Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Mei 2017

Catatan Kritis George Orwell


Two Books From George Orwell

Selalu saja ada kekaguman pada sastrawan George Orwell. Setiap buku yang dihasilkannya selalu membahas tema-tema sosial yang rumit, namun dikemas dalam kalimat-kalimat sederhana. Bayangkan saja, sebuah fenomena besar tentang totalitarianisme Uni Soviet mampu ia sajikan dalam bentuk novel alegori satiris berjudul Animal Farm.

Dalam novel yang pertama kali terbit pada tahun 1949 itu, Orwell bercerita tentang pergolakan politik kekuasaan serta sistem pemerintahan totaliter yang dibangun Soviet. Dia menganalogikannya dengan kisah sekelompok hewan peternakan yang melakukan pemberontakan pada ras manusia demi mencapai kesetaraan hidup dan kemerdekaan.

Namun, kesetaraan yang seharusnya menjadi cita-cita bersama para binatang itu tak berlansung lama. Semua hanya sebatas euforia semata. Bangsa babi yang awalnya dipercayakan menjadi pemimpin peternakan karena lebih unggul dalam hal kapasitas dibanding yang lain, ternyata berhianat.

Atas nama bekerja keras dan mengelola peternakan, para babi diberikan hak istimewa. Mereka mendapatkan makanan yang lebih enak dan banyak, tempat yang lebih layak, dan beberapa hal lain yang menguntungkan bangsa mereka sendiri. Sementara para binatang lain tetaplah memproduksi segala jenis kebutuhan peternakan untuk lima persen kehidupan mereka. Sisanya dikuasai penuh oleh Napoleon, babi gendut sang penguasa peternakan binatang.

Animal Farm merupakan salah satu karya terbaik Orwell. Novel ini membuat namanya kian dikenal. Bahkan beberapa waktu lalu, beredar kabar bahwa novel ini kembali laku keras dipasaran. Berita itu dimuat oleh Antara News, edisi Kamis, 26 Januari 2017.

Setelah sebelumnya menyelsaikan Animal Farm, kini saya kembali hanyut saat mengikuti perjalanan Orwell di Inggris. Perjalan itu berisikan catatan tentang kemiskinan, penggangguran, kehidupan pekerja tambang, hingga bentuk pertentangan kelas di Inggris yang sangat menajam.

Melalui catatan perjalanan ini, Orwell pun kemudian melahirkan gagasannya mengenai pertentangan kelas sosial antara kaum borjuis dan proletar, serta lahirnya peradaban mesin dengan bentuk indistrialisme yang menyertakan lahirnya sosialisme.

Benang merah dari kedua karya ini adalah sama-sama mengandung kritikan tajam dan menukik. Jika dalam Animal Farm, penulis kelahiran India itu lebih banyak berbicara tentang paktik-praktik pemerintahan rezim bengis yang tengah berkuasa, maka dalam buku setebal 258 halaman berjudul The Road to Wigan Pire ini, ia memokuskan catatannya terhadap orang-orang sosialis.

Buku itu menjelaskan kerasahan Orwell terhadap gagalnya sosialisme, lalu dengan berani mengungkapkan pandangannya sendiri tentang paham tersebut. Ia berpendapat bahwa sosialis yang sesungguhnya adalah seseorang yang secara aktif ingin melihat tirani dihancurkan namun tidak sebatas membayangkan itu sebagai hal yang diinginkanya.

Di banyak bagian, saya menandai beberapa pandangan Orwell tentang betapa pertentangan kelas sosial di inggris pada dasarnya mewakili pertentangan kelas sosial yang terjadi di setiap lapisan masyarakat. Bahkan hingga saat ini, ketika kabut gelap totalitarianisme perlahan bergeser pada harapan hidup setara dalam kemewahan demokrasi, sebuah pertentangan sosial tak begitu sulit ditemukan.

Di Indonesia, di tengah demokrasi yang telah berjalan puluhan tahun ini, pertentangan-pertentangan sosial masih teramat nyata. Hal ini kemudian berimbas pada merosotnya nilai-nailai persamaan hak dimuka hukum. Sehingga, impian tentang sebuah negara yang menjamin keadilan bagi segenap rakyatnya belum juga tercapai.

Jika benar demokrasi itu adalah cita-cita suci demi menggapai perubahan bersama, mengapa masih banyak yang merasa dikreditkan? Mengapa pula para kelas menengah itu nampak acuh pada kami kaum hambasaya? Atau apa mereka dan kami memang berbeda? Jika benar demokrasi itu menjamin keamanan setiap warga negara, mengapa para tukang kepret yang berbekal surat dari negara itu merasa berhak mementung dan menghardik para pedagang dan buruh di pasar-pasar sana?

Jika benar demokrasi itu adalah hadirnya negara dalam setiap permasalahan rakyat, lalu dimana negara saat para pejabat brengsek dengan seenaknya merampas tanah petani lalu menjualnya ke korporasi bangsat dalam satu siklus kongkalikong perizinan? Dimanakah negara saat perusahaan-perusahaan yang entah datang dari mana tiba-tiba mengusir kami dari atas tanah nenek moyang kami yang diwariskan turun-temurun?

Ah, sudahlah. Bagi kami, semua yang kerap kalian sebutkan dilayar kaca itu hanyalah ilusi dan omong kosong belaka. Kami memilih untuk tetap melawan. Layaknya Orwell yang selalu gelisah, lalu melahirkan berbagai catatan kritis, kami pun akan tetap menjaga nilai-nilai kritis dalam diri guna mencapai kehidupan yang lebih baik. Harapan-harapan kami akan selalu ada, sebab kami masih memiliki ide-ide untuk perubahan, serta kebaikan yang akan terus tumbuh bak mawar di tengah reruntuhan.

Melalui ide-ide itu, kami berharap negeri ini akan selalu lebih baik. Indonesia akan selalu tersenyum, layaknya senyuman saya pagi tadi saat membaca tulisan kritis seorang siswi SMA tentang perbedaan pandangan politik antar kelompok, hingga berpotensi memecah belah persatuan.

Mataram, 24 Mei 2017

Minggu, 21 Mei 2017

Kucing, Cinta, dan Kejujuran


Dewey, Karya Vicki Myron dan Bret Writter

Seberapa besar dampak yang dapat ditimbulkan oleh seekor hewan? Berapa banyak kehidupan yang dapat disentuh oleh seekor kucing? Bagaimana mungkin seekor kucing buangan mengubah sebuah perpustakaan kecil menjadi tempat pertemuan dan daya tarik wisata, memberi inspirasi kepada penduduk sebuah kota klasik Amerika, mempersatukan warga di seluruh kawasan, dan pelan-pelan menjadi terkenal di seluruh dunia?

Tentu saja anda tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas sebelum menghabiskan bacaan setebal 392 halaman, karya Vicki Myron dan Bret Writter berjudul Dewey. Sebuah buku bestseller international yang menyajikan kisah heroik seekor kucing perpustakaan kecil Spencer, yang membuat dunia jatuh hati.

Diangkat dari sebuah kisah nyata, buku ini pertama kali diterbitkan oleh Grand Central Publishing, New York, pada 2008 lalu. Dewey adalah alarm yang menyala. Buku ini mengajarkan kita bahwa betapa selalu berfikir positif adalah satu-satunya lentera penerang di tengah segala kesulitan hidup. Dewey menitipkan pesan yang amat menyentuh hati, lucu, sekaligus memberi inspirasi bagi siapapun yang membacanya.

Perjalanan panjang kucing ini sungguh dimulai dengan cara paling menyedihkan. Umurnya baru beberapa minggu ketika pada malam terdingin tahun itu, dia dimasukkan ke sebuah kotak pengembalian buku perpustakaan umum Spencer, Lowa, oleh orang tak dikenal.

Dewey baru ditemukan pada keesokan harinya oleh direktur perpustakaan, Vicki Myron, orangtua tunggal yang berhasil bertahan dari kehilangan tanah pertanian, penyakit kanker payudara, dan suami yang kecanduan minuman keras. Pertemuan tak terduga itu menjadi berkah bagi keduanya. Dewey berhasil mencuri hati Vicki dan hati para pegawai perpustakaan.

Saat ketenarannya berkembang dari kota ke kota, melintasi berbagai negara bagian, dan akhirnya merebak ke seluruh dunia, Dewey menjadi sumber kebanggaan bagi sebuah kota pertanian yang bangkrut di pedalaman Amerika dan membuatnya bangkit dari krisis berkepanjangan yang telah berakar jauh di masa silam.

Ada bagian yang membuat saya takjub yakni ketika Dewey mampu menjadi aktor pengganti dibalik alpanya peran sebagian orang tua di Spencer yang selalu sibuk dengan berbagai aktivitas pertanian, hingga lupa menyisihkan waktu bagi anak-anak mereka.

Di banding seekor kucing, saya lebih memilih memaknai Dewey sebagai tokoh rekonsiliatif dalam buku ini. Vicki dengan sederhana menjelaskan bagaimana kehadiran kucing tampan itu menjelma serupa maghnet lalu mempersatukan segalanya.

Saya bisa merasakan bagaimana perasaan Vicki pada Dewey. Kucing itu telah menemani seorang direktur perpustakaan selama bertahun-tahun. Dewey telah memberi Vicki sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Hubungan keduanya bukanlah tentang seekor kucing dan majikannya, tetapi tentang sebuah persahabatan, cinta, dan kejujuran.

Tak ayal setelah kepergian kucing itu, Vicky harus membongkar ingatannya. Ia berusaha menyusun satu demi satu kepingan manis bersama kucing itu untuk diceritakan. Dia menyadari bahwa dengan cara inilah, Dewey akan selalu abadi dan terpatri dalam benak semua orang. Bagaimanapun juga, saya sangat mengapresiasi kisah ini. Saya mengapresiasi kecintaan Vicky yang begitu besar.

Dulu, ketika pacar saya memelihara kucing, saya juga melihat rasa kecintaan yang sama. Entah mengapa, dia menjadi begitu bersemangat. Dia merawat kucing itu penuh suka cita. Bahkan setiap akhir bulan, saya kerap diminta untuk menemaninya membeli makanan si pus, panggilan akrab kucing peliharaannya.

Kesan saya seusai membaca buku ini adalah betapa sebuah memoar manis, selalu diawali dengan rasa cinta kasih yang jujur dan teramat mendalam. Pada akhirnya, rasa itu akan menyatu dengan segala sikap serta senantiasa memancarkan energi positif dalam diri manusia. Cinta itu teramat luas, cinta itu adalah bagaimana memberi kebaikan.

Setelah membaca Dewey, sayapun ingin memelihara kucing.

Mataram, 21 Me1 2017

Rabu, 08 Maret 2017

Saidi, Kisah Calabai Suci di Tanah Bugis


Buku Calabai Karya Pepi Al-Bayqunie

Setiap orang tua selalu mengidamkan sosok anak yang mampu menjadi kebanggaan bagi semua orang. Mereka tak henti-hentinya berdoa seraya berharap agar kelak, si anak tumbuh serupa pepohonan rindang yang menyejukkan banyak orang.

Namun, apa jadinya jika ternyata ditengah perjalanan hidup, semua espektasi orang tua berbanding terbalik? Anak yang dibanggakan itu, bukanlah sosok yang mereka idamkan. Bahkan, sang buah hati berpotensi mendatangkan aib bagi keluarganya.

***

Tuntas sudah saya membaca buku berjudul Calabai, karya Pepi Al-Bayqunie, terbitan Javanica tahun 2016 lalu. Buku yang terinspirasi dari perjalanan hidup seorang bissu di Sulawesi itu sungguh membuat saya larut dalam hegemoni haru yang berkepanjangan.

Buku setebal 385 halamain ini mengantarkan saya pada sisik melik kehidupan para bissu, ahli waris adat dan tradisi luhur suku Bugis yang dipercaya menjadi penghubung antara alam manusia dan alam dewata.

Beberapa tahun silam, sebelum membaca buku ini, saya pernah diceritakan tentang keberadaan bissu di Sulawesi oleh salah seorang sahabat. Sahabat itu adalah alumni Universitas Hasanuddin Makassar. Dia berkisah tentang sosok bissu yang keseluruhannya adalah calabai. Mereka adalah para pemangku adat yang memiliki kesaktian berupa ilmu kebal terhadap benda tajam.

Cerita itupun dibenarkan dalam buku ini. Bissu memang memiliki kesaktian berupa ilmu kebal dan kemampuan supranatural sehingga dipercaya bisa berkomunikasi dengan dunia lain. Mereka adalah pemuka spritual yang telah melampaui sifat laki-laki dan perempuan di dalam dirinya. Mereka adalah para pengemban tugas sebagai penjaga keseimbangan alam.

Namun yang menarik perhatian saya tak hanya itu, yang membuat saya tertegun adalah bagaimana para bissu menjaga adat istiadat dan warisan para leluhur mereka selama ratusan, bahkan ribuan tahun. Bagaimana pula mereka mengesampingkan nafsu duniawi demi menjaga keberlansungan hidup masyarakat Bugis sekian lamanya.

Buku ini dengan apik membabar kisah perjalanan hidup Puang Matoa Saidi. Seorang yang ditunjuk dewata dalam mengemban tugas suci sebagai bissu tertinggi. Seorang yang telah mencapai tingkatan spritiual yang tinggi dalam dunia kebissuan, lalu mengabdikan dirinya demi menjaga cita-cita para leluhur suku Bugis.

Layaknya kebanyakan orang di luar sana, Saidi terlahir dengan kelamin laki-laki. Namun, tabiatnya sungguh menyerupai perempuan. Orang-orang dikampungnya, Lappariaja, Sulawesi Selatan menyebutnya calabai.

Bagi masyarakat Bugis, calabai adalah sebutan bagi laki-laki yang memiliki tabiat menyerupai perempuan. Calabai tak sepenuhnya bisa diterima dengan baik ditengah masyarakat. Saidi tidak tumbuh dalam iklim yang serba demokratis seperti sekarang. Dahulu, terlahir sebagai calabai adalah duka bagi sebagian orang. Mereka akan mendapat pengadilan sosial, dijustifikasi sesuka hati atas nama tuhan dan agama.

Tak terkecuali Puang Matoa Saidi, hukum ini juga berlaku padanya. Takdir hidup yang menggiringnya sebagai calabai bukanlah sebuah berkah di masa kecil. Bahkan dalam usia yang masih belia, Saidi harus menanggung beban yang begitu besar. Terlebih lagi ketika ayahnya, Puang Baso, marah dan menolak saat mengetahui tabiat Puang Matoa Saidi. Ternyata anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga itu, adalah seorang perempuan yang bersemayam dalam tubuh laki-laki.

Tak ingin menggoreskan luka lebih dalam di hati orang tuanya, dengan berat Saidi memilih pergi. Saidi memilih meninggalkan keluarga tercinta, maninggalkan kampung halamannya. Dia memilih berpetualang, mencari jati diri hingga kelak menjadi sosok yang kehadirannya dirindukan banyak orang.

Sepintas, Saidi serupa remaja yang hendak menemukan jawaban. Dia tidak mengerti dengan takdir. Bukankah Tuhanlah yang menghendekinya terlahir sebagai calabai? Lalu mengapa orang-orang di luar sana selalu mengatasnamakan tuhan untuk menabur orkestra getir di dalam dadanya. Setidaknya, pertanyaan inilah yang selalu membayangi benak Saidi, sebelum Daeng Madenring, lelaki tua yang belakangan menjadi ayah angkatnya itu, membawa dirinya ke Segeri, negeri para bissu.

Di Segeri, Saidi bertemu dengan orang-orang yang menginspirasi hidupnya. Tak seperti di kampung halamannya, di Segeri, bissu begitu dihormati. Di sana, bissu memegang perananan penting ditengah masyarakat yakni sebagai pemangku adat.

Satu hal yang membuat saya tertarik pada buku ini adalah saya banyak menemukan hal baru di dalamnya. Saya menyukai ulasan yang berisi penjelasan-penjelasan singkat tentang budaya suku Bugis di Sulawesi. Penulis mengisahkan sesuatu dengan sederhana, sehingga mudah dipahami pembaca.

Di banyak bagian, saya menemukan beberapa referensi tentang sureq I La Galigo, sebuah epik mitos penciptaan dari peradaban Bugis. Bentuknya berupa kitab yang berisi puisi bahasa Bugis dan ditulis dalam huruf Lontara kuno. Para bissu tentu sangat mahir membacakan kitab ini.

Sureq I La Galigo (Foto: Wikipedia)

Di bagian yang lain, saya juga mendapat referensi tentang ritual Mappalili. Sebuah upacara adat turun sawah yang dipimpin lansung oleh bissu. Upacara ini digelar untuk meminta rahmat kepada sang Pencipta sebelum masyarakat memulai aktivitas pertanian.

Pada saat upacara berlansung, para bissu juga menampilkan atraksi tarian Manggirik, sebuah tarian fenomenal dalam dunia kebissuan. Di sinilah ajang unjuk kebolehan bagi mereka. Para bissu memamerkan ilmu kebal kepada segenap penonton. Keris yang mereka selipkan dipinggang saat acara dimulai, perlahan dicabut, lalu dengan berani mereka tusukkan keris tersebut ketubuhnya.

Begitulah calabai. Pepi Al-Bayqunie dengan santai menjelaskan sisik melik kehidupan Puang Matoa Saidi dalam bukunya. Betapa panjangnya perjalanan yang harus ditempuh laki-laki gemulai itu, hingga mengantarkan dirinya sebagai bissu tertinggi. Punilas juga secara gamblang menjelaskan semua rutinitas para pemangku adat suku Bugis itu satu persatu. Ceritanya mengalir, pembaca digiring keadalam dunia spritualitas bissu yang dipenuhi aura mistis.

Di akhir kisah, Saidi akhirnya menemukan jawaban atas takdirnya. Di akhir perjalanan panjang itu, dia memahami bahwa segala kepedihan di masa belia, adalah cara Dewata menjadikannya sebagai orang yang begitu dihormati dan diagungkan.

Mataram, 08 Maret 2017

Minggu, 05 Februari 2017

Ketika Bung Karno Menjadi Immawan


Immawan Bung karno
Orang tidak bisa mengabdi kepada Tuhan dengan tidak mengabdi kepada sesama manusia. Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin - Soekarno (1901-1970)
Baru-baru ini saya membaca novel berjudul Immawan Bung Karno, karya Rusdianto dan Muliansyah Abdurrahman Ways terbitan Global Base Riview tahun 2016 lalu. Novel ini berkisah tentang pergulatan sejarah organisasi kemahasiswaan Ikatan Mahasisswa Muhammadiyah (IMM) yang tak luput dari peran penting Bung Karno didalamnya. Isinya menarik sebab membahas satu kepingan sejarah yang tak banyak diketahui publik.

Di mata saya, Sukarno bukan saja seorang pendiri bangsa yang hebat, tetapi juga sosok yang kontroversial. Dulu, ketika orde lama masih diselimuti otmosfer perjuangan bangsa dalam revolusi dan ideologi, Sukarno juga pernah membuat suatu himpunan kekuatan institusi politik yang menuai banyak kecaman. Himpunan kekuatan ini ia namai dengan NASAKOM (Nasionalis, Islam, Komunis). Menurut beberapa literatur sejarah, hal inilah yang juga menyebabkan Masyumi memposisikan diri sebagai oposisi karena enggan bergabung bersama kaum komunis.

Bacaan ini berfokus pada pergolakan politik orde lama yang berimbas pada terbukanya gerbang akselerasi bagi pemuda Muhammadiyah untuk membentuk satu organisasi kemahasiswaan yang hingga kini dikenal dengan nama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Dalam satu halaman dijelaskan bahwa Djazman Al Kindi beserta pengurus DPP IMM periode awal tahun 1965 menemui Bung Karno dengan membawa misi bersejarah dalam pergerakan mahasiswa dan meminta restu sang proklamator untuk mendirikan organisasi ini. Pada pertemuan itulah Kindi memanggil Sukarno dengan sebutan "Immawan" yang merupakan sebutan akrab bagi kader-kader IMM.

Novel setebal 136 halaman ini sekiranya bisa membasahi dahaga keraguan atas cikal bakal pendirian IMM sekaligus mengubah opini publik bahwa IMM dibentuk karena HMI mau dibubarkan. Masih banyak tokoh diluar sana yang kerap mempersoalkan pendirian organisasi ini. Farid Fatoni AF misalnya, dalam bukunya yang berjudul "Kelahiran IMM yang Dipersoalkan" juga membicarakan hal serupa. Namun terlepas dari iya atau tidaknya, tentu saya tidak bisa menyimpulkan begitu saja. Saya hanya penikmat buku dan bacaan yang memancing nalar.

Buku ini juga memuat berbagai script sejarah seperti tulisan pemberian restu Bung Karno atas berdirinya IMM, pidato Bung Karno saat Konferensi Asia Afrika di Bandung,hingga beberapa pidatonya sewaktu menjalani masa pengasingan di Bengkulu. Berbagai informasi dalam buku juga ini dikemas dalam bentuk cerita.

Banyak hal baru mengenai fakta sejarah berdirinya IMM yang berusaha dikemas dalam buku ini. Hanya saja, ada saja kekecawaan yang merembes saat membaca lembar demi lembar. Kesan saya, runutan cerita dalam buku ini terlampau susah dipahami sehingga para pembaca yang bukan berlatarbelakang IMM akan kebingungan dalam mengaitkan simpul-simpul sejarahnya.

Buku ini juga tidak mengandung banyak rujukan yang nantinya bisa menjadi bahan komparasi bagi pembaca dalam memaknai nilai-nilai sejarah yang terkandung didalamnya. Sebagai karya fiksi, pengarang buku juga seharusnya lebih berani mengutak atik fakta sejarah. Ia tak perlu setia dengan detail-detail, sebab fiksi membuatnya bebas dalam memainkan berbagai fakta-fakta umum yang selama ini berkembang dikalangan para sejarawan.

Mataram, 05 Februari 2017

Rabu, 11 Januari 2017

Kartini, Feodalisme, dan Literasi


Panggil Aku Kartini Saja

Di zaman sebelum kemerdekaan, literasi adalah alat yang menggerakkan alur sejarah. Di zaman ini, tulisan telah menjelma menjadi bara api perlawanan terhadap rezim kapital. Di zaman ini pula, Kartini menggugat ketidakberpihakan zaman terhadap perempuan pribumi. Ia menghendaki sebuah persamaan antar manusia, meski sejarah mencatat bahwa dirinya sendiri termasuk keturunan bangsawan terkemuka di Indonesia.

Dia adalah perempuan yang penanya jauh melampaui batasan-batasan waktu. Tubuhnya memang dikrangkeng dalam tembok tebal rumahnya sendiri, segala aktivitasnya dibatasi oleh feodalisme Jawa yang mengekang wanita pribumi. Namun melalui tulisan-tulisan nya yang diterbitkan dalam jurnal berbahasa Belanda, Kartini justru membuat orang-orang Belanda mengubah semua pandangan dan stereotype atas perempuan pribumi.

Ia tidak memiliki massa, apalagi uang. Uang tidak akrab dengan perempuan hamba seperti Kartini. Meski demikian, nun jauh terkubur didalam hatinya, Kartini miliki kepekaan dan keprihatinan. Ia merefresentasikan setiap perasaan getir yang menyusup melalui bilik kecil di benaknya lewat tulisan-tulisan yang kemudian menggugah semua tatanan.

***

Setidaknya itulah kesan saya seusai membaca buku bagus berjudul Panggil Aku Kartini Saja karya salah seorang sastrawan besar bangsa, Pramoedya Ananta Toer terbitan Lentera Dipantara tahun 2013 lalu. Buku ini kembali mengajak kita kepada sosok Kartini. Perempuan yang tidak mau tunduk dan membebek pada zaman. Ia tidak ingin larut dalam hiruk pikuk perempuan pribumi yang dianggap hina dan terbelakang.

Tokoh srikandi bangsa yang satu ini selalu membuat saya kagum. Segala sesuatu yang mengganjali batin dan pikirannya tak pernah luput dari percikan pena dalam secarik kertas. Tulisan-tulisannya pun telah lama dikonsumsi publik. Melalui karyanya, Pram kembali mengajak kita menelusuri Kartini. Namun uniknya, Pram tidak menampilkan Kartini dari sudut pandang domestik rumah seperti dia adalah gadis pingitan lalu dinikahkan secara paksa dan melahirkan hingga kemudian wafat.

Dalam biografi ini, Pram lebih banyak mengemukakan tentang pergulatan batin seorang wanita pribumi yang segala sesuatunya dibatasi. Pram dengan lihai menyajikan bagaimana Kartini melawan semuanya. Melawan kesepian karena pingitan, melawan arus kekuasaan besar penjajahan dari dinding tebal kotak penjara Kabupaten yang menyekapnya selama bertahun-tahun.

Layaknya Habis Gelap Terbitlah Terang, buku yang dihimpun oleh Mr. J.H. Abendanon dari kumpulan surat-surat yang pernah dikirmkan Kartini kepada teman-temannya di Eropa, buku setebal 304 halaman ini juga memuat banyak tulisan kartini dalam kesehariannya. Pada satu bagian saya menemukan catatan Kartini atas pertentangan hubungan kaum feodal dengan bahawahannya. Di mata Kartini, hubungan seperti ini sangat menggangu rasa kemanusiaan. Ia kemudian menulis sebuah catatan yang berbunyi:

Tentang anak-anak amtenar di dalam masyarakat dengan gagasan berkarat, bahwa seorang Raden Mas atau Raden Ajeng dan sebagainya adalah mutlak makhluk-makhluk dari susunan atas, yang berwenang, berhak, mendapatkan penghormatan ilahiah dari rakyat. Telah banyak tamsya-tamasya tentangnya kami lihat, pemandangan yang menyebabkan kami mengigil karena jengkel. Pada kesempatan-kesempatan semacamnya itu kami berdiam-diam saja, tiada dapat bicara maupun tertawa, kejengkelan dan rasa kasihan menyumbat mulut kami.

Yang membuat saya terkesan adalah sisi lain dari sosok Kartini. Pada bagian akhir, saya mendapati Kartini sebagai seorang pembatik dan ahli batik. Di sana pula saya mengetahui kehidupannya sebagai pelukis. Tak banyak yang mengetahui kehidupan Kartini sebagai pelukis, sebab ia lebih menyukai pena daripada pensil. Kartini pun tidak pernah menyebut nama-nama pelukis pribumi atau asing dalam suratnya. Bahkan pelukis besar sekelas Raden Saleh tak disebutnya. Padahal pemilik lukisan fenomenal yang menceritakan tentang penangkapan Pangeran Diponegoro ini meniggal sewaktu ia memulai surat menyuratnya dengan Estelle Zeehandelaar.

Di usia yang masih belia, Kartini menjadikan kata-kata jauh lebih bertenaga dan menyayat. Saya tidak terlalu terkejut membaca berbagai tulisannya. Ia hidup pada zaman pergerakan, zaman ketika tulisan menjadi senjata untuk menggugat rezim. Ia hidup di zaman Soewardi Soerjaningrat menulis Essay perlawanan lalu menjadikannya sebagai tokoh pergerakan yang penanya harus diborgol. Ia hidup di zaman ketika Hos Tjokroaminoto mendirikan Syarikat Islam yang lalu dengan cepat bertransformasi menjadi satu kekuatan besar yang selalu mengusik tidur nyanyak para menir.

Barangkali yang harus dikenang dari Kartini adalah tulisannya yang selalu berisi keluhan dan gugatan terhadap budaya Jawa yang dianggapnya sebagai penghambat kemajuan perempuan. Ia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Ia pun menulis serangkaian catatan yang akhirnya membuat namanya dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Di zaman ini, kita nyaris tak menemukan perempuan yang suka membuat sajak-sajak perlawanan seperti Kartini. Perempuan kita lebih banyak berkerumun di media sosial, lebih senang menyebarkan postingan galau akibat percintaan. Di saat zaman telah dilumuri kemajuan teknologi, produknya justru wanita-wanita alay yang suka selfie dengan alis tak beraturan. Perempuan kita larut dalam kehidupan hedonis hingga melupakan pentingnya menggugat penindasan. Lucunya, setiap 21 April mereka malah berbondong-bondong mengucapkan Selamat Hari Kartini, sementara semangat hidupnya dibiarkan layu dalam arsip tebal sejarah.

Mataram, 11 Januari 2017

Jumat, 30 Desember 2016

Lima Reward Buku yang Saya Dapatkan di Tahun 2016


Saya mencatat tahun 2016 sebagai tahun yang penuh dengan pembelajaran. Meski tahun ini saya gagal menuntaskan target pendidikan saya di perguruan tinggi, bukan berarti saya harus berhenti belajar dan mengupdate informasi tentang perkembangan. Tahun ini saya menghabiskan lebih banyak waktu untuk memperdalam ilmu kepenulisan. Saya mengikuti berbagai pelatihan menulis, jumpa blogger, pelatihan jurnalistik hingga mengikuti berbagai event menulis.

Ada beberapa keuntungan yang saya harapkan dalam menulis. Peratama, intelectual benefit (keuntungan intelektual). Menulis dapat memicu kita untuk lebih banyak mengkonsumsi buku. Sehingga semakin sering kita menulis maka semakin banyak pula hal baru yang akan kita dapatkan. Di sadari atau tidak, menulis dapat membimbing kita dalam memahami berbagai persoalan. Kedua, emotional benefit (keuntungan emosional). Ini mencakup aspek-aspek emosi, penalaran, dan kepekaan perasaan terhadap dunia sekitar. Ketiga, spritual benefit (keuntungan spritual), adalah membagikan setiap hikmah dari serangkaian yang terjadi dengan harapan bisa melihat peradaban yang lebih baik.

Mulai tahun 2016, saya rajin mengirimkan tulisan ke berbagai media cetak dan digital. Saya juga rajin berpartisipasi dalam setiap event kepenulisan. Saya berfikir itulah cara terbaik untuk membuktikan bahwa apa yang kita tulis dapat diterima publik atau sebaliknya. Sayapun menjadikan setiap event kepenulisan sebagai wadah pelatihan menulis yang ideal serta menguntungkan. Sebab dalam setiap event kepenulisan, tak jarang penyelenggara memberikan reward berupa uang atau sejumlah buku sebagai cindera mata untuk para peserta yang beruntung. Saya telah mencatat beberapa hadiah buku yang saya dapatkan melalui give away ataupun saat mengikuti lomba menulis di 2016. Buku-buku tersebut diantaranya:

Siwa Kesatria Wangsa Surya (Amish)

Ini adalah buku pertama yang saya dapatkan melalui give away di salah satu blog sahabat. Buku yang juga menjadi international bestseller ini memuat kisah mitologi sejarah yang menyihir setiap pembacanya. Amish membedah berbagai gejolak batin yang dialami Siwa sebagai tokoh utama dalam mengarungi bahtera takdir sebagai juru penyelamat Meluha. Membaca buku ini, membuat saya terkagum-kagum dengan penulis, Amish memang seorang penulis yang luas, dia menitipkan berbagai keteladanan melalui bukunya.

Tamasya Piccadilly (L. Adnan)

Kedua adalah buku karya L. Adnan. Buku ini menyuguhkan kisah persahabatan manusia yang sudah lewat umur remaja. Meski berkisah tentang friendzone, buku ini juga tidak terlepas dari kritik sosial yang cukup tajam didalamnya. Dalam buku setebal 200 halaman ini, saya menemukan berbagai sindiran halus yang menujam hati. Adnan menyampaikannya dengan santai namun mengena.

Puzzle Mimpi (Anna Farida)

Ini adalah buku motivasi yang di tulis oleh Anna Farida. Saya mendapatkan buku ini melalui sebuah event kepenulisan yang diadakan oleh salah seorang sahabat blogger. Membaca buku ini membuat pikiran saya tergugah bahwa sukses itu adalah manifestasi dari sebuah keteraturan pola yang dibangun oleh kita sendiri. Buku ini menyajikan perjalanan hidup Indari Mastuti. Seorang penulis dengan segudang karya itu ternyata tak lepas dari perjalanan pahit dan menyedihkan sebelum akhirnya sukses seperti sekarang. Saya menyarankan untuk para sahabat agar membaca buku ini.

Calabai Perempuan Dalam Tubuh Lelaki (Pepi Al-Bayqunie)

Calabai adalah sebuah buku yang memuat kisah tentang jiwa perempuan yang terperangkap dalam tubuh lelaki. Tubuh yang membuat pemiliknya sendiri bingung memahaminya. Berkat give away yang diadakan oleh penerbit javanica, akhirnya saya bisa menyelami samudera keilmuan didalam buku ini. Calabai mengulik sisik melik kehidupan bissu, ahli waris adat dan tradisi luhur bugis, yang dipercaya menjadi jembatan penghubung antara alam manusia dan alam dewata.

Riwayat Surabaya Rek Doloe, Kini, dan Esok (Yousri Nur Raja Agam, M.H)

Sebuah kuis bertemakan hari pahlawan tengah diadakan oleh Polyglot Indonesia Surabaya. Kuis itu mengharuskan setiap peserta untuk menuliskan tanggapan tentang pahlawan sejati dalam hidupnya masing-masing. Saya menulis beberapa tanggapan dan berhasil terpilih sebagai pemenang. Riwayat Surabaya adalah buku yang menyajikan sisik melik kota pahlawan dalam versi yang berbeda. Buku ini sangat detil dalam pembahasannya, mulai dari lahirnya Surabaya hingga kota ini tumbuh sebagai kota industri seperti sekarang.

***

Di atas hanyalah 5 diantara beberapa buku yang saya dapatkan melalui give away dan event kepenulisan. Saat mendalami dunia kepenulisan, saya menemukan banyak hal yang tak saya duga sebelumnya. Melalui menulis, saya banyak bertemu dan berkenalan dengan beberapa sahabat yang sudah terbilang senior dalam bidang ini. Tak henti-hentinya saya menyempatkan diri untuk sekedar membaca tulisan mereka satu persatu demi menambah khazanah saya.

Saya selalu berharap suatu saat dunia literasi kita dipenuhi oleh penulis-penulis muda berbakat dan cemerlang. Orang-orang yang hadir dengan berbagai tulisan yang mencerahkan publik. Saya mengamini sebuah ungkapan yang telah lama berkembang dilingkungan para aktivis dan praktisi perubahan bahwa " Jika satu peluru bisa menembus satu kepala, maka satu tulisan bisa menembus berjuta-juta kepala sekaligus".

Tulisan ini dibuat bukan untuk menampilkan kesan bahwa seolah-olah saya telah mahir dalam bidang ini karena telah mendapatkan berbagai reward, tapi semata-mata niatnya untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Saya selalu berharap apa yang saya tulis dapat memberikan manfaat dan bisa memotivasi orang lain.

Mataram, 30 Desember 2016

Senin, 31 Oktober 2016

Seusai Membaca Novel Tan


Novel Tan

Beberapa waktu lalu saya melihat postingan yang di bagikan oleh penerbit Javanica di salah satu media sosial. Seperti biasa, Javanica kembali menerbitkan sebuah Novel BestSeller yang kemudian banyak diminati. Setiap Novel terbitan Javanica memang selalu asik untuk di jelajahi. Namun sebagai seorang mahasiswa yang tinggal di perantauan, tentu saja saya tidak bisa begitu saja menuntaskan rasa penasaran saya terhadap sebuah buku.

Saya harus menunggu saat yang tepat untuk memboyongnya dari Gramedia, lalu dengan segera menemukan lapis makna yang terkandung pada bacaan tersebut. Dalam beberapa minggu, kembali saya harus berhemat. Menyisihkan sedikit demi sedikit keping logam untuk mendapatkan buku yang di inginkan.

Orang bijak mengatakan bahwa kesabaran itu selalu berbuah manis. Tepatnya seperti itulah yang saya rasakan. Ketika memiliki cukup uang, saya tak menyia-nyiakan waktu. Sore itu bersama seorang sahabat, saya mengunjungi Gramedia Mataram dengan tujuan membeli buku yang saya lihat tempo hari. Harganya memang tidak bersahabat bagi kantong seorang mahasiswa tingkat akhir. Tapi demi menunaikan rasa penasaran saya yang sudah sampai di ubun-ubun, saya pun membelinya.

Bagi saya, buku itu adalah embun kesejukan untuk menuntaskan dahaga keilmuan siapa saja. Membeli sebuah buku, ibarat membeli makanan yang di dalamnya memiliki kandungan nutrisi penting bagi tubuh. Namun karena status saya adalah mahasiswa dengan latar belakang perekonomian keluarga yang sederhana, maka akan ada manivestasi perjuangan yang cukup panjang setiap kali ingin membeli sebuah buku. Sebab jika buku adalah jendela ilmu, maka membaca adalah kuncinya.

Beberapa minggu berselang, akhirnya saya berhasil menutuntaskan novel yang berjudul Tan, karya Hendri Teja ini. Novel terbitan Javanica ini menceritakan tentang sisik melik kehidupan Tan Malaka. Salah satu sosok terpenting dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia, tokoh yang pemikirannya mampu menggugah semua tatanan, serta segala bentuk aktivitasnya harus mendapat perhatian serius dari pemerintah kolonial masa itu. Tan Malaka adalah bapak bangsa yang terlupakan.

Isinya menarik sebab membahas satu kepingan sejarah dari seorang tokoh besar bangsa yang justru harus meregang nyawa di ujung senapan tentara republik yang ia dirikan. Kelak namanya pula harus terbenam dalam lipatan sejarah, karena ideologi yang di anut oleh tokoh ini tak mudah diterima begitu saja oleh sejumlah kalangan. Tak banyak generasi kekinian yang mengenal beliau, namanya tak pernah tersentuh di dalam buku sejarah Sekolah sekalipun.

Banyak orang yang menyebutkan bahwa sosok ini adalah komunis yang tak layak untuk dikenang. Bahkan oleh berbagai kalangan ia seringkali di cap sebagai sosok najis yang namanya tak layak diingat. Tak banyak penulis dalam negeri yang mengabadikan kisahnya dalam jeratan aksara, hiruk pikuk perjuangnya justru memikat hati sejarawan asal Belanda Albert Poeze untuk menggali lebih dalam kehidupan putra kelahiran 2 Juni tahun 1897 tersebut. Dari penelusuran yang di lakukan Poeze, publik akhirnya mengetahui siapa yang berada di balik kematian Ibrahim Datuk Tan Malaka pada 21 Februari 1949 silam.

Beberapa stigma yang melekat pada tokoh ini tak membuat saya berhenti untuk mengumpulkan lembar demi lembar karya yang ia tulis di masa kolonial. Banyak buku yang lahir dari guratan penanya memenuhi ruang bacaan saya. Salah satu buah pikiran Tan yang fenomenal tertuang dalam Naar De Republik (1925) dan Madilog (1943).

Naar De Tepublik adalah pikiran pertama yang membicarakan konsep negara republik lalu tertuang dalam sebuah kertas. Sedangkan Madilog adalah cara berfikir yang realistis, pragmatis, dan fleksibel. Mencoba mengurai pemikiran barat untuk mengikis nilai-nilai feodalisme, mental budak, dan kultus takhayul yang menurutnya tengah diidap rakyat Indonesia kala itu. Madilog, merupakan presentasi ilmiah melalui serangkaian proses berfikir dan bertindak secara materialistis, dialektis, dan logis dalam mewujudkan sebuah tujuan sistematis dan struktural.

Dalam novel karya Hendri Teja ini, saya menemukan banyak hal baru tentang Tan Malaka. Novel ini tidak saja mengulas tentang kiprah politik serta perjuangnnya, tapi juga tentang pergulatan batin seorang laki-laki normal yang juga memiliki ketertarikan dengan lawan jenisnya.

Novel setebal 245 halaman ini menyajikan secara dramatis bagaimana Tan Malaka harus mengorbankan perasaanya kepada gadis desa bernama Enur, seorang yang begitu ia cintai, demi menuntaskan rasa cintanya terhadap hal lain yang lebih besar. Cinta terhadap tanah air dan bangsanya. Cinta untuk melihat bangsanya tumbuh tanpa bayang-bayang imperialisme yang menggilas kesejahtraan rakyat.

Novel ini juga di hiasi dengan beberapa sajak getir Tan Malaka ketika berada di dalam penjara. Sajak seorang lelaki bertubuh krempeng kepada gadis yang mengisi ruang kosong di dalam dadanya. Bait demi bait yang terlontar seakan memecah kesunyian yang ia derita selama mendekam di balik kokohnya jeruji besi penjara Bandung.

Hujan adalah air mata tuhan atas dukaku
Saat jejak-jekak cinta musnah dari nafasmu
Lebur dalam satu keputus asaan
Jadi sesuatu, jadi apa yang ku tak mau

Garis khayal dan benar makin pudar
Kala di bawah gerah ku palingkan arah
Bisik kata getir dalam relung telingaku
Untuk yang terakhir, pada jiwa yang mati suri

Kalau hujan ini henti aku mau lari
Tidak menujumu-menujumu tidak
Tidak menjauhmu-menjauhmu tidak
Aku mau gerak di tempat
Bersama harapan-harapan tuak


Novel Tan

Novel ini juga secara terperinci menyajikan kisah hidup pria kelahiran Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatra Barat ini ketika bersekolah di Nedherlands. Mengulas bagaimana pertemuannya dengan Fenny, seorang gadis Belanda yang membuat Tan harus gelagapan saat memandang matanya. Cerita tentang pertemuannya dengan Wouters, seorang buruh pabrik yang akhirnya berhasil memicu Tan untuk lebih banyak mengkonsumsi buku-buku politik ketimbang buku pelajaran sekolah.

Novel ini membuat saya sesaat merenung, memikirkan betapa perjalanan panjang seorang Tan Malaka dalam usahanya merajut bingkai kemerdekaan bagi Republik yang di cintainya. Mulai dari melepaskan gelarnya sebagai Datuk Pamuncak demi melanjutkan pendidikan, hingga menjadi ketua dari organisasi pergerakan buruh yang membuatnya harus rela mendekam dari penjara ke penjara.

Di mata saya, Tan Malaka adalah tokoh yang luas. Dia bukan saja seorang Marxis tulen dalam pemikiran, tapi juga seorang Nasionalis yang tuntas dalam tindakan. Muhammad Yamin menyebutnya bapak republik Indonesia, dia dipersamakan dengan George Washington di Amerika. Ada juga Rudolf Mrazek, dia menyebut Tan Malaka sebagai manusia yang komplet. Serta DR Alfian yang menyebutnya sebagai pejuang revolusioner yang kesepian. Tan adalah seorang aktivis politik yang menghabiskan 20 tahun hidupnya sebagai buronan di berbagai negara.

Novel ini hadir dengan informasi yang sangat kaya, namun ada sejumput kekecewaan yang merembes ketika sampai di lembar-lembar terakhir. Saya di buat penasaran karena novel ini tak menyajikan cerita tentang bagaimana kehidupan Tan Malaka saat berada di negara-negara pelarian.

Saya penasaran bagaimana cerita ketika Tan Malaka di tangkap oleh polisi Hongkong, hingga pada ujungnya memicu beliau untuk mengeluarkan sebuah pernyataan yang sampai saat ini tetap terkenal di kalangan para aktivis.

Saya juga belum tahu benar bagaimana kisahnya ketika dia harus dirawat oleh gadis Tiongkok akibat penyakitnya yang kambuh di masa pelarian. Atau cerita uniknya saat mengajari gadis Asia berbahasa Inggris. Apa mungkin si penulis sedang mempersiapkan Novel selanjutnya? Ah semoga saja demikian.

Mataram, 31 Oktober 2016