Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Juli 2017

Komunitas Bissu dan Keberagaman Gender yang Harus Dilestarikan

Bissu Sulawesi (Sumber foto: Foto Sulawesi)

Hiliir mudik isu keberagaman gender dan seksualitas di Indonesia. Serupa bola panas, kasus ini selalu memicu respon dari banyak pihak. Belakangan, fenomena LGBT adalah yang paling senter terdengar di permukaan. Bahkan di sejumlah kota besar di Indonesia, komunitas LGBT kian marak bak cendawan di musim hujan.

Fenomena LGBT di Indonesia setidaknya sudah ada sejak era 1960-an. Ada pula yang menyebut dekade 1920-an. Namun, pendapat paling banyak mengungkapkan bahwa fenomena LGBT ini sudah mulai ada sekitar dekade 60-an. Lalu, ia berkembang pada dekade 80-an, 90-an, dan meledak pada era milenium 2.000 hingga sekarang. Entah apa pemicunya.

Menyeruaknya isu keberagaman gender, membuat saya teringat akan kisah hidup Puang Matoa Saidi. Seorang laki-laki gemulai, pemimpin komunitas bissu di Sulawesi. Layaknya kebanyakan orang di luar sana, Saidi terlahir dengan kelamin laki-laki. Namun, tabiatnya sungguh menyerupai perempuan. Orang-orang di kampungnya, Lappariaja, Sulawesi Selatan menyebutnya calabai.

Bagi masyarakat bugis, calabai adalah sebutan bagi laki-laki yang memiliki tabiat menyerupai perempuan. Calabai tak sepenuhnya bisa diterima dengan baik ditengah masyarakat. Begitu pula dengan Saidi. Ia tidak tumbuh dalam iklim yang serba demokratis seperti sekarang. Dahulu, terlahir sebagai calabai adalah duka bagi sebagian orang. Mereka harus rela mendapat pengadilan sosial dan dijustifikasi sesuka hati atas nama tuhan dan agama.

Tak terkecuali Puang Matoa Saidi, hukum itu juga berlaku padanya. Takdir hidup yang menggiringnya sebagai calabai bukanlah sebuah berkah di masa kecil. Bahkan dalam usia yang masih belia, Saidi harus menanggung beban yang begitu besar. Terlebih lagi ketika ayahnya, Puang Baso, marah dan menolak saat mengetahui tabiat Puang Matoa Saidi. Ternyata anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga itu, adalah seorang perempuan yang bersemayam dalam tubuh laki-laki.

Sepintas, Saidi serupa remaja yang hendak menemukan jawaban. Dia tidak mengerti dengan takdir. Bukankah Tuhanlah yang menghendekinya terlahir sebagai calabai? Lalu mengapa orang-orang di luar sana selalu mengatasnamakan tuhan untuk menabur getir di dalam dadanya. Pertanyaan inilah yang selalu membayangi benak lelaki gemulai itu, sebelum Daeng Madenring, seorang yang belakangan menjadi ayah angkat Saidi membawanya ke Segeri, negeri para bissu.

***

Cerita tentang Puang Matoa Saidi ini saya temukan dalam buku berjudul Calabai, karya Pepi Al-Bayqunie. Dari sana pula saya mendapat sedikit referensi tentang kehidupan para bissu di Sulawesi. Buku itu dengan apik membabar kisah perjalanan hidup seorang calabai yang ditunjuk dewata demi mengemban tugas suci sebagai bissu tertinggi.

Buku Calabai, Karya Pepi Al-Bayqunie

Jauh sebelum membaca buku terbitan Javanica tersebut, saya juga pernah diceritakan oleh salah seorang sahabat tentang keberadaan komunitas para bissu. Sahabat itu adalah alumni Universitas Hasanuddin Makassar. Darinya saya mengetahui tentang kehidupan bissu yang keseluruhannya adalah calabai. Dikatakan mereka adalah para pemangku adat yang memiliki kesaktian berupa ilmu kebal terhadap benda tajam.

Di tengah masyarakat Bugis, mereka yang terlahir sebagai calabai berpeluang besar untuk menjadi bissu, ahli waris adat dan tradisi luhur suku Bugis yang dipercaya menjadi penghubung antara alam manusia dan alam dewata. Bissu adalah pemuka spritual yang telah melampaui sifat laki-laki dan perempuan di dalam dirinya. Mereka adalah para pengemban tugas sebagai penjaga keseimbangan alam.

Tak semua orang mengenal pendeta agama bugis kuno ini. Di zaman pra Islam, bissu memiliki peranan istimewa karena merupakan operator komunikasi antara alam manusia dan dewata. Oleh karena itu, bissu harus terjaga dari hal--hal yang bersifat duniawi. Mereka biasanya memimpin sejumlah ritual adat seperti upacara pelantikan raja, kelahiran, kematian, dan pertanian.

Para bissu juga terbiasa memainkan tarian Manggirik, sebuah tarian fenomenal dalam dunia kebissuan. Serupa orang kesurupan, mereka mempertontonkan atraksi kebal dengan menusukkan keris ketubuhnya. Tak hanya mahir menari, bissu tertinggi seperti Puang Matoa Saidi juga fasih membaca sureq I La Galigo, sebuah epik mitos penciptaan dari peradaban Bugis. Bentuknya berupa kitab yang berisi puisi bahasa Bugis dan ditulis dalam huruf Lontara kuno.

Sureq I La Galigo (Sumber foto: Wikipedia)

Hingga saat ini, komunitas bissu di Sulawesi masih tetap bertahan, meski jumlahnya kian menyusut tergerus zaman. Keberadaan mereka tak lagi diistimewakan seperti dulu. Tak banyak lagi masyarakat lokal yang mau memesan mereka dalam ritual-ritual adat.

Dalam kehidupan modern, peranan bissu mulai ditinggalkan. Mereka tidak lagi menetap di kerajaan, melainkan berkumpul dengan masyarakat sekitar. Bahkan, dalam satu publikasi sejarah, pemberontakan DI/TII yang dipimpin Kahar Mudzakar, membuat banyak bissu kala itu dibunuh serta dipaksa untuk menjadi laki-laki sejati sesuai ajaran agama.

Sangat disayangkan jika komunitas para bissu ini tak segera diselamatkan. Setidaknya, pemerintah harus memberikan perhatian khusus demi menjaga regenerasi dan kepemimpinan baru para bissu di masa mendatang. Mereka semestinya diberikan ruang ekspresi tersendiri untuk hidup karena merupakan bagian dari budaya yang telah diwariskan selama bertahun-tahun.

Dari sisi potensi, peranan bissu dalam sejumlah upacara adat dapat dijadikan maghnet yang kelak menarik banyak wisatawan untuk berdatangan. Pemahaman mereka tentang literatur-literatur Bugis kuno juga bisa didayagunakan sebagai media edukasi dan pembelajaran bagi generasi milenial. Di tengah kekhawatiran klaim budaya oleh negara lain, setidaknya bissu menjadi catatan khusus bagi pemerintah sebagai warisan budaya asli Indonesia.

Pada abad kekinian, komunitas bissu dan pemerintah haruslah berjalan beriringan dalam pengembangan sektor budaya, pariwisata, bahkan pendidikan. Sebab sejak dulu, keberadaan bissu di Sulawesi laksana pupuk yang menggemburkan kehidupan dengan nilai-nilai kebudayaan. Mereka telah hadir dari sekian ratus tahun lalu demi membumikan pesan para leluhur dari generasi ke generasi.

Para bissu juga tak ada kaitannya dengan isu LGBT dan seksualitas yang marak belakangan ini. Maka dari itu, tak ada alasan bagi pemerintah untuk mengabaikan keberadaan mereka. Lagian, istilah LGBT hanya berlaku bagi pecinta sesama jenis. Sementara filosofi kehidupan bissu jauh lebih mendalam.

Meskipun semua bissu adalah calabai, bukan berarti semua calabai berhak menyandang status sebagai bissu. Sebab dalam aturannya, ada prasyarat-prasyarat yang harus dilakukan oleh seorang calabai terlebih dahulu. Seorang yang dikatakan bissu, haruslah terbebas dari segala belenggu nafsu duniawi.

Atraksi Kebal Para Bissu (Sumber foto: Tribun)

Secara identitas, menurut Sharyn Graham, seorang peneliti di University of Western Australia di Perth, seorang bissu tidak bisa dianggap sebagai banci atau waria, karena mereka tidak memakai pakaian dari golongan gender manapun, namun setelan tertentu dan tersendiri untuk golongan mereka.

Sharyn mengungkapkan, dalam kepercayaan tradisional Bugis, tidak hanya terdapat dua jenis kelamin seperti yang kita kenal, tetapi empat atau bahkan lima bila golongan bissu juga dihitung yakni, "Oroane" (laki-laki), "Makunrai" (perempuan), "Calalai" (perempuan yang berpenampilan layaknya laki-laki), "Calabai" (laki-laki yang berpenampilan layaknya perempuan, dan golongan bissu, dimana masyarakat tradisional menganggap mereka sebagai kombinasi dari semua jenis kelamin tersebut.

Pada titik ini, tak berlebihan jika saya menyimpulkan bahwa fenomena bissu di Sulawesi adalah keberagaman gender yang harus dilestarikan.

Note: Buku Calabai sudah saya resensikan di sini: Saidi, Calabai Suci di Tanah Bugis

Mataram, 06 Juli 2017

Rabu, 28 Juni 2017

Mengais Sejarah di Makam Keramat


Makam Kerongkeng

Berkunjung ke makam mereka yang dikeramatkan selalu memberikan sensasi tersendiri. Saya merasakan ada energi kuat yang pancarannya masih terasa, menggerakkan kaki untuk berziarah, serta menjaga hati agar tetap hangat, meskipun nyala api yang menyatukan kita telah menjadi kisah yang dituturkan dari mulut ke mulut.

Kemarin, saya berkunjung ke makam Haji Abdul Karim yang terletak di dusun Karongkeng, Tarano, Kabupaten Sumbawa. Oleh warga setempat, makam ini sering disebut sebagai makam keramat Haji Kari. Letaknya berada di atas area perbukitan. Pemerintah telah menetapkan makam ini sebagai cagar budaya islam yang teregistrasi secara nasional.

Dari beberapa sumber, saya telah membaca sejarah tentang makam Haji Kari. Dikatakan beliau adalah seorang pengamal islam yang disegani. Sepulang dari tanah suci, Haji Kari kemudian menyebarkan agama islam di Sumbawa pada awal abad ke 16 Masehi. Jauh di bagian timur Sumbawa, beliau membumikan islam sebagai jalan hidup orang banyak.

Apapun itu, makam Haji Kari adalah sekeping sejarah dan warisan akulturasi budaya yang sangat bernilai. Melalui makam ini, kita menyaksikan satu fase dimana islam menjadi sukma yang harumnya terus semerbak hingga sekarang. Sayang, makam ini sepi pengunjung. Tak banyak generasi muda yang mengetahui keberadaannya. Tak banyak orang yang datang berziarah lalu mendoakan sang penyiar agama. Bahkan, makam ini tidak dijadikan objek wisata sejarah oleh pemerintah setempat.

Meski demikian, saya tetap bersukur sebab makam Haji Kari telah dipagari sehingga membuatnya sedikit terawat dan menjaganya dari banyak manusia aneh yang senang menjadikan makam keramat sebagai tempat meminta-minta.

Makam Kerongkeng

Persis disamping makam Haji Kari, juga terdapat makam lain yang juga dilindungi. Makam itu dibangun dengan nisan dari batu alam, bertuliskan huruf arab melayu dan ukiran ornament bunga dengan panjang dua kaki. Seorang ahli Filologi Indonesia yang mengajar di Universitas Leiden Belanda, Doktor Suryadi, telah menerjemahkan tulisan pada makam tersebut.

Terjemahan nisan sebagai berikut :

Bermula inilah ingatan dari Paduka Muhammad Idris Syah ibni almarhum Muhammad Aly pada tahun sanat 1271 kepada hari bulan Dzulhijjah pada hari Jumat waktu jam 2 ke 8 siang Allahummaghfirlahu warhamhu wa’fuanhu.

Tak begitu banyak sumber mengenai siapa Muhammad Idris Syah. Apakah tokoh ini juga ikut membantu Haji Kari dalam menyebarkan islam? Entahlah. Yang jelas, terjemahan itu adalah penemuan yang sangat berharga, serta menjadi pintu masuk bagi sejarawan demi melengkapi serpihan sejarah islam di bumi Sumbawa.

Sumbawa, 28 Juni 2017