal yang selalu mencermati gerak gerik suatu rezim.

Fahri Hamzah bukanlah sosok pilitisi lembek. Ia bukanlah tipe politisi yang mau bermain aman. Sejak masa awal reformasi, Fahri telah menjadi salah satu sosok yang menonjol dalam gerakan kemahasiswaan. Namanya mencuat di tengah situasi politik huru hara orde baru yang saat itu menggerakkan banyak mahasiswa ke gedung parlemen demi menjatuhkan Suharto.

Hingga saat ini, meski dirinya telah menjadi bagian dari sistem pemerintahan, gelagatnya tak berubah. Di senayan sana, Fahri tak lantas kehilangan daya gedor. Ia tercatat sebagai sosok yang paling produktif dalam mengkritisi kebijakan pemerintah yang dianggapnya melenceng. Di balik segala kontroversi yang ia lakukan, karir politiknya justru jauh meroket meninggalkan yang lain.

Masih terekam jelas di benak saya ketika sejumlah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), hendak menggeledah salah satu ruang kerja anggota DPR RI. Sejumlah anggota Brimob datang dengan senjata laras panjang saat itu. Di tengah lorong, berdiri tegap Fahri Hamzah untuk menghalangi. Adu tengkar pun tak terhindarkan. Dengan nada tinggi Fahri berteriak, “Jangan anggap kami maling.” Apapun alasannya, bagi saya, sikap mantan ketua KAMMI itu sungguh heroik. Ia tak hanya berusaha menjaga marwah lembaga, tetapi juga hendak membela anggota DPR lain dari sikap sewenang-wenang KPK.

Tak hanya itu, beberapa waktu lalu, kabar mengejutkan datang dari PKS. Partai berbasis islam itu memecat Fahri secara sepihak dari keanggotaan. Bahkan, posisinya sebagai anggota DPR hampir digantikan jika ia tidak memenangkan pertarungan di pengadilan. Lagi-lagi saya bersyukur sebab Fahri bisa bertahan melawan badai politik yang menimpanya, meski sulit mempercayai bahwa tak ada campur tangan penguasa dalam hal ini.

Di era tukang kayu bisa menjadi presiden ini, Fahri telah menempatkan diri sebagai rival Jokowi dalam banyak hal. Satu diantara banyak statementnya yang menarik perhatian adalah, jika dirinya menjadi presiden, ia akan membubarkan KPK dan akan menghapus korupsi dalam tempo tak kurang dari setahun. Banyak kalangan menilai, bahwa statement tersebut merupakan antitesa terhadap sikap presiden yang dinilainya tidak memiliki target yang jelas dalam pemberantasan korupsi di Indonesia.

Yang membuatnya berbeda dengan politisi lain adalah, sikap politik Fahri yang tidak bergantung pada keputusan partai. Di masa SBY dulu, ia tetap menjadi pengkritik paling keras meski partainya termasuk pendukung pemerintah. Ketika SBY menaikkan harga BBM, Fahri dengan lantang menolak. Di akhir-akhir masa jabatannya, Fahri mengibaratkan kepemimpinan SBY di kabinet layaknya orang mengimami salat dalam kondisi saf di belakangnya banyak yang kosong. “Saf kosong ini sekarang diisi setan. Jadi di tengahnya sudah ada setan” Ujarnya.

Rasanya masih terpatri dibenak, saat Fahri mempertanyakan sikap KPK yang tidak memanggil Ibas, putra kedua SBY, padahal namanya ada dalam daftar penerima dana kasus hambalang beberapa tahun lalu. Akibat pernyataannya itu, ia sampai di somasi oleh keluarga SBY. Tapi hal itu tak membuat politisi asal Sumbawa ini jerah. Fahri tetap aktif menyoroti kinerja KPK yang menurutnya tebang pilih dalam penegakan hukum.

Di ranah sosial media, saat banyak netizen memprotes dan menjadikannya bulan-bulanan atas pernyataannya terhadap penangkapan gubernur bengkulu beberapa waktu lalu, Fahri justru terlihat sangat tenang. Melalui aku twitter pribadinya, ia terus berkicau tentang sikap KPK yang lalu membuat banyak pengikutnya ambil bagian, hingga tagar #OTTrecehan menjadi trending topic. Menurutnya, KPK hanya berani membuka kasus korupsi berskala kecil. Sementara kasus-kasus besar seperti century ditinggalkan.

Di Facebook, ia menampilkan siaran langsung untuk menjelaskan secara komprehensif dan mendalam pandang-pandangannya tentang pemberantasan korupsi. Fahri terlihat sangat paham tentang apa yang ia perjuangkan. Baginya, KPK sudah tidak sesuai dengan semangat zaman yang serba terbuka. Lembaga ini hanya cocok di masa pemerintahan otoriter. Ia mencontohkan pemberantasan korupsi di Korea Selatan yang sudah bergerak maju, sehingga membuat kasus korupsi di negara itu mengalami penurunan.

Di mata saya, Fahri bukanlah sosok politisi sembarangan. Ia pandai menempatkan posisi dan mengambil peran. Jika tak demikian, mungkin sejak dulu Fahri sudah terperangkap dalam pusaran arus seperti yang lain. Bahkan dalam usia yang relatif muda, ia telah menjadi pimpinan dewan. Ada harapan besar dipundaknya untuk tidak menjadi pelayan bagi kepentingan pihak lain dalam satu orkestra politik yang semakin jauh dari substansi.

Setidaknya, Fahri menunjukkan betapa dunia politik seharusnya menjadi dunia yang serba demokratis, dinamis, serta menjadi ruang terbuka tempat beradu ide dan gagasan. Bukannya arena yang hanya mempertontonkan aksi saling sikut, saling melindungi rekan sejawat, tanpa mendorong proses itu menjadi lebih transparan, akuntabel, dan terbuka di hadapan publik.

Jika politik adalah jalan yang dipenuhi pedang, maka Fahri adalah salah satu pendekar pilih tanding yang diperhitungkan dan disegani karena kesaktiannya. Soal ia banyak disukai atau dibenci, tak jadi masalah. Yang jelas sejauh ini, saya masih menyukai sikap politik Fahri Hamzah.

Anda berbeda dengan saya? Tak masalah.

Mataram, 05 Juli 2017

Thursday, June 8, 2017

Ketika Dikirimi Buku Oleh Fadli Dzon


Foto: sumber.com

Bahagia itu memang tak selalu ditafsirkan dengan keberlimpahan. Bahagia tak selalu dipicu oleh kehidupan yang serba ada. Orang bijak mengatakan, bahagia itu sangatlah sederhana. Yang membuatnya rumit adalah cara pandang dari manusia itu sendiri. Seperti banyak orang lain diluar sana, setiap kali mendapat kiriman buku-buku bagus, saya selalu semeringah. Saya tak sabar untuk segera menyelami lautan kata lalu berbenturan dengan rupa-rupa ilmu didalamnya.

Bagi saya, buku itu ibarat bahan makanan yang setiap saat bisa mengatasi rasa lapar akan pengetahuan. Buku memiliki gizi yang tak bisa ditemukan pada berbagai makanan. Menyimpan banyak buku ibarat menyimpan nutrisi yang penting bagi tubuh. Sebab didalamnya, tersimpan banyak kenangan serta jejak berpikir pada satu masa.

Saya pernah berandai-andai, jika saja surga yang banyak dibicarakan orang adalah gambaran dari tempat yang paling diinginkan, maka saya membayangkan surga sebagai taman bermain yang didalmnya dipenuhi buku-buku bagus dan bisa dibaca setiap saat.

Mungkin hanya sebuah kebetulan jika akhir-akhir ini saya banyak menerima kiriman buku gratis. Beberapa waktu lalu, saya mendapat kiriman buku dari salah seorang Wakil Ketua DPR RI, Fadzli Dzon. Ia mengirimkan bacaan berupa buku-buku sastra dan sejarah. Serupa menemukan oase di padang pasir yang terik, saya begitu senang. Dahaga untuk terus membaca akan segera teratasi.

Nampaknya, politisi Gerindra yang satu ini sangat paham jika seorang mahasiswa tak selalu leluasa mendapatkan buku-buku bagus sesuai keinginan. Terkadang dalam membeli buku, saya harus rela menunda hasrat untuk membeli ragam keperluan lain. Bahkan ketiia awal-awal kuliah, saya pernah membuat kartu khusus demi akses untuk meminjam buku di perpustakaan daerah.

Sekarang, setelah bergaul dengan banyak teman dari berbagai komunitas literasi, saya tak lagi kesulitan. Komunitas-komunitas ini serupa perpustakaan keliling. Mereka membuka lapak baca hingga memungkinkan semua orang untuk meminjam buku. Di waktu senggang, saya selalu menyempatkan diri berkunjung ke lapak mereka.

Hidup memang selalu punya sisi menarik untuk diceritakan. Cerita itu tak melulu tentang hiruk pikuk akademik yang membekap pikiran dan ambisi untuk segera diselesaikan. Cerita itu bisa saja tentang rasa suka cita saat mendapat kiriman berupa buku-buku bagus dari seorang petinggi republik ini.

Terlebih lagi, sejumlah bacaan yang dikirim merupakan koleksi perpustakaan pribadi miliknya yakni Fadli Dzon Library. Sebuah perpustakaan yang sengaja didirikan tidak hanya sebagai tempat memajang buku-buku karyanya, tetapi juga mengoleksi sejumlah naskah kuno, tombak dan keris dari berbagai kerajaan Nusantara.

Beberapa Buku Dari Fadli Dzon

Kini, buku-buku itu telah bertengger manis di rak pribadi saya. Sebagian diantaranya telah saya tuntaskan. Sebagian lagi masih saya baca. Yang paling menarik adalah ketika politisi yang kerap berdebat di layar kaca itu, membedah konsep ekonomi sang proklamator bangsa dalam buku berjudul Pemikiran Ekonomi Kerakyatan Mohammad Hatta.

Saya tak menyangka bisa mendapat kiriman buku-buku bagus dari Fadli Dzon. Jangankan darinya, dari seorang Fahri Hamzah pun tidak. Padahal, di beberapa kesempatan, saya kerap bertemu dengan politisi asal Sumbawa yang satu ini. Bahkan bersama sahabat mahasiswa lain, saya pernah mengundang beliau dalam satu acara diskusi.

Ah, hidup memang penuh kejutan yang menyenangkan. Saya jadi teringat ketika bapak-bapak petugas pos mengantarkan kiriman itu ke tempat saya beberapa waktu lalu. Sambil meminta tanda tangan ia bertanya, “Mas Imron kerabat pak Fadli Dzon ya?” Saya hanya tersenyum sembari menjawab, “Iya pak. Saya dengan beliau satu garis keturunan. Kita sama-sama keturunan Nabi Adam.” Bapak itu terbahak-bahak mendengarnya.

Mataram, 08 Juni 2017

Thursday, May 11, 2017

AHY, Soft Power, dan Sebuah Antitesis Untuk Jokowi



Tak ada momentum yang paling menarik minggu ini selain menyaksikan presentasi ilmiah Agus Harimurti Yudhoyono, yang kerap disapa AHY. Tokoh yang ikut meramaikan bursa pencalonan gubernur DKI Jakarta beberapa waktu lalu itu, mengunjungi Lombok baru-baru ini. Agus turut serta bersama rombongan mantan presiden dua periode, Susilo Bambang Yudhoyono dalam agenda Rakornas partai demokrat di NTB.

Beberapa kali saya hanya bisa menyaksikan Agus berdebat melalui layar kaca. Di banyak pembicarannya, ia kerap mengkomparasikan teori kepememipinan militer serta berbagi pengalaman saat dirinya masih berseragam TNI dulu. Begitu pula saat debat kandidat calon gubernur DKI tempo hari.

AHY memang digadang sebagai tokoh muda yang diharapkan mampu membawa angin perubahan bagi warga ibukota. Dia memiliki segudang prestasi dan track record bagus diusianya yang masih belia. Namun pada kenyatannya, para pengamat justru memprediksi bahwa pria ini tidak akan memberi kejutan apapun di ajang lima tahunan tersebut.

Dari awal sejak bola panas pilkada DKI bergulir, Agus Harimurti Yudhoyono tidak begitu diperhitungkan. Pemberitaan tentang paslon bernomor urut satu inipun tidak begitu massif.  Berbagai media publik lebih banyak berkutat pada hingar bingar politik bernuansa agama yang melibatkan dua tokoh kandidat lain.

Benar saja, hasil pilkada DKI seakan mengamini prediksi banyak orang. Pemuda itu memang tak mampu berkutik. Dia hanya bisa mengemas 17 persen suara saat penghitungan. Angka ini tentu tak begitu menyenangkan baginya. Poling yang ia dapatkan jauh berada dibawah dua kandidat lain yang rata-rata mengumpulkan suara di atas 35 persen.

Di mata saya, AHY adalah fenomena baru yang tiba-tiba mencuat di pilkada DKI. Dia merupakan satu diantara banyak nama yang berhasil menorehkan jejak manis di dunia kemiliteran. Sayang, pilkada DKI membuat suami dari Annisa Pohan ini silau. Dia menanggalkan seragam TNI dan memilih mengikuti jejak ayah dan saudaranya untuk terjun ke pusaran politik.

Namun setelah gagal di ajang itu, saya menunggu-nunggu apa gerangan yang akan dilakukannya. Saya masih menanti episode baru dari AHY. Satu bagian dimana sang prajurit akan kembali beraksi dengan senyap, cepat, dan tepat untuk menguasai arena lalu menancapkan bendera kemenangan.

***

Dari atas tribun penonton, gadis-gadis itu berteriak histeris. Mereka nampak tak sabaran saat memandang panggung. Di sana, saya menyaksikan seorang lelaki muda berperawakan tinggi, gagah yang sesekali melempar senyum kepada semua orang.

Lelaki itu adalah Agus Harimurti Yudhoyono. Mantan perwira tinggi TNI yang namanya mulai akrab ditelinga publik. Di kalangan remaja, pemuda lulusan Hardvard University ini memang sangat digandrungi. Selain berparas tampan, AHY juga memiliki kapasitas intelektual yang tidak bisa diragukan.

Malam itu, Agus berbicara pada satu forum yang melibatkan sejumlah aktivis kampus, akademisi, hingga kalangan birokrat yang bertajuk Mencari Pemimpin Muda Menuju Satu Abad Indonesia 2045 di Gelanggang Pemuda Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Agus memulai pembicaraannya dengan berbagai isu internasional. Dia membahas tentang model persaingan modern antar negara-negara adidaya, membahas bagaimana strategi negara itu dalam menduniakan segala yang mereka miliki, lalu dengan perlahan mulai menggiring opini peserta pada kesiapan Indonesia dalam menyambut satu abad kemerdekaan yakni pada tahun 2045 nanti.

Agus banyak mengungkap tentang konsep persaingan di abad modern. Dia lebih banyak bercerita tentang Soft Power. Sebuah konsep hegemoni modern yang pertama kali didefinisikan oleh ilmuan politik dari Hardvard University, Joseph Nye. Dalam satu publikasi, Nye menulis tentang Soft Power sebagai kekuatan tak terlihat yang dimiliki sebuah negara melalui citranya ketimbang melalui kekuatannya. Mereka yang menjadi para aktor, sedang gencar membangun fundasi industri, menyerbu pasar dunia ketiga, lalu berusaha menginvasi negara lain melalui berbagai produk budaya populer.

Invasi itu bahkan merambah hingga Timur Tengah. Di Iran, drama Korea berjudul Jewel in the Place sedemikian populer, sampai-sampai orang Iran dilaporkan mengatur jam makan agar tidak bentrok dengan penayangan serial ini.

Begitu pula di Indonesia, setelah Korea, drama Turkey dan India adalah yang paling sering ditayangkan melalui berbagai stasiun televisi swasta. Padahal, budaya ini hanyalah pintu masuk bagi berbagai produk ekonomi luar yang secara perlahan akan menggeser serta menggilas produk lokal.Tanpa disadari, mereka tengah bergerak secara massif untuk menciptakan hegemoni.

Di sisi lain, dunia juga tengah disibukkan oleh perang boneka atau Proxi War. Perang ini lebih banyak melibatkan negara-negara islam di timur tengah. Model peperangan seperti ini memang menyajikan pertentangan antar dua negara, namun keduanya tidak terlibat secara lansung melainkan menggunakan pihak ketiga. Mereka melakukan persaingan untuk mengusai berbagai sumber energy dan air yang telah diprediksikan akan mengalami kekurangan dalam waktu dekat.

Di kalangan akademisi, isu ini telah lama diperbincangkan secara serius. Mereka mengkhawatirkan kalau suatu waktu negara kita terjebak pada konsep perang boneka. Secara potensial, Indonesia masih memiliki ketersediaan energy dan air yang memadai. Bisa jadi Indonesia adalah sasaran selanjutnya. Proxi War dan Soft Power adalah ancaman serius bagi bangsa kita saat ini. Keduanya adalah batu besar yang bisa menghambat pencapaian emas bangsa kita pada 2045 mendatang.

Sebagai mantan militer, tentu Agus memahami dengan baik berbagai ancaman ini. Dia telah lebih dulu berkutat dengan segala bentuk konflik internasional yang melibatkan banyak negara. Dia adalah mantan prajurit yang terbiasa melakukan perenungan terhadap berbagai fenomena yang tidak bisa dideteksi semua orang.

Malam itu, saya tak terlalu mengikuti detil-detil presentasi AHY. Saya hanya menyaksikan pemuda itu beberapa kali dari belakang kerumunan. Sepintas, pertemuan itu serupa kuliah umum yang sering saya ikuti. Agus lebih mirip seorang doktor yang sedang membagikan kisi-kisi kepada mahasiswanya.

Di balik kunjungan dan presentasi hebat AHY, saya melihat satu hal yakni manuver cepat yang ia lakukan bersama Demokrat. Setelah kalah telak di pilkada DKI, ia mulai rajin berkeliling dan berbicara pada banyak orang. Saya menduga kuat, Agus sengaja dipersiapkan untuk menggantikan posisi ayahnya sebagai pimpinan partai. Bahkan, dia diproyeksikan sebagai pemimpin antitesis Jokowi.

Saya meyakini bahwa keputusan kontroversial yang dilakukan Agus saat menolak status jendral yang sebentar lagi akan disandangnya bersama TNI bukanlah semata-semata untuk memenangi pertarungan kursi 1 DKI. Pilkada itu hanyalah wadah pengenalan, sekaligus pembelajaran baginya untuk bertempur dimedan lain yakni saat pilpres mendatang.

Jika hendak dinilai dari sisi politik, gebrakan yang sedang ia lakukan terbilang senyap. Tapi secara perlahan, ia mulai mendapat tempat di hati banyak orang. Entah, apakah kehadirannya itu memang sengaja didesain, namun Agus tengah menampilkan satu ritme permainan yang menarik. Sesungguhnya, dia tengah melancarkan metode Soft Power itu sendiri. Agus sedang berusaha membangun citra diri. Itulah alasan logis mengapa Demokrat secara berani mengusungnya di ajang pilkada lalu.

Sejauh ini, memang nama AHY adalah pilihan tepat jika demokrat tidak ingin tersingkir dari persaingan intrik politik. Secara sederhana, kekuatan Agus bisa dilihat dari beberapa argumentasi. Pertama, publik suka dengan hal baru. Mereka suka perubahan. Mereka suka dengan sosok muda yang berintegritas.

Hal serupa bisa dilihat saat masyarakat mengelukan Jokowi sebagai sosok baru yang punya reputasi. Agus pun punya potensi untuk disukai karena reputasi dan rekam jejak hebat. Agus juga tak bisa diragukan dari sisi intelektualitas.  Sebagai sosok berlatar belakang militer, dia memiliki kecerdasan dalam seni adu taktik dan strategi. Jika kemampuan itu dikemas dengan baik dalam satu irama kerja-kerja politik, hasilnya bisa menjadi dahsyat.

Kedua, Agus adalah putra Susilo Bambang Yudhoyono, presiden dua periode Indonesia. Agus memang aktor baru dalam dunia politik, namun dibelakangnya berdiri nama besar sekaliber SBY. Publik masih ingat, saat Demokrat memenangi pemilihan lansung secara beruntun meski berstatus partai baru.

Bersama Demokrat, SBY dengan cepat menggeser hegemoni dua partai lain yang lebih dahulu eksis seperti Golkar dan PDI-P. Sebagai mantan presiden, tentunya ia memiliki modal sosial dan modal kultural yang siap diwariskan kepada anaknya.

Dunia politik memang penuh krikil dan bebatuan. Siapapun yang memasukinya mesti siap untuk menghadapi terjangan isu. Agus telah menentukan pilihan. Dia harus berjalan diantara kerikil tajam dan bebatuan yang setiap saat bisa saja membuatnya tersandung. Kematangannya akan ditentukan pada sejauh mana dia bisa bertahan. Yang pasti, menarik menunggu kejutan Agus selanjutnya.

Mataram, 11 Mei 2017