Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Juli 2017

Di Balik Sikap Kontroversi Fahri Hamzah


Fahri Hamzah foto by instagram

Di antara sekian banyak sosok politisi nasional yang berseliweran, saya masih tertarik dengan Fahri Hamzah. Bukan karena politisi PKS ini berasal dari daerah yang sama dengan saya, bukan pula karena pada beberapa kesempatan, saya sering berjumpa dengan beliau. Tapi ini tentang sikap politik Wakil Ketua DPR itu yang selalu mencengangkan. Fahri selalu melakukan manuver politik tanpa memperdulikan konsekuensi apa yang akan menimpanya.

Di saat para elit politik lain memilih diam dan membebek terhadap rezim, Fahri tetap konsisten pada gerbong perlawanan. Dalam setiap pembicaraannya, mantan aktivits 98 itu selalu tampil dengan kalimat serupa anak panah yang menujam jantung pemerintah. Di berbagai acara televisi, ia menjelma bak kritikus handal yang selalu mencermati gerak gerik suatu rezim.

Fahri Hamzah bukanlah sosok pilitisi lembek. Ia bukanlah tipe politisi yang mau bermain aman. Sejak masa awal reformasi, Fahri telah menjadi salah satu sosok yang menonjol dalam gerakan kemahasiswaan. Namanya mencuat di tengah situasi politik huru hara orde baru yang saat itu menggerakkan banyak mahasiswa ke gedung parlemen demi menjatuhkan Suharto.

Hingga saat ini, meski dirinya telah menjadi bagian dari sistem pemerintahan, gelagatnya tak berubah. Di senayan sana, Fahri tak lantas kehilangan daya gedor. Ia tercatat sebagai sosok yang paling produktif dalam mengkritisi kebijakan pemerintah yang dianggapnya melenceng. Di balik segala kontroversi yang ia lakukan, karir politiknya justru jauh meroket meninggalkan yang lain.

Masih terekam jelas di benak saya ketika sejumlah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), hendak menggeledah salah satu ruang kerja anggota DPR RI. Sejumlah anggota Brimob datang dengan senjata laras panjang saat itu. Di tengah lorong, berdiri tegap Fahri Hamzah untuk menghalangi. Adu tengkar pun tak terhindarkan. Dengan nada tinggi Fahri berteriak, “Jangan anggap kami maling.” Apapun alasannya, bagi saya, sikap mantan ketua KAMMI itu sungguh heroik. Ia tak hanya berusaha menjaga marwah lembaga, tetapi juga hendak membela anggota DPR lain dari sikap sewenang-wenang KPK.

Tak hanya itu, beberapa waktu lalu, kabar mengejutkan datang dari PKS. Partai berbasis islam itu memecat Fahri secara sepihak dari keanggotaan. Bahkan, posisinya sebagai anggota DPR hampir digantikan jika ia tidak memenangkan pertarungan di pengadilan. Lagi-lagi saya bersyukur sebab Fahri bisa bertahan melawan badai politik yang menimpanya, meski sulit mempercayai bahwa tak ada campur tangan penguasa dalam hal ini.

Di era tukang kayu bisa menjadi presiden ini, Fahri telah menempatkan diri sebagai rival Jokowi dalam banyak hal. Satu diantara banyak statementnya yang menarik perhatian adalah, jika dirinya menjadi presiden, ia akan membubarkan KPK dan akan menghapus korupsi dalam tempo tak kurang dari setahun. Banyak kalangan menilai, bahwa statement tersebut merupakan antitesa terhadap sikap presiden yang dinilainya tidak memiliki target yang jelas dalam pemberantasan korupsi di Indonesia.

Yang membuatnya berbeda dengan politisi lain adalah, sikap politik Fahri yang tidak bergantung pada keputusan partai. Di masa SBY dulu, ia tetap menjadi pengkritik paling keras meski partainya termasuk pendukung pemerintah. Ketika SBY menaikkan harga BBM, Fahri dengan lantang menolak. Di akhir-akhir masa jabatannya, Fahri mengibaratkan kepemimpinan SBY di kabinet layaknya orang mengimami salat dalam kondisi saf di belakangnya banyak yang kosong. “Saf kosong ini sekarang diisi setan. Jadi di tengahnya sudah ada setan” Ujarnya.

Rasanya masih terpatri dibenak, saat Fahri mempertanyakan sikap KPK yang tidak memanggil Ibas, putra kedua SBY, padahal namanya ada dalam daftar penerima dana kasus hambalang beberapa tahun lalu. Akibat pernyataannya itu, ia sampai di somasi oleh keluarga SBY. Tapi hal itu tak membuat politisi asal Sumbawa ini jerah. Fahri tetap aktif menyoroti kinerja KPK yang menurutnya tebang pilih dalam penegakan hukum.

Di ranah sosial media, saat banyak netizen memprotes dan menjadikannya bulan-bulanan atas pernyataannya terhadap penangkapan gubernur bengkulu beberapa waktu lalu, Fahri justru terlihat sangat tenang. Melalui aku twitter pribadinya, ia terus berkicau tentang sikap KPK yang lalu membuat banyak pengikutnya ambil bagian, hingga tagar #OTTrecehan menjadi trending topic. Menurutnya, KPK hanya berani membuka kasus korupsi berskala kecil. Sementara kasus-kasus besar seperti century ditinggalkan.

Di Facebook, ia menampilkan siaran langsung untuk menjelaskan secara komprehensif dan mendalam pandang-pandangannya tentang pemberantasan korupsi. Fahri terlihat sangat paham tentang apa yang ia perjuangkan. Baginya, KPK sudah tidak sesuai dengan semangat zaman yang serba terbuka. Lembaga ini hanya cocok di masa pemerintahan otoriter. Ia mencontohkan pemberantasan korupsi di Korea Selatan yang sudah bergerak maju, sehingga membuat kasus korupsi di negara itu mengalami penurunan.

Di mata saya, Fahri bukanlah sosok politisi sembarangan. Ia pandai menempatkan posisi dan mengambil peran. Jika tak demikian, mungkin sejak dulu Fahri sudah terperangkap dalam pusaran arus seperti yang lain. Bahkan dalam usia yang relatif muda, ia telah menjadi pimpinan dewan. Ada harapan besar dipundaknya untuk tidak menjadi pelayan bagi kepentingan pihak lain dalam satu orkestra politik yang semakin jauh dari substansi.

Setidaknya, Fahri menunjukkan betapa dunia politik seharusnya menjadi dunia yang serba demokratis, dinamis, serta menjadi ruang terbuka tempat beradu ide dan gagasan. Bukannya arena yang hanya mempertontonkan aksi saling sikut, saling melindungi rekan sejawat, tanpa mendorong proses itu menjadi lebih transparan, akuntabel, dan terbuka di hadapan publik.

Jika politik adalah jalan yang dipenuhi pedang, maka Fahri adalah salah satu pendekar pilih tanding yang diperhitungkan dan disegani karena kesaktiannya. Soal ia banyak disukai atau dibenci, tak jadi masalah. Yang jelas sejauh ini, saya masih menyukai sikap politik Fahri Hamzah.

Anda berbeda dengan saya? Tak masalah.

Mataram, 05 Juli 2017

Kamis, 08 Juni 2017

Ketika Dikirimi Buku Oleh Fadli Dzon


Foto: sumber.com

Bahagia itu memang tak selalu ditafsirkan dengan keberlimpahan. Bahagia tak selalu dipicu oleh kehidupan yang serba ada. Orang bijak mengatakan, bahagia itu sangatlah sederhana. Yang membuatnya rumit adalah cara pandang dari manusia itu sendiri. Seperti banyak orang lain diluar sana, setiap kali mendapat kiriman buku-buku bagus, saya selalu semeringah. Saya tak sabar untuk segera menyelami lautan kata lalu berbenturan dengan rupa-rupa ilmu didalamnya.

Bagi saya, buku itu ibarat bahan makanan yang setiap saat bisa mengatasi rasa lapar akan pengetahuan. Buku memiliki gizi yang tak bisa ditemukan pada berbagai makanan. Menyimpan banyak buku ibarat menyimpan nutrisi yang penting bagi tubuh. Sebab didalamnya, tersimpan banyak kenangan serta jejak berpikir pada satu masa.

Saya pernah berandai-andai, jika saja surga yang banyak dibicarakan orang adalah gambaran dari tempat yang paling diinginkan, maka saya membayangkan surga sebagai taman bermain yang didalmnya dipenuhi buku-buku bagus dan bisa dibaca setiap saat.

Mungkin hanya sebuah kebetulan jika akhir-akhir ini saya banyak menerima kiriman buku gratis. Beberapa waktu lalu, saya mendapat kiriman buku dari salah seorang Wakil Ketua DPR RI, Fadzli Dzon. Ia mengirimkan bacaan berupa buku-buku sastra dan sejarah. Serupa menemukan oase di padang pasir yang terik, saya begitu senang. Dahaga untuk terus membaca akan segera teratasi.

Nampaknya, politisi Gerindra yang satu ini sangat paham jika seorang mahasiswa tak selalu leluasa mendapatkan buku-buku bagus sesuai keinginan. Terkadang dalam membeli buku, saya harus rela menunda hasrat untuk membeli ragam keperluan lain. Bahkan ketiia awal-awal kuliah, saya pernah membuat kartu khusus demi akses untuk meminjam buku di perpustakaan daerah.

Sekarang, setelah bergaul dengan banyak teman dari berbagai komunitas literasi, saya tak lagi kesulitan. Komunitas-komunitas ini serupa perpustakaan keliling. Mereka membuka lapak baca hingga memungkinkan semua orang untuk meminjam buku. Di waktu senggang, saya selalu menyempatkan diri berkunjung ke lapak mereka.

Hidup memang selalu punya sisi menarik untuk diceritakan. Cerita itu tak melulu tentang hiruk pikuk akademik yang membekap pikiran dan ambisi untuk segera diselesaikan. Cerita itu bisa saja tentang rasa suka cita saat mendapat kiriman berupa buku-buku bagus dari seorang petinggi republik ini.

Terlebih lagi, sejumlah bacaan yang dikirim merupakan koleksi perpustakaan pribadi miliknya yakni Fadli Dzon Library. Sebuah perpustakaan yang sengaja didirikan tidak hanya sebagai tempat memajang buku-buku karyanya, tetapi juga mengoleksi sejumlah naskah kuno, tombak dan keris dari berbagai kerajaan Nusantara.

Beberapa Buku Dari Fadli Dzon

Kini, buku-buku itu telah bertengger manis di rak pribadi saya. Sebagian diantaranya telah saya tuntaskan. Sebagian lagi masih saya baca. Yang paling menarik adalah ketika politisi yang kerap berdebat di layar kaca itu, membedah konsep ekonomi sang proklamator bangsa dalam buku berjudul Pemikiran Ekonomi Kerakyatan Mohammad Hatta.

Saya tak menyangka bisa mendapat kiriman buku-buku bagus dari Fadli Dzon. Jangankan darinya, dari seorang Fahri Hamzah pun tidak. Padahal, di beberapa kesempatan, saya kerap bertemu dengan politisi asal Sumbawa yang satu ini. Bahkan bersama sahabat mahasiswa lain, saya pernah mengundang beliau dalam satu acara diskusi.

Ah, hidup memang penuh kejutan yang menyenangkan. Saya jadi teringat ketika bapak-bapak petugas pos mengantarkan kiriman itu ke tempat saya beberapa waktu lalu. Sambil meminta tanda tangan ia bertanya, “Mas Imron kerabat pak Fadli Dzon ya?” Saya hanya tersenyum sembari menjawab, “Iya pak. Saya dengan beliau satu garis keturunan. Kita sama-sama keturunan Nabi Adam.” Bapak itu terbahak-bahak mendengarnya.

Mataram, 08 Juni 2017

Kamis, 11 Mei 2017

AHY, Soft Power, dan Sebuah Antitesis Untuk Jokowi



Tak ada momentum yang paling menarik minggu ini selain menyaksikan presentasi ilmiah Agus Harimurti Yudhoyono, yang kerap disapa AHY. Tokoh yang ikut meramaikan bursa pencalonan gubernur DKI Jakarta beberapa waktu lalu itu, mengunjungi Lombok baru-baru ini. Agus turut serta bersama rombongan mantan presiden dua periode, Susilo Bambang Yudhoyono dalam agenda Rakornas partai demokrat di NTB.

Beberapa kali saya hanya bisa menyaksikan Agus berdebat melalui layar kaca. Di banyak pembicarannya, ia kerap mengkomparasikan teori kepememipinan militer serta berbagi pengalaman saat dirinya masih berseragam TNI dulu. Begitu pula saat debat kandidat calon gubernur DKI tempo hari.

AHY memang digadang sebagai tokoh muda yang diharapkan mampu membawa angin perubahan bagi warga ibukota. Dia memiliki segudang prestasi dan track record bagus diusianya yang masih belia. Namun pada kenyatannya, para pengamat justru memprediksi bahwa pria ini tidak akan memberi kejutan apapun di ajang lima tahunan tersebut.

Dari awal sejak bola panas pilkada DKI bergulir, Agus Harimurti Yudhoyono tidak begitu diperhitungkan. Pemberitaan tentang paslon bernomor urut satu inipun tidak begitu massif.  Berbagai media publik lebih banyak berkutat pada hingar bingar politik bernuansa agama yang melibatkan dua tokoh kandidat lain.

Benar saja, hasil pilkada DKI seakan mengamini prediksi banyak orang. Pemuda itu memang tak mampu berkutik. Dia hanya bisa mengemas 17 persen suara saat penghitungan. Angka ini tentu tak begitu menyenangkan baginya. Poling yang ia dapatkan jauh berada dibawah dua kandidat lain yang rata-rata mengumpulkan suara di atas 35 persen.

Di mata saya, AHY adalah fenomena baru yang tiba-tiba mencuat di pilkada DKI. Dia merupakan satu diantara banyak nama yang berhasil menorehkan jejak manis di dunia kemiliteran. Sayang, pilkada DKI membuat suami dari Annisa Pohan ini silau. Dia menanggalkan seragam TNI dan memilih mengikuti jejak ayah dan saudaranya untuk terjun ke pusaran politik.

Namun setelah gagal di ajang itu, saya menunggu-nunggu apa gerangan yang akan dilakukannya. Saya masih menanti episode baru dari AHY. Satu bagian dimana sang prajurit akan kembali beraksi dengan senyap, cepat, dan tepat untuk menguasai arena lalu menancapkan bendera kemenangan.

***

Dari atas tribun penonton, gadis-gadis itu berteriak histeris. Mereka nampak tak sabaran saat memandang panggung. Di sana, saya menyaksikan seorang lelaki muda berperawakan tinggi, gagah yang sesekali melempar senyum kepada semua orang.

Lelaki itu adalah Agus Harimurti Yudhoyono. Mantan perwira tinggi TNI yang namanya mulai akrab ditelinga publik. Di kalangan remaja, pemuda lulusan Hardvard University ini memang sangat digandrungi. Selain berparas tampan, AHY juga memiliki kapasitas intelektual yang tidak bisa diragukan.

Malam itu, Agus berbicara pada satu forum yang melibatkan sejumlah aktivis kampus, akademisi, hingga kalangan birokrat yang bertajuk Mencari Pemimpin Muda Menuju Satu Abad Indonesia 2045 di Gelanggang Pemuda Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Agus memulai pembicaraannya dengan berbagai isu internasional. Dia membahas tentang model persaingan modern antar negara-negara adidaya, membahas bagaimana strategi negara itu dalam menduniakan segala yang mereka miliki, lalu dengan perlahan mulai menggiring opini peserta pada kesiapan Indonesia dalam menyambut satu abad kemerdekaan yakni pada tahun 2045 nanti.

Agus banyak mengungkap tentang konsep persaingan di abad modern. Dia lebih banyak bercerita tentang Soft Power. Sebuah konsep hegemoni modern yang pertama kali didefinisikan oleh ilmuan politik dari Hardvard University, Joseph Nye. Dalam satu publikasi, Nye menulis tentang Soft Power sebagai kekuatan tak terlihat yang dimiliki sebuah negara melalui citranya ketimbang melalui kekuatannya. Mereka yang menjadi para aktor, sedang gencar membangun fundasi industri, menyerbu pasar dunia ketiga, lalu berusaha menginvasi negara lain melalui berbagai produk budaya populer.

Invasi itu bahkan merambah hingga Timur Tengah. Di Iran, drama Korea berjudul Jewel in the Place sedemikian populer, sampai-sampai orang Iran dilaporkan mengatur jam makan agar tidak bentrok dengan penayangan serial ini.

Begitu pula di Indonesia, setelah Korea, drama Turkey dan India adalah yang paling sering ditayangkan melalui berbagai stasiun televisi swasta. Padahal, budaya ini hanyalah pintu masuk bagi berbagai produk ekonomi luar yang secara perlahan akan menggeser serta menggilas produk lokal.Tanpa disadari, mereka tengah bergerak secara massif untuk menciptakan hegemoni.

Di sisi lain, dunia juga tengah disibukkan oleh perang boneka atau Proxi War. Perang ini lebih banyak melibatkan negara-negara islam di timur tengah. Model peperangan seperti ini memang menyajikan pertentangan antar dua negara, namun keduanya tidak terlibat secara lansung melainkan menggunakan pihak ketiga. Mereka melakukan persaingan untuk mengusai berbagai sumber energy dan air yang telah diprediksikan akan mengalami kekurangan dalam waktu dekat.

Di kalangan akademisi, isu ini telah lama diperbincangkan secara serius. Mereka mengkhawatirkan kalau suatu waktu negara kita terjebak pada konsep perang boneka. Secara potensial, Indonesia masih memiliki ketersediaan energy dan air yang memadai. Bisa jadi Indonesia adalah sasaran selanjutnya. Proxi War dan Soft Power adalah ancaman serius bagi bangsa kita saat ini. Keduanya adalah batu besar yang bisa menghambat pencapaian emas bangsa kita pada 2045 mendatang.

Sebagai mantan militer, tentu Agus memahami dengan baik berbagai ancaman ini. Dia telah lebih dulu berkutat dengan segala bentuk konflik internasional yang melibatkan banyak negara. Dia adalah mantan prajurit yang terbiasa melakukan perenungan terhadap berbagai fenomena yang tidak bisa dideteksi semua orang.

Malam itu, saya tak terlalu mengikuti detil-detil presentasi AHY. Saya hanya menyaksikan pemuda itu beberapa kali dari belakang kerumunan. Sepintas, pertemuan itu serupa kuliah umum yang sering saya ikuti. Agus lebih mirip seorang doktor yang sedang membagikan kisi-kisi kepada mahasiswanya.

Di balik kunjungan dan presentasi hebat AHY, saya melihat satu hal yakni manuver cepat yang ia lakukan bersama Demokrat. Setelah kalah telak di pilkada DKI, ia mulai rajin berkeliling dan berbicara pada banyak orang. Saya menduga kuat, Agus sengaja dipersiapkan untuk menggantikan posisi ayahnya sebagai pimpinan partai. Bahkan, dia diproyeksikan sebagai pemimpin antitesis Jokowi.

Saya meyakini bahwa keputusan kontroversial yang dilakukan Agus saat menolak status jendral yang sebentar lagi akan disandangnya bersama TNI bukanlah semata-semata untuk memenangi pertarungan kursi 1 DKI. Pilkada itu hanyalah wadah pengenalan, sekaligus pembelajaran baginya untuk bertempur dimedan lain yakni saat pilpres mendatang.

Jika hendak dinilai dari sisi politik, gebrakan yang sedang ia lakukan terbilang senyap. Tapi secara perlahan, ia mulai mendapat tempat di hati banyak orang. Entah, apakah kehadirannya itu memang sengaja didesain, namun Agus tengah menampilkan satu ritme permainan yang menarik. Sesungguhnya, dia tengah melancarkan metode Soft Power itu sendiri. Agus sedang berusaha membangun citra diri. Itulah alasan logis mengapa Demokrat secara berani mengusungnya di ajang pilkada lalu.

Sejauh ini, memang nama AHY adalah pilihan tepat jika demokrat tidak ingin tersingkir dari persaingan intrik politik. Secara sederhana, kekuatan Agus bisa dilihat dari beberapa argumentasi. Pertama, publik suka dengan hal baru. Mereka suka perubahan. Mereka suka dengan sosok muda yang berintegritas.

Hal serupa bisa dilihat saat masyarakat mengelukan Jokowi sebagai sosok baru yang punya reputasi. Agus pun punya potensi untuk disukai karena reputasi dan rekam jejak hebat. Agus juga tak bisa diragukan dari sisi intelektualitas.  Sebagai sosok berlatar belakang militer, dia memiliki kecerdasan dalam seni adu taktik dan strategi. Jika kemampuan itu dikemas dengan baik dalam satu irama kerja-kerja politik, hasilnya bisa menjadi dahsyat.

Kedua, Agus adalah putra Susilo Bambang Yudhoyono, presiden dua periode Indonesia. Agus memang aktor baru dalam dunia politik, namun dibelakangnya berdiri nama besar sekaliber SBY. Publik masih ingat, saat Demokrat memenangi pemilihan lansung secara beruntun meski berstatus partai baru.

Bersama Demokrat, SBY dengan cepat menggeser hegemoni dua partai lain yang lebih dahulu eksis seperti Golkar dan PDI-P. Sebagai mantan presiden, tentunya ia memiliki modal sosial dan modal kultural yang siap diwariskan kepada anaknya.

Dunia politik memang penuh krikil dan bebatuan. Siapapun yang memasukinya mesti siap untuk menghadapi terjangan isu. Agus telah menentukan pilihan. Dia harus berjalan diantara kerikil tajam dan bebatuan yang setiap saat bisa saja membuatnya tersandung. Kematangannya akan ditentukan pada sejauh mana dia bisa bertahan. Yang pasti, menarik menunggu kejutan Agus selanjutnya.

Mataram, 11 Mei 2017

Selasa, 25 April 2017

Menanti Janji Fahri Hamzah


Nota Kesepahaman Bersama Fahri Hamzah

Politisi yang dikenal kerap mengkritik keras kebijakan Pemerintah itu kembali pulang kampung. Fahri Hamzah mengunjungi NTB disela-sela kesibukannya di Jakarta. Fahri berencana menemui orangtua serta berlibur di Pulau Moyo Sumbawa. Namun sebelum itu, dia terlebih dahulu singgah di Mataram, Nusa Tenggara Barat untuk bertemu dengan sejumlah mahasiswa Sumbawa pada kegiatan bertajuk dilaog kebangsaan.

Yang paling saya tunggui darinya adalah analisa-analisa mendalam Fahri tentang kondisi kebangsaan. Saya mengamini bahwa tak banyak politisi senayan yang punya keberanian sepertinya. Lantang berbicara meski taruhannya sebuah jabatan. Bukan sekali ini saya bertemu dengan politisi yang akrab disapa FH itu. Dahulu, saya pernah berjumpa dengan beliau diacara dialog kebudayaan yang juga digelar di Mataram.

***

Fahri Hamzah bukanlah sosok baru bagi masyarakat Sumbawa. Politisi yang kerap terlibat cekcok dengan KPK itu dulunya sempat kuliah di Universitas Mataram, Lombok sebelum akhirnya nasib membawanya ke Ibukota. Fahri pindah ke Jakarta bukan untuk sesuatu yang tidak jelas. Orang sekelas Fahri tak mungkin melangkah tanpa perencanaan. Dia ingin melanjutkan studi serta lebih banyak mendapatkan waktu untuk menggali pengetahuannya disana.

Di masa reformasi, dia punya banyak kontribusi pada gerakan mahasiswa Universitas Indonesia. Fahri merupakan pendiri organisasi kesatuan aksi mahasiswa muslim indonesia yang dikenal konsisten menyuarakan perlawanan serta berperan aktif dalam menggulingkan rezim otoritarian ala pak Harto.

Lama berselang, Fahri memilih untuk menetap di Jakarta dan terjun kedunia politik. Pemuda itupun resmi berkantor disenayan setelah mendapat dukungan penuh dari masyarakat NTB. Hingga saat ini, Fahri tercatat sebagai salah satu politisi yang kontroversial. Tak jarang, pernyataan Fahri mengundang perhatian sejumlah tokoh lain.

Di beberapa media online, saya sering membaca kicauannya. Bahkan saya kerap tertegun melihat politisi PKS itu berdebat dilayar kaca. Bicaranya selalu lantang dan belak-belakan. Apalagi jika menyangkut persoalan KPK. Sebagai orang Sumbawa, saya cukup mengenal karakter Fahri. Mungkin hal itu pula yang membuatnya tidak disukai banyak politisi lain yang berhaluan berbeda. Bahkan dulunya, saya sempat mempertanyakan keputusan PKS yang mencopot keanggotaannya tanpa sebab.

Di mata saya, politik itu ibarat pasar yang didalamnya tersebar ribuan orang dengan berbagai macam kepentingan. Di parlemen, banyak politisi yang harus tergantikan posisinya karena tak lagi searah dengan pengusa. Sukurlah hal serupa tidak terjadi pada Fahri. Kemenangannya atas PKS di persidangan beberapa waktu lalu, semakin menambah kepercayaan publik padanya. Sekali lagi Fahri membuktikan bahwa dirinya memang layak menjadi pimpinan legislatif.

***

Malam itu, Fahri hadir dengan kemeja biru dan peci hitam seperti biasanya. Datang dari Jakarta bersama rombongan, dia hendak menjadi pembicara pada kegiatan dialog bertajuk empat pilar kebangsaan yang digelar oleh mahasiswa Sumbawa di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Bertempat di aula lantai tiga hotel Narmada Convention Hall, mantan aktivis 98 itu memulai dialog dengan topik-topik ringan seputar isu kemahasiswaan. Berbicara dihadapan mahasiswa Sumbawa membuatnya tak segan menyelipkan istilah-istilah kesumbawaan untuk memancing antusiasme peserta. Satu hal yang paling melekat dibenak saya adalah istilah Kebo Belamung yang disampaikan Fahri. Sebagai orang Sumbawa, saya paham betul makna dari istilah ini.

Kebo Belamung adalah sindiran masyarakat Sumbawa bagi mereka yang hidup bermalas-malasan. Saat masih kecil, saya sering mendengar istilah ini dari orang tua. Fahri sengaja menggunakan istilah itu agar mahasiswa Sumbawa tidak mengenal kata malas. Mahasiswa tak boleh menjadi dangkal. Mereka harus lebih terbiasa membaca ketimbang berbicara. Peka dan memahami segala persoalan hingga menjadi keyakinan yang utuh terhadap sebuah kebenaran. Hal ini bisa mendorong mereka untuk berbicara lantang dihadapan siapapun. Tak terkecuali dihadapan pengusa.

Sejumlah mahasiswa yang hadir nampak antusias menghujani politisi itu dengan berbagai pertanyaan. Mereka bertannya seputar isu-isu nasional, hingga masalah kedaerahan. Ada yang mempertanyakan tentang eksistensi pemerintah dalam menyelenggarakan negara, ada juga yang bertanya tentang komitmen Fahri dalam pembuntukan Provinsi Pulau Sumbawa seperti yang dulu kerap dia gemborkan.

Namun satu hal yang membuat saya tertarik adalah saat pembacaan nota kesepahaman antara mahasiswa Sumbawa dengan Fahri Hamzah di penghujung acara. Nota itu berisi beberapa tuntutan mahasiswa terkait kondisi sosial yang terjadi di Sumbawa. Mereka mendesak agar Fahri tidak hanua berfokus pada permasalahan nasional, namun juga pada pembangunan Sumbawa kedepan.

Awalnya saya menduga kuat Fahri tidak mau menandatanganinya. Sebab tiga isi tuntutan tersebut harus direalisasikan dalam waktu dekat. Akan tetapi dugaan saya salah. Tanpa berpikir panjang, Fahri lansung menandatangani nota kesepahaman itu dihadapan seluruh peserta yang hadir. Saya yang duduk diantara ratusan peserta, ikut merayakan kesepakatan itu dengan gemuruh tepuk tangan.

Sebenarnya saya masih berharap Fahri Hamzah berbicara lebih lama lagi. Saya ingin mendengar bagaimana tokoh sekelas beliau menanggapi krisis kebangsaan yang tengah melanda republik ini. Saya penasaran bagaimana pula tanggapannya tentang konsistensi pergerakan mahasiswa saat ini dibanding zamannya dulu.

Sayangnya, kita tak selalu memiliki banyak waktu saat berdialog dengan petinggi negara. Mereka selalu terpaku pada lembar-lembar jadwal perjalanan dinas. Namun, saya selalu antusias menunggu realisasi janji beliau sebagaimana yang tertuang pada nota kesepahaman. Untuk itu, saya siap mengawalnya.

Mataram, 25 April 2017

Selasa, 07 Februari 2017

Selamat Ulang Tahun Pram


Pramoedya Ananta Toer
Saya ingin hidup, tapi tak membisu. Sebab, diam adalah bentuk lain dari kematian itu sendiri ~ Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer dianggap sebagai salah satu Sastrawan paling produktif sepanjang sejarah Indonesia. Tokoh ini telah mewariskan pikiran-pikiran besar bagi para generasi bangsa. Berbagai tulisannya direkomendasikan bagi semua orang yang hendak mengkaji Indonesia pada periode kebangkitan. Hingga saat ini, berbagai karyanya tak pernah alpa bertengger di rak-rak toko buku. Memang benar, seakan tak bosan membaca ulang lembar demi lembar coretan beliau.

Pram adalah sosok yang kontroversial. Karyanya yang berisi kritikan, membuatnya selalu bersinggungan dengan penguasa. Ia pernah menjadi pengarang yang paling dibenci oleh penguasa ditanah air. Akan tetapi diluar negeri, ia amat dikagumi banyak orang. Pram pernah mendekam dibalik jeruji besi semenjak zaman Belanda, Sukarno hingga di rezim Suharto. Di masa orde baru, pemerintah kerap menyensor tulisannya, ia dituduh sebagai komunis, hingga terpaksa dipenjarakan di pulau buruh selama 30 tahun.

Ya, itulah Pramoedya Ananta Toer. Kokohnya tembok penjara tak pernah mampu memenjarakan pikirannya. Meski dikarangkeng selama puluhan tahun, ia tak pernah alpa melahirkan karya. Baru-baru ini, bertepatan dengan 6 Februari 2017, publik tengah merayakan hari jadi Pram. Sejumlah orang yang aktif menggeluti dunia sastra, sibuk dengan berbagai seremonial. Mereka membuat satu penghormatan, mengenang tokoh besar kelahiran Blora, Jawa Tengah itu.

Yang membuat saya kagum tahun ini adalah mesin pencari Google juga ikut merayakan hari jadi beliau. Google membuat satu ilustrasi seorang pria berambut putih, berkacamata, dan berakaus. Pria itu digambarkan sedang mengetik di mesin tik manual.

Tokoh ini memang layak untuk dikenang, ia melahirkan karya yang menggugah gerbang internasional. Ia mewariskan tafsir ulang sejarah bangsa, yang diharapkan menjadi lentera penerang menuju masa depan. Pram memang telah lama berpulang, namun sesuai kutipannya, ia tak pernah pudar ditelan sejarah.

Malam ini, aku hanya bisa menundukkan kepala untuk mengenang dirinya. Selamat ulang tahun Pram.

Mataram, 07 Februari 2017

Selasa, 29 November 2016

Selamat Jalan Kamerad

Fidel Castro

Dunia internasional tengah berduka. Fidel Castro, seorang tokoh besar yang juga merupakan icon dari revolusi Kuba itu menghembuskan nafas terakhir pada Jumat, 25 November 2016. Demikian menurut pengumuman televisi negara Kuba yang kemudian dikutip berbagai kantor berita dan media utama di dunia.

Cerita tentang kehidupan lelaki yang juga merupakan teman akrab dari tokoh kiri Che Guevara itu adalah cerita tentang perlawanan. Semasa hidupnya, Castro adalah mimpi buruk bagi negara-negara adidaya sekelas Amerika. Bahkan ketika menjabat sebagai presiden, dia memaparkan bahwa dirinya telah mengalami lebih dari 600 kali upaya percobaan pembunuhan.

Castro telah membuka jalan menuju sosialisme. Keberhasilan dalam menumbangkan rezim otoriter kala itu, tak terlepas dari kecerdikannya dalam mengelaborasi strategi politik untuk membangun kekuatan sosial rakyat. Tak jauh berbeda dengan sederet tokoh besar pendiri republik ini, Castro juga menghabiskan lebih dari setengah hidupnya demi mengembalikan Kuba kepada pelukan rakyat.

Bagian terpenting dari episode hidupnya adalah ketika menumbangkan rezim Batista. Castro harus rela kehilangan sahabat terbaiknya akibat dari keganasan rezim tersebut. Meski pernah ditangkap selama 25 tahun, Castro akhirnya mampu melancarkan aksi kudeta yang mengantarkan dirinya ke tampuk kekuasaan selama lima dekade dan tercatat sebagai presiden terlama yang pernah memerintah Kuba.

Satu hal yang patut diingat dari tokoh ini adalah sikapnya yang anti terhadap kapitalisme. Ia pernah mangatakan bahwa kapitalisme adalah sesuatu yang menjijikan dan kotor karena dapat menyebabkan peperangan. Di mata Castro, kapitalisme adalah biang dari perpecahan bangsanya.

Atas dasar itu, hubungannya dengan beberapa pemimpin Amerika nampak renggang. Dia kerap kali mengeluarkan kebijakan yang membuat posisi Amerika tidak nyaman. Semasa menjabat sebagai presiden, Castro pernah mengeluarkan kebijakan yang melarang peradaran dollar di Kuba. Di saat-saat pertama, negaranya nampak kesulitan menghadapi kondisi tersebut, akhirnya setelah beberapa tahun, kondisi perekonomian Kuba kembali berjalan normal.

Kini Castro telah tiada. Tapi semangat hidupnya akan terus tumbuh dalam tiap-tiap jiwa yang berkecamuk. Castro adalah simbol perlawanan bagi mereka yang merasa dikucilkan. Tak salah jika presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma mengatakaj bahwa "Fidel Castro telah mendedikasikan seluruh hidupnya tidak hanya untuk kebebasan rakyat Kuba, tetapi juga kebebasan rakyat tertindas di seluruh dunia."

Selamat jalan the camerad Castro. Terimakasih atas kisah heroik dan pesan yang menggugah semasa hidupmu.

Sumbawa, 29 November 2016

Kamis, 10 November 2016

Bung Tomo Sang Penggugat

Bung Tomo

Di hari ini, jutaan penduduk Indonesia memperingati hari pahlawan. Nama Bung Tomo disebut-sebut sebagai orator ulung dan gagah berani menentang tentara Inggris yang kembali berniat menguasai Surabaya. Tapi saya ingin mengenang lelaki yang aslinya bernama Sutomo itu dengan cara lain. Beliau bukan sekedar singa podium, beliau adalah seorang religius yang anti poligami. Bahkan diatas semua itu, lelaki kelahiran Surabaya, 02 Oktober 1920 ini adalah seorang yang terbiasa menggugat rezim pengusa.

Semenjak belia, Bung Tomo telah memiliki ketertarikan tersendiri terhadap dunia jurnalistik. Dia mengawali kariernya sebagai wartawan ketika berusia 17 tahun. Media tempatnya bekerja antara lain harian Soeara Oemoem, harian berbahasa Jawa Ekspres, mingguan Pembela Rakyat, dan majalah Poestaka Timoer. Dia juga pernah menjabat sebagai wakil pemimpin redaksi kantor berita pendudukan Jepang, Domei, dan pemimpin redaksi kantor berita Antara di Surabaya.

Berada di dalam gerbong jurnalisme, membuat Bung Tomo sangat dekat dengan segala aktivitas dan kebijakan pemerintah kala itu. Dia tak segan untuk mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggap melenceng dari nilai-nilai demokrasi.

Kejujuran serta semangat nasionalisme yang ia miliki tak pernah goyah, bahkan hingga bangsa ini melepaskan diri dari bayang-bayang imperialisme sekalipun. Di masa pemerintahan Presiden Sukarno, beliau pernah menggugat kebesan pers yang dinilainya kembali membawa masyarakat kepada pembatasan kemerdekaan pers di jaman kolonial.

Hal lain yang dilakukan oleh ayah lima anak ini adalah menggugat presiden Sukarno karena keputusannya membubarkan DPR. Di mata Bung Tomo, jelas sekali bahwa apa yang dilakukan oleh bapak proklamator itu telah menciderai nilai-nilai demokrasi dan kedaulatan rakyat. Menurutnya, membubarkan hasil pemilu yang sah, adalah sebuah penyimpangan.

Tak sampai disitu, orator yang yang pidatonya pernah membakar semangat perjuangan arek arek Surabaya itu juga pernah dipenjarakan pada masa pemerintahan presiden Suharto. Ketika itu dia dengan lantang mengkritik pembangunan TMII yang dinilainya tidak tepat. Beliau juga mengkritik praktek cukongisme sebagai realisasi nepotisme dan klik, melalui peran ekonomi yang berlebihan dari pengusaha nonpribumi.

Bung Tomo sangat keberatan atas sikap Suharto dan Ali Sadikin yang seolah-olah lebih menganakemaskan etnis tionghoa ketimbang pribumi. Akibat hal tersebut, dia pun terpaksa ditangkap dengan tuduhan melakukan tindakan subversif. Bung Tomo dikerangkeng tanpa proses pengadilan di Penjara Nirbaya, Pondok Gede selama satu tahun.



Bung Tomo
Bung Tomo
Cerita tentang sekelumit kehidupan Bung Tomo adalah cerita tentang perlawanan. Dia tidak hanya berjuang mengusir penjajah, tapi juga bertekad meniadakan segala bentuk penindasan di negeri ini. Tak peduli siapapun pemegang tampuk kepemimpinan, sebab ia bukanlah tipe generasi yang tunduk patuh dan membebek pada rezim penguasa. Tapi ia telah menjelma sebagai mimpi buruk bagi penguasa mamanpun.

Dalam bukunya yang berjudul "Bung Tomo Menggugat" kita setidaknya disuguhkan oleh semangat serta konsistensi dari tokoh ini sebagai pejuang yang benar-benar ingin membebaskan bangsanya dari belenggu penjajah dan kemiskinan. Dari sana kita bisa melihat bagaimana keberanian, kejujuran, serta kepolosan Bung Tomo dalam menghadapi situasi dan kondisi zamannya.

Barangkali yang patut dikenang dari tokoh ini adalah kata-katanya yang lugas dan lantang sehingga mampu menyentuh batin rakyat Surabaya kala itu. Pidatonya yang fenomal, adalah virus yang menyengat rakyat Surabaya, lalu menjadikan mereka sebagai kaki-kaki yang bergerak tanpa rasa takut sedikitpun. Slogan merdeka atau mati yang beliau ucapkan puluhan tahun lalu, serupa pupuk yang menggemburkan semangat bangsa ini dalam mengusir penjajah. Takbir yang beliau kumandangkan layaknya suara langit yang menggetarkan nurani rakyat untuk ikut bertempur melawan penindasan.

Di zaman ini, kita bahkan nyaris tak menemukan anak-anak muda yang suka membacakan naskah perlawanan. Anak muda kita lebih banyak berkerumun di media sosial, lebih memilih menulis status yang memusingkan pembacanya, sembari sesekali menampilkan foto selfie dengan bibir serupa donal bebek dan lidah yang menjulur keluar.

Anak muda kita lebih banyak membincangkan berbagai gadged terbaru, lalu melupakan pentingnya kesadaran sejarah, mereka lupa betapa bangsa ini masih membutuhkan orang-orang yang senantiasa ikhlas berada di garis perlawanan.

Mungkin inilah serentetan dinamika yang tengah dihadapi bangsa kita sekarang. Entah kapan kesadaran itu akan tumbuh dan mengakar lalu menjadi sumbu yang meledakan penindasan dalam diri generasi muda kita. Hari ini, nama Bung Tomo disebut-sebut, tapi semangatnya jauh tertinggal di lembar-lembar lusuh buku sejarah.

Mataram, 10 November 2016

Sabtu, 22 Oktober 2016

Tigor Silaban, Oase Pelayan Kesehatan Indonesia yang Meradang


Tigor Silaban

"Strive not to be a succes, but rather to be of value." Kalimat ini saya temukan dalam buku Fakta Unik dan Menarik Albert Einstein, karangan Fitria Zelfis atau lebih dikenal dengan nama pena Elshabrina. Sejak lama saya telah mengamini kebenaran dari pernyataan Einstein. Saya selalu meyakini bahwa siapa saja yang telah menuai kesuksesan di dunia ini, dahulunya, pasti mereka telah melalui fase-fase dimana setengah dari kehidupannya di dedikasikan demi kepentingan orang banyak.

Mereka yang menuai kesuksesan telah melakukan sesuatu yang tidak biasa, sesuatu yang tidak di lakukan oleh orang lain. Mereka adalah orang-orang yang terlahir untuk melawan badai besar, mereka adalah panji-panji sosial yang bekerja tidak atas dasar upah melainkan dedikasi. Tak ada satupun pemimpin besar di dunia ini yang terlahir dari zona nyaman. Mereka adalah orang-orang yang dilahirkan sebagai penentang kekuatan besar lalu menuai buah manis dari manivestasi perjuangan yang mereka lakukan.

***

Tigor Silaban adalah dokter spesialis Epidemiologi. Sejak menyelsaikan kuliah kedokterannya di Universitas Indonesia pada 1978, dia memilih untuk bekerja di pedalaman Papua sebagai dokter. Tak tanggung-tanggung, Tigor memilih kawasan zona merah yang rawan konflik sebagai tempat praktiknya.

Hingga usianya yang ke-62 tahun, anak asli Bogor, Jawa Barat itu masih mengabdikan dirinya sebagai petugas kesehatan di Tolikara, Papua. Setiap hari dia harus keluar masuk hutan untuk mencari orang yang butuh pertolongan. Bahkan ayah dari 3 anak itu lebih memilih menjadi warga sederhana di Papua dan meningalkan segala bentuk kemewahan di Jawa.

Di mata saya, Tigor adalah sosok yang jarang kita jumpai di republik ini. Di saat para dokter lain berlomba-lomba untuk bekerja di kawasan yang sudah tersentuh pembangunan dan kecanggihan teknologi, dia malah memilih mengasingkan diri ke Pedalaman Oksibil, Puncak Jaya, Papua.

Sederet cerita tentang keterbatasan alat kesehatan dan realitas terhadap kondisi sosial masyarakat Papua jaman dulu bahkan tak membuatnya mengeluh. Di tengah keterbatasannya itu, Tigor tetap melakukan operasi besar. Mulai dari operasi melahirkan sampai operasi tumor.

Tigor tak pernah berfikir tentang segala ancaman yang akan terjadi pada dirinya, dia hanya berpendapat bahwa keselamatan pasien jauh lebih penting dari apapun. Segala upaya akan dia lakukan demi melihat pasiennya sembuh. Dalam setiap senyum orang tua pasien yang dia tangani, ada setitik kebanggaan pada dirinya. Tigor senang ketika para penderita sakit di pedalam Papua, bisa kembali menjalani rutinitas mereka berkat bantuan dirinya.

Dia tak pernah berfikir bahwa apa yang dia lakukan sangat beresiko mengancam hidupnya. Dia tengah berada di Pelosok Indonesia, jauh dari gemerlap lampu kota yang menyilaukan. Dia tengah menjajaki kawasan berbahaya dari Organisasi Papua Merdeka kala itu, kelompok seperti ini jelas merupakan ancaman serius bagi Tigor. Organisasi ini dikenal radikal dan berbahaya. Mereka bahkan melawan aparatur negara dengan bermodalkan senjata.

Namun tampaknya hal seperti itu tak membuatnya gerah. Tigor tetap bersemangat melewati setiap harinya disana. Dia bekerja hampir 24 jam sehari. Di pagi hari, dia mengurus administrasi. Sore harinya dia pergi ke desa-desa, dan ketika malam dia melakukan segala macam operasi. Yang membuat saya semakin tercengang adalah semua operasi besar yang dia lakukan itu hanya menggunakan peralatan primitif.

Tentu saja kita bisa membayangkan bagaimana harus tinggal di pedalam Papua. Setiap hari kita dihadapkan pada kondisi sosial masyarakat Papua yang masih primitif, segala kebutuhan serba terbatas. Bahkan sampai era digital seperti sekarang pun, masih banyak wilayah di Pedalaman Papua yang masih terisolir. Namun mari sejenak mengamati apa yang tengah dilakukan Tigor. Dia kembali mengajak kita kepada Bab-bab perjuangan. Dia seakan mengajak semua orang untuk memaknai kembali dan lebih dalam lagi tentang sebuah kata pengabdian.

Bagi saya, Tigor adalah sosok yang kisahnya patut dijerat dalam aksara. Seseorang yang telah mendedikasikan lebih dari setengah hidupnya untuk kepentingan orang banyak, patut untuk di abadikan agar untaian jejak perjuangan yang di torehkan dapat diilhami oleh orang lain di kemudian hari. Dia layak mendapat acungan jempol dari siapapun. Dia pantas di anugrahi penghargaan sebagai dokter berprestasi. Kebulatan tekad serta keteguhan hati telah mengantarkannya kepada titik yang seharusnya.

Tigor serupa lilin penerang di tengah kabut pekat yang menyelimuti dunia kesehatan bangsa kita saat ini. Dia adalah tongkat bagi siapa saja yang telah mendeklarasikan dirinya untuk menjadi pelayan publik. Ketika dunia kesehatan kita tengah diguncang huru hara dan sederet kasus memilukan, Tigor datang sembari membawa embun kesejukan.

Ada banyak cerita tentang mereka yang tiba-tiba berhati robot ketika melayani masyarakat miskin. Di berbagai sudut negeri ini, ada sederet kisah miris tentang mereka yang belum sepenuhnya sadar bahwa pelayan kesehatan adalah manusia-manusia berhati nurani yang diberi mandat oleh jutaan masyarakat Indonesia untuk menjadi penolong mereka dikala sakit.

Di Lampung Selatan, seorang pelayan kesehatan yang berprofesi sebagai Bidan, telah berhasil menambah serentetan daftar kelam kisah pelayanan kesehatan di republik ini. Seorang bidan di Desa Betung, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan dengan sikap arogan menolak seorang bocah yang sedang mengalami sakit panas tinggi dan kejang-kejang ketika hendak berobat ke rumah praktek miliknya. Alih-alih menerima pasien dengan tangan terbuka, si bidan malah menyuruh ayah pasien untuk berobat ke tempat lain.

Kembali kita mendapati sebuah ironi yang membuat batin kita bergertar. Di Banyumas, ada kisah tragis seorang pria bernama Dartam yang ditolak berobat oleh pihak RSUD Banyumas karena alasan administratif dan sempat menjadi viral di berbagai media sosial beberapa waktu lalu.

Belum lagi sepenggal kisah dramatis tentang keluarga Dewi Angraini, ibu dari bayi Khiren yang menderita penyakit jantung bocor ini terpaksa menandatangani surat pernyataan penanggung utang selama perawatan senilai 124 juta kepada pihak BPJS dengan alasan keterlambatan mengurus Surat Egibilitas Peserta. Dewi tak di ijinkan pulang sebelum menandatangai surat pernyataan tersebut. Bihak BPJS bahkan sempat mengirimi surat kepada Dewi yang isinya apabila orang tua Khiren, tak mampu melunasi biaya operasi anaknya, maka kasus ini akan dilimpahkan ke lembaga piutang negara.

Mari pula menyimak Kisah haru tentang ibu Maryam. Seorang wanita paruh baya yang harus menitikan air mata ketika mendapat perlakuan tak wajar dari petugas puskesmas. Ketika itu saya baru pertama kali menginjakan kaki di tanah Mataram, saya sempat termenung ketika melihat pengakuan ibu Maryam di salah satu media massa. Dia mengutip celetukan yang di lontarkan oleh pihak Puskesmas kepadanya. Ketika itu dia tengah membawa anaknya yang hampir sekarat untuk berobat. Karena menggunakan kartu tanda miskin, dia mendapat perlakuan yang tidak wajar. Seorang petugas puskesmas sekenanya mengatakan "Kalau pasien yang itu, tidak usah terlalu di layani, sebab datang berobat tidak bawa uang." Kata itu di ucapkan dalam bahasa sasak.


Tigor Silaban

Ada gemuruh didada melihat paradigma yang terjadi. Pelayan masyarakat seakan bertranspormasi menjadi mahkluk yang tidak beretika. Mereka serupa budak kapitalisme yang menggilas kepercayaan rakyat. Dunia kesehatan kita menjadi titik kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Mereka yang berpenampilan nyentrik akan lebih di utamakan dalam hal pelayanan. Sementara yang terlihat kumuh dan peot sedikit di abaikan. Ada pertanyaan kritis dibenak saya melihat kondisi ini, mengapa para pelayan publik harus memancarkan energi negatif kepada masyarakat-masyarakat kecil? bukankah dibalik gaji tinggi yang mereka nikmati tiap bulan, ada sekian persen saham masyarakat yang di ikhlaskan?

Dari gaji tinggi yang mereka terima setiap bulan, ada keikhlasan seorang penjual telur yang dipotong sekian rupiah. Boleh jadi, di situ ada sekian persen dari upah seorang bapak yang membanting tulang sebagai buruh pabrik. Barangkali di situ ada jejak pembayaran seorang petani yang baru saja menjual hasil panen. Atau dipotong dari bayaran seorang tukang cuci keliling, yang baru saja menyelsaikan tumpukan pakaiannya.

Tigor tak pernah berharap lebih kepada masyarakat, dia paham akan kondisi sosial masyarakat pedalaman Papua yang terisolir. Segala kepunyaan yang ia miliki telah ia dedikasikan untuk kesembuhan orang banyak. Hatinya terlalu luas untuk melakukan tindakan yang justru akan melanggar sumpahnya dengan tuhan. Punggungnya mungkin terlalu tegap untuk membungkuk kepada kepentingan lain. Matanya terlalu jernih untuk silau kepada upah sebagai seorang pelayan kesehatan.

Di rimba pedalaman Papua, apa yang telah dilakukan Tigor telah menggilas batin kita bahwa seyogyanya menjadi manusia yang bernilai lebih utama ketimbang selalu sibuk berfikir untuk menjadi manusia sukses. Tigor mengajarkan kita untuk lebih jernih dalam memandang realitas masyarakat. Dia meletakan segala bentuk kepentingan orang banyak dan mengubur dalam-dalam egoisme yang melekat.

Dia lebih memilih untuk menepi di pedalam Papua dan berafiliasi dengan kesederhanaan dalam pengabdian, ketimbang hidup ditengah huru hara dan segala bentuk kemegahan yang ada di kota. Tigor Silaban, telah membawa obor penerang kedalam gerbong gelap dunia kesehatan kita. Dia adalah Oase bagi jutaan pelayan kesehatan di Indonesia yang meradang. Kepada manusia inspiratif seperti Tigor, kita patut menyerap hikmah.

Seusai Membaca Biografi Tigor Silaban. Mataram, 22 Oktober 2016

Minggu, 24 Juli 2016

Nurdin Mahendra Pencipta Tarian Samaras Gamporo


Nurdin mahendra

Seni tari merupakan seni yang menampilkan gerak tubuh secara berirama yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu untuk keperluan pergaulan, mengungkapkan perasaan, maksud dan pikiran. Biasanya diiringi oleh bunyi-bunyian untuk memperkuat maksud yang ingin disampaikan. Hampir di setiap daerah di indonesia memiliki tarian khas dan menjadi identitas dari daerah masing-masing. Mulai dari tari Saman Aceh, tari Pendet Bali, tari Piring Padang serta di banyak tempat lain di Indonesia. Tari merupakan aset daerah yang sangat berharga dan perlu dijaga kelestariannya.

Berbicara mengenai tari, di Sumbawa ada banyak sekali tarian yang diciptakan dengan latar belakang dan sejarah yang berbeda-beda, sesuai selera pencipta tarian tersebut. Nama-nama dari tariannya pun kian beragam sesuai dengan pesan, dan perasaan yang ingin disampaikan kepada publik.

Di Kecamatan Empang, Kabupaten Sumbawa, ada seorang pegiat seni yang cukup mahir menciptakan tarian, bahkan tak jarang tarian yang dia ciptakan mampu menjuarai Festival Budaya di Sumbawa. Namanya Nurdin Mahendra, lahir di Empang pada 11 maret 1980. Dikalangan pencipta tari daerah, Nurdin terbilang masih sangat muda dan baru seumur jagung, tapi tidak disangka, kreasi-kreasi baru dalam gerak dan ide yang dia sematkan pada tari kreasinya mampu membawa namanya cukup kesohor di kalangan pegiat seni Sumbawa. Contohnya tari Samaras Gamporo yang dia ciptakan beberapa tahun lalu telah mampu menembus tingkat nasional.

Tari Samaras Gamporo merupakan tari kreasi baru yang menggambarkan kompleksitas dan keharmonisan bermain anak-anak dari tanah samawa. Aneka permainan yang dilakoni sudah turun temurun di kalangan anak samawa. Bermain, bernyanyi, bersenda gurau, bertutur kata, bersastra, bersuka cita, sesuai dengan gaya-gaya khas anak-anak sumbawa tentunya. Samaras gamporo berarti bergembira riang atau riang gembira.

Alur tari diawali oleh beberapa anak perempuan yang saling memanggil, mengajak temannya untuk bermain kemudian membentuk kelompok kecil sambil bernyanyi, bersenda gurau, sahut-sahutan dengan penuh suka cita. Di saat anak-anak perempuan sedang asyik bermain, datanglah beberapa anak laki-laki dengan olok-olokan mengganggu si perempuan.

Dengan sedikit kesal anak perempuan mengusir si laki-laki dengan berteriak dan menjewer. Anak laki pun berlari sambil tertawa ( Dalam bahasa sumbawa disebut Nyanyil ) kemudian suasana kembali ceria, anak perempuan pun melanjutkan aktifitasnya. Bermain kucing dan tikus, membentuk lingkaran besar dan kecil, dan bermain petak umpet.

Layaknya Hompimpa Alaium Gambreng, anak-anak sumbawa punya cara tersendiri untuk menentukan siapa yang akan berjaga-jaga yaitu dengan cara semua teman lain mengangkat telunjuknya keatas kemudian menaruhnya ditelapak tangan si penentu permainan. Siapa yang ketangkap jari telujuknya atau yang paling lama mengangkat jari telunjuk maka dialah yang akan berjaga duluan. Biasanya dalam melakukan ini anak-anak sambil bernyanyi "Jung Kasepit Kembali Jagung Si Jung Rea Entit Ka Peno Kakan Baso."

Terbukti tarian ini berhasil menjuarai Pestival Budaya Samawa pada 2014 dan juga menjadi juara pada perlombaan tari anak tingkat provinsi se-NTB. Lomba yang di adakan pada selasa, 19 april 2016 di taman budaya mataram itu telah mengantarkan Tarian Samaras Gamporo sebagai perwakilan Nusa Tenggara Barat pada Festival Nasional Tari Anak di TMII Jakarta yang akan digelar pada 6-7 Agustus 2016 bertempat di Tugu Api Pancasila TMII Jakarta. Tentunya doa dan harapan kembali akan mengiringi perjalanan mereka untuk mengenalkan cita rasa tarian Sumbawa kepada masyarakat indonesia dan dunia.

Mataram, 24 Juli 2016

Rabu, 29 Juni 2016

Namanya Iqbal Sanggo



Lahir di Sumbawa bagian timur tepatnya kecamatan Empang pada 14 februari 1986, Muhammad Iqbal atau lebih akrab disapa Iqbal Sanggo adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Tumbuh sebagai pemuda yang memiliki ketertarikan tersendiri terhadap dunia seni khususnya seni musik, ayahnya Syaifuddin HMS adalah pegawai negeri yang taat dan cukup dipandang ditengah masyarakat sedangkan ibunya Siti Hasanah adalah ibu rumah tangga.

Entah karena terlahir dari keluarga yang memiliki latar belakang seni ataupun hidup dalam lingkungan keluarga yang mencintai seni, yang jelas beliau sangat mahir memainkan berbagai jenis alat musik tradisional maupun alat musik modern seperti gitar, serune, rebana, jimbe dan lain sebagainya bahkan beliau juga menciptakan lagu-lagu daerah yang sangat hits disumbawa sekarang ini di album sambava dengan judul diantaranya bulung, guar tangar, damar kurung, kemang lala dan lain-lain.

Meski hanya menempuh pendidikan sampai S1, tetapi banyak teman-teman beliau yang mengatakan bahwa beliau memiliki pengetahuan yang luas terutama dibidang politik, budaya dan seni.

Ayah dari satu anak itu dikenal sebagai pribadi yang kocak, sering membuat temannya terhibur, tidak jarang beliau mengcucapkan hal-hal yang mengundang gelak tawa, disisi lain beliau adalah sosok yang kharismatik, kritis, tangguh bagi keluarga serta memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap orang-orang disekitarnya.

Menempuh pendidikan dasar di madrasah ibtidaiah kecamatan Empang pada 1998 beliau merupakan siswa yang lamban dan tidak terlalu menonjol dari aspek akademik tapi bakatnya akan dunia seni sudah mulai terlihat semenjak kecil terbukti dengan keikutsertaannya pada setiap lomba seni yang diadakan oleh sekolahnya baik pada tingkat kecamatan, kabupaten bahkan provinsi. potensi ini yang kemudian menjadikan beliau sebagai salah satu seniman termuda dan dihormati disumbawa sampai saat ini.




Tercatat beliau melanjutkan pendidikan di MTsN Empang pada 2001, dan MAN 3 sumbawa pada 2004. Selanjutnya menempuh pendidikan S1 pendidikan bahasa inggris FKIP di universitas mataram pada 2004 hingga akhirnya pindah ke universitas 45 mataram pada 2011 dan menyelsaikan studi ilmu komunikasi di fakultas ilmu sosial dan ilmu politik.

Semasa kuliah beliau sangat aktif diberbagai organisasi baik internal kampus maupun eksternal kampus, beliau pernah menjabat sebagai sekjen HMP2K unram tahun 2008, ketua umum forum komunikasi pemuda, pelajar, dan mahasiswa samawa-mataram yang merupakan organisasi yang bersifat kedaerahan pada 2008-2010, Korwil KSBSI NTB 2010, selain itu beliau juga merupakan pendiri dari paguyuban seni KIAK G ART yang sampai sekarang ini pun masih tetap eksis.

Tak berhenti sampai disitu, beliau juga pernah menjadi pemuda pelopor tingkat nasional bidang sosial budaya pada tahun 2013 dan sampai sekarang ini menjabat sebagai Seketaris FPP (Forum pemuda pelopor) dan juga wakil rektor UTS (Universitas teknik samawa) yang merupakan salah satu universitas terbaik disumbawa.

Iqbal Sanggo adalah salah satu tokoh muda yang cukup menonjol di Sumbawa saat ini. Ia memiliki kapasitas, berjiwa sosial dan masih sangat muda. Meski saat ini beliau tengah mengemban amanah sebagai wakil rektor, tapi melalui rekam jejak beliau kita bisa belajar tentang bagaimana memaksimalkan peran pemuda di dalam masyarakat, bagaimana seharusnya pemuda memberikan kontribusi yang signifikan bagi pembangunan daerah khususnya Sumbawa.

Mataram, 29 Juni 2016