Jumat, 16 Juni 2017

Saat Sebuah Kalender Memuat Anggaran Dana Desa

Tags


Kalender Dana Desa

Sebuah kalender dibagikan secara gratis oleh aparatur Desa Gontar Baru, Alas Barat, Kabupaten Sumbawa. Kalender itu berisikan laporan pertanggungjawaban atas penggunaan kas desa kepada masyarakat setempat. Pengurus desannya secara terbuka melaporkan berapa dana yang mereka terima, digunakan untuk apa saja, serta berapa kas desa yang masih tersisa.

Melaui kalender itu, masyarakat bisa melihat lalu lintas uang yang masuk ke kas desa. Saya membayangkan betapa kalender itu akan terpampang di tiap-tiap rumah petani jagung, tukang bangunan, pencari madu, bidan desa, pedagang pasar, tukang ojek, hingga nelayan kecil yang tiap hari melaut.

Seorang sahabat yang juga berprofesi sebagai pendamping desa memosting kalender itu untuk disebarkan di media sosial. Saya membayangkan warga desa akan mendiskusikan isi kalender itu di warung-warung kopi, pasar, pangkalan ojek sambil mempertanyakannya secara kritis. Boleh jadi, mereka akan menodong kepala desa dengan sejumlah pertanyaan, mengapa begini dan mengapa begitu. Mungkin juga mereka punya banyak amunisi untuk ditanyakan saat musyawarah desa.

Sepintas, kalender itu terlihat sangat sederhana. Mamun bagi saya, apa yang dilakukan aparatur desa di sana harus diberi apresiasi. Saya yakin kalau akan ada banyak pertanyaan terkait kalender ini. Tapi setidaknya, di situ kita banyak melihat harapan kuat bagi bangsa ini. Di situ kita melihat kisah heroik yang tak banyak kita temukan di berbagai lapis organisasi diluar sana. Di situ kita melihat harapan pembangunan dari desa akan segera terwujud.

Orang desa memang jauh dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, tapi mereka memiliki cara lain demi membumikan kearifan. Justru di kota-kota besar yang katanya menjunjung tinggi prinsip clean goverment, praktik seperti ini malah jarang ditemukan.

Melalui berbagai pemberitaan, kita terbiasa menyaksikan kisah tentang seorang petinggi negeri yang terjerat kasus korupsi hingga miliyaran rupiah. Di gedung megah parlemen sana, kita terbiasa melihat sejumlah politisi busuk menilep uang proyek yang seharusnya dialokasikan untuk kepentingan orang banyak.

Kita memang berada pada era transparansi dan keterbukaan. Tapi berapa banyak lembaga pemerintah yang bersedia membuka semua anggaran agar diketahui oleh publik. Yang banyak terjadi adalah anggaran sengaja disembunyikan demi memudahkan proses kolusi dan kongkalikong di balik layar.

Kalender Dana Desa

Untuk pertama kalinya saya melihat kalender Dana Desa seperti ini. Di sejumlah daerah, transparansi anggaran kerap diwujudkan dalam bentuk baliho berukuran raksasa yang dipasang di tempat-tempat umum. Tapi di mata saya, baik baliho ataupun kalender, keduanya sama-sama merefresentasikan keikhlasan dan kejujuran warga desa dalam mengumumkan anggaran ke hadapan publik.

Di Desa Gontar Baru, Sumbawa, kita bisa melihat kejujuran warga desa dalam menyampaikan informasi tentang penggunaan anggarannya. Saat proses transparansi anggaran menjadi sesuatu yang langka disebabkan ketamakan dan hasrat untuk mengeruk semua sumberdaya finansial sebanyak-banyaknya, desa-desa justru tampil sebagai mutiara peradaban berupa kejujuran yang kini menjadi barang mahal.

Semangat kejujuran berupa metode sosialisasi anggaran melalui kalender justru tumbuh dari pedesaan. Sayangnya, para politisi kita tak pernah memikirkan hal ini. Kalender hanya dijadikan barang dagangan menjelang pemilihan. Tujuannya satu yakni bagaimana melalui aksi bagi-bagi kalender itu, mereka bisa meraup suara dan simpati sebanyak-banyaknya. Berbeda dengan kalender dana desa, kalender yang kerap dibagikan para caleg tak memuat apapun. Yang nampak hanya foto pribadi dan lambang partai.

Kalender yang dibagikan tak pernah berisi apa langkah strategis yang akan mereka lakukan setelah terpilih nanti, kalender itu tak pernah mencantumkan gagasan apa yang mereka tawarkan demi merealisasikan suatu program melalui visi misi yang logis. Padahal, boleh jadi metode tersebut adalah indikasi bahwa kelak mereka akan bekerja keras untuk memetakan satu persoalan, mencari solusi, lalu mengajak masyarakat berjalan beriringan demi menuntaskannya.

Ah, mungkin saya terlalu berlebihan.

Mataram, 16 Juni 2017

Informatic Engineering student from University of Stmik Bumigora Mataram. I am just an ordinary person like others.

6 komentar

Ide cerdas yg patut di apresiasi, semoga hal ini bs d contoh oleh desa2 lainnya... demi Indonesia yang lbh baik... Aamin Yaa Rabb

Harusnya sih gini, biar warga lain juga bisa tahu ya, Mas. Tapi ini aku baru lihat lho kalender yang ada anggaran dananya gini. Ayo dicontoh oleh desa lain :)

sebuah terobosan signifikan bagi pengetahuan masyarakat desa yang minim informasi soal anggaran besar yang akan dan sedang diserap oleh pemerintahan desa untuk turut mengawal penggunaannya dengan baik dan benar sehingga pembangunan dari anggaran tersebut dapat sukses tanpa ekses terbangun pada kebutuhan serta prioritas pembangunan yang tertuang pada RPMDes yang bersangkutan.
Bravo untuk Pendamping desa temennya mang admin yah.

soal ilmu perdesaan saya masuk kategori pakar kalau liat komentar diatas mah ya mang?..hehe

Benar sekali. Mang Lembu tampaknya sangat paham. Harus banyak berguru soal administrasi desa sama mamang kayaknya.

Sebenarnya bagus sekali sihh jika anggaran desa tercetak dan tercatat di pertanggalan di desa tersebut, jadi semua anggaran yang dikeluarkan oleh pemimpin di daerah tersebut dapat kita ketahui, daripada mereka (pemimpin) yang memasang kegiatan mereka kedepannya tapi tidak ada langkah, jadi hanya foto saja ibaratkannya..

komentar saya yang panjang lebar soal kalender ini teh kemana ya?

Sebagai bahan evaluasi, saya selalu menerima kritikan dan saran dari para sahabat. Gunakanlah emoticon untuk mempertegas ekspresi anda.

Beri saya motivasi •●•
EmoticonEmoticon