Tuesday, July 18, 2017

Dari Germas Untuk Indonesia Sehat

Tags


Sosialisasi Program Germas Oleh Kemenkes

Di tengah kekhawatiran banyak negara terhadap ancaman kesehatan di masa mendatang, sejumlah institusi pemerintahan kita mulai sigap dengan berbagai program demi mewujudkan masyarakat Indonesia sehat.

Pemerintah kita nampaknya tak mau kecolongan dalam hal mengelola anggaran kesehatan yang sedemikian besar. Mereka lalu mengarahkan birokrasi untuk menyerap segala kearifan serta menyatukan kekuatan banyak pihak demi menunjang program kerja dengan sejumput harapan agar segala kebijakan selalu bermuara kepada kepentingan banyak orang.

Setidaknya, itulah kesan saya seusasi menghadiri satu pertemuan bertajuk sosialisasi kesehatan yang diinisiasi oleh Kementerian Kesehatan Indonesia. Acara yang digelar di hotel Astonn Inn Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat itu diikuti oleh sejumlah blogger, tenaga kesehatan, dan beberapa pegiat media. Di sana, saya tak hanya mendapatkan ilmu seputar dunia kesehatan, tapi juga diajarkan bagaimana membangun sebuah tulisan agar mudah dipahami publik.

***

Dokter muda itu memulai presentasinya dengan bersemangat. Namanya Birry Karim, ia menjadi pemateri pada acara bertajuk sosialisasi program Germas oleh Kementerian Kesehatan. Jangan bayangkan bahwa dalam mensukseskan program semacam ini, pemerintah hanya menggandeng sejumlah LSM yang bergerak dibidang tertentu. Germas adalah singkatan dari Gerakan Masyarakat Hidup Sehat.

Program kesehatan ini merupakan suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kamauan, dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. Pelaksanaan Germas haruslah dimulai dari lingkup keluarga sebagai bagian terkecil dari masyarakat yang membentuk kepribadian.

Mulanya, Germas diprakarsai oleh pemerintah dengan mengedepankan upaya promotif-preventif, tanpa mengesampingkan upaya kuratif-rehabilitatif. Namun demi menyukseskan program ini, mereka menggandeng para blogger yang tersebar dibanyak tempat di Indonesia. Tujuan dari Germas sendiri sesuai dengan namanya yakni mengajak masyarakat untuk membudayakan pola hidup sehat dalam kesehariannya.

Birry Karim, Salah Seorang Pemateri

Gaya Hidup Tak Sehat

Sore itu, Birry memulai pembicaraan terkait penyakit tidak menular. Serupa doktor dalam satu kelas perkuliahan, ia mengemukakan sejumlah prilaku tidak sehat yang kerap dilakukan banyak orang. Birry bercerita tentang penyakit jantung koroner akibat penimbunan lemak, diabetes yang kerap menyerang masyarakat berumur lanjut, hingga membagikan tips kiat hidup sehat bagi penderita hipertensi.

Sebagai peserta, saya mencermati pembahasannya satu persatu. Saya tak ingin ketinggalan menyerap ilmu yang tak bisa saya temukan di ranah akademik ini. Itulah salah satu alasan mengapa saya selalu antusias setiap kali menghadiri pertemuan dengan para blogger. Di sana, saya leluasa menyelami samudera ilmu demi sebongkah mutiara pengetahuan yang tak ternilai.

Tak lama berselang, Sekjen Kementerian Kesehatan, Suseno Sutarjo yang sempat hadir dalam acara itu, juga memberikan sambutan. Beliau membincang banyak hal terkait bagaimana pola kerja Germas. Pejabat yang dilantik beberapa tahun lalu itu, mengajak para blogger dan pegiat media untuk bekerjasama demi membumikan program ini hingga akar rumput.

Saya mengamini pola kerja pemerintah di era keterbukaan. Mereka tak segan melibatkan para generasi muda dalam sejumlah agenda besar. Sebut saja Generasi Pesona Indonesia (Genpi) yang dibentuk oleh Kementerian Pariwisata, Gerakan Pemuda Tani Indonesia (Gempita) yang dibentuk oleh Kementerian Pertanian, lalu Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang dibentuk oleh Kementerian Kesehatan. Semuanya menggandeng para generasi muda yang dinilai mampu bekerja secara massif dan profesional.

Sekjen Kementerian Kesehatan, Suseno Sutarjo

Saya terkesan, sebab pemerintah kita mampu membaca trend abad milenial. Mereka hendak memaksimalkan peran blogger dan pegiat media sebagai agen promotif. Saya teringat buku berjudul Grown Up Digital, karya Don Tapscott, yang telah diresensikan oleh blogger ternama, Yusran Darmawan beberapa waktu lalu. Buku itu membuka wawasan tentang perkembangan dunia digital, dengan mengusung tesis utama tentang lahirnya generasi internet yang mengubah banyak hal.

Generasi baru yang dimaksud Tapscott adalah generasi yang melihat masalah dengan cara berbeda dari generasi sebelumnya. Generasi ini bisa memaksakan cara pandang mereka yang kemudian mengubah kultur bisnis, lanskap ekonomi, pendidikan, serta mendobrak tatanan sosial. Generasi ini mampu melakukan hal-hal yang multi-tasking sebab pada saat bersamaan, mereka juga bisa menyelesaikan satu pekerjaan.

Saat para generasi muda ini dipersatukan, mereka serupa ombak besar yang bisa menjebol satu tembok kukuh dalam penyajian informasi melalui berbagai kanal blog dan media sosial. Merekrut mereka dalam satu barisan adalah langkah strategis untuk menguasai masa depan. Di banyak tempat, netizen dan blogger kerap dipandang sebelah mata. Padahal kekuatan mereka tak bisa lagi dipandang remeh. Merekalah yang menjadi pengendali informasi di abad digital ini.

Sesi terakhir dari acara itu diisi dengan kiat-kiat membangun sebuah tulisan oleh Anwari Natari. Ia adalah seorang pengajar, editor, ahli komunikasi dan limu kebahasaan dari Universitas Indonesia. Satu pesan yang terpaksa saya stabilo tebal darinya adalah, seorang penulis yang baik, adalah dia yang mampu membimukan kata. Seseorang tak harus menulis dengan bahasa setinggi langit, sebab yang akan membaca tulisannya adalah mereka yang tinggal di bumi.

Motivator muda itu menyarankan kepada para blogger, untuk selalu menulis dan menyajikan informasi dengan bahasa yang sederhana. Hal ini ditujukan untuk mempermudah para pembaca dalam memahami isi tulisan kita. Sungguh, apa yang ia sampaikan sore itu kerap saya jumpai di kehidupan nyata.

Anwari Natari Membagikan Kiat-kiat Menulis

Entah kenapa, seseorang sering menggunakan kosa kata tinggi dan bahasa-bahasa ilmiah demi mendapat pengakuan intelektulitas. Bahkan, saat ia berbicara dengan petani yang kesehariannya bergelut dengan pacul dan alat bajak sekalipun. Saya juga sering berdiskusi dengan seorang teman yang ketika ia berbicara, selalu menyelipkan istilah-istilah dalam bahasa Inggris. Padahal, kemampuan bahasa inggris yang ia miliki nampak biasa-biasa saja.

Bagi saya, pertemuan hari itu adalah pertemuan yang sangat mengesankan. Saya berharap, kolaborasi antara pemerintah dan netizen ini bisa dikelola dengan baik. Pemerintah harus terbuka dan lebih transparan kepada mereka. Sebab, generasi ini telah terbiasa bekerja dalam satu atmosfer yang serba demokratis.

Lahirnya Germas tidak saja menjadi sarana bagi kehidupan yang lebih sehat, tapi juga menjadi pintu bagi terciptanya indeks pembangunan manusia yang unggul dan bermutu. Jika saja api semangat ini terus mendapat dukungan dari seluruh instrumen bangsa, maka negeri ini bisa menjadi negeri yang kuat, sekaligus memiliki desa-desa yang berdaulat dalam hal kesehatan.

Sebenarnya saya tidak bisa dibilang profesional dalam bidang kepenulisan, sebab saya tidak menguasainya melalui pendidikan formal. Saya hanyalah seorang antusias, pemuda desa yang kebetulan gemar menulis.

6 komentar

Selalu asik bahasanya. Semoga makin banyak masyarakat yang sadar bahwa hidup bahagia kedepan tergantung pola hidup hari ini

Kebayang apa jadinya germas tanpa blogger

atuh gimana gak terancam? banyak minuman/makanan yang kandungannya berbahaya

Alhamdulillah, dapat banyak pengetahuan positif tambahan yaa.
Tampiasih juga sudah menuliskannya dengan baik, jadi kita-kita yang baca juga jadi ikutan ketambahan pengetahuan positif.

Salam pagi dari Selong..

asek... asek...
dengan ngebaca artikel ini ane seperti dapat rangkuman dari acara GERMAS kemarin, mantep Bhro...

yuk mulai hari ini jalan pola hidup CERDIK agar masyarakat Indonesia selalu sehat #Optimis

Salam blogger NTB dan salam Hoki

Sebagai bahan evaluasi, saya selalu menerima kritikan dan saran dari para sahabat. Gunakanlah emoticon untuk mempertegas ekspresi anda.

Beri saya motivasi
EmoticonEmoticon