Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Saturday, July 15, 2017

Gagalnya Pendidikan Karakter


Ilustrasi (Foto: Sekolahdasar.net)

Setelah sempat menuai kontoversi, akhirnya, Senin, 19 Juni 2017 Presiden Joko Widodo membatalkan program sekolah lima hari yang lebih dikenal dengan istilah Full Day School (FDS). Didampingi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma'ruf Amien, Mendikbud Muhadjir Effendy menyampaikan hal tersebut di istana negara.

FDS sendiri adalah aktivitas sekolah yang dilaksanakan selama 8 jam sehari, selama 5 hari dalam satu minggu yakni dari Senin hingga Jum’at. Sementara Sabtu dan Minggu ditetapkan sebagai hari libur. Kemendikbud hendak memberlakukan sistem ini demi menguatkan karakter siswa hingga sejalan dengan Program Penguatan Pendidikan Karakter (P3K) sebagai  implementasi dari Nawa Cita yang digulirkan oleh Presiden Joko Widodo.

Sayang, program ini menuai banyak kecaman. Sejumlah kalangan menilai, FDS hanya akan memberatkan pihak sekolah yang menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana yang layak. Padahal, sekolah lima hari bukanlah barang baru dalam dunia pendidikan.

Di Bandung, hal ini sudah berjalan sejak 2010 silam. Di Purwakarta, sekolah lima hari telah dijalankan semenjak tahun ajaran 2011/2012 dengan konsep Pendidikan Tematik "Atikan Pendidikan Purwakarta Istimewa" yang diatur dalam Peraturan Bupati Nomor 69 Tahun 2015 tentang Pendidikan Berkarakter. Aktivitas belajar mengajar dimulai dari pukul 06.00 sampai 11.45 bagi SD dan SMP, serta pukul 06.00 sampai 14.00 bagi siswa SMA/SMK.

Lalu, dimanakah masalahnya? Permasalahannya adalah kita terlalu memaksakan pendidikan karakter diterima setiap siswa, sementara disisi lain, kita justru masih kekurangan tenaga pendidik yang kompeten dan berkarakter. Saya jadi teringat ungkapan Dale Carnegie dalam buku berjudul Leadership Mastery bahwa, saat seorang murid melakukan kesalahan, maka yang harus ditegur adalah gurunya. Nah, mungkin Itulah yang harus kita lakukan sekarang.

Di mata saya, pendidikan karakter itu adalah pendidikan rumahan. Pusatnya tentu ada pada orang tua yang menjadi teladan. Di kalangan warga sekolah, guru berkarakter akan menjadi contoh bagi mudrid-muridnya. Pendidikan karakter menjadi terdengar begitu rumit, karena masih banyak diantara kita yang terbiasa hidup tanpa karakter. Banyak orang tua atau guru belum mampu menjadi contoh yang baik bagi anak-anak.

Misalnya, seorang guru mengajarkan tentang kebersihan, tapi mereka sendiri sering buang sampah sembarangan. Mereka mengajarkan soal tepat waktu, tapi mereka sendiri malah molor. Mereka menyuruh untuk tidak kelayapan di jam-jam sekolah, tapi setengah dari jam kerja mereka dipakai untuk kelayapan di pasar-pasar dan tempat perbelanjaan.

Di sekitar saya juga banyak sekolah bagus dan bergengsi, guru-gurunya mungkin sudah banyak belajar teori pendidikan karakter. Tapi maaf saja, bagi saya mereka tidak berkarakter. Pernah suatu hari saya berkunjung ke salah satu sekolah. Di sana, saya melihat halaman sekolah penuh dengan sampah. Guru dan murid kompak membuang sampah sembarangan. Saya juga melihat dua orang guru yang tengah asik ngerumpi sambil menjaga perpustakaan. Padahal saat itu, banyak siswa yang lalu lalang dengan leluasa melihat kelakuan mereka. Masih banyak lagi contoh lain yang kerap luput dari pandangan kita.

Betapa susahnya kita belajar tentang bagaimana menunjukkan karakter kita yang sesungguhnya sebagai pendidik. Tak usah kita membincang Socrates, Plato, Ariestoteles hingga Confusius yang memiliki andil besar dalam dunia pendidikan. Tak perlu pula kita melakukan sejumlah eksperimen besar layaknya Einstein.

Yang perlu kita lakukan hanyalah memberi contoh baik yang dimulai dari diri pribadi. Bersih, tepat waktu, disiplin, tenggang rasa, dan sikap-sikap positif lainnya yang memang harus melekat dalam diri seorang pendidik. Jadi, saat mereka mengajarkan sikap-sikap itu, mereka sedang menjadi diri mereka sendiri, bukan sedang berakting. Mereka yang berpura-pura baik, tidak akan pernah bisa menularkan karakter yang baik.

Saya sempat berdiskusi dengan salah seorang sahabat tentang pendidikan karakter. Sahabat itu bekerja di kantor kedutaan Indonesia di Jerman. Melaluinya, saya coba mengorek informasi tentang pola pendidikan dasar di sana. Ia kemudian membincang banyak hal. Saya terkejut saat dia mengungkapkan bahwa di Jerman sana, setiap profesor akan mengisi pelajaran sains dasar di sekolah setiap minggunya.

Beberapa jenak, saya membayangkan bagaimana fenomena kita di Indonesia. Jangankan pada tingkatan sekolah dasar, bahkan pada tataran kampus, kita sering kesulitan bertemu dengan seorang profesor. Entah kenapa, posisi sebagai guru besar seringkali menjadi alasan bagi penyandangnya untuk diperlakukan lebih tinggi.

Hubungan antara profesor dan mahasiswa menjadi hubungan antara dua pihak yang tidak setara. Posisi guru besar ditransformasikan menjadi kelas sosial yang lebih tinggi, yang seringkali menuntut penghargaan dan pengistimewaan secara berlebih. Mahasiswa pun terpaksa menerima keadaannya yang seakan terjajah. Mahasiswa bersedia melakukan apapun demi sekadar mendapatkan nilai atau apresiasi dari profesornya. Relasi itu tak berujung pada produktivitas, malah pelestarian hierarki dan kultur patron-client.

Maka menurut saya, jika kita hendak membangun pendidikan karakter, yang perlu dilakukan adalah revolusi sikap oleh para orang tua dan guru itu sendiri. Sebab pada kenyataannya, kita masih terbelenggu dengan berbagai kenyamanan. Kita tidak mau beranjak menjadi manusia disiplin, sebab menjadi tidak disiplin sudah terlalu nyaman buat kita.

Kita bersikap seolah-olah pendidikan karakter itu hanya diperuntukkan untuk anak-anak, sementara kita ingin sikap kita boleh dipertahankan, sampai kita mati. Ah, betapa lucunya.

Sumbawa, 15 Juli 2017

Monday, May 29, 2017

Perlukah Menceritakan Tragedi Ledakan Bom Kepada Anak-Anak?


Ilustrasi

Lagi-lagi terdengar ledakan. Di Jakarta, saya mendengar kisah tentang tiga aparat kepolisian dan beberapa warga sipil yang menjadi korban bom bunuh diri. Kejadiannya di terminal Kampung Melayu, Rabu, 23 Mei lalu. Pelakunya meninggal di tempat dengan anggota tubuh yang sudah terpotong akibat ledakan terbagi menjadi kepala, kaki dan badan yang terpisah.

Hal yang sama juga terjadi sehari sebelumnya. Ledakan besar sempat membuat panik jutaan orang ketika musisi cantik dunia, Ariana Grande, tengah menggelar konser di Manchester, Inggris. Setidaknya tercatat sebanyak 19 orang tewas dan banyak lagi yang terluka akibat ledakan tersebut.

Meski aksi terkutuk itu sempat menebar teror, faktanya di Indonesia, banyak orang berbondong-bondong ke lokasi kejadian pasca ledakan terjadi. Di berbagai media online, saya juga melihat begitu banyak perdebatan dari para pengamat. Mereka justru sibuk menyimpulkan siapa pelaku, dan apa motif dibalik aksi nekat tersebut. Padahal, jauh lebih baik menjadikan kejadian ini pembelajaran bagi generasi muda, ketimbang ikut menjadi analis dadakan di media sosial.

Mengapa kita perlu bercerita pada generasi muda terutama anak-anak prihal kejadian ini? Sebab, merekalah yang akan merawat bangsa ini suatu hari nanti. Kelak, mereka akan berbicara tentang solusi agar kejadian serupa tak akan terulang di masa mendatang. Mereka akan tumbuh sebagai simpul-simpul kebenaran, lalu menjaga bangsa ini dari segala macam teror dan perpecahan. Kelak, merekalah yang akan menjadikan banggsa ini menjadi rumah ternyaman bagi siapa saja. Tanpa memandang perbedaan agama dan status sosial, semuanya sama-sama bertautan dalam satu bingkai kebhinnekaan bernama Indonesia.

Namun, bagaimana kita menceritakan kepada anak-anak tentang sebuah ledakan bom? Dulu, ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, saya kerap bertanya tentang banyak hal kepada orang tua saya. Terkadang saya membayangkan sesuatu yang berlawanan dengan logika, lalu menyimpulkan sendiri hasilnya. Sebagai contoh, dulu saya berfikir bahwa Doraemon, Dragon Ball, dan segala figur dalam film cartoon itu benar-benar ada. Bahkan saya pernah berharap suatu saat nanti bisa bertemu dengan mereka. Itu merupakan hasil kesimpulan saya sendiri ketika belia, sebelum banyak orang memberi tahu saya yang sebenarnya.

Lalu, bagimana jika banyak anak di negeri ini mulai bertanya-tanya tentang ledakan bom di Jakarta sana? Bukankah berita itu sudah tersebar secara viral di berbagai media? Bahkan, melalui layar kecil televisi, secara berkala kejadian tragis itu masih saja diberitakan hingga saat ini. Bagaimana jika banyak anak menyimpulkan sendiri tragedi yang secara massif diberitakan itu? Setidaknya, imajinasi mereka akan terkukung pada pemikiran bahwa negeri yang gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karto raharjo ini tak lagi nyaman dan aman untuk ditinggali.

Banyak orang tua yang memilih untuk tidak menceritakan berbagai kejadian memulikan di sudut negeri kepada anak-anak mereka karena alasan yang sangat sederhana. Tak ingin si anak berfikiran negatif, tekontaminasi segala bentuk paham radikal, ekstrimisme dan sebagainya. Padahal, membiarkan si anak menyimpulkan sendiri suatu fenomena jauh lebih berbahaya. Eileen Kennedy-Moore, Seorang pakar parenting Amerika, menganjurkan bahwa setiap orang tua harus berani menceritakan segala kejadian kepada anak-anak mereka sesuai dengan fakta-fakta yang sebenarnya.

Setiap orang tua tentunya ingin memberikan dunia yang aman untuk anak-anak mereka. Namun, berbohong dengan mengatakan bahwa kondisi bangsa benar-benar aman bukanlah solusi cerdas. Jostein Gaarder, dalam bukunya, The Sophie’s World menyebutkan, bahwa setiap anak adalah filosof. Kalimat ini menunjukan bahwa masa belia adalah masa dimana Banyak pertanyaan mendasar dilontarkan. Mereka berfikir laksana seorang filsuf. Bertanya tentang apa saja hingga membuat orang tua kehabisan kata-kata untuk menjawabnya.

Ilistrasi

Saya membayangkan bagaimana ketika banyak anak mulai bertanya-tanya tentang ledakan bom? Mereka akan menayakan dari mana ledakan itu, siapa yang melakukannya, lalu memuji keberanian si pelaku yang dengan gagah berani mengorbankan seonggok nyawa tanpa memperdulikan motif dibalik semuanya.

Saya membayangkan betapa setiap anak akan menimpali orang tua mereka dengan ribuan pertanyaan hanya dari sepotong kasus hingga dahaga pengetahuan mereka dituntaskan. Lalu sebagai orang tua yang bijak, bagaimana seharusnya menjelaskan kasus naaas itu kepada mereka?

Untuk itu, penting untuk mengetahui bagaimana para orang tua bercerita kepada anak-anak mereka tentang sebuah kejadian. Terlebih jika kejadian tersebut adalah sebuah fenomena ledakan bom. Nah, marilah kita buat daftar sederhana. Saya hanya menuliskan ulang apa-apa yang sudah dibahas oleh para ahli parenting.

Pertama, berikan fakta terkait kejadian tersebut dengan cara anda. Akan lebih baik bagi setiap anak untuk mendengar berita dari orang tua dibanding teman sebayanya atau bahkan media sosial. Dapatkan informasi dari sumber berita terpercaya dan dapatkan fakta umum prihal kejadian tersebut.

Anda mungkin juga perlu bertanya kepada mereka, "Apa yang telah kau dengar?" Anak-anak berbicara, dan terkadang mereka salah mengetahui dan memahami sebuah berita. Meminta apa yang telah mereka dengarkan, memberi kita kesempatan untuk memperbaiki kesalahan informasi dan mungkin menghilangkan ketakutan yang tidak perlu pada diri mereka.

Kedua, berbicara tentang perbedaan antara rasa takut dan kewaspadaan. Ketika tragedi menyerang secara tiba-tiba, sangat mudah untuk menyimpulkan bahwa tidak ada orang yang benar-benar aman, kekerasan ada dimana-mana, dan kapan saja. Bantulah si anak memahami bahwa sebagian besar masyarakat yang ada di lokasi kejadian tidak mengalami kekerasan. Hidup dalam bayangan ketakutan terus-menerus terlalu membatasi mereka.

Gunakanlah contoh mengemudi di dalam mobil. Beritahukan kepada mereka bahwa setiap orang akan selalu berkemungkinan mengalami kecelakaan, tapi kemungkinan yang lebih besar tidak. Lakukan beberapa soal matematika dengan si anak untuk membuktikannya. Berapa banyak perjalanan mobil yang rata-rata anda lakukan sehari-hari? Berapa hari anda gunakan untuk mengendarai selama hidup anda? Berapa banyak kecelakaan yang pernah anda hadapi?

Jelaskanlah kepada si anak bahwa jika hidup kita dikekang oleh rasa takut, kita akan berhenti menyetir ke mana saja. Sementara biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan semua itu terlalu tinggi. Maka sebagai gantinya, kita memilih untuk berhati-hati. Kita mematuhi sinyal lalu lintas, tidak bermain hp sambil mengemudi, dan selalu waspada di jalan raya, hingga sampai tujuan.

Ketiga, berilah contoh kebaikan pada kasus tersebut. Ketika kita mendengar tentang tragedi ledakan bom, kita juga akan belajar lebih banyak tentang berbagai tindakan baik didalamnya. Seorang tukang ojek yang menyelamatkan korban ledakan, aksi sigap para aparat kepolisian, serta para warga yang membantu menyebarkan informasi tentang kejadian ini. Beritahulah kepada anak cerita-cerita ini untuk menunjukan bahwa betapa masih banyak orang di luar sana yang hatinya seluas samudra, ketimbang mereka yang jiwanya tercemar penyakit kebencian.

Keempat, mengajak mereka terlibat dalam aksi positif. Sebagian besar dari kita merasa lebih baik ketika bisa melakukan pemecahan terhadap suatu masalah. Bantulah si anak menemukan beberapa cara yang mudah untuk mengambil tindakan dalam melawan segala bentuk kekerasan di republik ini. Mungkin kita bisa mengajak mereka untuk terlibat dalam program anti intimidasi di sekolah, mengumpulkan uang untuk menyantuni keluarga korban, atau mengajak mereka berdoa untuk para korban tragedi ini.

Yang terpenting adalah bagaimana cara kita berkomunikasi kepada setiap generasi muda, kepada setiap anak tanpa keluar dari substansi masalah yang diceritakan. Yang terpenting adalah bagaimana cara kita menjaga asa mereka bahwa bangsa ini adalah bangsa yang tak bisa ditakuti oleh aksi apapun. Persatuan rakyat Indonesia telah menukik tajam ke tanah hingga tak mudah goyah oleh kepentingan kelompok manapun.

Saya hanya mencatat beberapa. Orang-orang yang belajar psikologi ataupun ilmu parenting punya lebih banyak penjelasan tentang bagaimana seharusnya bersikap kepada generasi muda tentang kondisi ini. Kita bisa terus mengembangkan, lalu mencatat berbagai argumen yang kita temukan dalam berbagai interaksi. Ada hal-hal yang kita sadari, banyak pula hal yang tidak disadari. Namun dengan cara belajar terus-menerus, kita bisa mengasah keperkaan kita dalam berargumentasi dan menemukan kebenaran.

Saya turut berbelasungkawa atas duka yang melanda ibukota. Teruntuk para keluarga korban, saya berdoa agar sang pencipta menyelipkan angin ketabahan di hati mereka, serta membayar setiap air mata yang menetes dengan nikmat dikemudian hari. Perlahan saya menundukkan kepala. Dalam hati saya membatin, saya tidak takut.

Mataram, 29 Mei 2017

Saturday, April 8, 2017

Surat Kecil Untuk Mahasiswi Tingkat Akhir


Ilustrasi

Untukmu, mahasiswi tingkat akhir yang belum juga menyelsaikan studi karena masih diberatkan pihak kampus dengan alasan prosedural dalam satu siklus omong kosong idelisme dosen, tak usah terbenam dalam kesedihan. Sebab dalam hidup, terkadang kita harus menerima sebuah kenyataan pahit meski hati kita menganggap itu semua tidak adil.

Untukmu, wanita yang selalu mengeluarkan air mata ketika melihat foto teman-teman seangkatanmu yang hendak mengenakan toga dan banyak berseliweran di media sosial, jangan pernah menanam benih kedengkian kepada mereka. Sebab kelak, mereka akan mengerti mengapa kamu rela menyisipkan sedikit waktu disela-sela kegiatan akademik demi menjalani sebuah proses interaksi di luar kampus bersama sahabat lain dalam satu atmosfer organisasi.

Kelak mereka akan menyadari, betapa IPK tinggi dan wisuda tepat waktu tak pernah menjadi jaminan bahwa masa depan mereka akan lebih baik dibanding yang lain. Kelak mereka juga akan menyadari, betapa segala bentuk aktivitas sosial bukan sekedar tentang membantu proses seleksi untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri dan berkerja di perusahaan profesional semata. Tapi tentang tanggung jawab sebagai para agen perubahan ( Agen of Change ) serta pemegang estafet kepemimpinan bangsa.

Untukmu, mahasiswi yang selalu berusaha tersenyum dihadapan semua orang, meski aku tahu dirimu tidak dalam keadaan baik-baik saja, ku mohon bersabarlah sejenak. Yakinlah bahwa tuhan memiliki seribu alasan, mengapa dia belum mengizinkanmu mengenakan toga dalam waktu dekat ini.

Adikku, tuhan itu maha adil, dia maha memiliki alasan atas segalanya. Dia tidak akan menciptakan siang untuk bekerja, tanpa menciptakan malam untuk beristirahat. Begitu pula dia sengaja menciptakan sakit agar manusia menghargai arti sebuah kesehatan.

Untukmu, wanita yang dengan sukarela mengabdikan ilmu pengetahuan demi kepentingan sosial tanpa mengharap balasan apapun, melalui surat singkat ini, aku hendak memberitahukanmu beberapa hal.

Aku ingin memberitahumu bahwa sebagian besar tokoh berpengaruh di dunia ini, dulunya pernah bermasalah di bidang akademik hingga mereka terpaksa dikeluarkan oleh pihak kampus. Kamu tentunya sependapat denganku, bahwa mereka tidak memiliki permasalahan dengan kemampuan intelektual sedikitpun.

Adikku, janganlah sekali-kali berkecil hati atas pencapaianmu. Kamu hanya perlu bersukur karena melalui ujian-Nya, tuhan tengah mendidikmu menjadi sosok yang tangguh. Sebab mereka yang telah terbiasa dengan ketidaknyamanan, adalah mereka yang akan menertawakan hidup ketika diterpa ujian dikemudian hari.

Adikku, aku ingin mengajakmu pada kisah Bill Gates. Orang terkaya di dunia itu, bahkan pernah di DO dari Harvard University. Gates diberhentikan bukan karena malas, melainkan dia hanya ingin fokus pada cita-citanya yaitu mendirikan Microsoft.

Adikku, jika bagimu wisuda tepat waktu bukanlah satu-satunya jalan menuju kesuksesan, maka buktikanlah kepada mereka bahwa kelak, kamu juga berhak mendapatkannya. Bukankah mendiang Steve Jobs pernah dikeluarkan dari Reed College sebelum akhirnya menciptakan berbagai produk yang digilai masyarakat dunia?

Gates dan Jobs adalah mata air inspirasi bagi kita semua. Keduanya membuktikan bahwa kesuksesan itu tak pernah identik dengan kemudahan. Mereka mengajarkan kita untuk tidak tunduk dan menyerah pada keadaan.

Adikku, jika bagimu ilmu pengetahuan adalah cahaya dan membumikannya di dalam ladang kehidupan jauh lebih penting dari segalanya, maka pancarkanlah cahaya itu kepada dunia sekitarmu. Buktikanlah kepada mereka bahwa ilmu itu bisa menyatu dengan segala sikap, keikhlasan, serta tindakanmu yang selalu ingin melihat dunia sebagai wahana bermain, tempat menumpahkan segala bentuk kebaikan.

Adikku, kita tidak bisa memaksa orang lain untuk memberi penilaian baik atau tidak kepada kita, namun bukan berarti kita harus berhenti berbuat baik. Meski demikian, buktikanlah kepada dunia, bahwa mereka yang besar bukan karena kehebatan serta kemewahan yang dimilikinya, melainkan karena kekuatan karakternya yang membasahi semesta ini dengan embun kebajikan.

Adikku, untuk membuat kedua orangtuamu bangga, kamu tak perlu sesempurna para nabi. Kamu juga tak selalu harus wisuda tepat waktu layaknya yang lain. Kamu cukup menjadi dirimu sendiri. Kamu cukup menyerap berbagai kebijaksaan dari kampus, lalu mengembalikannya sebagai lentera yang menerangi masyarakat luas. Kamu cukup menjadi pepohonan rindang tempat orang lain berteduh. Kamu cukup menjadi pupuk yang menggemburkan bumi ini dengan senyum serta kebaktian.

Adikku, terlepas dari berhasil atau tidaknya kamu mengenakan toga dalam waktu dekat ini, aku selalu bangga padamu.

Sekian surat kecil ini aku tuliskan. Semoga bisa menghibur hatimu yang sedang digandrungi kesedihan.

Mataram, 08 April 2017

Friday, March 31, 2017

Membaca Motif di Balik Fenomena Skripsi


Ilustrasi

Andai ada voting tentang penghapusan skripsi, mungkin sayalah yang paling utama mengancungkan tangan untuk setuju. Masa iya, berjuang selama bertahun-tahun tapi nasib kita ditentukan pada lembar-lembar skripsi.

Di mata saya, skripsi merupakan salah satu celah dari kesalahan sistem pendidikan kita yang amburadul. Berusaha mencontohi sistem pendidikan dari luar, lalu menerapkannya pada negara dengan culture masyarakat yang jelas-jelas berbeda.

Lihat saja sekarang, Indonesia semakin panas. Skripsi itu memberi kontribusi besar terhadap proses Global Warming. Skripsi ini semakin mempercepat rusaknya peradaban. Mari bayangkan sejenak. Sekarang ini, jurusan semakin bertambah, artinya permintaan terhadap kertas semakin bertambah pula.

Pada kasus ini, kita harus mengetahui bahwa bahan utama pembuatan kertas adalah kayu. Jika hal ini dilakukan secara terus menerus, konsekuensinya sangat jelas. Sementara itu, setelah menjalani ujian, kertas akan terbuang percuma dan skripsi menjadi usang. Kadang digunakan oleh penjual kacang keliling untuk membungkus dagangannya.

Kertas yang tadinya terbuat dari kayu itu bahkan tak bisa lagi disulap menjadi kayu, apalagi menjadi air. Memang ada beberapa yang mendaur ulang kertas menjadi pernak pernik, hingga barang-barang yang berkualitas, tapi tetap saja tak sebanding dengan jumlah yang tidak terpakai.

Akhirnya, kertas itu tertimbun dan menggunung digudang-gudang perguruan tinggi. Lebih parahnya lagi adalah, masih adanya sejumlah aktivitas pembakaran. Dimana, asap dari pembakaran ini kembali menghasilkan populasi, pencemaran udara, dan menutup lapisan ozon bumi.

Ini belum seberapa. Faktanya adalah, sejumlah masalah besar yang terjadi hari ini adalah buntut dari salahnya sistem pendidikan kita. Salah satunya adalah narkoba. Menurut data dari survey yang dilakukan oleh BNN Provinsi NTB pada 2016 lalu, sebagian besar pengguna narkoba di NTB masih berstatus mahasiswa.

Mereka yang mengkonsumsi obat-obatan terlarang ini, adalah mereka yang memiliki permasalahan seputar kampus terutama menyangkut skripsi. Bagaimana tidak, proses ini membuat mahasiswa lebih mudah mengalami stres. Belum lagi tuntutan orang tua dan justifikasi sosial yang diberikan masyarakat lokal kepadanya.

Pada bagian lain, mereka yang tak mau ambil pusing menyoal permasalahan skripsi, akhirnya memilih jalan pintas. Mereka menyuruh orang lain menanganinya. Bahkan, sejumlah praktek jual beli skripsi masih ditemui dikalangan mahasiswa hingga saat ini.

Di sejumlah kota besar di Indonesia, fenomena skripsi telah menelan banyak korban jiwa. Di Jakarta Selatan, seorang mahasiswa tingkat akhir ditemukan tewas gantung diri di kamarnya. Menurut pengakuan orang tua korban, anaknya yang saat ini tengah sibuk mengerjakan skripsi, diduga putus asa karena skirpsinya telah beberapa kali ditolak. Korban yang tak kuasa menahan malu, akhirnya memilih mengakhiri hidupnya diujung tali.

Kejadian serupa juga terjadi di Sukoharjo pada 2015 lalu. Valentina Anjuna Pangestika, seorang mahasiswa universitas Veteran Bangun Nusantara juga diduga stres karena permasalahan skripsi. Valentina ditemukan tewas bunuh diri di dapur kontrakannya kala itu.

Sungguh memilukan. Skripsi yang seharusnya menjadi tolak ukur prestasi mahasiswa, seakan menjadi ancaman. Tantangannya bukan terletak pada skripsi semata, tetapi juga pada dosen pembimbing mahasiswa. Di kalangan kampus, beredar mitos bahwa jika semuanya ingin lancar, maka jangan sekali-kali membangkang.

Salah atau benar instruksi pembimbing harus diterima dengan suka cita. Kita tidak boleh protes, karena itu menggangu keharmonisan dengan si pembimbing. Sebab konsekuensinya akan berbuntut pada revisi, revisi, dan revisi. Hingga teman-teman lain wisuda, kita masih berkutat pada skripsi yang nantinya akan menjadi mainan tikus-tikus rakus di gudang belakang kampus. Benar atau tidak, entahlah.

Jika sudah demikian, maka rusaklah cita-cita suci pendidikan kita. Lulus atau tidaknya mahasiswa, tak lagi ditentukan oleh kapasitas dan kompetensi, melainkan berdasar pada hukum kepatuhan. Sesuai atau tidaknya skripsi dengan teori, selama mahasiswa itu tunduk maka dia selamat. Tapi jika tidak, maka mahasiswa itu tamat.

Lantas setelah itu, jadilah para eks mahasiswa kita serupa kuota yang kemudian menambah volume tingkat pengangguran di pedesaan. Mereka tak bisa bersaing demi mendapat lapangan pekerjaan yang layak sesuai kapasitas dibidang ilmu masing-masing.

Di Lombok, Nusa Tenggara Barat, seorang mahasiswa tingkat akhir dipersulit karena alasan klasik. Telat konsultasi. Ini jelas mengganggu idealisme dosen, katanya. Lagi-lagi tentang skripsi. Fenomena ini membuatnya terpaksa mengurungkan niat untuk melanjutkan studi ke luar negeri tahun ini. Naasnya lagi, idealisme dosen tak sepenuhnya berlaku pada mahasiswa lain di kampusnya.

Betapa mirisnya wajah dunia pendidikan kita saat ini. Sistem telah mengharuskan seluruh mahasiswa menjadi tunduk dan membebek. Sementara di sisi lain, tak ada regulasi jelas yang mengharuskan setiap dosen untuk berlaku adil serta bersikap profesional kepada segenap mahasiswanya.

Oh iya, Satu lagi. Pernakah anda membaca kisah tentang anak seorang dosen yang dipersulit oleh dosen lain namun berkuliah di kampus yang sama?

Sumbawa, 31 Maret 2017